Legenda Sang Monster

Legenda Sang Monster
Chapter 228. Makhluk Paling Sulit Di Tebak


__ADS_3

Ling Tian tiba-tiba memiliki ide ketika ia sedang memandang ke arah Putri Qing Ruan. Ling Tian berniat mempermalukannya agar Putri Qing Ruan menjadi semakin marah dan membenci Ling Tian, hingga akhirnya mau membatalkan pernikahan mereka.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Putri Qing Ruan yang masih memelototkan mata ketika melihat Ling Tian berjalan ke arahnya dengan seringai jahat.


Ling Tian terus berjalan menghampiri Putri Qing Ruan tanpa menghiraukan perkataannya. Setelah mereka berdiri begitu dekat dan saling berhadapan, Ling Tian kemudian mengulurkan tangannya memegang pipi Putri Qing Ruan.


"Hmmm ... Wajah Tuan Putri sangat cantik. Ternyata inilah wajah calon istriku. Tidak salah jika semua orang menyebut Tuan Putri sebagai kecantikan nomor satu di Benua Persimpangan Langit. Ooh ... Kulit Tuan Putri ternyata begitu halus dan lembut," ucap Ling Tian pelan seraya mengusap-usap pipi Putri Qing Ruan.


Wajah Putri Qing Ruan semakin memerah antara malu dan marah saat Ling Tian memperlakukannya seperti itu. Sejak kecil, selain ayahnya, yaitu Kaisar Qing, belum ada seorang pun laki-laki yang menyentuh tubuhnya.


Bahkan para Pangeran yang merupakan saudaranya sendiri, tidak pernah menyentuh sedikit pun tubuhnya. Karena sejak kecil, Putri Qing Ruan telah giat berlatih beladiri dan berkultivasi, sehingga sampai sekarang ia jarang berinteraksi dengan mereka semua.


Tapi saat ini, Ling Tian telah menyentuh tubuhnya yang membuat Putri Qing Ruan menjadi sangat malu dan marah. Bila saja pergerakannya tidak terkunci, mungkin ia telah menyerang Ling Tian dengan sangat ganas.


"Singkirkan tanganmu dari wajahku!" hardik Putri Qing Ruan.


"Mengapa aku harus menyingkirkannya? Bukan hanya wajah ini saja, bahkan setiap inci dari tubuh indah milik Tuan Putri tidak lama lagi akan menjadi milikku seutuhnya. Aahh ... Ini benar-benar halus dan lembut," balas Ling Tian sambil terus membelai wajah Putri Qing Ruan.


Gemeretakan gigi dari Putri Qing Ruan terdengar sedikit keras ketika ia menahan amarah di hatinya. Saat ini, ia merasa sedang dilecehkan oleh Ling Tian.


Setelah beberapa saat, Ling Tian akhirnya menghentikan aktivitasnya tersebut. Dia berjalan ke belakang Putri Qing Ruan lalu sedikit menepuk-nepuk pantatnya.


"Woah ... Bokong yang sangat bagus! Ini juga nantinya akan menjadi milikku setelah menikah dengan Tuan Putri. Aku sudah tidak sabar ingin bermain-main dengan bokong ini," seru Ling Tian takjub.


"Hentikan! Hentikan! Aku bilang berhenti!" teriak Putri Qing Ruan sembari mengencangkan rahangnya. Dia benar-benar merasa terhina dengan tindakan yang dilakukan oleh Ling Tian.


Untungnya tak ada seorang pun lagi selain mereka berdua di halaman itu. Jika saja ada orang lain yang menyaksikan dirinya diperlakukan seperti itu oleh Ling Tian, mungkin Putri Qing Ruan akan langsung menggali tanah dan mengubur dirinya sendiri karena malu memperlihatkan wajahnya pada orang tersebut.


Ling Tian tak menghiraukan teriakan Putri Qing Ruan, sambil terus menepu-nepuk pantat Putri Qing Ruan, Ling Tian berkata pelan, "Jika suaramu terdengar oleh orang lain, mungkin mereka akan segera ke sini dan melihat aku sedang bermain dengan bokongmu ini, Tuan Putri!"


Mendengar apa yang diucapkan oleh Ling Tian, seketika Putri Qing Ruan menghentikan teriakannya dan menutup mulutnya rapat-rapat. Rahangnya terus mengencang menahan amarahnya yang seakan hendak meledak.


Setelah puas menepuk-nepuk pantat Putri Qing Ruan, Ling Tian pun menghentikan aktivitasnya itu. Kemudian ia berjalan kembali ke depan Putri Qing Ruan dan memandang tubuhnya dari atas ke bawah secara perlahan.


