
Orang-orang yang bertaruh melawan Ling Tian segera bergegas pergi meninggalkan area turnamen beladiri tersebut sambil berjalan tertunduk lesu. Mereka tak bersemangat lagi untuk menonton pertarungan selanjutnya yang sedang berlangsung di arena lainnya.
Sementara untuk Ling Tian sendiri, wajahnya terlihat sangat gembira ketika mengambil seluruh uang hasil kemenangannya dari sang hakim yang menjadi saksi pertaruhan itu.
"Guru! Bolehkah aku meminta uang darimu untuk bertaruh pada pertarungan adik seperguruanku?" tanya Xiao Jun dengan nada setengah berbisik.
"Bukankah kamu harus pergi ke tempat duduk para peserta? Mengapa kamu mengikutiku?" Ling Tian merasa aneh ketika mendengar pertanyaan Xiao Jun.
"Lihatlah, Guru! Aku akan merasa sangat kesepian jika harus duduk seorang diri di tempat itu. Kini tidak ada lagi peserta lainnya yang menemaniku di sana." Xiao Jun berkata sambil menunjuk ke arah tempat duduknya.
"Hehehe... Aku melupakan hal tersebut. Yah, sudahlah. Kamu pergi saja mencari tempat duduk di dekat arena pertarungan adik seperguruanmu. Ini juga ada sedikit uang untukmu, agar bisa kamu pakai buat memasang taruhan padanya." Ling Tian menyerahkan sebuah Cincin Ruang berisi 100 juta koin emas pada Xiao Jun.
"Baiklah, Guru. Aku sangat bahagia memiliki Guru sepertimu yang mengizinkan muridnya untuk ikut berjudi. Tidak seperti para Guru yang lainnya. Mereka akan melarang muridnya untuk melakukan perjudian," bisik Xiao Jun sangat pelan.
"Huh, itu karena mereka tidak memahami filosofis dari kita yang menjalani hidup sebagai seorang kultivator. Hidup kita ini juga adalah seperti sedang berjudi. Jika kita kalah, itu berarti kita mati," jawab Ling Tian santai.
"Yah... Itu benar. Jadi, ayo kita berjudi, Guru!" Xiao Jun tanpa sadar bersorak penuh semangat.
Semua orang yang mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Xiao Jun tersebut, langsung memandang aneh ke arahnya. Sedangkan untuk Ling Tian sendiri, dia sudah menghilang dari tempatnya untuk segera menjauh dari Xiao Jun.
Merasakan tatapan semua orang tertuju padanya, Xiao jun hanya bisa tersenyum kecut sambil bergumam dengan nada mengeluh, "Dasar Guru tak bertanggung jawab. Dia yang telah mengajarkan aku salah satu filsafat hidup, tetapi dia jugalah yang terlebih dahulu kabur ketika menerima pandangan aneh dari semua orang yang ada di sini."
Setelah itu, Xiao Jun pun bergegas ke arah kursi penonton yang berdekatan dengan arena pertarungan Wu Lihua. Pertarungan di sana juga terlihat cukup sengit. Wu Lihua masih duduk dengan tenang di kursinya sambil terus memperhatikan para peserta yang sedang bertarung.
"Sebaiknya kita juga mencari tempat duduk yang lebih dekat dengan arena pertarungan Lihua, Paman!" ucap Ling Tian ketika sampai di tempat duduknya.
"Yaa, sepertinya itu lebih bagus jika kita semua menonton pertarungan Lihua'er lebih dekat lagi," jawab Wu Dunrui bersemangat.
"Baiklah, ayo kita ke sana!" Ling Tian menunjuk ke arah tempat duduk yang masih kosong di dekat arena pertarungan Wu Lihua.
__ADS_1
Wu Dunrui dan Xiu Rong pun segera bergegas pergi mengikuti Ling Tian. Sesampainya di sana, mereka bertiga langsung duduk dengan santai tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya yang ramai dengan komentar banyak penonton.
"Pertarungan selanjutnya, Chang Ye melawan Wu Lihua!" seru wasit yang akan memimpin pertarungan itu.
Ketika mendengar namanya telah disebutkan, Wu Lihua segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan pelan ke dalam arena diikuti oleh seorang pemuda yang akan menjadi lawannya, yaitu Chang Ye.
"Nona cantik, sebaiknya kamu mengaku kalah sebelum pertarungan kita dimulai. Karena aku tak tega untuk melukai tubuhmu yang sangat indah itu. Sebab, jika aku sedang bertarung, aku tidak bisa menahan setiap seranganku." Chang Ye berkata sambil memandang tubuh Wu Lihua dengan penuh nafsu ketika mereka sampai di dalam arena.
"Sejak awal, aku telah memperhatikan teknik cambukmu tersebut. Namun, jika hanya itu yang bisa kamu lakukan, aku akan sangat mudah untuk mengalahkanmu," lanjut Chang Ye lagi.
