Legenda Sang Monster

Legenda Sang Monster
Chapter 260. Malam Pernikahan -1


__ADS_3

WARNING : Chapter ini mengandung unsur cerita dewasa 21+ dan bukan bacaan bagi para BOCIL. Jadi, diharapkan menyikapinya dengan bijak.


***


Hiruk pikuk di Ibukota Kekaisaran Jia pun terjadi ketika hari pernikahan Ling Tian dan Ling Han telah tiba. Acara pesta pernikahan tersebut diadakan di wilayah Klan Ling sendiri.


Meski Kaisar Jia telah menawarkan istana Kekaisaran untuk dijadikan sebagai tempat berlangsungnya acara pernikahan itu, namun Ling Tian menolaknya agar suasana pesta terasa lebih leluasa dan cukup terbuka untuk umum.


Pada malam hari di halaman yang sangat luas, di atas panggung yang cukup besar, Ling Tian duduk bersanding dengan Lin Yue, Su Mei dan Jia Xiulan. Sementara untuk Ling Han, ia duduk berdampingan bersama Mo Qingcheng. Acara pesta pernikahan mereka berlangsung dengan sangat meriah.


Para tamu dari berbagai kalangan silih berganti datang untuk mengucapkan selamat pada Ling Tian dan Ling Han. Mereka juga datang dengan membawa berbagai macam hadiah. Saking terlalu banyaknya hadiah tersebut, Ling Tian menyimpannya ke dalam sebuah Cincin Ruang agar tidak berserakan di atas panggung.


Ini merupakan pesta pernikahan paling megah dan paling meriah yang diadakan di Benua Langit Tingkat Rendah.


Setelah seluruh prosesi pernikahan telah selesai dilaksanakan, para tamu pun akhirnya kembali ke kediaman mereka masing-masing.


***


"Nenek! Mengapa malam ini aku tidak bisa tidur dengan salah satu ibuku?" keluh Ling Yuemeilan dengan wajah cemberut.


"Yuemei'er! Karena kamu telah berusia lima tahun, maka mulai saat ini kamu harus memiliki kamar sendiri. Tenanglah, kakek dan nenek akan selalu datang menemanimu bermain sehingga kamu tidak merasa kesepian," ucap Ling An pelan, seraya membelai rambut Ling Yuemeilan yang berada dipangkuannya.


"Apakah harus seperti itu, Nenek?" tanya Ling Yuemeilan lagi.


"Tentu saja harus seperti itu!" jawab Ling An dengan nada tegas, lalu melanjutkan, "Bukankah kamu ingin dibuatkan seorang adik oleh ayah dan ibumu? Nah, mulai malam ini juga, ayah dan ketiga ibumu akan bekerja sama untuk membuatkan kamu seorang adik kecil yang lucu. Jadi, tak ada seorang pun yang boleh mengganggu mereka. Jika ada yang mengganggu, maka proses pembuatan adikmu itu tidak akan berlangsung."

__ADS_1


"Ooh, ternyata seperti itu yah!? Kalau begitu, malam ini aku tidur dengan Nenek saja," balas Ling Yuemeilan sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


Sementara itu, Ling Tian yang sudah berada di dalam kamarnya, tersenyum bahagia menatap Lin Yue, Su Mei dan Jia Xiulan.


"Apakah kita akan melakukannya secara bersamaan di sini?" tanya Ling Tian sambil tertawa senang. Bahkan ia menyunggingkan seringai jahat di sudut-sudut bibirnya, sehingga terlihat tampak seperti seekor serigala lapar yang hendak menangkap mangsanya, bermaksud untuk menggoda ketiga istrinya tersebut.


Sontak saja wajah Lin Yue, Su Mei dan Jia Xiulan langsung berubah memerah karena malu, saat mendengar perkataan Ling Tian yang terdengar kurang senonoh itu. Ditambah lagi dengan tindakan Ling Tian yang terus menerus menggoda mereka bertiga, hingga membuat ketiganya menjadi salah tingkah.


"Mungkin sebaiknya aku kembali dulu ke kamarku sendiri. Karena kita sudah pernah melakukannya, jadi aku akan membiarkan Yueyue dan Meimei merasakannya juga," ucap Jia Xiulan dengan nada lembut, lalu segera berjalan keluar dengan kepala tertunduk karena malu wajahnya yang memerah seperti apel masak itu terlihat oleh Ling Tian.


Baru saja Ling Tian hendak menahan Jia Xiulan, Su Mei sudah terlebih dahulu berbicara, "Aku juga ingin kembali ke kamarku."


Sesudah berkata demikian, ia pun langsung berlari kecil menyusul Jia Xiulan. Pemikiran Su Mei dan Jia Xiulan hampir sama persis. Menurut mereka, melakukan hubungan suami istri secara bersamaan dengan Ling Tian merupakan tindakan yang sangat memalukan.


Terlebih lagi, Lin Yue dan Su Mei baru pertama kali ini akan melakukan hal tersebut. Sehingga, mereka berdua belum tahu cara yang tepat untuk menikmatinya.


Mendengar perkataan Ling Tian yang demikian, wajah Lin Yue menjadi semakin memerah. Jantungnya mulai berdegub kencang dan tak tahu harus berbuat apa untuk menenangkannya. Ia hanya duduk terdiam di tempat tidur dengan kepala tertunduk, menanti apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh Ling Tian.


