Legenda Sang Monster

Legenda Sang Monster
Chapter 202. Menghilang Tanpa Jejak


__ADS_3

Pedang Pelangi di tangan Ling Tian bergerak sangat cepat dan terus mencoba memberikan serangan balasan kepada Du Qiang. Namun, Du Qiang dapat dengan mudah mengelak semua serangan itu.


"Huuhh ... Pergerakan dari kakek tua bangka sialan ini lebih cepat dariku," Ling Tian mengutuk di dalam hatinya di sela-sela pertarungan tersebut.


Melihat bahwa satu per satu pepohonan serta bebatuan yang ada di sekitarnya mulai hancur, Du Qiang langsung meningkatkan kekuatannya. Sebab, jika ia tidak segera membunuh Ling Tian, area di dalam Lembah Obat akan menjadi lebih hancur porak-poranda lagi.


Du Qiang dengan cepat menutup jarak antara dirinya dan Ling Tian. Telapak tangannya yang hitam pekat langsung menuju ke bagian perut Ling Tian yang pertahanannya tampak terbuka.


Ling Tian buru-buru menebaskan Pedang Pelangi ke arah lengan Du Qiang agar Du Qiang menarik kembali tangannya. Namun, sebelum itu terjadi, telapak tangan Du Qiang sudah terlebih dahulu mengenai perut Ling Tian.


BAM


Ledakan energi Qi yang besar mengguncang udara. Tubuh Ling Tian terpental sangat jauh meninggalkan area Lembah Obat, kemudian jatuh menghantam tanah dengan sangat keras. Seteguk darah segera menyembur keluar dari mulutnya.


Meskipun mendapatkan pukulan yang mematikan seperti itu, tubuh Ling Tian masih tetap utuh. Ini dikarenakan seluruh tulang-tulangnya telah berada di tingkat Tulang Naga Bumi dari Teknik Dewa Naga Surgawi yang diolahnya, sehingga membuat tulang serta dagingnya menjadi sangat keras dan kuat.


"Sial! Aku benar-benar tak bisa menghadapi kakek tua bangka ini," rutuk Ling Tian seraya bangkit berdiri dengan cepat.


Segera, Ling Tian melonjak ke udara menggunakan Teknik Langkah Dewa Naga miliknya dan berusaha menjauh dari Du Qiang.


Mengetahui bahwa Ling Tian hendak melarikan diri, Du Qiang langsung menghilang dari tempatnya dan dalam sekejap muncul di hadapan Ling Tian. Telapak tangannya sekali lagi meluncur ke arah dada Ling Tian dengan sangat cepat.


Mendapatkan serangan ganas seperti itu, secara spontan Ling Tian bergerak mundur dan segera menggunakan Teknik Pedang Kelembutan untuk bertahan. Akan tetapi, kecepatan Du Qiang sangat hebat.Secara tiba-tiba ia langsung mengubah arah serangannya ke wajah Ling Tian. Telapak tangannya yang semula terbuka, seketika terkepal membentuk sebuah tinju yang langsung menghantam wajah Ling Tian dengan sangat keras.


BAM


Lagi-lagi tubuh Ling Tian terhempas dari atas udara dan meluncur turun menabrak tanah hingga membuat lubang yang cukup besar. Tapi, sekali lagi ia segera bangkit dan berdiri tegak sambil memandang ke arah Du Qiang dengan tatapan membunuh. Darah terlihat mengalir keluar dari hidung dan mulutnya.


"Kakek tua bangka sialan! Beraninya kamu memukul wajahku yang tampan ini!" Ling Tian berteriak marah menggunakan energi Qi-nya. Tubuhnya bergetar hebat menahan kemarahan yang seolah-olah akan meledak. Kemudian melanjutkan, "Aku akan membalas penghinaan ini berkali-kali lipat. Aku juga akan menghancurkan Sekte Kabut Racun ini bersamamu!"


Mendengar ucapan Ling Tian tersebut, wajah Du Qiang berkedut kencang. Kata-kata penghancuran sektenya adalah hal yang tabu baginya. Seketika itu juga, energi Qi yang sangat kuat terpancar keluar dari tubuh Du Qiang.

__ADS_1


"Mati!" teriak Du Qiang geram, lalu ia pun menghilang dari tempatnya dan muncul di depan Ling Tian. Tangan Du Qiang membentuk sebuah cakar yang diarahkan tepat ke leher Ling Tian.


"Inilah saatnya!" seru Ling Tian di dalam hatinya.


Ling Tian yang sedari tadi telah siap siaga menanti kedatangan Du Qiang, segera membuka mulutnya lebar-lebar.


ROAR


Auman Naga yang sangat keras terdengar menggema di sekitarnya. Bahkan keempat Tetua yang masih berada di Lembah Obat merasakan sakit pada telinganya.


Sementara untuk Du Qiang yang secara langsung terkena Teknik Auman Naga milik Ling Tian tersebut, seketika menghentikan serangannya. Telinganya berdengung kencang. Kurang dari sedetik, Du Qiang terdiam untuk menyumbat indra pendengarannya dengan energi Qi.


Pada saat inilah Ling Tian tidak menyia-nyiakan kesempatannya. Pedang Pelangi miliknya langsung menusuk ke arah jantung Du Qiang. Secara refleks Du Qiang memiringkan tubuhnya ke samping ketika merasakan adanya bahaya yang akan mengancam nyawanya.


