
Mendengar nada bicara Tang Fei yang tidak senang dengan orang yang baru saja naik ke atas arena, Ling Tian pun bertanya karena penasaran, “Siapa itu, Senior Tang?”
“Dia adalah Dugu Qiu Li, murid peringkat ke-16. Dia merupakan salah satu antek dari Hong Cao Yan. Dugu Qiu Li selalu mengintimidasi murid-murid lainnya dan sering kali merampas sumber daya mereka,” jawab Tang Fei menjelaskan.
“Mengapa para murid tersebut tidak melaporkannya ke sekte?” tanya Ling Tian lagi.
“Karena mereka semua sangat takut terhadap Hong Cao Yan. Reputasi yang dimiliki oleh Hong Cao Yan sangat tinggi. Selain dia adalah murid peringkat pertama di tempat ini, Hong Cao Yan juga memiliki seorang kakak yang sudah menjadi Murid Dalam. Jadi, bila orang-orang itu melaporkan tindakan intimidasi yang dilakukan oleh Dugu Qiu Li, itu sama saja dengan menyinggung Hong Cao Yan,” balas Tang Fei.
“Hong Cao Yan juga disenangi oleh banyak tetua, sebab ia merupakan salah satu murid paling jenius di sekte ini. Usianya mirip denganmu, Junior Ling. Tapi kekuatannya sudah setara dengan kultivator tahap pertama Bintang Langit. Sehingga para tetua tersebut lebih berpihak pada Hong Cao Yan dibanding dengan murid biasa seperti kita ini,” sambung Xuan Jirou.
“Yah ... Karena itu jugalah yang membuat Hong Cao Yan menjadi arogan dan merasa sangat berkuasa di wilayah Murid Luar ini. Bila ada murid lain yang tidak mau menuruti keinginannya, ia akan menghajar murid tersebut dengan kejam tanpa takut mendapatkan hukuman dari para tetua.” Pang Huaxian menambahkan.
“Junior Ling! Delapan orang yang duduk di atas panggung bersama Hong Cao Yan itu adalah antek-anteknya juga. Mereka semua termasuk jenius yang disukai oleh sekte. Aku takut bahwa saudara Niu tidak akan mampu mengamankan posisinya di peringkat sepuluh besar jika Hong Cao Yan menginginkan Dugu Qiu Li berada di posisi tersebut,” ucap Xuan Jirou dengan nada pelan.
“Huuhh ... Hal ini pulalah yang aku takutkan. Bahkan bila saudara Niu dapat mengalahkan Dugu Qiu Li, ia harus rela menyerahkan posisinya itu dengan berpura-pura kalah, agar tidak membuat Hong Cao Yan marah,” keluh Tang Fei.
__ADS_1
“Hmmm ... Bukankah aturan mengatakan bahwa tidak boleh untuk berpura-pura kalah demi mempertahankan peringkat? Terlebih lagi ada wasit yang memperhatikan jalannya pertarungan,” tanya Ling Tian dengan nada heran, seraya mengernyitkan alisnya.
“Wasit tersebut merupakan salah satu tetua yang menyenangi Hong Cao Yan. Bila Hong Cao Yan menginginkan Dugu Qiu Li memenangkan pertarungan ini, maka wasit akan berpura-pura menutup mata seolah-olah tidak melihat apa yang sedang terjadi. Jadi, dia takkan mempermasalahkan jika Senior Niu berpura-pura kalah dari Dugu Qiu Li.” Pang Huaxian berbisik sangat pelan di telinga Ling Tian karena takut perkataannya di dengar oleh sang wasit.
“Ooh ... Rupanya ada yang seperti itu juga!?” kata Ling Tian dengan nada santai.
“Huuff ... Begitulah aturan dari dunia kita ini. Yang kuat akan selalu dihormati, sementara yang lemah akan selalu menjadi alas kaki. Jika kamu kuat, maka sekte juga akan memberikan perlakuan khusus terhadapmu.” ungkap Pang Huaxian sambil menghela napas panjang.
“Hehehe ... Setelah mendengar penjelasan dari kalian, aku akhirnya mengerti apa yang harus kita lakukan!” ucap Ling Tian sembari tertawa kecil.
Sebelumnya dia berpikir bahwa yang akan mengeluarkan tantangan terhadap dirinya adalah murid dengan peringkat ke-13 atau peringkat ke-14. Tapi ternyata Dugu Qiu Li lah yang terlebih dahulu naik ke atas arena.
“Hahaha ... Saudara Dugu! Kami sudah lama menantikanmu untuk mengambil alih posisi ke-10 dari tangan Jing Bao. Tapi karena Niu Lang sudah mengalahkannya, maka kamu tinggal mengambilnya lagi dari tangan Niu Lang,” seru seorang pria berkumis tipis yang duduk di atas panggung seraya tertawa gembira.
“Tenang saja, saudara Han! Ini takkan berlangsung lama untuk mengalahkannya,” sahut Dugu Qiu Li dengan nada bangga.
__ADS_1
Para murid yang mendengarkan percakapan keduanya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka. Sebab, mereka semua tahu hal tersebut merupakan isyarat bahwa Hong Cao Yan menginginkan Dugu Qiu Li untuk berada di peringkat ke-10.
“Siapa pria itu?” tanya Ling Tian singkat.
“Dia adalah Han Xiang, murid peringkat ke-2. Bila dia sudah berkata demikian, pasti itu adalah perintah dari Hong Cao Yan,” jawab Pang Huaxian cepat, sambil mengencangkan rahangnya karena marah.
“Yah ... Karena tujuan mereka sudah jelas, maka kita juga tidak boleh membiarkannya!” tutur Ling Tian santai, seraya menekuk sudut-sudut bibirnya membentuk seringai.
“Apa maksudmu, Junior Ling!”
Ling Tian hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan dari Pang Huaxian. Ia mendekatkan kedua telapak tangannya di samping bibirnya, kemudian berteriak keras, “Senior Niu! Aku di sini mendukungmu! Hajar wajah lawanmu itu sampai babak belur, hingga teman-temannya tidak bisa lagi mengenalinya.”
“Ju—junior Ling! A—apa yang kamu lakukan?” Pang Huaxian berkata terbata-bata karena sangat terkejut dengan tindakan Ling Tian.
Wajah Tang Fei dan Xuan Jirou juga seketika berubah pucat. Mereka tak pernah menyangka bahwa Ling Tian berani bertindak demikian. Itu sama halnya telah memprovokasi Hong Cao Yun secara terang-terangan.
__ADS_1
Sontak semua orang yang berada di sekitar arena tersentak kaget mendengar teriakan Ling Tian. Dalam sekejap, tatapan mata mereka langsung tertuju ke arahnya.