Legenda Sang Monster

Legenda Sang Monster
Chapter 246. Momen Bahagia


__ADS_3

"Mengapa Ibu pertama menangis? Apakah dia merasa sedih karena tidak bisa mengalahkan kakak itu?" tanya Ling Yuemeilan pada semua orang di sekitarnya.


Tak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan Ling Yuemeilan tersebut, karena semua orang juga dalam keadaan bingung melihat sikap Lin Yue yang seperti itu.


Orang yang bereaksi pertama adalah Ling Han yang langsung berseru keras, "Adik ipar, apa yang terjadi denganmu?"


Kemudian Su Mei dan Jia Xiulan yang segera berdiri dari tempat duduk mereka dan berteriak secara bersamaan, "Yueyue, ada apa?"


Baru kali ini mereka melihat Lin Yue menangis di depan umum, tanpa memedulikan banyak mata yang memandangnya. Hal ini juga yang membuat mereka semua menjadi semakin kebingungan.


Anggota sekte yang lainnya pun langsung berdiri dari tempat duduk mereka masing-masing. Yun Feilong dengan cepat bergegas melambaikan tangannya untuk membuka Formasi Pelindung di sekitar arena pertarungan.


Ketika Yun Feilong dan yang lainnya hendak melesat masuk ke dalam arena, Lin Yue sudah terlebih dahulu menjerit histeris, "Ling Tian! Apakah kamu masih ingin bermain seperti orang bodoh di depan kami semua?"


Suasana seketika berubah hening setelah semua orang mendengar perkataan Lin Yue. Tak ada seorang pun yang melepaskan tatapan mata mereka pada pemuda yang berjongkok di tanah dan masih menunjukkan wajah ketakutannya itu.


Tubuh Su Mei dan Jia Xiulan langsung gemetar dan tampak goyah ketika mereka mendengar nama orang yang diteriakkan oleh Lin Yue. Tangan mereka juga kini saling berpegangan seakan saling menopang satu sama lainnya agar tidak terjatuh ke tanah.


"Baiklah, jika itu maumu! Aku juga akan berpura-pura tidak mengenalimu," Lin Yue yang masih terus menangis terisak-isak, meraung keras lalu segera melesat dan menebaskan pedangnya ke arah Ling Tian yang mulai berdiri dari posisi jongkoknya.


Melihat hal ini, Ling Tian hanya diam dan membiarkan pedang Lin Yue menebas bahunya. Kerinduan yang sangat dalam terpancar dari tatapannya saat ia memandang wajah Lin Yue yang dipenuhi dengan air mata.


TRANG


Pedang Lin Yue seolah membentur logam yang sangat keras ketika pedangnya mengenai tubuh Ling Tian. Lin Yue sempat terkejut saat mengetahui bahwa Ling Tian tidak menghindari serangannya.

__ADS_1


Namun, setelah mengetahui bahwa tubuh Ling Tian tidak terluka dan bahkan pakaiannya tak tergores sedikit pun, ia langsung menebaskan pedangnya lagi sambil menangis sejadi-jadinya. Bunyi logam yang saling beradu terdengar kembali diiringi isak tangis Lin Yue yang semakin keras.


"Apakah kamu masih ingin bermain sebagai orang asing dengan kami? Apakah kamu tidak tahu bahwa setiap waktu kami selalu memikirkanmu?" Lin Yue melontarkan pertanyaan di sela-sela tangisannya, sembari terus menebaskan pedangnya.


Ling Tian tetap diam tak bergerak dan terus membiarkan Lin Yue melepaskan kekesalan, kesedihan serta kerinduan di hatinya. Mata Ling Tian menatap lekat-lekat pada setiap tetes air mata yang mengalir di wajah gadis cantik yang sangat ia rindukan itu.


Menyaksikan hal ini, Ling Han tak bisa menahan diri lagi dan segera melesat masuk ke dalam arena pertarungan.


"Adik ipar, tolong berhentilah!" seru Ling Han pelan dan hendak menahan tindakan Lin Yue tersebut. Sebab, ia takut bahwa Lin Yue mungkin telah salah mengenali orang.


Namun, sebelum Ling Han melakukannya, Ling Tian sudah terlebih dahulu mengulurkan tangannya dan berkata, "Kakak, biarkan Yue'er melepaskan semua beban di hatinya."


DUAR


Seperti tersambar petir, seketika itu juga tubuh Ling Han menjadi kaku setelah mendengar suara asli dari Ling Tian. Secara perlahan, ia juga melihat bentuk tubuh Ling Tian yang mulai berubah ke wujud aslinya. Tanpa sadar, mata Ling Han pun mulai berkaca-kaca. Adik yang sangat dia sayangi dan selalu dipikirkannya itu, akhirnya benar-benar telah kembali.