Ling Tian yang telah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Du Qiang selanjutnya, langsung menyambutnya dengan Teknik Tendangan Dewa Naga.


BAM


"B4ngsat! Aku telah tertipu. Ke mana perginya baj1ngan kecil ini?" Makian keras terdengar keluar dari mulut Du Qiang. Kemarahan tampak jelas dari wajahnya yang terlihat berubah merah.


Indra spiritual Du Qiang terus memeriksa keadaan sekitarnya. Akan tetapi, setelah beberapa saat mencari, ia akhirnya benar-benar tidak menemukan jejak aura Ling Tian yang seolah-olah menghilang di telan bumi.


Untuk lebih memastikannya lagi, Du Qiang melesat terbang ke sana-sini mencoba mencari keberadaan Ling Tian. Namun, tetap saja ia tak berhasil menemukannya.


"Aarrgghh!" geram Du Qiang seraya menggeretakkan gigi dan mengepalkan tinjunya erat-erat.


Beberapa saat kemudian, keempat Tetua segera muncul di depan Du Qiang yang berdiri di atas udara dengan wajah yang sangat merah seolah-olah terbakar.


"Salam, Tetua Agung!"


Secara bersamaan keempat Tetua tersebut berseru dan membungkuk memberi hormat kepada Du Qiang.

__ADS_1


"Maafkan kami karena sudah lalai menjaga keamanan Lembah Obat, sehingga membiarkan penyusup berhasil memasukinya," ujar Tetua Bei dengan nada bersalah.


Du Qiang menghembuskan napas berat, kemudian berkata, "Ini bukanlah kesalahan kalian. Lihatlah, aku sendiri telah terpedaya oleh tipu muslihat yang digunakan oleh penyusup itu!"


"Apa?!"


Keempat Tetua tersebut berseru secara serempak seakan tak percaya dengan apa yang didengar oleh telinga mereka. Bahkan Tetua Agung sendiri yang merupakan orang terkuat di Sekte Kabut Racun, tidak bisa menangkap penyusup yang telah mengambil hampir seluruh Tumbuhan Roh di dalam Lembah Obat.


"A-apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Tetua Agung?" tanya Tetua Nan dengan nada sedikit panik.


Du Qiang mengeluarkan kuas, tinta dan selembar kertas dari Cincin Ruangnya. Kemudian ia mulai melukis di atas udara. Setelah selesai, ia pun segera memberikan hasil lukisannya itu pada Tetua Nan, lalu berkata, "Salin gambar ini sebanyak-banyaknya dan berikan kepada semua Tetua Sekte. Katakan pada mereka untuk bergegas memeriksa semua orang di dalam sekte. Jika ada di antara mereka yang melihat seorang pemuda dengan wajah sama seperti yang ada dilukisan itu, segera beritahukan kepadaku."


"Baik, Tetua Agung!" ucap Tetua Nan, kemudian langsung menghilang dari tempatnya.


"Untuk kalian bertiga, kembalilah ke Lembah Obat terlebih dahulu. Aku akan segera ke sana untuk memasang kembali Formasi Pelindung."


"Baik, Tetua Agung!" jawab ketiganya, lalu bergegas kembali ke Lembah Obat.


Du Qiang tetap berdiri di atas udara sambil terus mengedarkan indra spiritualnya untuk mencari keberadaan Ling Tian.


Setelah beberapa menit berlalu, seorang pria paruh baya berpakaian hitam tiba-tiba muncul di depan Du Qiang.


"Ayah!" kata pria paruh baya tersebut seraya membungkuk memberi hormat. Kemudian melanjutkan, "Aku segera bergegas ke sini karena mendengar dari Tetua Nan bahwa seorang penyusup telah berani masuk dan mengambil berbagai macam Tumbuhan Roh yang ada di sana."


"Mmm!" Du Qiang mengangguk pelan. Lalu berkata, "Aku tak bisa melihat tingkat kultivasi dari penyusup ini. Namun, aku merasakan kekuatannya sama seperti dirimu, yaitu pada tahap ketujuh Bintang Bumi. Meskipun demikian, dia telah berhasil lolos dari pengejaranku."


"Hmmm ... Apakah penyusup itu memiliki Harta Pusaka yang memungkinkan dirinya untuk berteleportasi atau semacamnya, Ayah?" tanya pria paruh baya tersebut sambil mengernyitkan alisnya. Dia adalah Du Shijie, pemimpin Sekte Kabut Racun yang juga anak dari Du Qiang sendiri.


"Tidak! Jika dia mempunyai Harta Pusaka yang seperti itu, dia pasti tidak akan menipuku ketika bertarung dengannya. Tapi yang membuat aku bingung, auranya tiba-tiba langsung menghilang di sekitar tempat ini."


"Bila demikian, mungkin dia sedang bersembunyi di pegunungan ini dan langsung menghilangkan aura keberadaannya," kata Du Shijie lagi.

__ADS_1


"Hmmm ... Aku juga sempat berpikir seperti itu, sehingga aku langsung mengelilingi pegunungan ini untuk mencarinya. Namun, tetap saja aku tak bisa menemukannya." balas Du Qiang sembari menggelengkan kepalanya.


__ADS_2