Legenda Sang Monster

Legenda Sang Monster
Chapter 177. Terima Kasih, Sudah Menemaniku Bermain


__ADS_3

Gelombang serangan yang dilepaskan oleh Zhuge Changlai, Xu Dong serta Zhao Baofeng, kian mengganas. Niat membunuh yang mereka keluarkan juga semakin kuat.


Tebasan dan tusukan dari senjata mereka bertiga membuat udara di sekitarnya bergetar hingga menimbulkan fluktuasi yang cukup besar.


Mendapatkan serangan yang sangat kuat seperti itu, Ling Tian terus berkelit dengan sangat cepat untuk menghindarinya. Desir angin terdengar ketika tebasan dan tusukan dari senjata ketiganya tak mengenai sasaran.


Tusukan dari tombak Xu Dong terus mengincar bagian perut dan dada Ling Tian. Tebasan pedang Zhuge Changlai di arahkan ke bagian kaki dan tangannya. Sedangkan ayunan kapak Zhao Baofeng ditujukan ke arah kepala serta pinggang Ling Tian.


Kombinasi serangan dari ketiganya tertata dengan sangat baik meskipun baru pertama kalinya mereka bertarung bersama. Sebagai kultivator tingkat tinggi dan telah memiliki pengalaman yang banyak, mereka dapat dengan cepat memahami keinginannya masing-masing.


Sehingga itu juga membuat kekuatan dari serangan yang mereka lepaskan menjadi lebih dahsyat lagi. Walaupun demikian, mereka masih tetap gagal untuk melukai tubuh Ling Tian. Bahkan menyentuh pakaiannya saja terasa sangat sulit untuk melakukannya.


"Jika terus seperti ini, mungkin selanjutnya kami bertiga yang akan mengalami kekalahan! Satu-satunya cara adalah terus menyerangnya agar bocah ini tak memiliki kesempatan untuk memberikan serangan baliknya," batin Xu Dong seraya menusukkan tombaknya ke arah jantung Ling Tian.


Tetapi Ling Tian hanya sedikit memiringkan tubuhnya untuk menghindari ujung tombaknya tersebut sehingga tusukannya pun hanya mengenai udara saja.


Zhao Baofeng yang melihat sebuah kesempatan kecil di depan matanya, segera melompat dan mengayunkan kapaknya dengan sangat cepat dari belakang kepala Ling Tian. Ia berniat membelah tubuh Ling Tian menjadi dua bagian yang terpisah.


Namun, lagi-lagi Zhao Baofeng gagal melakukannya karena Ling Tian sudah terlebih dahulu menggerakkan tubuhnya ke samping untuk menghindari serangannya itu.


Begitu pula dengan Zhuge Changlai. Setiap melihat kesempatan yang ada, ia akan mencoba menggunakannya dengan sebaik mungkin. Saat ia melihat posisi tubuh Ling Tian yang sedang terjepit oleh serangan dari Xu Dong dan Zhao Baofeng, Zhuge Changlai akan bergerak sangat cepat menebaskan pedangnya ke bagian tangan atau kaki Ling Tian.


Akan tetapi, semua serangannya itu tetap saja dapat dengan mudah dihindari oleh Ling Tian tanpa bisa menyentuh tubuhnya sedikitpun.


"Ayo, serang terus bocah ini! Jangan pernah berhenti!" seru Xu Dong dengan nada tegas.


"Mmm!" Zhuge Changlai dan Zhao Baofeng hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala.


"Yaah ... Lakukanlah seperti apa yang dikatakannya. Ayo, gunakan serangan terkuat kalian! Aku masih ingin sedikit bersenang-senang lagi," ujar Ling Tian dengan ekspresi memohon.


"Bedebah! Kamu terlalu meremehkan kami bertiga, bocah!" geram Xu Dong sambil mengayunkan tongkatnya dengan gerakan memukul ke arah pinggang Ling Tian.


"Hehehe ... Nafsumu semakin besar, kakek tua!" Ling Tian tertawa kecil sembari memutar tubuhnya dengan sangat cepat.


