
“Aaiihh ... Karena semuanya sudah terlanjur seperti ini, jadi lanjutkan saja aksi kita untuk mendukung Senior Niu sepenuhnya. Sedangkan untuk masalah tentang Hong Cao Yan, nanti kita pikirkan bersama setelah pertarungan ini berakhir,” ujar Pang Huaxian dengan nada menggerutu.
Setelah berkata demikian, Pang Huaxian menghembuskan napasnya dalam-dalam. Kemudian ia pun mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu memutar-mutarkan bajunya di udara sambil melompat-lompat, hingga membuat seluruh lemak di tubuhnya bergetar naik turun seirama lompatannya.
“Senior Niu! Lakukanlah seperti apa yang dikatakan oleh Junior Ling! Cepatlah hancurkan wajah Dugu Qiu Li itu hingga keluarga dan teman-temannya tak bisa mengenalinya lagi!” Pang Huaxian berteriak kencang. Bahkan sorakannya lebih keras dari teriakan Ling Tian sebelumnya.
Melihat hal ini, Tang Fei dan Xuan Jirou sekali lagi saling berpandangan dengan menunjukkan wajah masam. Tak pernah sedikit pun terbesit di benak mereka kalau hari ini mereka akan benar-benar berani menyinggung dan memprovokasi Hong Cao Yan.
“Huuhh ... Karena sudah kepalang tanggung, maka sebaiknya kita juga memberi dukungan pada saudara Niu,” papar Tang Fei pada Xuan Jirou. Lalu ia pun melompat-lompat mengikuti tingkah Pang Huaxian dan berseru, “Saudara Niu! Ayo segera hajar si muka bejat Dugu Qiu Li itu! Patahkan rahangnya! Rontokkan juga semua giginya!”
“Ya, saudara Niu! Serang dia dan jangan beri ampun sedikit pun. Bila perlu, hancurkan pula ekor yang berada di selangkangannya itu agar ia tak memiliki keturunan yang mirip dengan muka bejatnya tersebut.” Akhirnya Xuan Jirou ikut juga bersorak meluapkan emosinya yang sudah lama terpendam kepada Dugu Qiu Li.
Para murid yang melihat tingkah Ling Tian bersama teman-temannya itu hanya bisa terus menggeleng-gelengkan kepala mereka saja.
“Habislah! Mereka benar-benar akan selesai hari ini juga. Tidak ada lagi orang yang akan melindungi mereka karena berani memprovokasi Hong Cao Yan secara terang-terangan.”
“Tak usah pedulikan! Hari ini mereka akan menelan buah pahit akibat ulah mereka sendiri.”
__ADS_1
“Bila perlu, kita juga harus menghajar keempat orang tersebut agar membuktikan bahwa kita tidak memiliki hubungan dengan mereka.”
“Ya, itu benar! Kita harus melakukannya agar tidak ikut terkena imbas dari kemarahan Hong Cao Yan.”
Suasana di sekitar arena menjadi riuh dengan komentar para murid yang sangat menyayangkan tindakan impulsif yang dilakukan oleh Ling Tian dan teman-temannya. Para murid itu pun menjadi takut akan ikut terkena dampak dari perbuatan mereka berempat.
Sementara itu di atas arena, Niu Lang yang melihat tingkah konyol dari keempat sahabatnya tersebut hanya bisa pasrah. Menurutnya, situasi yang mereka alami sekarang sudah terlanjur memiliki akhir yang buruk dan tak dapat lagi untuk diubah.
Meski saat ini dia mengalah dan menyerahkan posisi peringkat ke-10 pada Dugu Qiu Li, namun dengan hal itu saja takkan mampu meredakan kemarahan Hong Cao Yan. Setelah memikirkannya secara matang-matang, Niu Lang akhirnya mengambil keputusan untuk memberikan serangan balasan kepada Dugu Qiu Li.
Sekarang yang bisa dilakukannya hanyalah membuktikan dirinya untuk mengamankan posisi sepuluh besar. Mungkin dengan begitu para tetua nantinya akan dapat sedikit membantu untuk meredakan amarah Hong Cao Yan.
Pergerakan yang ditampilkan oleh Niu Lang sangat cepat. Tebasan serta tusukan pedangnya dapat dengan mudah membuat Dugu Qiu Li kewalahan. Dalam kurun waktu tiga menit saja, tubuh Dugu Qiu Li sudah mengalami beberapa luka goresan akibat terkena sayatan pedang milik Niu Lang.
“Hahaha ... Lanjutkan, saudara Niu! Berikan luka yang fatal pada wajah si bejat itu, agar para wanita akan kabur saat bertemu dengan dirinya,” seru Tang Fei sembari melompat-lompat kegirangan. Ia telah melupakan tentang konsekuensi yang akan mereka hadapi setelah pertarungan tersebut berakhir.
Sama halnya dengan Ling Tian, Pang Huaxian dan Xuan Jirou. Mereka juga ikut meneriakkan kata-kata dukungan terhadap Niu Lang. Bahkan Pang Huaxian sudah menari-nari sambil terus menepuk-nepuk perutnya yang dipenuhi oleh lemak tersebut, seolah-olah menjadikan perutnya sebagai gendang pengiring tariannya.
__ADS_1
BOOM
Beberapa saat kemudian, bunyi ledakan yang sangat keras terdengar ketika tubuh Dugu Qiu Li menghantam lantai arena. Tampak rahangnya bergeser akibat terkena pukulan keras milik Niu Lang.
Sebelum dia bangkit untuk berdiri kembali, Niu Lang sudah terlebih dahulu melepaskan tendangan susulan ke arah wajah Dugu Qiu Li. Merasa belum puas dengan tindakannya tersebut, Niu Lang melanjutkan aksinya menginjak-injak wajah Dugu Qiu Li hingga membuatnya tak sadarkan diri.
“Berhenti! Pertarungan telah berakhir. Kamu telah berhasil mengamankan posisi sepuluh besar di bagian Murid Luar ini,” ujar sang wasit untuk menghentikan tindakan Niu Lang.
Mendengar peringatan dari sang wasit yang memimpin pertarungan itu, Niu Lang pun segera menghentikan aksinya. Ia kemudian berbalik ke arah Ling Tian dan yang lainnya sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
“Hahaha ... Selamat, Senior Niu! Kamu telah berhasil menjadi peringkat ke-10 di antara para murid lainnya.” Ling Tian tertawa gembira seraya bertepuk tangan.
BANG
Baru saja Ling Tian menyelesaikan kata-katanya, terdengar bunyi ledakan yang cukup keras dari atas panggung. Kursi yang diduduki oleh Hong Cao Yan telah hancur berkeping-keping akibat energi Qi yang melonjak keluar dari tubuhnya.
Bahkan meja dan tempat duduk milik orang-orang yang bersamanya di atas panggung ikut hancur juga karena terkena dampak dari kekuatan Hong Cao Yan. Untungnya orang-orang tersebut langsung melindungi diri mereka sendiri dengan energi Qi-nya masing-masing, agar tekanan yang dikeluarkan oleh Hong Cao Yan tidak melukai mereka semua.
__ADS_1
Sementara itu, Pang Huaxian, Tang Fei dan Xuan Jirou yang hendak mengucapkan selamat kepada Niu Lang, langsung menghentikan tindakan mereka ketika mendengar suara ledakan di atas panggung. Akhirnya mereka bertiga pun sadar bahwa saat ini mereka harus menerima konsekuensi dari kemarahan Hong Cao Yan.