"Woah ... Indah! Benar-benar bentuk tubuh yang sangat indah!" Ling Tian berseru sekali lagi, lalu menatap lekat-lekat pada kedua gunung kembar milik Putri Qing Ruan.

__ADS_1


Mengetahui apa yang sedang dilihat oleh Ling Tian, mata Putri Qing Ruan melotot tajam dan seolah-olah bola matanya hendak melompat keluar.


Ling Tian sengaja berlama-lama memandang kedua gunung kembar itu seraya menjilat bibirnya sendiri. Lalu ia pun maju dan mengulurkan kedua tangannya yang berbentuk cakar, hendak menangkap kedua gunung kembar tersebut.


Putri Qing Ruan seketika menutup matanya karena merasa tak sanggup melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, setelah menunggu selama beberapa saat, ia merasakan bahwa Ling Tian tak melakukan seperti apa yang dibayangkannya.


Putri Qing Ruan segera membuka matanya dan melihat bahwa Ling Tian masih berdiri sedikit jauh di depannya.


"Hehehe ... Sepertinya Tuan Putri tidak sabar menungguku untuk menyentuh kedua benda tersebut!" ucap Ling Tian sambil tertawa kecil, kemudian melanjutkan, "Tapi aku sudah menyentuhnya pada saat kita bertarung di kompetisi, jadi itu tidak perlu lagi sekarang karena aku sudah menghapal ukuran serta bentuknya."


Ling Tian sangat gembira di hatinya ketika ia melihat kemarahan yang sangat besar tampak jelas di wajah Putri Qing Ruan. Kemudian membatin, "Sepertinya rencanaku berhasil! Jika dia yang membatalkan pernikahan, maka aku tak memiliki beban lagi di hatiku dan langsung pergi meninggalkan istana Kekaisaran ini."


"Hmmm ... Baiklah, Tuan Putri! Aku sudah terlalu lama di tempat ini. Aku akan kembali ke tempatku. Jika Tuan Putri merindukanku dan sudah tidak sabar untuk ...." Ling Tian menghentikan kalimatnya sejenak seraya menampilkan seringai jahat di wajahnya, lalu melanjutkan, "Aaiihh ... Sudahlah! Tuan Putri pasti mengerti dengan apa yang aku maksudkan."


Setelah berkata demikian, Ling Tian langsung menghilangkan energi Qi-nya yang mengunci pergerakan tubuh Putri Qing Ruan. Kemudian segera meninggalkan halaman tersebut sambil bersiul-siul gembira.


Putri Qing Ruan yang tubuhnya sudah bisa bergerak bebas kembali, sebenarnya ingin langsung menyerang Ling Tian untuk melampiaskan kemarahannya. Namun, setelah memikirkan bahwa itu hanya sia-sia saja, maka ia hanya bisa mengurungkan niatnya.


Putri Qing Ruan berdiri selama beberapa saat di halaman, mengingat kembali apa yang baru saja dilakukan oleh Ling Tian terhadap dirinya. Dia tak melanjutkan latihannya lagi karena konsentrasinya telah terganggu dengan pikiran-pikiran yang berkecamuk di dalam benaknya.


Ling Tian menggerakkan tangannya beberapa kali untuk membuka Formasi Tujuh Kunci yang terdapat pada kotak kayu. Kemudian ia pun segera mengeluarkan buah yang sebesar pir serta berwarna ungu dari dalam kotak kayu tersebut.


"Hehehe ... Dengan Buah Roh Langit Ungu ini, aku akhirnya akan dapat menerobos ke tahap Bintang Langit," gumam Ling Tian gembira sembari tertawa kecil.


Ling Tian melambaikan tangannya untuk memasang Formasi Penyegelan di sekitar kamarnya. Dengan begitu, tak ada seorang pun yang akan dapat mengganggunya saat ia berkultivasi.


"Mari kita mulai!" ujar Ling Tian pelan, lalu duduk bersila tepat di tengah-tengah ruang kamarnya.


Namun, ketika dia hendak mulai menyerap energi yang terkandung di dalam Buah Roh Langit Ungu, Ling Tian merasakan bahwa Putri Qing Ruan menuju ke paviliun tempat tinggalnya.


"Hehehe ... Apakah dia datang ke sini untuk membatalkan pernikahannya denganku? Jika demikian, itu berarti efek yang ditimbulkan oleh perbuatanku tadi sungguh sangat cepat dan berhasil dengan baik." Ling Tian membatin dengan nada sedikit bangga.


Ia segera memasukkan kembali Buah Roh Ungu ke dalam Cincin Ruangnya, lalu bergegas keluar menemui Putri Qing Ruan.


