
"Kakak besar! Bukankah seharusnya kita ikut mati juga bersama Bos? Tapi mengapa kita masih baik-baik saja?" Xiaohai bertanya dengan nada sedih pada Kera Salju ketika mereka telah kembali ke sekte.
"Apakah kamu tidak sadar bahwa kita sekarang tidak bisa lagi berkomunikasi melalui telepati?" Kera Salju balik bertanya pada Xiaohai, sambil mengusap air matanya.
"Ya! Aku merasa koneksi kita telah terputus saat tubuh Bos berubah menjadi ...." Xiaohai tak sanggup melanjutkan kalimatnya ketika mengingat tubuh Ling Tian menjadi debu dan tersedot masuk ke dalam lubang celah demensi.
"Memang benar! Sebelum Tuan Muda pergi untuk selamanya, ia sudah terlebih dahulu menghilangkan segel jiwa yang terdapat di dalam tubuh kita. Itu karena Tuan Muda tidak ingin kita ikut mati bersamanya," balas Kera Salju dengan suara yang semakin serak, mencoba menahan kesedihan yang dirasakannya.
Hiruk pikuk yang biasanya terjadi di sekte Ling Tian, kini berganti menjadi kesunyian karena dirundung kesedihan yang teramat dalam. Kematian Ling Tian juga menyisakan goresan luka di dalam hati semua anggota sektenya.
***
Lima bulan pun berlalu setelah kematian Ling Tian.
Suasana di dalam Sekte Pria Tertampan Di Benua Langit mulai berjalan normal kembali. Berita tentang kematian Ling Tian juga telah menyebar ke seluruh pelosok wilayah Benua Langit Tingkat Menengah. Namun, tak ada seorang pun yang berani mengusik sektenya.
Meski Ling Tian telah tiada, Sekte Pria Tertampan Di Benua Langit masihlah menjadi sekte nomor satu di Benua Langit Tingkat Menengah. Dengan berbagai sumber daya yang telah ditinggalkan oleh Ling Tian, kekuatan sektenya tersebut akan terus meningkat dan berkembang menjadi lebih besar.
Ditambah lagi dengan Asosiasi Alkemis di Kota Primordial yang juga sudah ikut bergabung ke dalam sekte Ling Tian. Sehingga, masalah sumber daya berupa pil tetap tersedia walau efektivitasnya sedikit lebih rendah dari pil yang dibuat oleh Ling Tian sendiri.
Sistem dan peraturan di dalam sekte Ling Tian juga telah berubah. Demi menjadikan sekte itu semakin kuat, mereka hanya akan menerima para kultivator jenius untuk menjadi anggotanya. Mu Bai dan Huang Fu juga membagi wilayah sekte menjadi tiga bagian seperti yang ada di sekte lain pada umumnya.
Wilayah sekte bagian terluar diperuntukkan bagi para Murid Luar yang baru diterima atau yang tingkat kultivasinya masih berada di tahap Bintang Emas. Di wilayah bagian dalamnya diperuntukkan bagi para Murid Dalam yang tingkat kultivasinya berada di tahap Bintang Berlian. Sementara di wilayah bagian pusat diperuntukkan bagi para Murid Inti yang juga merupakan wilayah tempat tinggal bagi keluarga Ling Tian.
Meski demikian, sistem paling utama, yaitu sistem kekeluargaan yang diterapkan oleh Ling Tian tidak diubah. Karena sejak terbentuknya sekte itu, Ling Tian paling benci dengan aturan sekte yang bersaing dan saling membunuh hanya demi memperebutkan sumber daya.
__ADS_1
Oleh karena itu, Mu Bai dan Huang Fu juga menerapkan aturan baru bagi semua anggota sekte. Mereka melarang setiap orang di antara anggota sektenya yang memiliki sifat arogan. Jika ada salah seorang anggota sekte yang menghina atau merendahkan sesama anggotanya sendiri, akan mendapatkan hukuman yang berat dan dikeluarkan dari sekte tersebut. Dengan begitu, sistem kekeluargaan yang diterapkan oleh Ling Tian akan tetap berlangsung.
Walaupun Mu Bai adalah pemimpin sekte dan Huang Fu yang menjadi wakilnya, namun setiap tindakan yang akan mereka lakukan selalu meminta pendapat dan persetujuan dari keluarga Ling Tian. Sementara untuk Kera Salju, ia diangkat sebagai Tetua Agung karena memiliki tingkat kultivasi tertinggi di dalam sekte, yaitu tahap kesembilan Bintang Bumi. Tinggal sedikit lagi dirinya hendak menerobos ke tahap pertama Bintang Langit.
Sebenarnya Mu Bai ingin memberikan kepemimpinan sekte pada Ling Han. Akan tetapi, Ling Han segera menolaknya karena ia mau memfokuskan dirinya dalam berkultivasi.
