
“Apa?! Tarian Pria Tertampan Di Benua Langit?! Menurutku itu hanyalah tarian orang gila.”
“Ciihh ... Apanya tarian keberuntungan? Kemenangan kalian hanyalah kebetulan saja. Selanjutnya kalian akan menangis karena merasakan kekalahan yang sangat memalukan.”
“Huuhh ... Sebentar lagi kalian akan menggali lubang sendiri dan masuk ke dalamnya karena tak sanggup memperlihatkan tampang yang sungguh memalukan itu.”
“....................”
Sindiran para murid dari ketujuh sekte lainnya terus dilontarkan kepada murid Sekte Cahaya Matahari hingga membuat suasana di acara pertemuan Aliansi Delapan Sekte tersebut menjadi gaduh.
“Hahaha ... Lihatlah! Mereka semua iri dengan kemenangan kita.” Pang Huaxian tertawa keras hingga lemak-lemak di tubuhnya bergetar. “Yah, mungkin memang seperti itulah sikap para pecundang!”
Mendengar olok-olokan dari Pang Huaxian, para murid dari ketujuh sekte lainnya langsung memasang wajah geram. Mata mereka melotot tajam ke arah Pang Huaxian, tampak seolah-olah seperti singa yang hendak menerkam mangsanya.
“Hei, gendut! Jika kamu berani, mari kita bertarung di atas arena,” ujar salah seorang murid dari Sekte Tombak Bintang Merah dengan nada ketus.
“Siapa takut?! Tapi sayangnya aku bukanlah peserta dari kompetisi ini. Bila aku adalah salah satu pesertanya, mungkin kamu sudah terjepit di antara ketiakku ini,” balas Pang Huaxian sambil menunjuk daging pada ketiaknya yang dipenuhi dengan lemak.
Melihat tingkah konyol Pang Huaxian, para murid Sekte Cahaya Matahari tertawa terbahak-bahak sembari ikut mengolok-olok murid dari Sekte Tombak Bintang Merah tersebut.
“Kalian semua, berhentilah! Kita akan teruskan pertarungan selanjutnya,” seru sang wasit menenangkan para murid.
Suasana area pertemuan akhirnya mulai berangsur-angsur tenang kembali. Kemudian salah seorang murid dari Sekte Tombak Bintang Merah yang memiliki tingkat kultivasi pada tahap ketujuh Bintang Langit, segera melompat ke atas arena pertarungan.
“Senior Mao! Hancurkan murid dari Sekte Cahaya Matahari itu! Buat dia babak belur hingga teman-temannya tidak mengenali wajahnya lagi.”
__ADS_1
“Ya, Senior Mao! Tunjukkan kepada mereka kekuatan sekte kita yang sebenarnya.”
“Kami semua mendukungmu, Senior Mao! Buat para murid yang menari seperti orang gila tersebut menjadi malu besar. Dengan demikian, mereka takkan berani lagi sesumbar di depan semua orang.”
Para murid Sekte Tombak Bintang Merah berteriak memberikan semangat kepada pemuda yang baru saja naik ke atas arena pertarungan.
“Senior Ji! Berikan pelajaran kepada si kepala botak itu. Jangan kasih ampun sedikit pun kepadanya!”
“Itu benar, Senior Ji! Jadikan kepala botaknya memiliki tanduk dengan benjolan yang didapatkannya dari setiap pukulanmu.”
“Yah ... Sepertinya itu sangat cocok dengan tampang botaknya!”
Para murid Sekte Cahaya Matahari tak mau kalah juga dari murid-murid Sekte Tombak Bintang Merah. Mereka pun meneriakkan dukungannya hingga membuat area di sekitar arena pertarungan menjadi riuh kembali.
“Hmmm ... Mao Chun! Mari kita lihat, apakah kamu bisa mewujudkannya!?” balas murid Sekte Cahaya Matahari yang bernama Ji Ran tersebut.
Melihat kedua murid yang akan bertarung telah bersiap-siap di tempatnya masing-masing, sang wasit pun akhirnya mengeluarkan aba-aba tanda dimulainya pertarungan.
