
Waktu terus berputar dengan cepat. Tanpa terasa enam bulan lagi berlalu. Menghitung sejak pertama kali Ling Tian memasuki Jurang Keputusasaan, itu sudah setahun lamanya dia berada di sana.
Wajah Ling Tian kini benar-benar tampak sangat suram. Hanya keinginannya untuk kembali bertemu keluarga dan teman-temannya yang terus mendorong semangatnya agar tetap melanjutkan masuk ke dalam Jurang Keputusasaan. Di dalam hatinya, ia sangat yakin bahwa jurang tersebut pasti memiliki dasar.
Jika itu adalah orang lain, mungkin mereka telah menyerah dengan situasi yang semacam itu.
Dua hari lagi berlalu. Ketika energi Qi Ling Tian hampir habis, dia akhirnya merasakan adanya sebuah pusaran energi yang sangat kuat, sekitar hampir 200 kilometer di depannya. Dengan cepat ia segera menelan Pil Restorasi untuk mengembalikan kekuatannya, kemudian langsung melesat ke arah pusaran energi tersebut.
Dalam sekejap saja, Ling Tian sudah sampai tepat di depan pusaran energi yang dirasakan oleh indra spiritualnya itu. Terlebih dahulu dia memperhatikan situasi yang ada di sekitarnya. Namun, Ling Tian tidak menemukan apa-apa selain pusaran energi yang terus berputar-putar seolah ingin menyedot tubuhnya untuk masuk ke dalam.
"Aahh! Jurang ini sepertinya tidak memiliki dasar." Ling Tian terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang. Dia berpikir sejenak, kemudian melanjutkan, "Hmmm ... Kalau begitu, mungkin saja pusaran energi ini adalah pintu masuk untuk pergi ke tempat lain. Karena tak ada jalan lain lagi, mari kita masuk saja ke dalamnya!"
Tanpa pertimbangan lebih lama, Ling Tian segera masuk ke dalam pusaran energi.
WUUSSHH
Hanya beberapa menit saja, Ling Tian sudah keluar dari pusaran energi dan muncul di atas sebuah danau kecil. Di sekeliling danau itu terpasang Formasi Pelindung yang sangat kuat.
Yang paling mengejutkan Ling Tian adalah, bahwa air di dalam danau tersebut mengeluarkan asap tebal serta menyemburkan energi langit dan bumi yang sangat mengamuk.
"Hahaha ... Meskipun aku tak tahu tempat ini berada di mana, tapi Dewa benar-benar mengasihi pria tampan seperti aku. Inilah salah satu keuntungannya memiliki wajah yang sangat tampan." Ling Tian akhirnya tertawa gembira melihat apa yang ditemuinya saat ini.
Perjuangannya selama setahun lebih berada di dalam Jurang Keputusasaan akhirnya membuahkan hasil yang menurutnya itu sepadan. Usahanya akhirnya tidak sia-sia. Wajahnya yang tampak suram langsung berubah bersemangat.
Bagaimana mungkin Ling Tian tidak senang? Sebab, di bawahnya saat ini adalah hal yang sangat ia butuhkan untuk menempa seluruh tulang-tulangnya.
Dengan cepat, Ling Tian segera melesat masuk ke dalam Formasi Pelindung. Walaupun formasi tersebut terlihat sangat kuat bagi kultivator lainnya, tapi di depan Ling Tian yang seorang Master Formasi tingkat tinggi, itu seperti permainan anak-anak baginya.
Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi, Ling Tian bergegas membuka seluruh pakaiannya dan kemudian langsung terjun ke dalam danau.
Segera, tubuh Ling Tian sepenuhnya sudah terendam dengan air danau. Energi yang mengamuk keras langsung menyerang tubuhnya. Dengan menggunakan Teknik Dewa Naga Surgawi, Ling Tian menyerap energi tersebut dan mulai menempa tulang-tulangnya.
__ADS_1
Satu hari ... Dua hari ... Tiga hari, berlalu begitu saja. Hari-hari yang dilalui Ling Tian penuh penderitaan yang sangat menyiksa dirinya. Teriakan kesengsaraan terus keluar dari mulutnya dan menggema keras di dalam Formasi Pelindung.
Meski demikian, di dalam hati Ling Tian tetap merasakan kegembiraan. Sebab, hanya dengan cara seperti itulah dia bisa menjadi lebih kuat lagi.
Bila kultivator lain bertindak seperti apa yang saat ini dilakukannya, tubuh mereka sudah dipastikan akan meledak seketika karena tak sanggup menahan tekanan dari energi yang berada di dalam danau tersebut.
Dalam sekejap, tanpa terasa sudah tiga bulan berlalu semenjak Ling Tian masuk ke dalam danau. Proses penempaan tulang-tulangnya terus berlangsung tanpa ada seorang pun yang mengganggunya.
***
Sementara itu, di suatu tempat yang berjarak cukup jauh dari danau, dua orang kultivator terlihat sedang bertarung dengan sangat sengit. Mereka mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk saling mengalahkan satu sama lainnya.
