Legenda Sang Monster

Legenda Sang Monster
Chapter 184. Silakan Pergi Sendiri


__ADS_3

Energi Qi yang sangat kuat terus berputar-putar di sekitar tubuh Ling Tian seolah-olah sedang mengamuk dan ingin menghancurkan apapun yang berada di dekatnya.


Esensi yang terdapat pada Pil Susu Sembilan Hati terus dicerna dan diserap masuk ke dalam Dantian-nya hingga membuat energi Qi di dalam Dantian-nya hampir terisi penuh.


Zhuge Lao yang berada tak jauh dari Ling Tian senantiasa memandang ke arahnya dengan tatapan waspada. Ia berpikir akan langsung menyerang saat Ling Tian telah menerobos tingkat kultivasinya.


Sebab, semua kultivator yang baru saja menerobos akan membutuhkan waktu selama berminggu-minggu untuk mengkonsolidasikan fondasi kultivasinya, agar lebih kokoh dan kekuatannya juga menjadi sangat stabil hingga tak membahayakan dirinya sendiri.


BANG


Ketika Dantian miliknya telah terisi penuh oleh energi Qi, ledakan teredam pun terdengar berasal dari dalam tubuh Ling Tian. Akhirnya ia berhasil menerobos tingkat kultivasinya ke tahap keempat Bintang Bumi. Karena Ling Tian juga mengolah Teknik Dewa Naga Surgawi, maka secara otomatis tingkat kekuatannya kini naik menjadi tiga kali lipat, yaitu setara dengan kultivator tahap ketujuh Bintang Bumi.


Beberapa saat kemudian, energi Qi yang terpancar keluar dan terus berputar-putar di sekitar Ling Tian akhirnya masuk kembali ke dalam tubuhnya. Melihat hal tersebut, Zhuge Lao tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya. Ia segera menghilang dari tempatnya dan langsung menerjang ke arah Ling Tian seraya menebaskan pedangnya dengan kekuatan penuh.


Ling Tian yang masih dalam keadaan menutup matanya, tersenyum tipis ketika merasakan pergerakan dari Zhuge Lao. Dalam sekejap, tubuhnya juga menghilang dari tempatnya ketika pedang Zhuge Lao tinggal sedikit lagi akan menyentuh lehernya, sehingga membuat pedang tersebut hanya menebas udara.


"Hehehe ... Aku akan sedikit memperlambat waktu kematianmu sebagai ungkapan terima kasih karena telah membantuku untuk menerobos tingkat kultivasiku," ucap Ling Tian yang telah muncul di belakang Zhuge Lao seraya tertawa lirih.


"Aku juga akan memberikan kesempatan padamu untuk menyerangku dengan kemampuan terkuatmu dan tak akan memberikan perlawanan sedikitpun," lanjut Ling Tian lagi.


"Aarrgghh!"


Mendengar perkataan Ling Tian yang sangat meremehkan dirinya itu, Zhuge Lao berteriak geram dan segera mengayunkan pedangnya ke belakang tanpa berbalik ke arah Ling Tian. Tebasan Zhuge Lao sekali lagi hanya menebas udara karena Ling Tian sudah terlebih dahulu memiringkan sedikit tubuh untuk menghindari serangannya.


Dengan gerakan yang sangat cepat, Zhuge Lao pun berbalik dan kemudian langsung menebaskan pedangnya lagi ke arah titik-titik berbahaya pada bagian tubuh Ling Tian. Namun, itu masih sama seperti sebelumnya. Sebab, Ling Tian tetap saja dapat mengelak semua serangan tersebut dengan sangat mudah.


"Mengapa kultivasinya sangat stabil padahal dia baru saja menerobos?" tanya Zhuge Lao dalam hatinya dengan nada keheranan sambil terus menebas serta menusukkan pedangnya ke arah Ling Tian dengan sangat ganas.


Beberapa bangunan di Kota Primordial sudah roboh dan hancur karena tekanan energi Qi yang dilepaskan oleh serangannya itu. Orang-orang yang berada dekat dengan tempat pertarungan tersebut segera berlari menjauh agar tak ikut terkena dampaknya juga.


Mengetahui hal itu, Ling Tian segera berkata di sela-sela pertarungan mereka, "Mari kita akhiri saja pertarungan ini! Jika kita melanjutkannya lebih lama lagi, kota ini akan semakin hancur porak-poranda."

__ADS_1


Setelah berkata demikian, Ling Tian bergerak sangat cepat menghindari setiap serangan yang datang padanya dan kemudian mengayunkan tangannya ke arah dada Zhuge Lao dengan menggunakan Teknik Tapak Dewa Naga.


Mendapatkan serangan balasan yang sangat kuat seperti itu, Zhuge Lao pun segera mengangkat tangan kirinya dan menggunakan tinjunya untuk menahan Teknik Tapak Dewa Naga milik Ling Tian tersebut.


BOOM


Bunyi ledakan yang sangat keras terdengar ketika tubuh Zhuge Lao terpental jauh kemudian jatuh bawah dan menabrak sebuah gedung di dalam Kota Primordial.


"Aaiihh ... Seharusnya aku memukulnya ke arah hutan yang di sana agar tak menghancurkan bangunan milik orang lain lagi," gerutu Ling Tian saat melihat gedung yang hancur berkeping-keping karena tertimpa oleh tubuh Zhuge Lao.


"Jika keadaannya terus seperti ini, cepat atau lambat aku yang akan terbunuh oleh Ling Tian! Kalau begitu, aku hanya bisa menggunakan Pil Hitam Terlarang untuk membunuhnya, meskipun hal ini akan membuat klanku menderita di bawah tekanan penduduk Kota Primordial karena kultivasiku akan menurun setelah menelan pil tersebut," batin Zhuge Lao seraya mengeluarkan Pil Hitam Terlarang dari Cincin Ruangnya dan langsung menelannya.


