
"Rasakan itu, b4jingan! Sekarang kamu benar-benar akan mati! Tak ada seorang pun yang bisa menolongmu sekarang," teriak Du Qiang keras. Tak ada kegembiraan dalam nada bicaranya meskipun ia merasa telah berhasil membunuh Ling Tian.
Sebab, kematian anaknya yaitu Du Shijie, membuat hati Du Qiang sangat sakit seperti sedang diiris-iris kecil oleh sebuah pisau. Menurutnya, di dunia ini tak ada yang lebih menyakitkan daripada rasa kehilangan.
Ling Tian yang tubuhnya telah terbungkus dengan serbuk racun, sedikit menekuk sudut-sudut bibirnya menampilkan senyum mengejek. Lalu berkata dengan nada sinis, "Pemimpin sekte serta Tetua Agung-nya sama-sama idiot!"
Setelah mengatakan hal tersebut, energi Qi di dalam tubuh Ling Tian langsung terpancar keluar membuat serbuk racun yang mengelilinginya segera berhamburan di udara.
"Apa?! Bagaimana bisa?!" seru Du Qiang dalam keterkejutannya seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Serbuk racun itu adalah metode rahasia untuk membunuh lawan yang lebih kuat darinya. Du Qiang sendiri yang telah meracik beberapa Tumbuhan Roh beracun dan menjadikanya serbuk halus. Sehingga ia tahu betapa berbahayanya hal tersebut jika terkena sedikit saja pada tubuh manusia.
Menurut Du Qiang, bahkan seorang kultivator tahap kesembilan Bintang Bumi takkan sanggup menahan kekuatan racun dari serbuk beracunnya itu. Sebab, hanya dalam sekejap saja, racunnya akan langsung menyerang ke jantung dan segera membunuh orang yang terkena serbuk racun tersebut.
Bila seorang kultivator memaksakan diri untuk mengusir racun itu menggunakan energi Qi-nya, seluruh pembuluh darah di tubuhnya akan langsung meledak. Namun, apa yang disaksikan oleh Du Qiang saat ini sangatlah berbeda dari apa yang telah dipikirkannya.
Ling Tian hanya dengan santai mengusir semua serbuk racun yang membungkus tubuhnya menggunakan energi Qi. Terlebih lagi, tak ada apapun yang terjadi pada dirinya.
Sebenarnya, apa yang dipikirkan oleh Du Qiang sangat benar bahwa serbuk beracunnya dapat membunuh bahkan seorang kultivator tahap kesembilan Bintang Bumi. Tapi, tubuh Ling Tian sangatlah berbeda dengan seluruh kultivator yang ada di Benua Langit.
Ini dikarenakan oleh Api Ilahi yang telah menyatu dengan tubuhnya. Jangankan hanya racun yang seperti itu, bahkan jika ada racun yang dapat membunuh seorang Dewa, tubuh Ling Tian tetap akan baik-baik saja.
"Hehehe ... Tak perlu terkejut begitu! Racunmu takkan berpengaruh terhadap pria tampan sepertiku," ujar Ling Tian seraya tertawa lirih, kemudian melanjutkan, "Ayo! Keluarkan semua trik yang tersimpan di lengan bajumu!"
Mendengar provokasi dari Ling Tian yang sangat meremehkannya itu, Du Qiang menjadi lebih geram. Segera, ia mengeluarkan pedang panjang dari Cincin Ruangnya. Ketika pedang tersebut telah berada dalam genggaman tangannya, energi Qi di tubuh Du Qiang meningkat lagi.
__ADS_1
"Ooh!" seru Ling Tian yang sangat terkejut dengan mulut membentuk huruf 'O', namun wajahnya tak bisa menyembunyikan kepura-puraannya. Kemudian menambahkan, "Apakah ini salah satu trik yang kau sembunyikan di lengan bajumu?"
Du Qiang tak menghiraukan pertanyaan Ling Tian. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera menerjang ke arah Ling Tian dengan menggunakan kekuatan penuhnya.
Ayunan pedang Du Qiang sangat cepat dan kuat. Energi Qi yang menyembur keluar dari setiap tebasannya membuat udara bergetar hingga menimbulkan fluktuasi yang tampak terlihat jelas oleh mata.
Ling Tian tetap tenang meski mendapatkan serangan yang ganas seperti itu. Ia bergerak dengan sangat lincah dan gesit mengelak semua serangan yang datang kepadanya. Sehingga, setiap tebasan serta tusukan dari pedang milik Du Qiang hanya bisa mengenai udara saja.
Dengan gerakan yang sangat cepat pula, Ling Tian pun mengeluarkan Pedang Pelangi dari Cincin Ruangnya dan segera menangkis serangan pedang milik Du Qiang tersebut.
TRANG ... TRANG
Bunyi senjata yang saling beradu akhirnya mulai terdengar dan menggema cukup keras ke sekitarnya. Ledakan energi Qi yang menyembur keluar dari tubuh Ling Tian dan Du Qiang membuat bangunan, pepohonan serta bebatuan yang berjarak dekat dengan mereka langsung hancur menjadi serbuk halus.