Tanpa basa-basi lagi, Mao Chun segera menerjang ke arah Ji Ran. Tombaknya yang panjang langsung menusuk ke depan dengan sangat ganas, hingga membuat udara di sekitar tombak itu berfluktuasi.
Ji Ran pun bergegas mundur untuk menghindari ujung tombak Mao Chun yang datang ke arahnya. Ia juga menangkis setiap serangan sambil terus menjaga jarak dari lawannya tersebut.
Sementara itu, dari atas tempat duduknya, Yan Qingshan memasang tampang serius dan penuh wibawa menyaksikan jalannya pertarungan di atas arena. Namun, tak ada seorang pun yang tahu bahwa pada saat ini, dia seperti seorang anak kecil yang sedang meminta arahan dan petunjuk dari Ling Tian.
“Guru! Apa pendapatmu?” tanya Yan Qingshan melalui telepatinya.
__ADS_1
“Perintahkanlah sekarang pada murid sektemu itu untuk tidak menjaga jarak lagi dengan lawannya. Saatnya ia memberikan serangan balasan dengan menutup ruang pergerakan lawannya dengan menyerang ke arah kaki.”
“Meski sebuah tombak memiliki keuntungan pada serangan jarak jauh, tetapi kelemahannya dapat terlihat jelas pada serangan jarak dekatnya. Sehingga, seluruh kultivator pengguna tombak sering menggunakan serangan jarak dekat mereka menjadi sebuah bentuk pertahanan. Jadi, suruh saja murid dari sektemu itu untuk terus menyerang kaki lawannya.”
“Baik, Guru!” balas Yan Qingshan singkat dan langsung memerintahkan anggota sektenya sesuai arahan Ling Tian.
Dengan cepat, Ji Ran segera mengikuti perintah Yan Qingshan. Ia tak lagi menjauh untuk menjaga jarak dari Mao Chun, melainkan bergegas maju dengan menggunakan kekuatan penuhnya untuk memberikan serangan balasan ke arah kaki lawannya tersebut.
Dan benar saja. Hanya dalam sekejap, Mao Chun langsung merasa kewalahan menghadapi setiap serangan yang menerjang ke arah kakinya. Kini dirinya yang berusaha menjauh, namun Ji Ran terus menutup jarak dan tidak membiarkan Mao Chun untuk mundur.
Hampir dua menit berlalu, akhirnya pedang milik Ji Ran berhasil menebas salah satu kaki Mao Chun. Ini membuat pergerakan Mao Chun menjadi lambat.
Menyaksikan hal ini, para murid Sekte Cahaya Matahari langsung bersorak serempak. Murid-murid pria segera mengangkat bajunya kembali dan memutar-mutarkannya ke atas. Sedangkan untuk para murid dari Sekte Tombak Bintang Merah, tampang mereka semua seketika berubah menjadi kusut dan lesu.
BAM ... BAM ... BAM
Bunyi yang cukup keras terdengar dari dalam arena pertarungan saat kepalan tangan kiri milik Ji Ran terus memukul kepala botak milik Mao Chun. Ia benar-benar mengikuti permintaan dari para murid sektenya untuk membuat tanduk di kepala lawannya tersebut.
“Berhenti!” seru sang wasit saat melihat Mao Chun sudah tak sadarkan diri.
Sontak sorakan dan teriakan keras yang berasal dari para murid Sekte Cahaya Matahari langsung memenuhi area pertemuan Aliansi Delapan Sekte itu. Kemenangan tiga kali berturut-turut tersebut membuktikan bahwa Ji Ran berhasil mengamankan posisinya di urutan teratas dari para murid sekte lain yang tingkat kultivasinya berada di tahap ketujuh Bintang Langit.
Sementara itu, murid-murid pria di dalam Sekte Cahaya Matahari yang menyaksikan pertarungan tersebut melalui Batu Pencitraan, satu per satu dari mereka mulai membuka bajunya juga. Kemudian ikut memutar-mutarkannya di atas kepala mereka masing-masing.
Tanpa disadari oleh Ling Tian, Tarian Pria Tertampan Di Benua Langit pun mulai menyebar ke seluruh murid Sekte Cahaya Matahari.
__ADS_1