Sapuan batang tombak Xu Dong hanya mengenai udara hingga menimbulkan bunyi desiran angin yang cukup keras. Zhuge Changlai pun langsung menggunakan gerakan memangkas ke arah tubuh Ling Tian.


Namun, usahanya masih tetap gagal karena pedangnya juga cuma mengenai udara dan hanya meninggalkan jejak fluktuasi pada area tebasannya. Itu karena Ling Tian dengan cepat menjatuhkan tubuhnya ke bawah, sehingga bilah pedang Zhuge Changlai hanya melewatinya tanpa menyentuh tubuhnya.


Pola serangan dari mereka bertiga kini berubah. Xu Dong menusukkan tombaknya ke arah kepala dan dada Ling Tian. Pedang Zhuge Changlai melakukan tebasan ke bagian perut serta kakinya. Sementara kapak Zhao Baofeng menyerang ke bagian tangan serta punggung Ling Tian.


Kerja sama yang dilakukan oleh ketiganya sangat cepat dan terkombinasi dengan baik. Jika itu adalah kultivator tahap keenam Bintang Bumi yang menghadapi serangan mereka bertiga, mungkin hanya dalam beberapa menit saja ia telah bertemu dengan Dewa Kematian.


Tapi, berbeda dengan Ling Tian. Meski tingkat kekuatannya setara dengan kultivator tahap keenam Bintang Bumi, namun kemampuannya melebihi mereka karena teknik beladiri yang digunakannya adalah Teknik Beladiri Tingkat Dewa.


Jadi, semua serangan yang dilancarkan oleh Xu Dong, Zhuge Changlai serta Zhao Baofeng hanya sia-sia saja dan sedikitpun tak dapat membahayakan nyawanya. Hal inilah yang membuat Ling Tian tampak terlihat sekilas seperti sedang bermain-main ketika menerima setiap serangan yang tertuju pada dirinya.


"Ayo! Lebih cepat lagi! Mana kebanggaan kalian yang sebelumnya?"


"Yah ... Seperti itu! Tapi masih kurang cepat."

__ADS_1


"Aaiihh ... Jika cuma begitu saja, serangan kalian hanya bisa digunakan untuk membunuh seekor nyamuk."


"Cobalah lebih ganas lagi! Gunakan kekuatan penuh kalian untuk merobek pakaianku!"


"Huuhh ... Apakah karena kalian sudah tua sehingga tulang-tulang kalian semua telah keropos?!"


"Hehehe ... Apakah hanya dengan mengandalkan kekuatan yang kecil seperti ini kalian telah berani ingin merebut Buah Roh yang ada padaku?"


Ling Tian terus saja berbicara mengomentari setiap serangan yang mereka arahkan kepadanya. Semua orang yang mendengar kata-katanya menjadi sangat terkejut karena Ling Tian tidak terlihat tampak seperti sedang bertarung, melainkan seperti seorang Guru yang sedang mengajari murid-muridnya.


"Aarrgghh!" Xu Dong meraung marah sambil menusukkan tombaknya keseluruh bagian tubuh Ling Tian tanpa mempedulikan lagi kombinasi serangan yang telah mereka buat.


"Hmmm ... Inilah saatnya!" batin Zhuge Changlai, lalu segera mengeluarkan serbuk halus dari Cincin Ruangnya dan menggunakan kesempatan tersebut untuk melemparkannya ke arah Ling Tian.


Zhao Baofeng yang mengetahui tujuan dari tindakan Zhuge Changlai itu, dengan cepat bergerak sedikit menjauh. Xu Dong pun segera melesat mundur saat melihat serbuk tersebut hampir mengenai tubuhnya.


Udara di sekitar tubuh Ling Tian berubah menjadi warna ungu akibat serbuk itu telah menyebar dengan sangat cepat. Kini tubuh Ling Tian juga sudah tak terlihat karena dikelilingi oleh kabut ungu yang cukup tebal.


"Hahaha ... Akhirnya kau terkena racunku juga, bocah tengik! Itu adalah Racun Kalajengking Ungu yang sangat mematikan. Dalam waktu sepuluh napas saja, kau akan segera bertemu dengan Dewa Kematian." Zhuge Changlai tertawa terbahak-bahak mengetahui bahwa usahanya akhirnya membuahkan hasil.


