
WARNING : Chapter ini mengandung unsur cerita dewasa 21+ dan bukan bacaan bagi para bocil. Jadi, diharapkan menyikapinya dengan bijak.
Dengan hanya memakai celananya saja, Ling Tian bergegas menghilang dari kamarnya dan dengan sekejap langsung muncul di dalam kamar Su Mei. Awalnya Su Mei tersentak kaget dengan kemunculan tiba-tiba dari Ling Tian. Namun, setelah ia mengetahui bahwa itu adalah Ling Tian, dirinya akhirnya menjadi tenang kembali.
Akan tetapi, wajah Su Mei segera memerah ketika melihat tubuh Ling Tian dalam keadaan setengah telanjang. Dengan cepat ia pun menundukkan kepala untuk menghindari tatapan matanya yang tertuju pada dada bidang serta perut Ling Tian yang memiliki otot-otot cukup kekar tersebut.
Bahkan sekarang jantung Su Mei sudah berdetak kencang sebelum Ling Tian berada lebih dekat lagi dengannya. Ada sedikit ketegangan di dalam hati Su Mei saat membayangkan apa yang selanjutnya akan terjadi pada dirinya.
Sesudah memasang Formasi Penyegelan, tanpa berbicara apa pun lagi Ling Tian segera berjalan menghampiri Su Mei dan secara perlahan mulai bergerak melepas satu per satu semua yang dikenakan olehnya. Su Mei tampak sangat pasrah seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya saat Ling Tian melakukan aksinya tersebut.
Ling Tian menyeringai lebar melihat tampilan Su Mei saat ini yang sudah tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. Gejolak gairah di dalam diri Ling Tian yang sebelumnya sudah padam ketika telah selesai bermain bersama Lin Yue, kini bangkit kembali secara spontan tanpa perlu lagi menggunakan energi Qi-nya, begitu ia melihat kulit putih mulus milik Su Mei terpapar jelas di depannya.
Dulu, saat ia direndam dengan Susu Stalaktit di dalam bak mandi, Su Mei tampak biasa saja ketika Ling Tian memandang seluruh tubuh telanjangnya. Tapi sekarang, perasaan malu terlihat jelas dari rona merah yang bagaikan apel masak itu terdapat di wajahnya. Sikap dingin yang sering ditunjukkannya juga benar-benar telah menghilang.
Setelah melepaskan pakaiannya sendiri, Ling Tian merebahkan tubuh Su Mei di atas ranjang dengan posisi terlentang. Kemudian ia pun melanjutkan aksinya dengan mulai mencumbu setiap bagian tubuh Su Mei yang sangat indah dan menggairahkan itu.
Tindakan Ling Tian tersebut membuat tubuh Su Mei menggigil seperti orang yang sedang kedinginan. Napasnya berhembus tidak teratur. Tanpa ia sadari, desahan lembut akhirnya keluar secara spontan dari mulutnya. Bahkan sedikit demi sedikit desahan itu berubah menjadi rintihan-rintihan kecil yang membuat Ling Tian semakin bersemangat melakukan aksinya.
Tubuh Su Mei akhirnya menggeliat ke sana-kemari ketika merasakan sensasi aneh yang terus menerjang dirinya. Tangannya juga secara refleks meraih kepala Ling Tian dan mulai mencium bibirnya.
Ling Tian sempat terkejut melihat tindakan inisiatif dari Su Mei, karena hal ini juga merupakan pertama kali baginya melakukan tindakan yang seperti itu. Namun, dengan cepat Ling Tian segera membalas ciuman tersebut dengan gairah yang menggebu-gebu.
__ADS_1
Setelah cukup lama bercumbu mesra, Ling Tian berbisik pelan di telinga Su Mei, "Mei'er, mari kita memulainya!"
Su Mei hanya menganggukkan kepalanya saat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Ling Tian. Secara naluriah kakinya membuka cukup lebar, seolah-olah hendak memberitahu pada Ling Tian agar melakukan apa yang diinginkannya.
Tanpa menunda lebih lama lagi, Ling Tian pun segera menempatkan tubuhnya dengan posisi setengah berjongkok dan siap menyerang pertahanan Su Mei yang sudah terbuka. Setelah meletakkan adik kecilnya yang gagah perkasa itu di depan tempat yang sudah semestinya, maka Ling Tian secara perlahan mulai memberikan tekanan yang sangat lembut agar Su Mei tidak terlalu merasakan sakit.
Meski demikian, kerutan pada alis Su Mei tetap terlihat jelas karena menahan rasa perih yang dideritanya, walaupun Ling Tian juga sudah mencoba bersikap sangat lembut terhadap dirinya.
"Ssshhh ...."
Terdengar desisan pelan dari mulut Su Mei. Wajahnya tampak meringis kesakitan ketika merasa pertahanan yang ada di dalam tubuhnya telah jebol. Itu ditandai dengan percikan darah yang mengalir keluar membasahi seprai tempat tidurnya.
