
Putri Qing Ruan yang sudah dapat berdiri kembali setelah energi Qi yang mengunci pergerakan tubuhnya menghilang, memandang lekat-lekat ke arah Ling Tian dengan tatapan antara aneh, marah, enggan, bingung, bercampur menjadi satu.
Pertama, Putri Qing Ruan merasa aneh dengan energi Qi milik Ling Tian yang dapat mengunci pergerakan tubuhnya. Ini berarti Ling Tian benar-benar lebih kuat darinya.
Kedua, Putri Qing Ruan marah karena Ling Tian menyentuh gunung kembarnya. Begitu banyak tempat yang lain di tubuhnya, tapi mengapa itu harus di dadanya.
Ketiga, Putri Qing Ruan merasa enggan kalah dari Ling Tian. Sebagai jenius nomor satu di Benua Persimpangan langit, ia belum pernah merasakan kekalahan dari orang-orang yang berusia di bawah 30 tahun. Tapi sekarang, ia bahkan telah kalah dari seorang pemuda yang berusia lebih muda darinya.
Keempat, Putri Qing Ruan merasa bingung mengapa Ling Tian mau membantu untuk menjaga harga dirinya? Sebab, walau Ling Tian mengatakan bahwa ia beruntung bisa menang, tapi sebagai orang yang secara pribadi bertarung dengannya, Putri Qing Ruan sangat tahu bahwa sebenarnya Ling Tian bisa dengan mudah mengalahkannya meski energi Qi Putri Qing Ruan dalam keadaan penuh.
Namun, berbeda dengan orang-orang yang berada di sekitar area kompetisi. Mereka mengangguk setuju dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Ling Tian. Karena menurut mereka semua, sangat mustahil bagi Ling Tian yang hanya berusia sekitar 22-23 tahun bisa mengalahkan Putri Qing Ruan yang mendapat gelar sebagai jenius nomor satu di Benua Persimpangan Lamgit.
Dan karena perkataan Ling Tian inilah yang menyelamatkan martabat Putri Qing Ruan. Sehingga, meskipun Putri Qing Ruan kalah, itu tidak akan mempermalukan dirinya. Sebab, ia kalah akibat energi Qi-nya yang terkuras setelah bertarung melawan banyak orang.
"Ooh ... Jadi itu yang terjadi? Pantas saja Tuan Putri bisa kalah darinya."
"Ciihh ... Sebelum pemuda bernama Ling Tian itu mengatakannya, aku sudah tahu bahwa seperti itulah adanya. Sebab, sangat mustahil bagi dia untuk bisa mengalahkan Tuan Putri yang berada dalam performa penuhnya."
"Huuhh ... Sungguh disayangkan! Jika saja aku tahu bahwa energi Qi dari Tuan Putri sudah terkuras banyak, pasti tadi aku yang akan melawannya dan memenangkan pertarungan itu."
"Hmph ... Bukan cuma kamu saja. Jika aku tahu akan seperti itu, aku yang akan terlebih dahulu melompat ke dalam arena pertarungan."
"Aaiihh ... Si Ling Tian itu benar-benar beruntung. Akhirnya dia yang menuai hasil jerih payah para peserta yang sebelumnya telah bertarung dengan Tuan Putri."
Wajah Kaisar Qing yang dapat mendengar komentar serta tanggapan dari orang-orang tersebut, menjadi berseri-seri. Sebab, ia juga tahu bahwa Ling Tian berkata demikian untuk membantu agar reputasi dari Putri Qing Ruan tidak menurun meskipun telah kalah.
"Benar-benar calon menantu yang baik. Kekaisaran Qing-ku sungguh akan semakin kuat lagi dengan mendapatkan menantu yang jenius dan lebih kuat dari Ruan'er," batin Kaisar Qing yang tanpa sadar tersenyum sembari terus memandang ke arah Ling Tian.
