
Semua orang yang melihat Wolf memijat bahu Lisin sangat tertekan, Pembunuh bayaran elit sekelas Wolf di jadikan babu, sungguh pemborosan.
Dalam dunia bawah, hanya untuk menggunakan jasa Wolf memerlukan miliyaran dan triliunan uang, sedangkan Lisin menyuruhnya untuk memijat punggungnya bukankah itu sama seperti menyia-nyiakan pembunuh bayaran Elit.
Di antara orang-orang yang duduk terdapat satu orang pemuda yang mendekati Lisin dan dia sangat familiar.
"Lisin... Aku tidak berharap jika kamu akan menjadi menantu keluarga irawan" Pemuda tersebut menyapa di ikutan oleh pira paru bayah.
"Lisin... terima kasih telah membantu anakku sebelumnya..." Pria paru bayah menyapa.
Keduanya adalah Pangeran Wijaya yang di temani Ayahnya yakni kepala Wijaya.
"Pangeran dan paman Aku tidak berharap akan bertemu dengan kalian berdua di sini..." Lisin berkata dengan senyuman.
Lisin terus berbincang dengan pangeran, sedangkan Kepala Wijaya sebagai Ayahnya pangeran, menyapa Kepala Irawan dan Jendral kepolisian kemudian duduk pada tempatnya kembali.
"Aku tidak berharap anakmu mengenalnya..." Pria paru bayah yang duduk di samping Wijaya berkata dengan heran.
"Hahaha... itu semua hanya kebetulan, aku tidak menyangka jika Putraku yang memiliki hobi balapan yang tidak jelas akan berteman dengan Lisin..." Wijaya berkata dengan bangga.
Padahal sebelumnya dirinya sangat tidak puas dengan putranya yang hanya berfoya-foya dan menghabiskan uang untuk modifikasi mobil.
"Andaikan Putriku Kinar yang selalu membuat masalah bisa berteman dengannya mungkin aku bisa tenang..." Pria paru bayah mendesah, jika dirinya tau Kinar cukup dekat dengan Lisin dia pasti tidak menyesal.
"Brahmana sepertinya kamu harus mengintrogasi putrimu Kinar... aku dengar jika dia dekat dengan seorang laki-laki... Dan tidak baik untuk seorang wanita yang dekat dengan laki-laki" Wijaya berkata dengan senyuman, jelas dirinya tau jika laki-laki tersebut adalah Lisin namun Wijaya tidak mengatakannya.
"Apa!!!... Sialan, Kinar ini berani sekali dekat dengan laki-laki di belakangku... Juga siapapun laki-laki yang dekat dengan putriku akan aku lumpuhkan" Brahmana berkata dengan kesal, Andaikan dirinya tau jika laki-laki tersebut Lisin mungkin suasana hatinya akan berubah.
Keduanya jelas mengenal Lisin sebagai dermawan kepala irawan melalui saluran tertentu. Di bandingkan dengan keluarga Sasongko dan keluarga lainnya, jelas keluarga Wijaya dan Brahmana lebih beruntung.
Kembali dalam perbincangan Lisin dan Pangeran, Keduanya secara singkat melakukan basa-basi. Pangeran juga menjelaskan jika dirinya tidak ada keinginan untuk mengejar Nagisa, Pangeran hanya menemani ayahnya untuk bertemu dengan dermawan keluarga Irawan dan tidak berharap jika dermawan tersebut adalah Lisin.
Di bandingkan Lisin dan beberapa orang yang berbincang dengan bahagia. Keluarga Sasongko dan beberapa keluarga lainnya yang tidak tau identitas Lisin menjadi sangat tertekan.
Sebelumnya mereka menunggu Lisin cukup lama sekarang menunggu Lisin yang terus berbicara, bagaimana mereka tidak kesal.
Sial... Kapan di mulainya...
Waktu berlalu, Seorang pria paru bayah naik ke atas Arena. Dia adalah Wayan orang kepercayaan Keluarga Irawan dan akan menjadi penengah pertarungan.
