
"Hmph! Jangan percaya dengan kata-katanya, Kakek! Tidak mungkin dia berasal dari Benua Langit Tingkat Menengah dan menjadi hal yang sangat mustahil bahwa dia bisa selamat dari Jurang Keputusasaan. Bahkan anak kecil saja tidak akan percaya dengan apa yang diucapkannya." Pemuda bernama Zi Nan, yang baru saja bertarung untuk memperebutkan kepemilikan Danau Suci tersebut, berkata pada Pemimpin Sekte Pedang Angin Selatan, sembari mendengus kesal ke arah Ling Tian.
Zi Nan juga merupakan cucu kesayangan dari Pemimpin Sekte Pedang Angin Selatan, sehingga hanya dialah yang berani bertindak sedemikian rupa di depannya.
"Apa yang dikatakan Zi Nan sangat benar, Pemimpin! Bagaimana mungkin ada orang yang bisa selamat dari Jurang Keputusasaan? Apalagi pemuda tersebut mengatakan bahwa dia tiba-tiba muncul di tempat ini melalui Jurang Keputusasaan. Dari kata-katanya saja itu sudah membuktikan bahwa dia telah berbohong." Salah satu tetua membenarkan perkataan Zi Nan.
"Hmmm ... Sebaiknya kita memberikan hukuman yang sangat berat pada pemuda ini, Pemimpin. Dia telah berani masuk ke dalam Danau Suci dan menyerap energi murni yang ada di sana. Bahkan ia berani menghancurkan Formasi Pelindung yang kita pasang. Aku juga merasakan bahwa energi murni pada Danau Suci sudah berkurang sangat banyak." Tetua lainnya pun ikut mengeluarkan pendapatnya.
Akan tetapi, semua orang melihat Pemimpin Sekte Pedang Angin Selatan terus menatap Ling Tian lekat-lekat seolah tak mendengarkan perkataan Zi Nan dan juga kedua tetua itu.
Ling Tian hanya diam saja sambil tersenyum kecil ketika melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Pemimpin Sekte Pedang Angin Selatan terhadap dirinya.
"Hehehe ... Sepertinya kakek tua ini tidak bodoh seperti orang-orang itu." Ling Tian tertawa lirih di dalam hatinya.
"Anak muda! Tadi kamu mengatakan namamu adalah Ling Tian 'kan?" tanya Pemimpin Sekte Pedang Angin Selatan.
"Yah ... Betul, kakek tua. Namaku adalah Ling Tian," jawab Ling Tian singkat.
"Apakah semua yang kamu katakan tadi juga benar?" tanya Pemimpin Sekte Pedang Angin Selatan lagi dengan tatapan menyelidik, tanpa tersinggung dengan kata-kata Ling Tian yang memanggilnya dengan sebutan 'Kakek tua'.
"Ya! Semua yang aku katakan benar adanya."
Mendengar jawaban Ling Tian yang tegas, Pemimpin Sekte Pedang Angin Selatan menoleh ke arah Pemimpin Sekte Pedang Awan dan berkata, "Chao Tua! Bagaimana menurutmu? Apakah kamu berpikir seperti yang aku pikirkan?"
"Hei, Zi Tua! Kamu selalu saja melemparkan setiap masalah kepadaku. Tidak bisakah kamu menyelesaikannya sendiri?" jawab Pemimpin Sekte Pedang Awan dengan nada mengeluh.
"Huuhh ... Sudah berulang kali aku katakan kepadamu bahwa aku tidak pernah melemparkan masalah kepadamu, melainkan aku meminta pendapatmu," gerutu Pemimpin Sekte Pedang Angin Selatan.
__ADS_1
"Apakah kamu sungguh-sungguh ingin mendengarkan pendapatku, Zi Tua?"
"Ya! Tentu saja aku ingin mendengarnya."
"Menurutku, apa yang dikatakan oleh pemuda bernama Ling Tian itu benar."
"Ya! Aku juga sependapat denganmu, Chao Tua.
"Hei ... Hei ... Mengapa dari dulu kamu selalu mengikuti pendapatku, Zi Tua?"
"Itu karena kita sebenarnya selalu sependapat, Chao Tua!"
Mendengar kedua pemimpin sekte tersebut mulai bertengkar, wajah semua orang langsung berubah masam. Sedangkan untuk Ling Tian sendiri, ia berusaha menahan dirinya untuk tidak tertawa melihat tingkah eksentrik dari kedua kakek tua yang ada di depannya ini.
"Apakah kalian berdua benar-benar percaya kepadaku?" tanya Ling Tian sambil menyunggingkan senyum khasnya.
"Mmm ... Aku juga!" tambah Pemimpin Sekte Pedang Angin selatan sambil mengangguk.
"Mengapa?" tanya Ling Tian lagi dengan nada keheranan.
Semua orang yang berada di tempat itu juga ingin tahu apa alasan Pemimpin Sekte mereka berkata demikian. Mengapa Pemimpin Sekte mereka sangat mudah percaya dengan apa yang diucapkan oleh seorang pemuda yang baru saja mereka temui?
"Aaiihh ... Ceritanya sangat panjang. Kamu sajalah yang menceritakannya Chao Tua!" ujar Pemimpin Sekte Pedang Angin Selatan.