"Hmmm ... Baiklah. Harap tenang semuanya!" ujar pria paruh baya yang mengumumkan kemenangan Ling Tian. Setelah suasana area kompetisi menjadi tenang, ia pun melanjutkan, "Sesuai dengan tujuan dari diadakannya kompetisi ini, yaitu untuk menemukan calon suami bagi Tuan Putri Qing Ruan, maka sebagai pemenang kompetisi, Ling Tian akan menikah dengan Tuan Putri Qing Ruan. Ling Tian juga berhak mendapatkan Buah Roh Langit Ungu sesuai dengan apa yang telah dijanjikan oleh Yang Mulia Kaisar."
__ADS_1
Setelah pria paruh baya itu selesai berbicara, wajah para peserta kompetisi tampak lesu dan tidak bersemangat. Mereka seolah tak menerima kemenangan Ling Tian yang dia dapatkan dari sebuah keberuntungan saja.
Putri Qing Ruan juga sedikit tersentak saat mendengar apa yang dikatakan oleh pria paruh baya tersebut. Dalam hatinya ia bertanya-tanya apakah benar-benar dia akan menikahi pemuda di depannya ini? Dan apakah pemuda ini yang akan menjadi suaminya nanti?
Sementara untuk Ling Tian sendiri, dia hanya bisa tersenyum masam setelah mendengarkan apa yang baru saja diucapkan oleh pria paruh baya itu. Sebab, tujuan sebenarnya untuk mengikuti kompetisi ini adalah Buah Roh Langit Ungu dan bukan untuk menikah dengan Putri Qing Ruan.
Namun, Ling Tian tak bisa mengatakan tujuannya di depan umum, karena hal itu akan membuat Kekaisaran Qing menjadi sangat malu jika ia menolak pernikahannya dengan Putri Qing Ruan. Nantinya, orang-orang akan berpikir bahwa Putri Qing Ruan, yaitu putri dari Kaisar Qing dan juga jenius nomor satu di Benua Persimpangan Langit, tidak pantas untuk menjadi istrinya.
"Huuhh ... Biar nanti saja aku menjelaskannya secara langsung pada Kaisar Qing serta Putri Qing Ruan," batin Ling Tian dengan nada mengeluh.
"Hmph! Ada apa dengan wajahnya yang seperti itu? Apakah dia tidak senang untuk menikah denganku?" tanya Putri Qing Ruan di dalam hatinya sambil mendengus kesal ketika melihat wajah Ling Tian yang tampak tidak bahagia.
"Baiklah! Acara kompetisi telah berakhir. Silakan kembali melakukan aktivitasnya masing-masing. Untuk Ling Tian, silakan ke istana Kekaisaran untuk menerima hadiah dan juga untuk membicarakan tentang hal pernikahan," ujar pria paruh baya tersebut.
Ling Tian dan Putri Qing Ruan tersentak dari pikirannya masing-masing saat mendengar pria paruh baya itu berbicara kembali. Semua penonton dan peserta juga mulai secara tertib meninggalkan area kompetisi meski sebagian dari mereka belum percaya dengan apa yang telah terjadi.
Kaisar Qing dan para pengeran sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan area kompetisi dan kembali ke istana Kekaisaran.
Setelah beberapa saat, ia berjalan pelan ke arah Ling Tian yang masih memiliki tampilan wajah masam, lalu berkata singkat, "Ikuti aku!"
Selesai mengatakan hal itu, Putri Qing Ruan pun segera melesat terbang. Ling Tian yang melihatnya pergi, bergegas juga untuk mengikutinya meski pikirannya masih bercampur aduk di dalam benaknya.
Beberapa saat kemudian, Ling Tian melihat Putri Qing Ruan turun dan berjalan masuk ke dalam sebuah istana yang sangat besar dan megah. Ling Tian pun ikut turun dan berjalan di belakang Putri Qing Ruan.
Keduanya berjalan dengan diam tanpa berbicara sama sekali. Hanya langkah kaki mereka yang terdengar mengentak di lantai istana Kekaisaran.
Di dalam aula istana yang sangat luas, Kaisar Qing dan para pangeran, serta beberapa petinggi istana sudah berada di tempat itu. Mereka melihat Putri Qing Ruan dan Ling Tian berjalan masuk ke dalam aula tersebut.