"Sepertinya pertarungan ini akan berakhir seimbang." Seorang pemuda berbicara dengan nada cemas pada orang-orang yang berada di dekatnya.
"Huuhh ... Jika itu terjadi, sekte kita takkan bisa memasuki Danau Suci lagi pada tahun ini, kecuali Senior Chao bisa mengalahkan Zi Nan," balas pemuda lainnya.
"Senior Chao telah melalui pelatihan yang sangat keras agar dapat mengalahkan Zi Nan. Namun, hasilnya masih tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya."
"Kalau begini, kepemilikan Danau Suci masih akan terus dipegang oleh Sekte Pedang Angin Selatan."
"Aku hanya bisa berharap Senior Chao dapat mengalah Zi Nan, meski peluang untuk kemenangannya sangat tipis."
Mendengar obrolan dari para pemuda tersebut, orang-orang yang berdiri tak jauh dari situ segera mencibir. Mereka adalah para murid dari Sekte Pedang Angin Selatan.
"Ciihh ... Jangan bermimpi! Chao Ting takkan mampu untuk mengalahkan Senior Zi. Bukalah mata kalian lebar-lebar dan lihatlah dengan jelas. Sebenarnya Senior Zi belum mengeluarkan seluruh kemampuannya karena menjaga wajah Chao Ting. Jika tidak, sudah pasti sejak tadi Chao Ting telah kalah dan dipermalukan olehnya."
"Kekeke ... Sesungguhnya Senior Zi hanya mempertahankan hasil seri pada pertarungan ini. Bila dia berniat untuk menang, mungkin Chao Ting sudah lama terkapar di tanah. Murid-murid dari Sekte Pedang Awan kalian tetap takkan bisa berkultivasi di danau suci."
Merasa sangat direndahkan oleh para murid dari Sekte Pedang Angin Selatan, para murid dari Sekte Pedang Awan menjadi sangat geram.
"Hei, Cheng Bao! Apakah kamu berani melawanku?" teriak salah satu murid dari Sekte Pedang Awan dengan nada penuh kemarahan.
__ADS_1
"Siapa yang tidak berani melawanmu, Yao Yang? Kemarilah! Aku akan menginjak-injakmu seperti semut," jawab pemuda yang disebut sebagai Cheng Bao.
"B4ngsat! Kamu yang ke sini! Aku akan menghancurkan wajahmu agar rupamu itu terlihat seperti seekor b4bi, hingga bahkan orang tuamu sendiri takkan bisa mengenalimu lagi," balas pemuda yang bernama Yao Yang sembari mengangkat tinjunya ke arah Cheng Bao.
Keduanya hanya saling beradu mulut tanpa ada yang berani untuk maju menyerang terlebih dahulu. Sebab mereka berdua tahu, bahwa sektenya masing-masing akan memberikan hukuman yang berat bila mereka mengganggu jalannya pertarungan yang sedang berlangsung sekarang.
"Kalian semua, diam! Jika ada yang berani mengeluarkan suara lagi, maka aku tak segan-segan untuk mengusirnya dari tempat ini." Seorang tetua dari Sekte Pedang Angin Selatan berteriak memarahi mereka.
Mendengar hal itu, para murid yang hendak ikut beradu mulut langsung mengurungkan niat mereka. Suasana di tempat tersebut kembali hening dari suara para murid yang sedang mengobrol. Hanya suara pertarungan yang saat ini terdengar di sekitarnya.
Di dalam arena yang telah terpasang Formasi Pelindung, kedua pemuda yang sedang bertarung terus saling menyerang dengan intens. Kekuatan mereka berdua benar-benar tampak seimbang meski mereka sudah mengerahkan seluruh kekuatannya.
ROAR
Tiba-tiba, auman yang menggetarkan hati terdengar di telinga semua orang.
"Aahh! Apa itu?"
"Hmmm ... Sepertinya itu adalah raungan dari seekor Binatang Roh."
"Yah ... Aku juga berpikir demikian. Dan sepertinya raungan tersebut berasal dari arah sana."
"Bukankah itu adalah arah ke Danau Suci?"
"Hah! Mungkinkah Binatang Roh itu saat ini berada di sekitar Danau Suci?"
"Itu tidak mungkin. Jarak tempat ini dan Danau Suci cukup jauh. Suara raungan Binatang Roh takkan bisa terdengar sampai di sini. Jadi, kemungkinan terbesarnya bahwa Binatang Roh tersebut berada tidak terlalu jauh dengan kita."
Para murid mulai berkomentar tentang suara auman yang mereka dengarkan. Bahkan pertempuran di dalam arena juga segera dihentikan oleh wasit yang memimpin jalannya pertarungan.
Sementara itu, pemimpin sekte dan para tetuanya masing-masing saling berpandangan. Kemudian beberapa di antara mereka langsung menghilang dari tempatnya dan melesat ke arah Danau Suci.
__ADS_1