Hari demi hari pun terus berlalu. Namun, kesedihan yang dirasakan oleh keluarga Ling Tian belum juga berkurang. Sebab, kematian Ling Tian tetap membekas di dalam hati setiap orang. Beruntung ada Ling Yuemeilan yang selalu menjadi penghibur bagi mereka semua.
Hari ini, seperti biasanya, terlihat seorang gadis kecil berdiri di atas udara tepat di depan wajah patung Ling Tian. Dia adalah Ling Yuemeilan. Walau usianya belum genap tujuh tahun, tapi tingkat kultivasinya telah mencapai tahap pertama Bintang Berlian.
"Hei, lihatlah! Itu Pemimpin Muda sedang berdiri di depan patung Pemimpin Tertinggi," seru salah seorang murid luar di sekte Ling Tian.
"Woah ... Sepertinya kali ini Pemimpin Muda telah menerobos tingkat kultivasinya ke tahap Bintang Berlian. Biasanya dia akan ditemani oleh Tetua Xiaohai ketika berdiri di depan patung Pemimpin Tertinggi. Namun, sekarang ia sudah bisa terbang sendiri tanpa bantuan dari Tetua Xiaohai lagi," balas murid luar lainnya dengan tatapan takjub.
"Aaiihh ... Tingkat kultivasi kita benar-benar sudah tertinggal jauh dari Pemimpin Muda."
"Seandainya saja aku adalah anak dari Pemimpin Tertinggi, mungkin aku juga akan memiliki tingkat kultivasi seperti dirinya."
"Hei .. Hei! Cepatlah bangun dari mimpimu. Cobalah berkaca terlebih dahulu. Wajah Pemimpin Tertinggi sangat tampan, sedangkan wajahmu hanya pas-pasan seperti ini. Bahkan mungkin para gadis di sekte kita akan ketakutan saat melihat tampangmu itu."
"Huuhh ... Meski wajahku seperti ini, tapi aku sudah memiliki kekasih. Sementara dirimu sendiri, belum memiliki satu pun gadis yang mau untuk menjadi kekasihmu."
"Ciihh ... Itu karena aku orang yang sangat pemilih. Kriteria gadis yang aku cari haruslah menjadi gadis yang sangat cantik."
"Hei! Apa yang kalian bicarakan? Cepatlah kembali berlatih! Jika tidak, aku akan memberikan hukuman berat pada kalian semua."
__ADS_1
"Ba--baik instruktur!"
Para murid luar yang berbincang-bincang tentang Ling Yuemeilan dan Ling Tian tersebut segera kembali berlatih setelah mendapatkan teguran dari instruktur mereka.
Di atas udara, Ling Yuemeilan tampak sedang mengusap air matanya. Kemudian berkata pelan, "Ayah, aku sangat merindukanmu! Hari ini aku telah menerobos ke tahap pertama Bintang Berlian. Aku terus berlatih dan berkultivasi dengan giat agar dapat mengejarmu. Apakah Ayah ingin melihatnya? Baiklah, aku akan menunjukkan hasil latihanku padamu, Ayah!"
Setelah berkata demikian, Ling Yuemeilan segera mengusap air matanya lagi. Lalu ia pun mulai memeragakan Teknik Dewa Naga Surgawi di depan patung Ling Tian.
***
Jauh di luar angkasa yang tenang, terlihat pusaran energi yang bentuknya seperti sebuah portal. Tampak juga sebuah benda berbentuk kapal melaju dengan sangat cepat seolah sedang berlayar mengarungi ruang hampa dan bertujuan hendak memasuki portal tersebut.
Namun, ketika jarak kapal dan portal masih sekitar 150 kilometer jauhnya, terdengar sebuah ledakan yang cukup keras dari bagian depan kapal hingga mengagetkan semua penumpang yang ada di dalamnya.
"Senior Niu! Sepertinya kita sedang menabrak sesuatu," ujar seorang pemuda bertubuh gendut yang merupakan penumpang dari kapal itu.
"Coba periksa, Junior Pang! Mungkin saja itu hanya bebatuan langit yang kebetulan melewati lintasan penerbangan kita," jawab pemuda yang dipanggil dengan sebutan Senior Niu.
"Baik, Senior Niu!"
Pemuda gendut itu pun bergegas ke bagian depan kapal dan mulai memeriksa dengan menggunakan indra spiritualnya. Begitu indra spiritualnya menyentuh benda yang bertabrakan dengan kapal mereka, wajah pemuda gendut tersebut seketika menjadi terkejut.
Dengan cepat, ia masuk kembali ke dalam kapal dan berkata dengan tergagap, "Se--senior Niu! Itu bu--bukan bebatuan langit, melainkan sebuah tubuh ma--manusia."
"Apa?!"
__ADS_1
Pemuda yang dipanggil Senior Niu dan beberapa penumpang lainnya berseru hampir secara serempak setelah mendengar penjelasan dari sang pemuda gendut.