
Ketika sampai di tempat penerimaan misi, Shen Tu Jiang dan teman-temannya mengerutkan alis mereka saat merasakan aura keberadaan Ling Tian telah menghilang.
"Sepertinya kita datang terlambat. Sampah Ling Tian itu sudah melarikan diri lagi," berang Shen Tu Jiang seraya melirik ke kiri dan ke kanan untuk memeriksa keadaan di sekitarnya.
"Mungkinkah dia telah mengetahui rencana kita?" Qingxue bertanya dengan nada keheranan.
"Aku yakin bahwa sampah Ling Tian tersebut tidak mengetahui rencana kita. Sebab, semalam aku tak merasakan auranya mendekati kediamanku," jawab Shen Tu Jiang dengan sungguh-sungguh. "Aku merasa dia sengaja menjaga jarak dengan kita. Mungkin sejak awal saat di tempat kompetisi dia telah mendengar bahwa kita sangat tertarik dengan teknik pergerakannya."
"Mmm ... Bisa jadi seperti itu," balas Ming Cheng sambil mengangguk pelan.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Nalan Peng sembari menyipitkan matanya tanpa menyembunyikan kemarahan yang terkandung di dalam ucapannya.
"Mari kita selidiki terlebih dahulu apa yang dilakukan Ling Tian di tempat ini. Mungkin dia mengambil sebuah misi untuk mendapatkan poin kontribusi." Ming Cheng memberi saran kepada Shen Tu Jiang dan yang lainnya.
"Ya! Ayo segera pergi memeriksanya!" jawab Shen Tu Jiang singkat.
Mereka semua pun bergegas memasuki gedung penerimaan misi untuk mencari tahu apakah Ling Tian telah mengambil sebuah misi untuk dirinya sendiri.
---------------
Ling Tian terus melesat sangat cepat ke arah salah satu lembah yang terdekat dengan area tempat tinggal para Murid Dalam. Setelah sampai, ia langsung mengedarkan indra spiritualnya untuk memeriksa seluruh area lembah tersebut.
Beberapa saat kemudian, Ling Tian hanya bisa tersenyum pahit karena mengetahui bahwa tidak ada satu pun Rumput Roh Bintang di lembah itu. Segera, Ling Tian bergegas menuju ke lembah lainnya dengan harapan dapat menemukan Rumput Roh Bintang di sana.
"Huuhhh ... Di tempat ini pun tak ada Rumput Roh Bintang-nya," gerutu Ling Tian dengan nada penuh kekecewaan.
"Hmmm ... Di sini juga tak ada ...."
__ADS_1
"Aaiihh ... Di lembah ini juga tak ada ...."
"Mengapa lembah yang satu ini sangat miskin. Bahkan Tumbuhan Roh-nya hanya berada di kualitas rendah."
Ling Tian terus menggerutu dan mengeluh saat mengetahui bahwa di dalam setiap lembah yang telah diperiksanya tak memiliki Rumput Roh Bintang.
Waktu pun berlalu dengan cepat. Tanpa terasa matahari sudah hampir terbenam. Ling Tian juga telah memeriksa semua lembah yang berada di bagian wilayah Murid Dalam, Sekte Kabut Racun. Namun, ia hanya menemukan beberapa Tumbuhan Roh beracun yang ada di dalam daftar misinya. Sedangkan untuk Rumput Roh Bintang yang dicarinya itu benar-benar tak ada di sana.
Di depan Ling Tian saat ini adalah sebuah gunung yang tinggi dan cukup besar. Menurut apa yang telah dijelaskan oleh ketiga Tetua yang mengantar mereka ke tempat tinggal para Murid Dalam, bahwasanya gunung tersebut adalah perbatasan antara wilayah Murid Dalam dan wilayah Murid Inti.
Para Tetua sangat melarang semua Murid Dalam untuk masuk ke wilayah Murid Inti karena di sana adalah tempat yang sangat berbahaya bagi mereka yang tingkat kultivasinya hanya berada di tahap Bintang Berlian.
Selain Binatang Roh di tempat itu dapat membunuh mereka, ada juga bahaya lain yang berasal dari para Murid Inti yang memiliki sifat jahat dan sangat tak bersahabat.
"Hmmm ... Wilayah Murid Inti yah?!" gumam Ling Tian seraya tersenyum kecil, kemudian melanjutkan, "Hehehe ... Kalau begitu, mari kita lihat bahaya apa yang bisa mereka berikan terhadap diriku."
Dengan indra spiritualnya, Ling Tian memang mendeteksi adanya beberapa Binatang Roh tingkat lima saat dia telah berada di wilayah Murid Inti. Namun, tingkat kultivasi dari semua Bintang Roh ini hanya berada di tahap pertama Bintang Bumi dan itu sedikit pun takkan membahayakan Ling Tian. Karena baginya, semua Binatang Roh tersebut hanyalah seperti seekor semut di matanya.
