
Pertempuran antara dua orang kultivator melawan seekor Piton Lima Garis masih berlangsung dengan sengit. Pepohonan serta bebatuan yang berada di sekitar area pertempuran tersebut telah hancur berkeping-keping.
Piton Lima Garis semakin terdesak seiring bertambahnya luka-luka di titik-titik vital pada bagian tubuhnya. Gerakannya juga kian melambat dan kekuatannya makin melemah.
Melihat hal itu, kedua kultivator menjadi lebih bersemangat melancarkan serangannya. Tebasan dan tusukan pedang mereka terus menghujam tubuh Piton Lima Garis dengan sangat ganas.
"Inilah saatnya," gumam kultivator pria yang bernama Yan Xifeng, kemudian bergerak dengan cepat ke arah kepala Piton Lima Garis. Pedang di tangannya langsung ditusukkan tepat di tengah-tengah kepala Piton Lima Garis tersebut.
JLEB
Pedang Yan Xifeng terus masuk ke dalam kepala Piton Lima Garis dan menghancurkan tengkoraknya. Piton Lima Garis pun mendesis keras karena sangat kesakitan. Kepalanya berayun kencang ke kiri dan ke kanan, kemudian tubuhnya bergetar hebat lalu menjadi kaku dan jatuh ke tanah.
"Fiiuuhh ... Akhirnya kita berhasil membunuh Piton Lima Garis ini setelah mengejarnya selama berhari-hari." Yan Xifeng menghela napas lega.
"Yaah ... Usaha kita juga sepadan dengan hasilnya, saudara Xifeng. Seluruh tubuh Piton Lima Garis ini merupakan harta yang sangat berharga untuk meningkatkan kultivasi kita," ujar kultivator wanita yang bernama Ning Qian Qian dengan penuh semangat.
Meskipun energi Qi dari keduanya telah terkuras banyak dan hampir habis, tetapi mereka berdua sangat gembira karena berhasil membunuh Piton Lima Garis yang seluruh tubuhnya sangat berguna bagi kultivator tahap pertama Bintang Bumi.
Daging Piton Lima Garis dapat meningkatkan kultivasi dengan cepat. Inti energinya juga bisa meningkatkan kultivasi jika dimurnikan terlebih dahulu dan merupakan bahan yang sangat bagus untuk membuat pil. Tulang beserta kulitnya pun merupakan bahan untuk membuat senjata.
"Saudari Qian Qian! Sesuai perjanjian, kita akan membagi setengah dari hasil buruan yang kita dapatkan," ucap Yan Xifeng seraya tersenyum lebar. Kemudian melanjutkan, "Namun, aku hanya akan mengambil setengahnya saja dari daging Piton Lima Garis ini dan kamu bisa mengambil semua yang tersisa."
"Ah, itu tidak benar! Kita tetap akan membaginya secara merata. Aku tak ingin mengambil keuntungan yang berlebihan darimu. Apalagi, kamulah sebenarnya yang telah membunuh Piton Lima Garis ini," Ning Qian Qian sedikit terkejut ketika mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Yan Xifang.
"Aaiihh ... Tak perlu sungkan denganku, saudari Qian Qian. Aku hanya membutuhkan setengahnya saja dari daging Piton Lima Garis ini untuk meningkatkan kultivasiku. Untuk sisanya, aku tak memerlukannya," balas Yan Xifeng dengan tulus.
__ADS_1
Ning Qian Qian ingin membantahnya dan tetap akan membagi tubuh Piton Lima Garis secara merata. Tapi, sebelum ia berkata, sebuah suara tawa yang terdengar keras tiba-tiba menghentikannya.
"Hahaha ...."
Saat suara tawa itu berakhir, tiga sosok pria segera muncul tak jauh dari tempat Yan Xifeng dan Ning Qian Qian berada.
"Kalian berdua tidak perlu repot-repot lagi untuk membagi tubuh Piton Lima Garis ini. Sebab, kami yang akan mengambilnya!" ujar salah seorang dari ketiga pria tersebut dengan nada mencibir.
Sebelumnya, Yan Xifeng dan Ning Qian Qian berkonsentrasi penuh ketika bertarung melawan Piton Lima Garis yang membuat mereka berdua tidak terlalu memperhatikan keadaan sekitarnya. Sehingga mereka tak merasakan bahwa ada beberapa mata yang terus memperhatikan tindakan mereka dari kejauhan.
"Hentikan omong kosongmu itu, Guang Jiao! Ini adalah hasil buruan kami. Mengapa kalian bertiga tidak pergi untuk mencari buruan kalian sendiri?!" Yan Xifeng berteriak marah ke arah ketiga pria yang berdiri tak jauh di depannya.
"Kekeke ... Sungguh menggelikan. Mengapa harus bersusah payah mencari buruan jika sudah ada yang tersedia tepat di depan mata kami sendiri." Pria bernama Guang Jiao terkekeh sambil menyipitkan matanya memandang ke arah Yan Xifeng dan Ning Qian Qian dengan tatapan membunuh. Lalu menoleh pada kedua pria yang berdiri di sebelahnya, "Saudara Hu Jie, saudara Zhong Liu! Apa yang harus kita lakukan kepada mereka berdua?"
