Legenda Sang Monster

Legenda Sang Monster
Chapter 315. Tuan Yang Memakan Senjatanya Sendiri


__ADS_3

“I—ini ... bagaimana mungkin?!” seru He Chang Lang dengan nada pelan dan terbata. “Aku tidak percaya! Mari kita coba lagi dengan menggunakan seluruh kekuatanku!”


Setelah berkata demikian, He Chang Lang bergegas melayang ke udara mencari posisi yang tepat untuk menembakkan anak panahnya ke arah beberapa bagian yang menurutnya adalah titik kelemahan pada tubuh Ling Tian.


WUUSSHH


Energi Qi berbentuk lima buah anak panah kembali melesak menuju ke arah Ling Tian. Kali ini kekuatan serangannya serta tingkat kehancuran yang ditimbulkannya lebih besar lagi dari yang sebelumnya.


BOOM ... BOOM ... BOOM


Kembali terdengar suara ledakan yang sangat keras dari atas arena pertarungan saat kelima anak panah menghantam tubuh Ling Tian. Namun, He Chang Lang dan semua orang sekali lagi dibuat terkejut oleh Ling Tian yang masih terlihat berdiri santai sambil menepuk-nepuk bagian tubuhnya yang terkena serangan anak panah tersebut.


“Aaiihh ... Ternyata kamu belum mengerti juga. Sungguh percuma kamu dijuluki sebagai jenius nomor satu tetapi memiliki tingkat kepintaran di bawah rata-rata. Otak di kepalamu itu benar-benar tidak kamu gunakan,” keluh Ling Tian seraya kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kalau begitu, biarkan aku membuatmu mengerti!”


Setelah selesai berbicara, Ling Tian langsung menghilang dari tempatnya dan melesat dengan sangat cepat ke arah He Chang Lang. Melihat hal ini, He Chang Lang juga tidak tinggal diam saja. Ia pun segera melepaskan kembali anak panahnya, kemudian terbang ke arah lain untuk terus menjaga jarak dari Ling Tian.

__ADS_1


Akan tetapi, Ling Tian sudah tiba lebih dulu di tempat kemunculan He Chang Lang. Bersamaan dengan itu pula, anak panah yang terus mengejarnya juga telah sampai di sana. Dengan menggunakan Teknik Langkah Dewa Naga miliknya, Ling Tian segera memosisikan dirinya berada tepat di belakang He Chang Lang.


BOOM ... BOOM ... BOOM


Sekali lagi bunyi ledakan yang sangat keras terdengar. Namun, kali ini bukan Ling Tian yang menjadi pusat dari ledakan tersebut melainkan He Chang Lang.


“Puuaahh!”


Sesuap darah segar dimuntahkan dari mulut He Chang Lang karena terkena serangan anak panahnya sendiri. Meskipun tubuhnya dibalut dengan harta pusaka berbentuk perisai pelindung, tapi dampak dari benturan tersebut cukup membuat dirinya terluka berat.


“Puuaahh!”


Mendengar ucapan Ling Tian yang sengaja meledeknya, He Chang Lang kembali memuntahkan sesuap darah karena menahan amarah di dalam hatinya. Ia ingin sekali melampiaskan kemarahannya terhadap Ling Tian, tapi benar-benar tak sanggup melakukannya disebabkan perbedaan kekuatan mereka yang sangat jauh.


“Hehehe ... Apakah kamu mengerti sekarang?!” tanya Ling Tian, kemudian melanjutkan, “Jika belum, aku bersedia untuk ....”

__ADS_1


“Me—mengerti! Aku mengerti!” jawab He Chang Lang terbata yang segera menyela perkataan Ling Tian. Walaupun enggan, tapi dia tidak punya pilihan selain mengakui kekalahannya. Jika ia terus melanjutkan pertarungan itu, maka dirinya hanya akan semakin dipermalukan oleh Ling Tian.


Selanjutnya He Chang Lang berbalik ke arah wasit dan berkata, “Pada pertarungan ini, aku akan mengaku ka ....”


“Eeiits, tunggu dulu!” sanggah Ling Tian segera memotong ucapan He Chang Lang. “Sebelum mengakui kekalahanmu, mungkin ada baiknya kalau kamu menyerahkan semua harta yang ada pada dirimu terlebih dahulu.”


“Lihatlah! Karena pertarungan kita tadi, aku telah menguras begitu banyak energi hingga membuat tubuhku kelelahan. Jadi, kamu harus memberikan kompensasi kepadaku,” sambung Ling Tian sembari berpura-pura mengusap keringat yang setetes pun tak ada di wajahnya.


“Namun, bila kamu tidak mau menyerahkannya, maka itu menandakan bahwa kamu ingin sekali lagi merasakan keganasan tinjuku ini,” lanjutnya dengan menunjukkan seringai jahat sambil mengarahkan kepalan tangannya ke arah He Chang Lang.


Wajah semua orang dalam sekejap dipenuhi garis-garis hitam setelah mendengar perkataan Ling Tian tersebut. Pertanyaan utama yang ada di benak mereka adalah 'Apakah pemuda yang berada di atas arena itu benar-benar seorang murid Sekte Cahaya Matahari yang selalu menjunjung tinggi citra dirinya ataukah merupakan seorang perampok yang tidak tahu malu?' Ia bahkan berani melakukan tindakan seperti itu di depan mata banyak orang.


“Jangan terlalu berlebihan, Anak muda! Jangan mencoba memakan seuatu yang tidak bisa kau kunyah. Muridku sudah mengaku kalah dan pertarungan ini berakhir sampai di sini saja.” Sebuah suara yang mengandung energi Qi dan berisi jejak kemarahan sedang memperingatkan Ling Tian.


Mengikuti arah suara yang memberikan teguran keras terhadap dirinya, dengan perlahan pula Ling Tian memalingkan wajahnya ke atas panggung khusus tempat Sekte Lautan Mendalam. Di sana ia melihat seorang pria tua yang memandangnya dengan tatapan mengancam.

__ADS_1


“Hehehe ... Tenyata kamu adalah guru dari sang jenius kita ini. Tapi, apakah kamu memiliki hak untuk menegur perbuatanku?!” tanya Ling Tian seraya tertawa lirih. Kemudian melanjutkan sembari memandang orang-orang dari Sekte Lautan Mendalam, “Apakah kalian semua mendengarnya dengan jelas bahwa dia telah mengakui kekalahannya. Coba kalian perhatikan dengan saksama! Bahkan sang wasit sendiri belum menghentikan pertarungan ini. Mungkinkah kalian semua ingin bertindak untuk menggantikan posisi sang wasit?”


__ADS_2