"Benar 'kan apa yang aku katakan? Kamu selalu saja melemparkan masalah kepadaku, Zi Tua!" balas Pemimpin Sekte Pedang Awan dengan nada kesal. Kemudian melanjutkan, "Baiklah, aku akan menceritakannya. Meskipun aku masih ragu-ragu dengan apa yang kamu katakan tentang asalmu dari Benua Langit Tingkat Menengah, tapi aku percaya tentang kamu yang telah melalui Jurang Keputusasaan."
"Sebenarnya, aku dan Zi Tua adalah seperguruan. Guru kami adalah seorang kultivator tingkat Bintang Raja yang disebut juga sebagai Raja Bela Diri. Semua orang pun tahu bahwa tingkat kultivasi Bintang Raja berada di atas tingkat Bintang Langit."
__ADS_1
"Guru kami berasal dari Benua Langit Tingkat Atas. Dia juga dibawa oleh Terowongan Spasial ke Benua Persimpangan langit ini sekitar 500 tahun yang lalu. Guru kami terus mencari cara untuk kembali ke Benua Langit Tingkat atas. Namun, saat itu dia belum berhasil mencapai tujuannya dan malah terjebak di dalam Jurang Keputusasaan selama bertahun-tahun."
"Dia berhasil keluar dari sana karena terpaksa menggunakan Harta Pusakanya yang memungkinkan dirinya berteleportasi ke tempat ini. Dua ratus tahun yang lalu, dia menemukan kami berdua dan mengangkat kami untuk menjadi muridnya. Dia pun berkata bahwa Harta Pusakanya tersebut akan terus berada di dalam Jurang Keputusasaan dan bisa membantu para kultivator yang terjatuh di sana, selama mereka mampu bertahan sampai mereka menemukan Harta Pusakanya itu."
"Setelah mengajarkan kami masing-masing teknik pedang yang dimilikinya, Guru kami pun pergi lagi untuk mencari cara kembali ke Benua Langit Tingkat Atas. Itu sudah 150 tahun yang lalu. Menurutku, Guru kami telah berhasil kembali ke Benua Langit Tingkat Atas."
Mendengar cerita Pemimpin Sekte Pedang Awan, akhirnya semua orang mengerti mengapa kedua Pemimpin Sekte tersebut percaya bahwa Ling Tian benar-benar telah memasuki Jurang Keputusasaan.
"Hmmm ... Jadi seperti itu, yah?! Berarti pusaran energi yang aku temui di dalam Jurang Keputusasaan adalah Harta Pusaka milik Guru kalian. Sebab, pusaran energi itulah yang membawaku ke tempat ini." Ling Tian berkata dengan nada sedikit bersemangat ketika ia selesai mendengarkan kisah yang diceritakan oleh Pemimpin Sekte Pedang Awan tersebut.
"Ya ... Seperti itulah. Guruku juga menjelaskan kepada kami bahwa Harta Pusakanya dapat membentuk pusaran energi yang membuatnya berteleportasi ke tempat ini," jawab Pemimpin Sekte Pedang Awan.
"Jika kalian berdua adalah murid dari Raja Bela Diri itu, mengapa kalian mendirikan sekte yang berbeda? Bukankah lebih baik jika sekte kalian bersatu?" tanya Ling Tian heran.
"Itu karena sejak kami berdua diangkat oleh Guru untuk menjadi muridnya, kami diperintahkan agar terus bersaing untuk menentukan siapa yang lebih kuat di antara kami," balas Pemimpin Sekte Pedang Angin Selatan sebelum Pemimpin Sekte Pedang Awan menjawabnya, lalu menambahkan, "Dan akulah yang terkuat di antara kami berdua. Hahaha ...."
"Ciihh ... Itu di waktu dulu! Tapi sekarang, kamu tidak bisa lagi mengalahkanku," cibir Pemimpin Sekte Pedang Awan.
"Hmph ... Chao Tua! Apakah kamu berani bertarung denganku sekarang? Belum lama ini Teknik Pedang Anginku sudah mencapai tingkat kesempurnaan dibandingkan dengan Teknik Pedang Awanmu itu." Pemimpin Sekte Pedang Angin Selatan mendengus kesal.
"Huuhh ... Siapa yang takut, Zi Tua?! Apakah kamu berpikir hanya Teknik Pedang Anginmu itu yang telah mencapai tingkat kesempurnaan? Teknik Pedang Awanku juga sudah mencapainya, bahkan mungkin lebih sempurna dibanding penguasaanmu terhadap pedang." Pemimpin Sekte Pedang Awan menekuk sudut-sudut bibirnya membentuk senyum mengejek.
Melihat kedua Pemimpin Sekte tersebut terus bertengkar dan bahkan sudah bersiap-siap akan bertarung, Ling Tian tidak bisa lagi menahan tawanya. Sebab, menurutnya kedua pria tua itu benar-benar memiliki sikap yang eksentrik, sehingga Ling Tian senang dengan sikap mereka.
Karena dia tahu, walau keduanya terus bertengkar, itu hanyalah pertengkaran untuk membuktikan siapa yang terkuat dan tidak akan ada niat membunuh di dalamnya.
"Hahaha ... Kakek Tua! Bagaimana kalau kalian berdua bertarung denganku sekaligus? Bila ada di antara kalian yang dapat melukaiku sedikit saja, maka ia adalah orang yang terkuat dan menjadi pemenangnya!" seru Ling Tian seraya tertawa gembira.
__ADS_1