
Sosok Meng Wanlian segera muncul di sebuah pegunungan yang cukup tenang. Di depannya kini ada sebuah gua besar yang dikelilingi oleh Formasi Pelindung yang sangat kuat.
“Lian'er! Mengapa kamu tampak terburu-buru?”
Baru saja Meng Wanlian hendak berbicara, terdengar suara berat dari dalam gua yang sudah terlebih dahulu menyapanya.
“Maaf karena telah mengganggumu berkultivasi, Guru!” jawab Meng Wanlian sambil membungkuk memberi hormat.
“Apakah ada sesuatu yang terjadi di dalam sekte hingga membuatmu terlihat cemas seperti itu?”
“Yah ... Memang benar, Guru! Ada suatu hal besar yang telah terjadi,” balas Meng Wanlian cepat.
“Hmmm ... Apa itu? Katakanlah!”
Meng Wanlian bergegas mengeluarkan 12 butir Pil Lotus Giok Bulan dari dalam Cincin Ruangnya, lalu berkata dengan nada bersemangat, “Guru, lihatlah pil ini?”
“Hohoho ... Apakah kamu telah memiliki kemajuan dalam meramu pil sehingga menginginkanku untuk memeriksanya secara langsung?”
“Ini bukanlah pil buatanku, melainkan pil buatan dari muridku sendiri, Guru!” ucap Meng Wanlian.
“Ooh ... Akhirnya kamu memiliki seorang murid juga. Hohoho ... Baiklah! Mari kita lihat apa yang sudah kamu ajarkan kepada muridmu itu. Semoga saja dia bisa menjadi seorang Alkemis yang sangat jenius seperti dirimu.”
Begitu suara berat tersebut selesai berbicara, Formasi Pelindung yang mengelilingi gua itu langsung menghilang. Pintu gua juga segera terbuka lebar seolah mengundang Meng Wanlian untuk masuk ke dalam.
Meng Wanlian pun berjalan cepat menuju ke arah gua dengan tergesa-gesa. Namun, ketika jaraknya masih sekitar satu meter dari pintu gua tersebut, tiba-tiba sosok pria paruh baya yang memiliki janggut serta cambang yang cukup tebal sudah berdiri tepat di depannya.
__ADS_1
“Lian'er! Aroma yang tersebar dari pil buatan muridmu itu merupakan Pil Lotus Giok Bulan. Tetapi mengapa aku merasakan bahwa energi yang terpancar keluar darinya begitu kuat dan itu melebihi energi yang terdapat di dalam Pil Lotus Giok Bulan pada umumnya?” Sang pria paruh baya berkata sembari mengernyitkan alisnya dalam-dalam, lalu menambahkan, “Cepat berikan padaku! Aku ingin melihatnya.”
“Ini, Guru!” ucap Meng Wanlian bersemangat sambil memberikan 12 butir Pil Lotus Giok Bulan kepada pria paruh baya yang ada di depannya.
Bahkan sebelum pil itu mendarat di tangannya, tubuh pria paruh baya tersebut telah bergetar keras ketika memperhatikan bentuk pil yang berwarna biru bening tanpa ada sedikit pun kotoran di dalamnya.
“Se—seratus persen! Ee—efektivitas sempurna!” seru sang pria paruh baya dengan nada terbata-bata. Sama halnya dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Meng Wanlian sebelumnya. Tubuh pria paruh baya itu juga tampak goyah seolah akan jatuh ke tanah.
“Di—di mana muridmu ....” Pria paruh baya tersebut segera menghentikan kata-katanya karena merasa ucapannya sangat salah. Kemudian melanjutkan dengan nada yang masih terbata-bata, “Di—di mana Master Alkemis ini? Ce—cepat bawa aku untuk menemuinya!”
Melihat reaksi gurunya yang sedemikian rupa, Meng Wanlian tertawa kecil seraya bergurau, “Hehehe ... Apakah pil buatan muridku itu telah membuatmu terkejut, Guru?”
“Ini bukan hanya sekedar kejutan saja, melainkan berkah dari surga untuk sekte kita. Cepatlah! Bawa aku untuk bertemu dengannya.”
“Hah?! Sebotol penuh? Untuk apa kamu memintanya sebanyak itu? Bukankah belum lama ini aku sudah memberikan beberapa tetes untuk kamu gunakan saat menempa tulang-tulangmu?” Sang pria paruh baya tersentak kaget mendengar permintaan Meng Wanlian. “Kamu telah mengetahuinya sendiri tentang konsekuensi yang akan dihadapi jika menggunakan Susu Stalaktit secara berlebihan. Itu bisa langsung membunuhmu.”