Su Mei dan Jia Xiulan akhirnya tak mampu lagi menahan air mata mereka ketika memandang wajah pemuda tampan yang berada di dalam arena pertarungan tersebut. Wajah mereka pun kini sudah dibasahi oleh air mata yang mengalir deras. Perasaan sedih dan bahagia bercampur menjadi satu di dalam hati mereka berdua.


Pedang Lin Yue pun terjatuh karena tangannya benar-benar sudah tak sanggup lagi memegang gagangnya. Tapi, ia masih belum mau berhenti. Lin Yue bergegas maju dan melanjutkannya memukul tubuh Ling Tian dengan keras.


BAM ... BAM ... BAM


Suara pukulan Lin Yue yang mengenai tepat di dada Ling Tian, terdengar jelas di telinga semua orang yang berada di sekitar tempat tersebut.


Ling Tian tetap tidak menghentikannya dan masih terus membiarkan Lin Yue bertingkah sedemikian rupa. Sebab, ia tahu bahwa saat ini Lin Yue ingin melepaskan semua beban dihatinya dengan cara seperti itu.

__ADS_1


Bahkan mata semua orang mulai ikut berkaca-kaca melihat kejadian tersebut. Suasana haru dalam sekejap menyelimuti di sekitar arena pertarungan.


Entah siapa yang memberikan informasi terlebih dahulu, satu per satu anggota sekte Ling Tian yang sebelumnya sibuk berkultivasi di kediamannya masing-masing, segera bermunculan dan langsung mengelilingi wilayah arena. Bahkan sebagian dari mereka berdiri di udara karena ingin melihat wajah pemimpin sekte mereka yang telah pergi selama lima tahun itu.


Lin Yue terus memukul Ling Tian tanpa menghiraukan semakin banyak orang yang menyaksikan tindakannya tersebut. Hanya suara tangisnya yang mulai terdengar sedikit melemah.


Ling Tian mengulurkan tangannya untuk menyeka air mata Lin Yue dan berkata dengan nada yang sangat pelan, "Yue'er! Apakah kamu masih akan terus melakukan itu?" Mungkinkah kamu tidak ingin memberikan pelukan untukku?"


Mendengar perkataan Ling Tian, Lin Yue seketika menghentikan pukulannya. Sejenak, ia memandang senyum hangat di wajah pemuda tampan yang berdiri di depannya saat ini.


Lalu dengan cepat, Lin Yue pun langsung melompat memeluk tubuh Ling Tian dengan erat. Tangisannya yang sudah hampir mereda, kini bergema lagi dengan keras di sekitar arena pertarungan.


Ling Tian juga membalas pelukan Lin Yue dengan erat sambil membelai rambutnya dengan lembut, kemudian berbisik pelan, "Yue'er, aku sangat merindukanmu!"


Lin Yue yang mendengar ucapan Ling Tian tersebut, semakin mengencangkan pelukannya seolah-olah ia sangat takut bahwa Ling Tian akan pergi meninggalkannya lagi.


Setelah beberapa saat, tanpa melepaskan pelukan Lin Yue, Ling Tian mengangkat kepalanya menoleh ke arah Su Mei dan Jia Xiulan.


"Mei'er ... Xiu'er ... Apakah kalian masih akan tetap berdiri di sana?" tanya Ling Tian melalui telepatinya.


Tubuh Su Mei dan Jia Xiulan tersentak kaget ketika mendengar suara Ling Tian di dalam pikiran mereka. Tanpa memedulikan keterkejutan yang sedang mereka alami, keduanya pun langsung menghilang secara bersamaan dari tempatnya dan muncul tepat di sebelah Ling Tian.


"Aku sungguh sangat merindukan kalian semua," ucap Ling Tian pelan seraya melebarkan kedua tangannya.


Sama seperti Lin Yue sebelumnya, Su Mei dan Jia Xiulan segera melompat ke dalam pelukan Ling Tian sambil menangis keras melepaskan semua beban di dalam hati mereka. Pemuda tampan yang selalu mereka pikirkan siang dan malam itu, akhirnya telah kembali.

__ADS_1


Mereka berempat berpelukan erat tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya. Ling Tian bahkan menutup matanya untuk menikmati momen penuh kebahagiaan ketika bertemu dengan orang-orang yang sangat disayanginya itu.


__ADS_2