Auranya tiba-tiba meningkat dengan tajam. Bangunan yang berada di sekitar Zhuge Lao pun langsung hancur akibat tekanan energi Qi yang terpancar keluar dari tubuhnya. Tingkat kultivasinya juga seketika naik ke tahap kedelapan Bintang Bumi.


Melihat hal tersebut, Ling Tian hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis. Sebab ia tahu, meski tingkat kultivasi Zhuge Lao telah naik, tetapi itu bukanlah kekuatannya yang sesungguhnya.


"Hahaha ... Ling Tian! Saatnya kematianmu telah tiba!" seru Zhuge Lao sambil tertawa terbahak-bahak dan langsung menghilang dari tempatnya.


Ling Tian dengan sangat cepat melesat mundur ke belakang untuk mengindari serangan Zhuge Lao. Ia juga bermaksud untuk menjauh dari Kota Primordial agar tak menyebabkan kerusakan yang lebih besar lagi ketika pertarungan mereka sedang berlangsung.


Zhuge Lao pun bergegas menyusul Ling Tian sembari terus melancarkan serangannya. Meskipun kecepatan pergerakannya telah meningkat, namun Ling Tian masih dapat mengimbanginya karena kekuatan yang ditunjukkan oleh Zhuge Lao sangat tidak stabil.


Zhuge Lao pun mengetahui hal tersebut. Sehingga ia tak pernah berhenti melepaskan serangan terkuatnya ke arah Ling Tian. Sebab, efek Pil Hitam Terlarang tak berlangsung lama bagi kultivator yang telah memiliki tingkat kultivasi yang tinggi seperti Zhuge Lao.


Ling Tian segera mengeluarkan Pedang Pelangi yang telah dimasukkan kembali ke dalam Cincin Ruangnya ketika ia menerobos tingkat kultivasinya.


TRANG ... TRANG


Bunyi senjata saling beradu pun terdengar lagi. Semua serangan yang dilepaskan oleh Zhuge Lao dapat ditangkis dengan mudah oleh Ling Tian. Kini Ling Tian juga telah menggunakan Teknik Pedang Tanpa Nama untuk melancarkan serangan balasannya.


Pergerakan yang dilakukan oleh keduanya sangat cepat. Energi Qi yang mereka lepaskan juga sudah menghancurkan sebagian hutan tempat pertarungan itu berlangsung.

__ADS_1


Karena tingkat teknik beladiri yang digunakan oleh Zhuge Lao sangat jauh di bawah Ling Tian, maka hanya dalam beberapa menit saja ia sudah merasa kewalahan menghadapi setiap serangan balasan yang datang ke arahnya.


SLEBH


Ketika Zhuge Lao sedang lengah, tebasan Pedang Pelangi milik Ling Tian tepat mengenai perutnya. Darah segar pun terlihat mengalir membasahi pakaiannya.


"Aarrgghh!" Zhuge Lao berteriak kesakitan bercampur geram.


Hal ini pula yang membuat dirinya semakin kalap. Serangan Zhuge Lao menjadi lebih ganas lagi dari yang sebelumnya dan dipenuhi niat membunuh yang sangat kuat. Meski demikian, Ling Tian masih tetap bisa mengelak dan menangkis setiap serangannya dengan mudah.


Pertarungan tersebut berlangsung sangat sengit. Fluktuasi udara terlihat cukup jelas mengikuti pergerakan yang mereka lakukan. Ling Tian pun semakin meningkatkan intensitas serangannya. Pedang Pelangi di tangannya terus bergerak melakukan tusukan serta tebasan ke arah Zhuge Lao.


Beberapa saat kemudian, Zhuge Lao tak dapat lagi mengimbangi pola serangan yang dilancarkan oleh Ling Tian. Saat Pedang Pelangi menebas lengannya, Zhuge Lao tak sempat lagi menangkisnya, hingga membuat tangannya yang sedang memegang pedang tersebut langsung terputus.


"Aarrgghh!"


Teriak kesakitan yang berasal dari mulut Zhuge Lao terdengar menggema di sekitarnya. Ia bergegas melesat mundur menjauh dari Ling Tian agar tak terkena tebasan selanjutnya dari Pedang Pelangi.


"Karena aku akan segera mati di tanganmu, maka sebaiknya aku juga mengajakmu untuk ikut bersamaku!" seru Zhuge Lao sambil mengumpulkan semua energi Qi-nya yang tersisa ke dalam Dantian-nya.


Ling Tian hanya memandang acuh tak acuh ke arah Zhuge Lao seolah-olah tak menghiraukan apa yang hendak dilakukannya. Ia sangat tahu, bahwa saat ini Zhuge Lao akan meledakkan tubuhnya sendiri.


"Maaf! Aku tak mau ikut dengan pria tua jelek sepertimu. Silakan pergi sendiri!" ujar Ling Tian yang langsung menghilang dari tempatnya. Dalam sekejap saja, ia telah muncul dihadapan Zhuge Lao dan menusukkan Pedang Pelangi ke arah Dantian-nya.


SLEBH


Zzz ... Zzz


Ketika pedang Ling Tian telah menusuk masuk ke dalam Dantian Zhuge Lao, energi Qi yang sangat kuat segera menyebar ke udara. Dantian milik Zhuge Lao tersebut kini seperti sebuah balon yang bocor karena tertusuk oleh jarum.


"Aaaaahhhh!"

__ADS_1


Jerit kesakitan yang terakhir kalinya terdengar keluar dari mulut Zhuge Lao sebelum tebasan Pedang Pelangi mengenai lehernya, hingga membuat kepalanya terpisah dari tubuhnya.


__ADS_2