
Hanya beberapa menit berlalu, Du Qiang tak bisa lagi mengimbangi semua serangan yang dilancarkan oleh Ling Tian. Bahkan tangannya bergetar seolah-olah tak sanggup memegang pedangnya sendiri akibat tekanan energi Qi yang terpancar keluar dari Pedang Pelangi milik Ling Tian.
SLEB ... SLEB
Tebasan dari Pedang Pelangi akhirnya mengenai dada dan perut Du Qiang. Namun, Ling Tian dengan cepat mengontrol serangannya agar tak masuk terlalu dalam hingga mengenai organ vital Du Qiang dan membahayakan nyawanya.
Sebab, Ling Tian belum berniat untuk membunuhnya. Ia ingin menyiksa Du Qiang terlebih dahulu untuk memuaskan sakit hatinya. Pedang Pelangi terus menebas dengan gerakan yang sangat cepat ke arah bahu, punggung, lengan dan kaki Du Qiang hingga membuat seluruh tubuhnya dipenuhi luka.
Darah Du Qiang yang berwarna hitam mengalir deras membasahi pakaiannya. Pergerakannya juga menjadi lebih lambat karena luka yang dialaminya. Sudut-sudut mata dan mulut Du Qiang berkedut keras. Visinya menjadi kabur dan terkadang berputar-putar.
"Aaahhh!"
Jeritan yang menyakitkan dan serak terdengar dari mulut Du Qiang saat Pedang Pelangi menusuk masuk ke dalam Dantian-nya. Energi Qi hasil kultivasinya selama bertahun-tahun akhirnya lenyap seiring Dantian-nya yang telah hancur. Darah pun ikut menyembur keluar dari mulutnya. Kini Du Qiang sepenuhnya menjadi orang yang cacat karena tak bisa berkultivasi lagi.
Tubuh semua orang yang mendengar jeritan keras dari mulut Du Qiang seketika menegang. Mulut mereka terbuka lebar hendak mengatakan sesuatu, tapi tak ada suara yang keluar.
Bahkan beberapa Tetua yang sebelumnya sempat berpikir hendak melarikan diri, langsung membeku di tempatnya masing-masing seolah tak dapat menggerakkan tubuhnya sendiri.
Ling Tian bergegas mencabut Pedang Pelangi dari Dantian milik Du Qiang dan memasukkannya kembali ke dalam Cincin Ruangnya. Tubuh Du Qiang pun terhempas dari atas udara seperti sebuah layang-layang putus, lalu meluncur turun dengan cepat.
Saat tubuh Du Qiang hendak menghantam tanah, Ling Tian langsung menggunakan energi Qi untuk menahannya. Sehingga membuat tubuh Du Qiang jatuh perlahan dan berlutut di tanah.
Ling Tian yang masih berada di atas udara, berkata malas menggunakan energi Qi-nya, "Kalian semua, kemarilah! Jika ada yang berani melarikan diri, aku akan langsung membunuhnya."
BANG
Seolah-olah ada sebuah ledakan yang sangat besar di dalam pikiran semua Tetua Sekte Kabut Racun ketika mendengar perkataan santai dari Ling Tian tersebut. Tubuh mereka bergetar keras dengan tampilan wajah yang sangat pucat.
"Aahh! Apa yang aku khawatirkan akhirnya terjadi juga," gumam salah seorang Tetua dengan nada panik.
__ADS_1
"I-ini ... Ini ... Tetua Agung benar-benar dikalahkan," balas Tetua lainnya dengan terbata-bata.
"Hmmm ... Apakah kita akan ke sana? Itu sama saja mencari mati!"
"Kita tidak punya pilihan lain! Bila kita melarikan diri, kita akan mati. Mungkin situasinya akan sedikit lebih baik jika kita pergi ke sana."
"Hmmm ... Baiklah! Mari kita pergi ke sana secepatnya! Aku takut, jika kita terlambat, maka kita akan langsung dibunuhnya juga."
"Ayo!"
Setelah mempertimbangkan sejenak, para Tetua itu pun segera menghilang dari tempatnya dan melesat terbang ke arah Ling Tian.
"Aahh! Tetua Agung!"
Para Tetua langsung berseru secara bersamaan ketika mereka sampai di tempat Ling Tian dan Du Qiang. Mereka melihat pakaian di tubuh Du Qiang telah compang-camping dan sangat kotor seperti seorang pengemis. Tubuhnya juga berlumuran darah.
Dan yang paling penting, para Tetua tersebut tak dapat lagi merasakan adanya energi Qi di dalam tubuh Du Qiang, yang berarti bahwa Du Qiang sudah menjadi orang cacat. Bagi seorang kultivator, lebih baik mati daripada tak bisa berkultivasi. Karena cacat seperti itu lebih menyakitkan dari kematian.
Ling Tian mengulurkan lengannya dengan santai. Daya isap yang sangat kuat segera muncul dari tangannya dan menarik empat orang Tetua ke arahnya. Keempat Tetua tersebut adalah orang yang diketahui Ling Tian, karena mereka berempatlah yang mengejarnya saat memasuki Lembah Obat. Mereka adalah Tetua Bei, Tetua Nan, Tetua Dong dan Tetua Fang.