“Yah ... Kalau Guru tidak mau memberikannya, maka aku juga tidak akan membawa Guru untuk bertemu dengan muridku! Mungkin sebaiknya aku menyuruh muridku tersebut untuk bergabung dengan sekte lain. Aku sangat yakin pasti banyak sekte yang ingin memperebutkannya ketika mereka tahu keahliannya dalam meramu pil,” kata Meng Wanlian dengan nada acuh tak acuh.
“Jangan ... Jangan! Oke, baiklah! Aku akan memberikannya. Aku akan memberikannya padamu. Tenanglah! Gurumu ini adalah pria yang sangat jujur,” tutur sang pria paruh baya dengan nada cemas.
“Hehehe ... Karena Guru adalah pria yang sangat jujur, maka cepatlah berikan Susu Stalaktit itu kepadaku!” Meng Wanlian terkikik pelan sambil mengulurkan tangannya ke depan, untuk meminta agar Susu Stalaktit tersebut segera diberikan kepadanya.
Sang pria paruh baya hanya bisa menghela napas panjang saat melihat tingkah Meng Wanlian. Sambil tersenyum masam, ia pun bergegas mengeluarkan sebotol penuh Susu Stalaktit dari Cincin Ruangnya.
“Hahaha ... Terima kasih, Guru!” Meng Wanlian tertawa senang dan langsung memasukkan Susu Stalaktit itu ke dalam Cincin Ruangnya sendiri. “Baiklah, Guru! Mari kita segera pergi ke kediamanku karena muridku berada di sana.”
__ADS_1
“Huuhh ... Mengapa tidak terpikirkan olehku bahwa Master Alkemis tersebut berada di kediaman Lian'er? Jika aku tahu sebelumnya, mungkin aku tidak akan memberikannya Susu Stalaktit itu,” keluh Sang pria paruh baya di dalam hatinya.
Kemudian mereka berdua pun segera menghilang dari tempatnya dan melesat dengan sangat cepat ke arah kediaman Meng Wanlian. Hanya beberapa detik saja, keduanya telah tiba dan langsung muncul di depan Ling Tian beserta yang lainnya.
Sontak wajah Niu Lang dan teman-temannya tampak panik ketika melihat sosok pria paruh baya yang berdiri di sebelah Meng Wan Lian. Dengan cepat mereka pun membungkuk memberi hormat dan berkata secara serempak, “Salam hormat, Pemimpin Sekte!”
Mendengar para sahabatnya itu memanggil sang pria paruh baya dengan sebutan pemimpin sekte, Ling Tian pun ikut membungkuk memberi hormat.
“Mmm!” Pria paruh baya yang sesungguhnya adalah pemimpin dari Sekte Cahaya Matahari tersebut, mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyumnya menanggapi sapaan dari Niu Lang dan yang lainnya.
“Guru! Ini adalah muridku, namanya Ling Tian! Sedangkan mereka adalah ....”
BRUK
Belum sempat Meng Wanlian memperkenalkan orang-orang yang berada di kediamannya itu, sudah terlebih dahulu terdengar bunyi gedebuk yang cukup keras ketika sang pria paruh baya jatuh berlutut di depan Ling Tian.
“Master, aku mohon! Tolong angkat aku untuk menjadi muridmu!” ujar sang pria paruh baya dengan nada memohon.
“Apa?!”
Lagi-lagi mulut Meng Wanlian dan yang lainnya terbuka lebar, seolah rahang mereka hendak jatuh ke tanah saat melihat tindakan spontan yang dilakukan oleh pria paruh baya tersebut. Tak ada di antara mereka yang pernah menyangka, bahwa pria paruh baya yang merupakan pemimpin sekte yang sangat disegani dan ditakuti itu, kini telah berlutut di depan Ling Tian dengan ekspresi memohon.
Bahkan Ling Tian sendiri yang sudah terbiasa bersikap santai menghadapi hal-hal yang demikian, seketika melompat kaget dan hampir ikut jatuh ke tanah karena sangat terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba itu.
Sebab, yang berlutut di depannya saat ini bukanlah orang biasa, tetapi merupakan pemimpin sekte yang tingkat kultivasinya berada di tahap ketiga Bintang Kaisar. Namun, ia berani membuang semua kehormatannya hanya untuk menjadi murid Ling Tian.
__ADS_1