Wayan menyapa Lisin terlebih dahulu kemudian menyapa semua tamu dan penantang pertarungan menantu.
Jelas Wayan hanya bisa tertawa di dalam hatinya karena begitu banyak orang bodoh yang ingin menantang Lisin. Bahkan putra-putra semua keluarga seni bela diri tidak satupun mendekati Wayan, namun berniat menantang Lisin yang jelas jauh lebih kuat dari Wayan.
Bagaimana pertunjukan ini tidak Lucu?
"Keluarga-keluarga seni bela diri yang saya hormati dan juga para tamu undangan sekalian..." Wayan menyapa dengan bijaksana.
"Sepertinya saya tidak akan menjelaskan lagi tujuan dari pertarungan ini di adakah, dan sangat jelas kalian semua sudah memahaminya..." Wawan menambahkan.
"Baiklah aku akan menjelaskan aturan pertarungan, Pertama di larangan membunuh. kedua tidak boleh menggunakan senjata. Pemenang akan di tentukan jika lawan kalian menyerah atau tidak bisa bergerak lagi..." Wayan menjelaskan dengan percaya diri.
Beberapa orang mengangguk kemudian Salah satu penantang mengangkat tangannya untuk menanyakan sesuatu.
"Bagaimana jika kita tidak sengaja membunuh lawan kita..." Seno berkata dengan percaya diri.
"Ini..." Wayan tidak bisa berkata-kata.
Wayan bingung, apakah ingin menangis atau tertawa, bagaimana tidak. dirinya tidak khawatir dengan Lisin yang tidak sengaja mati. Hanya Lisin pasti tidak kalah jadi Wayan tidak bisa menjelaskannya.
__ADS_1
Lisin mengunci pandangannya kearah Seno... Kemudian menggelengkan kepala.
Hem... Dia yang waktu itu ya... Mungkinkah dia ingin membunuhku dengan alasan ketidaksengajaan?
"Tuan Lisin tolong naik ke atas panggung..." Wayan berkata dengan hormat.
Lisin menganggu kemudian berjalan keatas panggung.
"Kemudian yang ingin mengajukan tantangan... silakan maju..." Wayan melihat sekeliling.
"Tunggu sebentar..." Lisin yang berdiri di atas panggung, mengajukan pertanyaan.
"Tuan Lisin, Apakah ada masalah..." Wayan bertanya dengan hati-hati.
Semua orang juga menginginkan jawaban dari pertanyaan Wayan.
"Bisakah yang ingin menantangku datang secara bersamaan... Aku hanya ingin semuanya berakhir dengan cepat..." Lisin berkata dengan santai disertai dengan menguap, jelas dirinya sangat mengantuk karena pertempuran semalam dengan Ningsih.
Diam... Mendengar perkataan Lisin, semua orang terdiam. Kepala irawan dan juga jendral kepolisian mungkin mengerti, pertarungan ini sangat membosankan untuk Lisin, namun tidak untuk Orang lain.
"Sombong..."
"Sial... katak dalam sumur..."
"Benar... Dia belum melihat luasnya langit..."
"Apakah dia pikir dia itu Superman?..."
"Mulut besar..."
"Dia tidak pernah mengukur Volume air laut..."
"Aku akan melawannya lebih dulu..." Seorang pemuda dengan percaya dirinya naik keatas panggung.
Pemuda ini dari keluarga Kalpanak, Memiliki tubuh yang bagus dan gaya rambutan helm dan belah tengah. sungguh anak yang teladan.
"Kalpanak... Apa kamu siap?..." Wayan bertanya, kemudian melihat kearah Lisin yang mengangguk.
"Tentu saja..." Kalpanak tersenyum sambil melihat kearah Nagisa.
Siapa yang tidak menginginkan keindahan sebagai penghangat tempat tidur, untuk itu dirinya harus menang.
"Di mulai..." Wayan memulai pertarungan.
Layaknya panglima perang dengan kudanya, Kalpanak langsung mendatangi Lisin.