Ketika Putri Qing Ruan sudah masuk ke dalam paviliun, ia melihat Ling Tian berdiri sambil menyilangkan kedua tangan di dada dan juga dengan memperlihatkan senyum nakal ke arahnya.

__ADS_1


"Hmmm ... Apakah Tuan Putri sangat merindukanku, sehingga tak bisa berpisah walau hanya beberapa menit saja?" tanya Ling Tian sambil menatap lekat-lekat pada kedua gunung kembar milik Putri Qing Ruan, lalu melanjutkan, "Ataukah Tuan Putri benar-benar sudah tak tahan ingin melakukan hal itu denganku?"


Putri Qing Ruan tidak menjawab pertanyaan Ling Tian dan hanya berdiri diam seraya memandangnya dengan saksama.


"Karena Tuan Putri tidak menjawab, itu berarti aku menganggapnya sebagai tanda persetujuan. Kalau begitu, baiklah!" ucap Ling Tian dengan seringai jahat di wajahnya, lalu berjalan pelan menghampiri Putri Qing Ruan.


Ketika ia telah berada tepat di depannya, Ling Tian mengulurkan tangan ke arah dua gunung kembar milik Putri Qing Ruan dengan gerakan yang sangat lambat untuk mencoba menakut-nakutinya.


Akan tetapi, Putri Qing Ruan masih tetap diam saja tanpa berkata apa pun seolah dia tidak takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Ling Tian. Melihat hal ini, Ling Tian mengerutkan alisnya dengan tampilan wajah keheranan, kemudian ia segera menghentikan aktivitasnya.


"Hmph ... Ternyata benar apa yang telah aku pikirkan! Dia sengaja mempermainkanku agar aku menjadi sangat marah kepadanya, hingga aku berpikir untuk membatalkan pernikahan kami," batin Putri Qing Ruan sembari mendengus kesal ke arah Ling Tian.


"A-apa?!" tanya Ling Tian kebingungan saat melihat Putri Qing Ruan mencibir padanya.


Putri Qing Ruan tidak segera menjawab. Dia hanya menatap Ling Tian sambil menekuk sudut-sudut bibirnya yang membentuk senyum sinis. Dalam hatinya, ia merasa seolah-olah telah menang dari skema jahat yang digunakan oleh Ling Tian.


Setelah beberapa saat, Putri Qing Ruan pun berbicara, "Karena tadi kamu sudah melecehkanku, itu berarti kamu juga harus bertanggung jawab sepenuhnya dan menikah denganku."


"A-apa?! Bu-bukankah seharusnya kamu marah dan ...." Ling Tian berkata terbata-bata tanpa melanjutkan kalimatnya.


"Hmph! Aku tidak mau mendengar semua penjelasanmu! Yang terpenting, kamu harus menikahiku," ucap Putri Qing Ruan yang masih mendengus kesal ke arah Ling Tian, kemudian berbalik pergi meninggalkan paviliun tersebut.


Ling Tian berdiri dengan mulut terbuka lebar setelah mendengar perkataan Putri Qing Ruan. Kebingungan terpancar jelas di wajahnya.


"Huuhh ... Bukankah tadi rencanaku telah berhasil? Tapi mengapa yang terjadi malah sebaliknya?" gumam Ling Tian dengan nada mengeluh seraya mengerutkan alisnya dalam-dalam, lalu melanjutkan, "Apakah tadi dia sengaja datang untuk mengujiku?"


Ling Tian termenung sejenak memikirkan apa yang baru saja terjadi, kemudian langsung berseru pelan, "Aahh ... Sial! Aku telah tertipu olehnya. Seharusnya tadi aku benar-benar meraih kedua benda yang berada di dadanya itu agar rencanaku benar-benar berhasil."


"Huuhh ... Sekarang aku baru menyadari, bahwa makhluk yang pikirannya paling sulit untuk ditebak adalah makhluk bernama wanita!" gerutu Ling Tian sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Ling Tian kemudian berjalan lesu kembali ke kamarnya dan melemparkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya melayang entah kemana. Dia teringat akan janjinya pada Lin Yue, Su Mei dan Jia Xiulan, bahwa ia takkan mencari wanita lain lagi untuk menjadi istrinya. Sebab, Ling Tian telah merasa sangat bersyukur memiliki mereka bertiga.


Tapi di sisi lain, Ling Tian juga tidak bisa meninggalkan Putri Qing Ruan begitu saja, karena dia sendirilah yang memulai semua ini demi mendapatkan Buah Roh Langit Ungu.


Karena pikirannya sedang kacau, Ling Tian tidak melanjutkan lagi untuk berkultivasi. Ia memilih tidur untuk menenangkan pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2