Di mana pun mereka melintas, suara ledakan keras akan terus terdengar. Jika keduanya bertarung di atas tanah, tanah tersebut bergetar hebat dan hancur seketika itu juga hingga membuat lubang yang sangat besar dan dalam.
Tak ada seorang pun dari anggota Sekte Kabut Racun yang berani mendekat. Mereka semua sudah menjauh sekitar 50 kilometer dari area pertarungan. Meski demikian, semuanya masih merasakan udara di sekitar mereka bergetar dengan intens akibat loncakan energi Qi yang terpancar keluar dari tubuh Ling Tian dan Du Qiang yang sedang bertarung dengan sengit.
Du Qiang sudah tak memedulikan lagi tentang sektenya yang telah menjadi porak-poranda. Sebab, yang ada dipikirannya saat ini adalah berusaha membunuh Ling Tian secepat mungkin.
Teknik serangan yang digunakan oleh Ling Tian saat ini adalah Teknik Menari Bersama Pedang, sehingga tubuhnya terlihat tampak seperti sedang menari dengan indah. Ketika ia bertahan, teknik yang akan digunakannya adalah Teknik Pedang Kelembutan.
Ling Tian belum menggunakan Teknik Pedang Tanpa Nama, karena ingin menikmati pertarungannya. Menurut Ling Tian, inilah saatnya ia meregangkan otot-ototnya ketika tingkat kultivasinya baru saja menerobos.
"Fiiuuhh ... Jika terus seperti ini, sekte kita benar-benar akan hancur!" ujar Tetua Bei sambil menghela napas panjang.
__ADS_1
Tetua Bei dan ketiga Tetua yang menjaga Lembah Obat, sudah bergabung bersama dengan para Tetua lainnya untuk ikut menyaksikan pertarungan antara Ling Tian dan Du Qiang dari kejauhan.
"Aku tak memikirkan hal itu lagi, Tetua Bei! Yang aku khawatirkan saat ini, apakah Tetua Agung bisa mengalahkan pemuda bernama Ling Tian tersebut?" Tetua Fang yang menjaga bagian barat di area Lembah Obat berkata dengan nada cemas.
"Aku juga mengkhawatirkan hal tersebut," balas Tetua Bei.
"Semoga saja Tetua Agung bisa mengalahkan Ling Tian! Jika tidak ... Ah! Aku tak berani memikirkan konsekuensi yang akan kita hadapi." Tetua Nan menambahkan.
"Aku sangat berharap Tetua Agung dapat memenangkan pertarungan ini," ucap Tetua Dong dengan perasaan tertekan.
Mereka berempat adalah Tetua yang sebelumnya telah mengejar Ling Tian ketika ia masuk ke dalam Lembah Obat. Sementara untuk Tetua yang lainnya, mereka tak bisa lagi mengeluarkan kata-kata karena mulut mereka semua terasa kaku melihat kengerian yang terjadi akibat pertarungan dua kultivator tingkat tinggi tersebut.
Di atas udara, Ling Tian dan Du Qiang masih terus saling menyerang dan bertahan. Sesekali Du Qiang melemparkan beberapa jarum beracun ke arah Ling Tian untuk mengunci pergerakannya. Akan tetapi, semua serangan dari jarum itu dapat dihindari dengan mudah oleh Ling Tian.
"Yoo ... Kakek tua bangka sialan! Mari kita akhiri saja!" Ling Tian terus memanggil Du Qiang sebagai kakek tua bangka sialan karena masih merasa sakit hati saat wajahnya dipukul sangat keras oleh Du Qiang. Kemudian melanjutkan, "Aku sudah merasa bosan bermain denganmu. Saatnya membayar utang beserta bunganya!"
Setelah berkata demikian, gerakan Ling Tian tiba-tiba menjadi lebih cepat dari yang sebelumnya. Niat pedang yang sangat kuat melonjak dari tubuhnya. Bahkan tubuh Ling Tian tampak terlihat seperti sebuah pedang. Saat ini, Ling Tian akhirnya menggunakan Teknik Pedang Tanpa Nama.
Teknik tersebut adalah gabungan dari keempat teknik yang diajarkan kepada kakaknya, Ling Han, yaitu Teknik Pedang Satu. Lin Yue, yaitu Teknik Menari Bersama Pedang. Su Mei, Teknik Pedang Kesepian. Dan yang terakhir adalah Jia Xiulan, Teknik Pedang Kelembutan.
Ling Tian menggabungkan keempat teknik itu menjadi satu dan menyebutnya sebagai Teknik Pedang Tanpa Nama. Ketika Ling Tian menggunakan teknik ini, perasaanya akan menjadi semakin rindu dengan mereka.
Merasakan niat pedang yang kuat terpancar dari tubuh Ling Tian, Du Qiang bergegas mundur karena merasakan kengerian dari kekuatan Ling Tian yang sangat menakutkan itu.
Namun, Ling Tian tak membiarkannya melakukan hal tersebut dan langsung menutup jarak antara dirinya dan Du Qiang. Ayunan dari Pedang Pelangi yang ada di tangannya terus menebas dan menusuk dengan pola yang berubah-ubah hingga membuat Du Qiang semakin kewalahan.
__ADS_1