Setelah memasuki wilayah Murid Inti, Ling Tian memalingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk mencari lembah yang mungkin di dalamnya terdapat Rumput Roh Bintang.
"Hmmm ... Aku akan mulai dengan lembah yang di sana!" gumam Ling Tian pelan, lalu menghilang dari tempatnya.
Dalam sekejap saja, Ling Tian sudah berada di dalam lembah tersebut. Beberapa Tumbuhan Roh yang dapat digunakan sebagai bahan pil serta Tumbuhan Roh beracun telah terdeteksi oleh indra spiritualnya. Akan tetapi, lagi-lagi Ling Tian tidak menemukan Rumput Roh Bintang berada di sana.
Meskipun demikian, Ling Tian tetap mengambil semua Tumbuhan Roh itu karena semuanya sangat berguna dan memiliki kualitas yang cukup bagus.
"Mari kita coba dengan lembah yang di sana!" Ling Tian berbicara pada dirinya sendiri seolah-olah untuk meningkatkan semangatnya walau kemungkinan besar lembah tersebut juga tidak memiliki Rumput Roh Bintang di dalamnya.
__ADS_1
Hal itu memang benar. Sekali lagi Ling Tian dibuat kecewa dan hanya bisa tersenyum kecut ketika mengetahui bahwa tak ada satu pun jejak Rumput Roh Bintang di dalam lembah tersebut.
"Huufftt ... Mencari Rumput Roh Bintang ini seperti mencari sebuah jarum dalam tumpukan jerami." Ling Tian menghembuskan napasnya dalam-dalam untuk menghilangkan kekecewaan di hatinya. Setelah termenung beberapa saat, ia pun melanjutkan dengan tawa lirih sambil menepuk-nepuk dadanya, "Hehehe ... Jangankan dalam tumpukan jerami, jarum yang jatuh ke dalam lautan pun akan aku cari jika hal itu dapat meningkatkan kultivasiku. Aku hanya akan mempermalukan gelarku sebagai pria tertampan di Benua Langit jika menyerah dengan keadaan seperti ini."
Ling Tian pun melesat terbang lagi ke lembah yang lainnya. Meski hari sudah malam dan sangat gelap, Ling Tian belum menghentikan pencariannya terhadap Rumput Roh Bintang.
---------------
Di dalam pegunungan yang diselimuti dengan kabut tipis, terdengar suara pertarungan yang sangat sengit. Dua orang kultivator sedang bertarung melawan seekor Binatang Roh. Salah satu di antaranya adalah seorang kultivator wanita.
"Saudari Qian Qian, jangan lengah! Hati-hati terhadap racun dari Piton Lima Garis ini," seru kultivator pria untuk memberikan peringatan kepada kultivator wanita yang berada tak jauh darinya.
"Kamu juga, saudara Xifeng!" teriak kultivator wanita yang dipanggil sebagai saudari Qian Qian tersebut.
Keduanya terus melancarkan serangan terkuatnya terhadap Binatang Roh yang berupa seekor ular besar dengan panjang sekitar 50 meter. Itu adalah Binatang Roh yang disebut sebagai Piton Lima Garis.
Lima buah garis yang terdapat pada tubuh ular piton itu berwarna putih, yang menandakan bahwa ular piton tersebut masih muda dan tingkat kultivasinya juga sama dengan kedua kultivator yang sedang menyerangnya, yaitu berada pada tahap pertama Bintang Bumi. Kelima garis itu pun menandakan bahwa sang ular piton adalah Binatang Roh tingkat lima.
Pertempuran terus berlangsung. Di tubuh Piton Lima Garis tampak beberapa luka hasil tusukan serta tebasan pedang dari kedua kultivator tersebut. Meskipun demikian, tubuh Piton Lima Garis sangatlah keras. Sehingga luka-luka itu tidak terlalu berpengaruh dan membahayakan dirinya. Namun, tetap saja kecepatan pergerakannya sedikit lebih melambat dari yang sebelumnya.
"Saudari Qian Qian! Ini kesempatan kita. Pergerakan dari Piton Lima Garis ini semakin melambat. Seranglah dengan kekuatan penuh pada titik-titik vital yang terdapat di bagian belakangnya. Aku akan menyerangnya dari depan." Sekali lagi kultivator pria bernama Xifeng berseru memberikan perintah.
"Mmm!" Kultivator bernama Qian Qian tersebut menjawabnya dengan anggukan tegas.
Piton Lima Garis yang mengerti dengan tujuan keduanya segera memuntahkan racun dari mulutnya yang berupa cairan kental berwarna kuning ke arah mereka. Racun itu seperti sulfur dan sangat mematikan.
Keduanya dengan cekatan langsung menghindar karena sangat mengetahui akibat yang akan ditimbulkan oleh racun tersebut. Jika itu terkena pada tubuh seorang kultivator yang memiliki tingkat kultivasi pada tahap pertama Bintang Bumi, tubuhnya akan meleleh bila tidak cepat menelan penawarnya.
__ADS_1