"Karena sesama anggota sekte dilarang membunuh, maka kita hanya perlu merampas buruan mereka saja. Namun, jika mereka melawan, maka kita akan membuat keduanya terluka parah sebagai hukuman karena tak patuh pada seniornya," jawab pria yang dipanggil sebagai saudara Hu Jie tersebut seraya menekuk sudut-sudut bibirnya yang memperlihatkan senyum jahat.
"Hmph ... Benar-benar tak tahu malu! Kami yang telah bersusah payah bertarung melawan Piton Lima Garis ini hingga berhasil membunuhnya, tetapi malah kalian yang akan mengambil hasilnya." Ning Qian Qian berseru dan mendengus marah saat mendengar perkataan dari ketiga pria itu. Pedang yang masih berada di tangannya tampak bergetar karena mencoba menahan emosinya.
Yan Xifeng juga telah memasang sikap siap bertempur meski dirinya cukup kelelahan karena energi Qi-nya yang hampir habis ketika digunakan untuk bertarung melawan Piton Lima Garis.
"Hmmm ... Sepertinya mereka benar-benar tidak ingin menyerahkan tubuh Piton Lima Garis ini kepada kita. Kalau begitu, kita hanya perlu melumpuhkan mereka saja," ucap Guang Jiao dengan nada mencemooh, kemudian mengeluarkan pedang dari Cincin Ruangnya.
Hu Jie dan Zhong Liu pun mengeluarkan pedang mereka masing-masing dan bersiap menunggu aba-aba dari Guang Jiao untuk menyerang Yan Xifeng dan Ning Qian Qian.
Tingkat kultivasi mereka semua berada pada tahap pertama Bintang Bumi. Namun, hal ini tetap terlihat tidak seimbang. Meskipun kemampuan Yan Xifeng dan Ning Qian Qian bisa mengimbangi ketiga orang itu, akan tetapi mereka masih merasa kelelahan karena energi Qi mereka yang sebelumnya sudah banyak terkuras.
__ADS_1
"Serang!" Guang Jiao pun akhirnya memberikan aba-aba kepada Hu Jie dan Zhong Liu. Lalu dirinya juga segera melesat menerjang ke arah Ning Qian Qian.
Sedangkan untuk Hu Jie dan Zhong Liu, mereka berdua bergegas menyerang ke arah Yan Xifeng.
TRANG ... TRANG
Suara senjata yang saling beradu pun terdengar menggema di sekitar tempat pertarungan. Yan Xifeng dan Ning Qian Qian terus berusaha menangkis semua serangan yang datang ke arah mereka dan mencoba mencari celah untuk melancarkan serangan balasan.
---------------
Sementara itu, di waktu yang sama, Ling Tian berdiri di atas sebuah lembah dan mengedarkan indra spiritualnya memeriksa keadaan lembah tersebut untuk mencari keberadaan Rumput Roh Bintang. Setelah beberapa saat, suara helaan napas berat keluar dari mulutnya.
"Huuhh ... Di sini juga tidak ada. Mari kita coba cari di lembah yang berikutnya," keluh Ling Tian, lalu segera menghilang dari tempatnya.
Ketika Ling Tian muncul di atas lembah yang lainnya, dengan cepat ia pun mengedarkan kembali indra spiritualnya menyelemuti seluruh area lembah itu. Dan seperti sebelumnya, Ling Tian hanya menemukan Tumbuhan Roh yang lain dan bukan Rumput Roh Bintang.
Dengan wajah cemberut, Ling Tian bergegas ke arah semua Tumbuhan Roh tersebut dan segera memasukkannya ke dalam Cincin Ruangnya. Setelah selesai, ia pun menghilang lagi dari tempatnya dan langsung menuju ke lembah berikutnya.
Saat Ling Tian sudah sampai di lembah yang ditujunya, dengan pendengarannya yang sangat tajam, secara samar-samar dia mendengar suara pertempuran dari salah satu pegunungan yang berjarak cukup jauh dari tempatnya.
Ling Tian tak memedulikan hal itu karena dirinya sibuk mencari Rumput Roh Bintang di dalam lembah yang sekarang berada di bawah kakinya. Sambil berdiri di atas udara, Ling Tian sekali lagi mengedarkan indra spiritualnya memeriksa keadaan seluruh lembah tersebut.
Namun, hal yang sama terjadi kembali. Lagi-lagi wajah Ling Tian hanya bisa menyunggingkan senyum masam ketika mengetahui tak ada satu pun Rumput Roh Bintang berada di dalam lembah itu.
"Aaiihh ... Sebaiknya aku beristirahat sejenak sambil menonton pertunjukan yang ada di gunung sana," gumam Ling Tian dengan nada menggerutu setelah selesai mengambil semua Tumbuhan Roh di dalam lembah tersebut.
__ADS_1
Kemudian ia pun langsung bergegas pergi ke arah suara pertempuran yang ada di pegunungan dan berniat untuk menghibur kekecewaan di hatinya karena belum menemukan Rumput Roh Bintang.