"Ciihh ... Inilah akibatnya karena terlalu meremehkan kami bertiga!" ujar Zhao Baofeng dengan nada mencibir.


"Hmph ... Hampir saja racunmu itu mengenaiku! Untungnya aku cepat tahu apa yang ingin kamu lakukan." Xu Dong mendengus ke arah Zhuge Changlai.


"Aaiihh ... Maaf, pemimpin Xu! Jika aku tak segera melakukannya, mungkin bocah tengik itu akan mengetahui trik yang akan aku gunakan pada dirinya," balas Zhuge Changlai dengan nada sedikit merasa bersalah.


Setelah menunggu selama sepuluh napas, kabut ungu tersebut secara otomatis mulai menyebar dan perlahan-lahan menghilang di udara. Baru saja ketiganya akan bersorak gembira untuk merayakan kemenangannya, namun tiba-tiba raut wajah mereka berubah menjadi ketakutan.


"Me ... M-mengapa bisa begini?" Zhuge Changlai berkata tergagap seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Hehehe ... Maaf, karena telah mengecewakan kalian bertiga! Racun seperti itu takkan memiliki efek apapun terhadap diriku," ucap Ling Tian seraya tertawa lirih.


"Sudah saatnya kita akhiri permainan ini! Aku juga sudah cukup berolahraga bersama kalian. Sekarang tiba giliranku untuk bertindak!" lanjut Ling Tian lagi sambil berjalan santai ke arah ketiganya.


"Hmmm ... Jika aku tetap di sini, cepat atau lambat mungkin aku akan terbunuh olehnya." Xu Dong membatin sambil memikirkan cara untuk melarikan diri.


"Ayo, kita serang bersama lagi!" seru Xu Dong tegas.


Tanpa berpikir apapun, Zhuge Changlai dan Zhao Baofeng langsung melesat ke arah Ling Tian. Namun, ketika mereka melakukannya, Xu Dong melesat terbang dengan sangat cepat untuk menjauh dari area pertarungan tersebut.


Mengetahui hal itu, wajah Zhuge Changlai dan Zhao Baofeng seketika berubah merah karena marah. Sebab, keduanya merasa telah tertipu dengan taktik yang digunakan oleh Xu Dong.


Sebelum mereka berdua mendekati tubuh Ling Tian, Zhuge Changlai dan Zhao Baofeng segera berpencar dengan niat untuk melarikan diri juga.


"Hmmm ... Mau kabur yah?! Jangan harap kalian bisa meninggalkan tempat ini hidup-hidup!"


Setelah mengatakan hal tersebut, Ling Tian langsung menggunakan Teknik Langkah Dewa Naga dengan kecepatan penuhnya. Hanya dalam waktu sekejap saja, ia telah muncul dihadapan Xu Dong dan segera melepaskan pukulan dari Teknik Pukulan Dewa Naga miliknya.


Xu Dong yang tersentak kaget melihat kemunculan Ling Tian, segera berusaha menghindari pukulan yang datang menerjang ke arahnya. Tetapi, sangat disayangkan bahwa kecepatan Ling Tian lebih cepat dari pergerakan yang dilakukannya.

__ADS_1


BOOM


Suara yang cukup keras terdengar menggema di udara ketika kepala Xu Dong telah meledak terpisah dari tubuhnya. Dengan cepat Ling Tian mengambil Cincin Ruangnya, kemudian langsung menghilang dari tempatnya.


Merasakan bahwa aura kehidupan dari Xu Dong telah menghilang, wajah Zhao Baofeng seketika berubah pucat. Ia terus melesat menjauh dengan kecepatan penuhnya dan berharap bahwa Ling Tian tak lagi mengejarnya.


Namun, harapannya segera sirna ketika melihat sebuah sosok yang sangat cepat telah berdiri di depannya dan mengarahkan pukulan keras ke arah tubuhnya, hingga membuat Zhao Baofeng tak sempat lagi untuk menghindarinya.