"Ooh... Begitukah?" tanya Wu Lihua yang berpura-pura menunjukkan wajah terkejutnya.
"Yaah, itu memang benar. Tapi bila kamu tak percaya, bagaimana jika kita berdua ikut bertaruh juga?" ucap Chang Ye sengaja memancing agar Wu Lihua masuk ke dalam perangkapnya.
"Apa yang harus kita pertaruhkan?" Wu Lihua mengernyitkan alisnya sambil memandang wajah Chang Ye yang masih tersenyum menatap ke seluruh tubuhnya.
"Bagaimana kalau kita bertaruh seperti ini! Jika aku kalah, aku akan menghancurkan seluruh kultivasiku."
"Jika kamu kalah, kamu harus mau menjadi istriku!" jawab Chang Ye dengan nada menggoda.
Mendengar hal tersebut, Wu Lihua berbalik menoleh ke arah wasit dan berkata, "Apakah pertaruhan seperti ini diizinkan?"
"Itu diizinkan jika kalian berdua menyetujuinya dan harus menandatangani surat perjanjiannya," jawab sang wasit tegas.
"Baiklah! Jika memang seperti itu, berikan padaku surat perjanjian tersebut dan aku akan segera menandatanganinya." Wu Lihua berkata tanpa ragu-ragu.
Chang Ye seketika langsung tersenyum gembira karena merasa bahwa Wu Lihua telah masuk ke dalam perangkapnya.
Sang wasit segera mengeluarkan selembar kertas dari Cincin Ruangnya. Itu adalah surat perjanjian yang dituliskan dengan tinta emas. Surat ini juga biasa digunakan bila seseorang ingin melakukan pertarungan antara hidup dan mati karena memiliki dendam terhadap lawannya.
__ADS_1
Tetapi, selama acara turnamen beladiri dilaksanakan di Kota Lima Warna, belum ada satu peserta pun yang menggunakan surat perjanjian tersebut.
"Sepertinya junior Chang Ye ingin sekali menikahi gadis yang menjadi lawannya itu!"
"Gadis itu hanya akan dipermainkan olehnya. Junior Chang Ye sangat terkenal di Sekte kita karena sifatnya yang selalu bergonta-ganti pasangan."
"Tetapi para gadis juga sangat menyukainya karena dia termasuk jenius yang sangat berbakat di Sekte kita."
"Dengan bakatnya, dia memang pantas menjadi murid dari pemimpin Sekte."
Beberapa murid dari Sekte Bintang Hitam yang juga adalah Sekte tempat Chang Ye berkultivasi, mulai berbisik-bisik membicarakan tentang dirinya.
Sementara untuk Wu Dunrui dan Xiu Rong yang melihat bahwa Wu Lihua telah menyetujui pertaruhan tersebut, segera memandang ke arah Ling Tian untuk meminta pendapatnya.
"Hehehe... Tenang saja Paman, Bibi! Lihua akan dapat mengalahkan lawannya itu dengan mudah. Dia tidak meminta persetujuan kita semua karena dirinya sangat yakin bisa memenangkan pertarungan ini." Ling Tian tertawa lirih melihat wajah Wu Dunrui dan Xiu Rong yang tampak cemas.
"Yang harus kita lakukan sekarang adalah memasang uang taruhan dengan jumlah yang banyak pada mereka yang memilih pemuda tersebut," lanjut Ling Tian pelan, lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Huuff... Baiklah! Kalau begitu, aku akan bertaruh 5 miliar koin emas pada Lihua'er," kata Wu Dunrui sambil menghela napas panjang untuk mengusir kekhawatirannya.
Setelah mengambil Cincin Ruang yang berisi 5 miliar koin emas dari tangan Wu Dunrui, Ling Tian kemudian berjalan mencari orang-orang yang ingin bertaruh dengannya.
Begitupun dengan Xiao Jun. Dia juga segera bergegas ke arah penonton lainnya untuk menemukan lawan bertaruhnya. Awalnya, dirinya sangat terkejut dengan keputusan yang diambil oleh Wu Lihua. Namun, ia sangat yakin bahwa adik seperguruannya itu akan menang dalam pertarungannya tersebut.
***
Terima kasih buat teman-teman yang telah memberikan LIKE dan VOTE nya serta memberikan RATING Bintang Lima, juga buat teman-teman yang telah berkomentar positif. Karena itu semua akan membuat Author lebih bersemangat dalam menulis Novel ini.
Terima kasih juga buat teman-teman yang telah menghargai karya Author dengan cara memberikan Tip.
__ADS_1
Author juga doakan semoga sehat selalu buat semua pembaca, baik itu yang suka maupun yang tidak suka dengan Novel "LSM" ini.
Jika ada Typo dalam setiap chapter di Novel ini, mohon untuk di beritahukan kepada Author agar Author segera merevisinya.