"Hehehe ... Kita bertemu lagi!" sapa Ling Tian seraya tertawa lirih, lalu dengan cepat ia mengerakkan tangannya ke arah mereka berempat.
"Aahh!" seru keempatnya secara bersamaan saat merasakan ada sesuatu yang tertanam di dalam tubuh mereka. Itu adalah Segel Perbudakan.
Belum selesai keterkejutan yang mereka rasakan, Ling Tian sudah berkata lagi, "Segera kumpulkan semua anggota Sekte Kabut Racun di tempat ini, tanpa terkecuali!"
"Baik, Tuan!" jawab mereka serempak kemudian langsung menghilang dari tempatnya.
Tak ada dari keempat Tetua tersebut yang berani membantah ketika mendapatkan perintah dari Ling Tian. Sebab, pikiran mereka juga sudah dipengaruhi oleh Segel Perbudakan yang ada di dalam tubuhnya masing-masing.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, semua anggota Sekte Kabut Racun telah berkumpul di bawah Ling Tian, tidak jauh dari tempat Du Qiang yang sedang berlutut di tanah.
Dari atas udara, Ling Tian memandang mereka semua sembari menunjukkan senyum sinis. Kemudian berkata dengan nada dingin, "Apakah kalian mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu di Kota Luan? Sekte Kabut Racun membantai semua anggota Klan Wei hanya karena dua batang Rumput Roh Bintang. Wanita dan anak-anak dibunuh tanpa terkecuali. Apakah dua batang Rumput Roh Bintang sepadan dengan nyawa mereka semua?"
Ketika semua orang mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Ling Tian, tiba-tiba begitu banyak tubuh dari para murid serta para Tetua yang gemetar ketakutan. Keringat dingin dengan cepat membasahi seluruh pakaian mereka.
Ling Tian yang melihat hal ini dapat menyimpulkan, bahwa semua orang-orang itulah yang sudah ikut serta melakukan pembantaian di dalam Klan Wei. Dia langsung menekuk sudut-sudut bibirnya yang membentuk senyum jahat.
"Bagi mereka yang merasa tidak terlibat dengan pembantaian di dalam Klan Wei, segeralah menyingkir!" ujar Ling Tian dengan nada memerintah.
Mendengar apa yang dikatakan Ling Tian, beberapa orang bergegas melompat keluar. Kemudian diikuti oleh yang lainnya dan segera membentuk kelompok terpisah. Kini di depan Ling Tian ada dua kelompok yang berdiri sedikit berjauhan. Kelompok pertama adalah orang-orang yang ikut serta dalam pembantaian Klan Wei dan kelompok kedua adalah orang-orang yang tidak terlibat di dalamnya.
Ling Tian melihat Yan Xifeng, Ning Qian Qian, Shen Tu Jiang serta teman-temannya berada di dalam kelompok kedua ini. Kemudian berbalik menoleh ke arah keempat Tetua yang sebelumnya telah ia tanamkan Segel Perbudakan di dalam tubuh mereka.
Sambil mengerutkan alisnya, Ling Tian bertanya dengan nada keheranan, "Apakah kalian berempat benar-benar tidak terlibat dengan pembantaian di Klan Wei?"
Tetua Bei maju selangkah, kemudian membungkuk memberi hormat dan berkata, "Melaporkan, Tuan!" Pada saat itu, kami berempat tidak ikut serta ke Kota Luan untuk memusnahkan Klan Wei. Sebab, setelah ada penyusup yang masuk ke dalam sekte dan berhasil mengambil Rumput Roh Bintang di salah satu lembah yang ada di sini, kami diperintahkan untuk memindahkan semua Rumput Roh Bintang ke dalam Lembah Obat."
"Mmm ... Baguslah kalau begitu! Dengan begini, aku bisa mengampuni kalian," ucap Ling Tian seraya mengangguk pelan. Lalu tubuhnya menghilang dari tempatnya dan dalam sekejap muncul di sebelah Du Qiang.
"Yoo ... Kakek tua bangka sialan! Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku akan membalasmu berkali-kali lipat karena telah berani menyentuhkan tangan kotormu itu pada wajahku. Hehehe ... Sekarang bukalah matamu lebar-lebar. Aku akan membayar utangku beserta bunganya."
Selesai berkata demikian, Ling Tian mengulurkan lengannya dengan santai ke arah kelompok pertama dari orang-orang yang ada di depannya. Seketika ledakan energi Qi yang cukup kuat langsung terpancar keluar dari tangan Ling Tian dan langsung menuju ke arah orang-orang tersebut.
"Aaahhh!"
"Aaahhh!"
"Aaahhh!"
__ADS_1
Teriakan yang terdengar sangat menyayat hati terus bersahutan di dalam kelompok pertama itu. Namun tidak ada kabut darah yang bertebaran di udara.