Sebenarnya Ling Tian hendak menghentikan sejenak aksinya tersebut saat ia memikirkan keadaan yang dialami oleh Su Mei. Akan tetapi, tangan Su Mei dengan cepat bergerak menarik tubuh Ling Tian agar terus melanjutkan serangan yang telah dilancarkannya.
"Ssshhh ...."
Sekali lagi terdengar desisan pelan keluar dari mulut Su Mei, ketika merasakan suatu benda besar dan keras yang terus melesak masuk ke dalam tubuhnya. Kakinya sedikit bergetar menahan perih yang seakan menyengat jiwanya. Secara otomatis pula cairan penetralisasi juga terus keluar mencoba meredakan rasa perih yang dideritanya.
Ling Tian menarik tubuhnya ke atas sedikit demi sedikit, kemudian kembali memberikan serangan lembut agar dapat meringankan perih yang dialami oleh Su Mei. Secara perlahan akhirnya Su Mei mulai bisa beradaptasi dengan benda besar dan keras yang terus menerjang dirinya.
Desisan yang awalnya menandakan kesakitan Su Mei, kini berganti menjadi desahan yang menggairahkan. Rintihan kenikmatan Su Mei pun mulai terdengar menggema di dalam kamar tersebut. Bahkan erangan yang keluar dari mulutnya lebih keras dari apa yang dikeluarkan oleh Lin Yue, ketika sebelumnya ia sudah bertarung melawan Ling Tian.
__ADS_1
Keringat Ling Tian dan Lin Yue terus bercucuran membasahi seprai tempat tidur mereka. Pertarungan keduanya benar-benar dahsyat. Ranjang terus berderit dan bergoyang mengikuti pergerakan yang mereka lakukan. Jika saja ranjang tersebut tidak menggunakan bahan yang bermutu tinggi, mungkin akan segera patah dan hancur karena tak mampu lagi mengimbangi beban yang ditanggungnya.
Dalam pertarungan itu, Su Mei telah berkali-kali mengeluarkan cairan dari dalam tubuhnya yang seolah-olah membawa jiwanya melayang terbang ke alam surga. Meski demikian, Ling Tian belum mau menuntaskan serangannya. Ia bahkan menarik tubuh Su Mei agar berada di atasnya. Hal ini dilakukan oleh Ling Tian yang bermaksud agar Su Mei dapat memberikan serangan balik terhadap dirinya.
Mengikuti arahan Ling Tian, Su Mei pun mulai bergerak sesuai instruksi yang diajarkan kepadanya. Awalnya gerakan Su Mei sangat kaku dan tampak malu-malu karena baru pertama kali ini juga ia melakukan hal tersebut. Ling Tian mencoba membantunya dengan menaik turunkan tubuh Su Mei secara perlahan.
Tapi seiring berjalannya waktu, Su Mei akhirnya sudah terbiasa dengan hal itu. Ling Tian tidak lagi membantunya dan membiarkan Su Mei melakukan sesuai dengan kehendak hatinya.
Pergerakan Su Mei yang awalnya hanya pelan saja, kini berganti menjadi lebih cepat. Serangan balasan yang diluncurkannya itu akhirnya membuat Ling Tian menjadi kewalahan.
Napas Ling Tian berhembus kencang dan kian memburu menikmati semua serangan yang datang padanya. Begitu pula dengan napas Su Mei yang terdengar terengah-engah karena merasakan sesuatu yang ada di dalam tubuhnya hendak keluar untuk yang kesekian kalinya.
Melihat hal ini, Ling Tian pun berniat menuntaskan hasratnya bersamaan dengan Su Mei dalam posisi seperti itu. Su Mei terus meliuk-liuk di atas tubuh Ling Tian. Ketika sekali lagi pintu alam surgawi telah terbuka, pergerakan Su Mei menjadi semakin cepat dan liar.
Ling Tian juga merasakan hal yang sama. Begitu pintu surgawi telah terbuka untuknya, ia membantu pergerakan Su Mei agar menjadi lebih cepat lagi.
"Aaaahhh!"
Beberapa saat kemudian, hampir secara serempak suara Ling Tian dan Su Mei menggema di dalam kamar mereka. Keduanya akhirnya berhasil masuk ke dalam alam surgawi secara bersamaan.
Su Mei pun jatuh perlahan di atas tubuh Ling Tian. Kelelahan terpancar jelas dari raut wajahnya yang sedang tersenyum bahagia. Semburan lahar hangat milik Ling Tian terasa sangat nikmat ketika masuk ke dalam dan menyatu dengan tubuhnya. Su Mei menutup matanya untuk merasakan sisa-sisa kenikmatan yang menjalar ke dalam relung jiwanya sendiri. Hingga secara perlahan ia pun terlelap di atas tubuh Ling Tian.
__ADS_1
Sambil menyunggingkan senyumnya, Ling Tian tetap membiarkan Su Mei tidur dengan posisi seperti itu. Bahkan ia juga menutup matanya sembari memeluk tubuh Su Mei dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Karena sebentar lagi matahari akan segera terbit, maka Ling Tian mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar Jia Xiulan dan ikut tertidur bersama Su Mei dengan posisi ambigu tersebut.