"Hehehe ... Yue'er! Akhirnya hari yang aku tunggu-tunggu telah tiba juga. Apakah kamu telah siap?" tanya Ling Tian seraya cengar-cengir menggoda Lin Yue.


Lin Yue tak menjawab pertanyaan Ling Tian dan hanya tetap diam sambil bermain dengan jari-jarinya sendiri. Ia yang sering bersikap uring-uringan pada tindakan atau perkataan Ling Tian yang tampak konyol tersebut, kini diam tak berkutik.


Ling Tian dengan cepat melambaikan tangannya untuk memasang Formasi Penyegelan di dalam kamar. Lalu ia pun berjalan menghampiri Lin Yue yang tampak terlihat seperti anak kucing kebasahan. Kemudian tanpa basa-basi lagi, Ling Tian segera membungkukkan sedikit punggungnya dan mencium lembut bibir Lin Yue dengan penuh cinta dan kasih sayang.


Ciuman yang awalnya terlihat santai, sedikit demi sedikit berubah mulai lebih dalam dan menggairahkan. Lin Yue yang awalnya hanya bertindak pasif karena belum pernah melakukan hal itu, kini secara perlahan menjadi aktif dan ikut membalas ciuman Ling Tian sembari memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


Dalam kesenyapan ruang kamar yang sunyi, terdengar deru napas memburu akibat gairah yang menggebu-gebu dari kedua insan yang bibirnya saling berpautan.


Ling Tian mengulurkan tangannya untuk melepaskan semua aksesori yang berada di atas kepala Lin Yue, hingga membuat rambutnya tergerai indah. Lalu tangan Ling Tian bergerak lagi untuk membuka satu per satu pakaian yang dikenakan oleh Lin Yue. Selanjutnya Ling Tian juga melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri, hingga tubuh mereka berdua menjadi polos tanpa sehelai benang pun yang menutupinya.


Sontak tubuh Lin Yue menggigil dan darahnya terasa berdesir ketika merasakan sentuhan lembut dari jari Ling Tian yang hendak merebahkan tubuhnya di ranjang. Bahkan detak jantungnya dapat terdengar jelas bergema di dalam kamar tersebut.


Sensasi yang dirasakan oleh Lin Yue saat ini benar-benar tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Perasaan sedikit cemas, bahagia dan nikmat bergabung menjadi satu saat jemari tangan Ling Tian mulai menari menggerayangi setiap inci tubuhnya.


Lin Yue pun masih terus memejamkan matanya mengecap kenikmatan yang silih berganti datang menyerang dirinya. Tanpa ia sadari, suara desisan lembut keluar secara spontan dari mulutnya sendiri. Tangannya juga bergerak ke sana-kemari mencoba meremas segala sesuatu yang bisa diraihnya.


Setelah lama bermain-main dengan kulit lembut seputih giok milik Lin Yue, akhirnya Ling Tian memutuskan untuk memulai permainan yang sebenarnya.


"Aaahhh ...."


Jeritan tertahan terdengar keluar dari bibir Lin Yue ketika merasakan ada sesuatu yang ingin memaksa masuk ke dalam tubuhnya. Alisnya terlihat mengernyit menahan sensasi yang mulai terasa sedikit perih menyerang kedalaman jiwanya. Tampak terlihat juga tetesan darah segar memercik membasahi kain seprai yang ada di atas ranjang. Namun, perasaan perih itu pun segera berangsur-angsur menghilang dan tergantikan dengan kenikmatan yang tiada tara.


Permainan yang dilakukan oleh Ling Tian dan Lin Yue benar-benar normal tanpa menggunakan sedikit pun energi Qi di dalamnya. Ini bertujuan agar mereka berdua bisa lebih merasakan setiap kenikmatan yang merebak ke dalam jiwa mereka masing-masing.


Keduanya terus berpacu dengan napas yang memburu, ingin menuntaskan semua hasrat yang telah lama terpendam. Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung pun ikut mengalir membasahi tubuh Ling Tian dan Lin Yue secara bersamaan. Mereka berdua sungguh tenggelam dan hanyut dalam kendali gairah, seperti sedang berlomba untuk mencapai puncak surgawi terindah.


Deru napas mereka terdengar seirama bersamaan dengan derit ranjang yang terus bergoyang. Karena hal ini juga merupakan pertama kalinya bagi Lin Yue, maka Ling Tian sendiri benar-benar terlihat sangat mendominasi permainan tersebut.


Waktu pun berlalu dengan cepat. Melihat Lin Yue yang sudah tampak kelelahan, akhirnya Ling Tian pun berinisiatif untuk menuntaskan hasratnya. Ketika Lin Yue merasakan semburan lahar hangat menerpa masuk ke dalam dirinya, secara spontan juga ia segera memeluk erat-erat tubuh Ling Tian seolah-olah tak ingin melepaskannya.


Beberapa saat kemudian, setelah napas mereka mulai berhembus secara teratur, Ling Tian akhirnya berbicara pelan, "Yue'er, beristirahatlah! Aku harus ke kamar Mei'er karena sedari tadi dia juga telah menungguku."

__ADS_1


"Mmm ... Baiklah!" ujar Lin Yue sambil mengangguk pelan, lalu mengecup lembut bibir Ling Tian dan kemudian melepaskan pelukannya secara perlahan.


__ADS_2