"Salam, Ayah Kaisar!" ujar Putri Qing Ruan sambil membungkuk memberi hormat pada Kaisar Qing, kemudian berjalan ke tempat duduknya.
__ADS_1
Ling Tian pun segera mengikutinya membungkuk memberi hormat kepada Kaisar Qing dan berkata, "Salam, Yang Mulia Kaisar!"
"Lancang!"
Begitu Ling Tian selesai berbicara, seruan marah terdengar menggema di dalam aula istana. Ling Tian langsung tersentak kaget mendengar suara yang berteriak kepadanya. Dengan cepat, ia menoleh ke asal suara tadi. Itu berasal dari seorang pria paruh baya yang duduk paling dekat dengan takhta Kaisar Qing.
"Beraninya kamu bertindak seperti itu!" Pria paruh baya tersebut berdiri dari tempat duduknya dan menunjuk ke arah Ling Tian dengan tampilan wajah yang sangat marah, kemudian melanjutkan, "Mengapa kamu tidak berlutut sekarang?"
Semua mata orang-orang di dalam aula itu langsung tertuju ke arah Ling Tian. Mereka memandang Ling Tian dari atas ke bawah secara perlahan karena sedang menilai dan mengukurnya.
Setelah melihat bahwa selain hanya memiliki wajah yang tampan, tak ada hal apa pun lagi yang terlihat istimewa dari Ling Tian. Penampilannya yang tampak sangat sederhana membuat beberapa dari mereka mencibirnya secara halus.
Hanya Kaisar Qing dan Putri Qing Ruan yang masih tetap tenang tanpa memedulikan semua itu. Mereka berdua hanya diam, ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Ling Tian.
"Mengapa kamu belum berlutut juga?" hardik pria paruh baya tersebut ketika melihat wajah Ling Tian yang seolah-olah sedang kebingungan.
"Siapa kamu?" tanya Ling Tian dengan nada keheranan.
"Tak perlu kamu tahu siapa aku!? Saat ini yang harus kamu lakukan adalah berlutut di depan Kaisar," balas sang pria paruh baya sembari terus meninggikan suaranya.
"Apakah kamu Kaisar?" tanya Ling Tian lagi tanpa menghiraukan perkataan pria paruh baya itu.
"Kamu ...." Suara sang pria paruh baya tertahan. Tubuhnya gemetar marah dengan tangan yang masih menunjuk ke arah Ling Tian.
"Aku apa?!" jawab Ling Tian seraya menatap tajam ke arah pria paruh baya tersebut. Lalu melanjutkan, "Sebenarnya yang lancang, tidak punya sopan santun, tidak punya etika, tidak punya tata krama, tidak tahu malu ... adalah kamu! Yang Mulia Kaisar belum berbicara, tapi kamu sudah terlebih dahulu menyelanya dan berteriak keras seolah-olah kamu adalah Kaisar di istana ini. Mungkinkah statusmu lebih tinggi dari Yang Mulia Kaisar?"
Ling Tian berhenti sejenak, kemudian menambahkan lagi, "Melihat dari pakaianmu, sepertinya kamu seorang bangsawan terpandang. Tapi melihat dari sikapmu, sepertinya kamu hanyalah seorang idiot. Sungguh sangat sial orang tua yang melahirkan anak tak tahu diri sepertimu."
"Kamu ... Kamu ...." Pria paruh baya tersebut tak mampu melanjutkan kata-katanya. Sebab, mulutnya langsung memuntahkan beberapa suap darah. Ini dikarenakan dia tak sanggup lagi menahan amarah di dalam hatinya. Jika saja Kaisar Qing tidak ada di tempat itu, mungkin sejak awal dia sudah menyerang Ling Tian.
__ADS_1
Kata-kata tajam dan menusuk dari Ling Tian membuat orang-orang yang berada di dalam aula istana menjadi terpana. Mereka semua tak pernah menyangka bahwa Ling Tian akan berani bertindak seperti itu.
Bahkan Kaisar Qing dan Putri Qing Ruan yang semula tenang, berubah menjadi terkejut melihat keberanian Ling Tian tersebut. Dia berani menegur dan memarahi salah satu bangsawan terkemuka di depan Kaisar Qing.