BOOM


Bunyi ledakan yang cukup keras terdengar menggema kembali di udara seiring dengan tubuh Zhao Baofeng yang telah hancur menjadi bubur daging. Kabut darah pun segera menyebar di sekitarnya.


Tanpa menyia-nyiakan waktu, Ling Tian segera mengambil Cincin Ruang Zhao Baofeng, kemudian menghilang dari tempatnya dan melesat dengan sangat cepat ke arah rute pelarian Zhuge Changlai.


Sebenarnya Zhuge Changlai ingin melarikan diri dan kembali ke klannya. Tetapi karena Formasi Pelindung di Kota Primordial telah aktif, maka untuk sementara waktu ia tak bisa memasukinya. Sehingga, ia memilih untuk melarikan diri sejauh-jauhnya tanpa arah tujuan yang pasti.


Ketika Zhuge Changlai telah menjauh dari Kota Primordial dan akan terbang melewati sebuah hutan kecil, ia merasakan seseorang telah berada tepat di atasnya. Wajahnya langsung berubah putih pucat seakan tak dialiri oleh darah.


Tanpa basa-basi lagi, Ling Tian segera menggunakan Teknik Tendangan Dewa Naga miliknya yang di arahkan tepat ke atas punggung Zhuge Changlai.


BOOM


Tubuh Zhuge Changlai terpental jatuh dengan cepat dan langsung menabrak tanah dengan sangat keras. Akan tetapi, tubuhnya tak meledak meski telah terkena tendang yang sangat keras dari Ling Tian.


"Hehehe ... Zirah pelindung yah?! Sepertinya panenku benar-benar besar kali ini!" ujar Ling Tian seraya tertawa kecil dan langsung melesat turun ke arah tempat jatuhnya Zhuge Changlai.


"Uhuk ... T-tuan! Tolong jangan bunuh aku! Aku akan memberikan semua hartaku padamu." Zhuge Changlai berkata terbata-bata sambil terbatuk darah.


Ling Tian tak menghiraukan apa yang baru saja diucapkan oleh Zhuge Changlai. Ia segera mengangkat tangannya dan kekuatan isap yang sangat besar pun langsung menarik tubuh Zhuge Changlai ke arahnya.


Sambil mencengkeram leher Zhuge Changlai tinggi-tingi, Ling Tian berkata pelan, "Bodoh! Kamu hidup atau mati pun tetap saja harta yang ada padamu itu akan menjadi milikku sekarang!"


Setelah mengatakan hal tersebut, Ling Tian segera menambah kekuatan cengkeraman tangannya pada leher Zhuge Changlai.


BOOM


Kepala Zhuge Changlai langsung meledak terpisah dari tubuhnya. Energi Qi yang sangat kuat berputar-putar di sekitar tubuh Ling Tian sehingga membuat dirinya terlindungi dari kabut darah yang menyebar di udara.


Ketika tubuh Zhuge Changlai telah berubah menjadi mayat, zirah pelindung yang telah menyatu bersama tubuhnya juga segera keluar dengan sendirinya. Ling Tian dengan cepat mengambilnya bersama Cincin Ruang milik Zhuge Changlai, lalu kemudian segera melemparkan jasadnya tersebut ke tanah.


"Terima kasih, karena sudah menemaniku bermain!" ucap Ling Tian pelan dan langsung menghilang dari tempatnya.


***


Terima kasih buat teman-teman yang telah memberikan LIKE dan VOTE nya serta memberikan RATING Bintang Lima, juga buat teman-teman yang telah berkomentar positif. Karena itu semua akan membuat Author lebih bersemangat dalam menulis Novel ini.


Terima kasih juga buat teman-teman yang telah menghargai karya Author dengan cara memberikan TIP.


Author juga doakan semoga sehat selalu buat semua pembaca, baik itu yang suka maupun yang tidak suka dengan Novel "LSM" ini.

__ADS_1


Jika ada Typo dalam setiap chapter di Novel ini, mohon untuk di beritahukan kepada Author agar Author segera merevisinya.


__ADS_2