
Sikap Ling Tian tampak terlihat sangat canggung dengan situasi yang terjadi saat ini. Jika dia menolak permintaan pemimpin Sekte Cahaya Matahari tersebut, maka itu sama halnya ia tak menghargai ketulusan dari sang pemimpin sekte yang ingin menjadikannya sebagai seorang guru.
“Guru! Bagaimana ini?” tanya Ling Tian melalui telepatinya kepada Meng Wanlian dengan menunjukkan tampang memelas.
“A—aku juga tidak tahu!” balas Meng Wanlian seraya menggelengkan kepalanya.
Mendapatkan jawaban seperti itu, Ling Tian hanya bisa menghela napas panjang dan termenung sejenak. Ia berpikir, tak ada salahnya untuk menjadikan sang pemimpin sekte sebagai muridnya sendiri.
Bahkan hal tersebut merupakan sebuah keberuntungan baginya. Dengan begitu, ia bisa meningkatkan kultivasinya secara cepat menggunakan sumber daya berlimpah milik Sekte Cahaya Matahari.
“Ehem ... Baiklah, Pemimpin! Mulai saat ini, aku akan menjadikanmu sebagai muridku yang ....”
“Tidak ... Tidak! Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu!” Belum sempat Ling Tian menyelesaikan kata-katanya, pemimpin Sekte Cahaya Matahari sudah terlebih dahulu menyelanya. “Namaku adalah Yan Qingshan. Jadi, panggil saja namaku secara langsung, Guru!”
“Yah ... Terserahlah! Jika hanya bersama dengan orang-orang yang ada di sini, aku akan memanggil namamu. Tetapi bila kita berada di tempat lain, maka aku akan tetap memanggilmu dengan sebutan Pemimpin,” jawab Ling Tian tegas, lalu menambahkan, “Kalau begitu, bangkitlah! Kamu telah resmi menjadi murid ketiga dari pria tertampan di Benua Langit ini.”
“Aahh ... Tunggu ... Tunggu, Guru! Kita harus melakukan upacara persembahan teh terlebih dahulu. Aku merasa belum sepenuhnya menjadi muridmu jika belum mempersembahkan segelas teh kepadamu.”
Setelah berkata demikian, Yan Qingshan yang merupakan pemimpin Sekte Cahaya Matahari tersebut segera mengeluarkan sebuah teko kuno dan gelas kecil dari Cincin Ruangnya. Kemudian dengan cepat ia menuangkan teh yang ada di dalam teko itu ke dalam gelas dan menyerahkannya kepada Ling Tian.
__ADS_1
“Hah?! Apa ini?” batin Ling Tian dengan nada terkejut, ketika merasakan energi dingin yang sangat kuat terpancar keluar dari gelas yang ada di tangannya.
Melihat Ling Tian mengernyitkan alis dan hanya menatap teh yang telah disuguhkannya, Yan Qingshan pun berbicara kembali, “Guru! Itu adalah Teh Peri Es. Hal tersebut sangat baik untuk meningkatkan kultivasimu yang masih berada di tahap Bintang Langit.”
“Senior Niu! Apakah itu Teh Peri Es yang dibuat oleh pemimpin Sekte Yin Dingin,” tanya Pang Huaxian dengan nada berbisik.
“Aku juga tidak tahu! Namun, bila pemimpin sekte mengatakan demikian, maka itu memang benar Teh Peri Es,” jawab Niu Lang dengan nada yang sama pula.
“Hmmm ... Jika begitu, Junior Ling benar-benar sangat beruntung bisa meminum Teh Peri Es yang sangat langka tersebut. Aku mendengar bahwa selain harganya sangat mahal, itu juga hanya dijual di dalam pelelangan besar yang hanya diadakan setiap 50 tahun sekali,” sambung Tang Fei.
Mendengar percakapan dari para sahabatnya, Ling Tian menjadi sangat tertarik dengan apa yang disebut Teh Peri Es itu. Tanpa basa-basi lagi, ia pun segera meminum Teh Peri Es yang ada di tangannya.