"Ahhhhh..." Saat kedua tinju bertabrakan Lisin dan Kalpanak berteriak kesakitan.
"Tanganku..." Lisin berteriak.
"Kakiku..." Lisin berteriak lagi.
Lisin tidak kenal Ampun dirinya langsung melumpuhkan tangan dan kaki pihak lain. namun dirinya berpura-pura kesakitan.
"Kakiku..." Kalpanak yang merasakan rasa sakit sungguhan tidak kuasa pingsan di tempat.
"Aku beruntung bisa menang..." Lisin berdiri kembali. Sedangkan Kalpanak, dia terbaring tak sadarkan diri. Dengan cepat petugas ambulan langsung melarikan Kalpanak ke rumah sakit.
Semua orang terdiam sebelum akhirnya pecah dengan kesal berdebat dengan teman duduk mereka.
"Dia hanya beruntung..."
__ADS_1
"Syukurlah ku pikir dia kuat..."
"Kalpanak ini sangat lemah..."
"Betul... Melawan dia saja kalah..."
"Sungguh memalukan..."
"Kalpanak ini terlalu meremehkan pihak lain jadi dia tidak sengaja melukai tangan dan kakinya sendiri..." Wayan menjelaskan dengan berkeringat dingin.
Jelas Gerakan Lisin tidak dapat dilihat, jadi semua orang hanya melihat Lisin yang tersungkur. Sedangkan Kalpanak, karena bergerak terlalu semangat, dia mengalami kaki dan tangannya terluka.
Hanya orang buta yang percaya dengan alasan tersebut.
"Berikutnya aku..." Kali ini Keluarga Panadol naik keatas panggung.
"Di mulai..." Wayan langsung memulainya.
"Kali ini kamu tidak akan seberuntung sebelumnya..." Panadol berkata dengan senyuman beringas.
"Tolong jangan kasar, Kakiku sakit..." Lisin berpura-pura kesakitan.
"Hahaha... Rasakan ini..." Panadol menendang kaki Lisin.
"Krak..."
"Ahhhh... Kakiku..." Lisin berteriak kesakitan.
Panadol tersenyum... sungguh kemenangan yang begitu mudah, namun saat dirinya melihat kakinya sendiri kedua matanya membulat.
"Ahhhh..." Panadol langsung pingsan di tempat saat melihat kakinya sendiri yang hancur.
Dengan cepat Ambulan langsung mengamankan Panadol.
"Sial... Beruntung lagi dia..."
"Sepertinya dia tidak akan bertahan lagi setelah ini..."
"Pertama kebetulan... kedua beruntung..."
"Hem... Panadol ini tidak berguna..."
Lisin yang berpura-pura kesakitan perlahan berdiri. Kepala irawan dan beberapa orang yang mengenal Lisin jelas mengerti apa yang terjadi namun tetap diam sambil tertawa di dalam hatinya.
"Panadol terlalu bersemangat, sehingga dia menendang lantai panggung pertarungan..." Wayan menjelaskan lagi.
"Lisin... Kamu tidak apa-apa? Sepertinya kamu terluka kamu bisa beristirahat..." Sungguh akting yang luar biasa. Wayan ini seharusnya mengikuti sinetron agar bakat aktingnya bisa di kembangkan.
"Aku baik-baik saja, aku tidak ingin mengecewakan keluarga irawan..." Lisin berkata dengan sungguh-sungguh.
Keduanya layak mendapatkan piala Oscar, karena aktingnya sangat menyakinkan.
"Hahahahaha..." Nagisa yang dari awal menahan tawa tidak kuat lagi menahannya.
Semua orang melihat Nagisa dengan bingung, hanya beberapa orang saja yang memahami alasan mengapa Nagisa tertawa.
"Maaf... Silakan lanjutkan..." Nagisa tersenyum kemudian menutupi mulutnya sambil tertawa.
Alasan dirinya tertawa karena Melihat Aktingnya Lisin, dan itu membuat Nagisa sangat puas.
Bersambung...
__ADS_1