Legenda Sang Monster

Legenda Sang Monster
Chapter 277. Bunyi Tamparan Yang Menggema


__ADS_3

“Lihatlah tingkah pemuda tersebut! Dia masih tetap bersikap santai meski sedang berjalan memasuki tempat pemakamannya sendiri.”


“Ciihh ... Tunggu dan saksikan saja! Sebentar lagi sikap santainya itu akan berganti menjadi jeritan kesengsaraan.”


“Aaiihh ... Terserahlah apa yang akan terjadi dengan nasibnya! Semua ini juga karena ulahnya sendiri karena berani memprovokasi Hong Cao Yan.”


Berbagai macam komentar pedas yang ditujukan pada Ling Tian terus menggema di sekitar arena pertarungan. Tak ada satu pun di antara para murid pria yang bersimpati kepadanya. Hanya sebagian kecil saja dari para murid wanita yang sangat menyayangkan bahwa pria setampan Ling Tian akan terbunuh di atas arena tersebut.


“Hahaha ... Kamu masih berani bertingkah arogan meskipun tahu bahwa sebentar lagi kamu akan hancur di tanganku!” Hong Cao Yan tertawa terbahak-bahak saat memperhatikan Ling Tian yang berjalan tenang menaiki tangga arena. “Padahal, jika sebelumnya kalian menuruti kata-kataku untuk datang secara bersama-sama, mungkin kalian masih bisa memiliki kesempatan menang walau hanya sebesar sepuluh persen saja. Tapi kalian semua sungguh telah menyia-nyiakan kesempatan yang sudah aku berikan.”


Mendengar penuturan dari Hong Cao Yan, Tang Fei segera tersadar dari kepanikannya. “Apa yang baru saja dikatakan oleh Hong Cao Yan tersebut adalah benar. Sebaiknya kita semua ikut membantu Junior Ling dalam menghadapinya.”


“Tidak dibutuhkan!” sela Ling Tian tegas. “Ingat saja yang aku katakan tadi, Senior. Kalian semua hanya perlu bersorak keras untukku. Dan untukmu, Senior Pang ... Aku suka sekali dengan tarianmu yang sebelumnya. Itu akan membuatku sangat bersemangat jika kamu mau melakukannya lagi.”

__ADS_1


“Hahaha ... Teruslah bersikap sombong di depanku! Aku benar-benar menjadi penasaran dan ingin melihat apa yang akan kamu lakukan ketika nanti aku menyiksamu. Cepatlah naik ke atas arena! Aku sudah tak sabar untuk menginjak-injak wajahmu itu.” Hong Cao Yan kembali terkekeh sembari menunjukkan seringai jahat.


“Ooh, begitukah?! Sungguh kebetulan sekali! Aku juga sangat penasaran tentang apa yang dapat dilakukan oleh seekor semut sepertimu terhadap diriku ini,” balas Ling Tian cepat, saat dirinya baru saja memasuki arena pertarungan.


“Tetua! Apakah kamu mendengarnya?! Sampah sialan ini benar-benar telah membuatku murka. Dia sendirilah yang telah mencari kematiannya. Jadi, jangan salahkan aku jika sengaja membunuhnya,” seru Hong Cao Yan dengan nada geram. Wajahnya seketika berubah menjadi merah padam.


Sambil menunjuk ke arah Ling Tian, Hong Cao Yan berbicara lagi, “Kep4rat sialan! Karena kamu yang memintanya, maka aku dengan senang hati akan mengabulkannya. Kalau begitu, matilah!”


Tanpa menunggu aba-aba, Hong Cao Yan segera menghilang dari tempatnya dan langsung muncul tepat di hadapan Ling Tian.


Namun, yang mengejutkan semua orang adalah, Ling Tian masih tetap bersikap santai meski telah mendapatkan peringatan dari Niu Lang. Ia bertindak seolah-olah tak menghiraukan serangan Hong Cao Yan yang tinggal sedikit lagi akan mengenainya.


Awalnya, semua orang mengira bahwa Ling Tian tak dapat melihat pergerakan Hong Cao Yan yang sangat cepat itu. Sehingga, ia tampak hanya bisa diam dan pasrah menunggu kepalan tangan Hong Cao Yan yang hendak menghancurkannya.

__ADS_1


Akan tetapi, pemikiran orang-orang tersebut ternyata salah besar. Sebab, Ling Tian memang benar-benar tidak menganggap sedikit pun serangan yang datang menerjang ke arah dirinya. Bahkan Ling Tian masih sempat menyunggingkan senyumnya ketika pukulan Hong Cao Yan sudah berjarak sekitar satu jengkal dari wajahnya.


PLAK ... PLAK ... PLAK


Secara tiba-tiba, suara tamparan yang seakan memekakkan telinga terus terdengar menggema di dalam arena pertarungan. Tak ada seorang pun di antara para murid yang menyadari apa sebenarnya yang sedang terjadi. Mereka hanya bisa melihat wajah Hong Cao Yan terus berayun ke kiri dan ke kanan seolah-olah sedang menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.


Namun, ada satu orang di tempat tersebut yang dapat melihat kejadian itu dengan sangat jelas. Dia adalah sang wasit yang juga sedang berada di dalam arena pertarungan.


“Hah?! Ini ....” Seruan sang wasit seketika tertahan, sebab ia tak tahu harus berkata apa lagi di dalam keterkejutannya. Yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah membuka mulutnya lebar-lebar, karena terperangah dengan apa yang saat ini sedang disaksikannya.


“Huuhh ... Di mana suara aroganmu yang tadi? Mengapa kamu hanya diam saja? Bukankah sebelumnya kamu mengatakan bahwa ingin menginjak-injak wajahku dan juga ingin membunuhku?” tanya Ling Tian dengan nada menggerutu, sembari terus mengayunkan tangannya memberikan tamparan keras ke wajah Hong Cao Yan.


Setiap kali Hong Cao Yan hendak membuka mulutnya, telapak tangan Ling Tian sudah terlebih dahulu menyambarnya dengan sebuah tamparan, hingga membuat bibir Hong Cao Yan menjadi bengkak seolah terkena sengatan lebah.

__ADS_1


Hanya dalam sekejap saja, wajah Hong Cao Yan telah berubah ke tampilan yang mirip seperti tampang seekor b4bi. Itu terlihat sangat jelek, karena wajahnya kini dipenuhi oleh benjolan-benjolan yang cukup besar.


Walau para murid belum mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi di atas arena pertarungan, namun semuanya telah menyimpulkan bahwa bunyi tamparan yang menggema di sekitar mereka itu adalah berasal dari kedua pipi Hong Cao Yan.


__ADS_2