Begitu teh tersebut telah diminum oleh Ling Tian, aura yang sangat dingin langsung menjalar ke setiap titik Meridian yang ada di dalam tubuhnya. Seketika itu juga, Api Ilahi bergegas menyerap semua energi yang berasal dari Teh Peri Es dan mengalirkannya ke dalam Dantian milik Ling Tian.
BANG
Suara ledakan teredam pun terdengar dari dalam tubuh Ling Tian. Energi Qi yang sangat kuat melonjak keluar dan berputar-putar di sekitar tubuhnya. Jika saja Yan Qingshan tidak berada dipegunungan itu, mungkin tempat tersebut telah diporak-porandakan oleh energi Qi yang terpancar dari tubuh Ling Tian.
Setelah sekian lama kultivasinya terjebak dan tak mampu maju karena masalah kekurangan sumber daya, kini Ling Tian pun akhirnya berhasil menerobos tingkat kultivasinya lagi ke tahap ketiga Bintang Langit.
__ADS_1
Ketika energi Qi yang mengamuk sudah masuk kembali ke dalam tubuhnya, Ling Tian segera menghilang dari tempatnya dan muncul di udara sekitar lima kilometer dari puncak gunung kediaman Meng Wanlian.
ROAR
Terdengar auman yang sangat keras menggema ke seluruh wilayah Murid Dalam saat Ling Tian mengekpresikan kegembiraannya. Ia bahkan tidak menghiraukan di mana tempatnya berada saat ini. Yang ingin dilakukannya hanyalah benar-benar meluapkan semua perasaan gembira yang ada di hatinya.
BAM ... BAM ... BAM
Bunyi ledakan di langit terus terdengar saat Ling Tian mulai memperagakan Teknik Dewa Naga Surgawi miliknya. Gelombang udara di sekitarnya juga turut berfluktuasi dengan hebat. Gambar seekor naga muncul mengikuti setiap gerakan yang ditampilkan oleh Ling Tian.
“Sungguh dahsyat! Apakah ini kekuatan Junior Ling yang sebenarnya?” seru Pang Huaxian dengan nada terkejut.
“Yah ... Ini benar-benar luar biasa. Lihatlah! Bahkan energi Qi yang dikeluarkannya memvisualisasikan seekor naga yang sangat kuat. Seolah-olah itu terlihat begitu nyata,” sahut Niu Lang terperangah.
“Mungkin saja teknik yang digunakan oleh Junior Ling berhubungan dengan naga,” sambung Tang Fei singkat.
Sedangkan untuk Xuan Jirou sendiri, ia hanya diam tak berkomentar karena terpana dengan apa yang disaksikannya. Sejak awal, ia merasa bahwa Ling Tian seolah tak pernah berhenti untuk mengejutkan mereka semua.
“Teknik yang sangat aneh! Bahkan dengan kemampuanku yang sekarang, aku tak dapat memahami sedikit pun setiap gerakan yang ditampilkan oleh Guru!” Yan Qingshan berkata di dalam hatinya dengan nada keheranan. “Namun yang lebih anehnya lagi, Guru bisa langsung menerobos tingkat kultivasinya saat meminum Teh Peri Es. Semula aku memprediksikan bahwa ia hanya dapat menerobos sekitar beberapa bulan ketika energi dingin dari teh tersebut telah beradaptasi dengan tubuhnya. Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaanku.”
__ADS_1
“Hahaha ... Lihatlah, Guru! Muridku ini sungguh luar biasa, bukan?! Aku benar-benar sangat beruntung memiliki murid seperti dirinya.” Meng Wanlian tertawa senang melihat ekspresi kebingungan di raut wajah Yan Qingshan.
Yan Qingshan hanya diam saja tak menanggapi perkataan dari Meng Wanlian. Tetapi di dalam hatinya ia mendengus kesal, “Hmph ... Dasar, bocah nakal ini! Apakah dia tidak sadar bahwa muridnya tersebut kini telah menjadi guruku? Seharusnya sekarang dia memanggil muridnya itu dengan sebutan Kakek Guru.”