Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Rasa Kasihan


__ADS_3

"Sudah bangun?"


Rose duduk sambil terus mengawasi Mona yang baru tersadar dari pengaruh obat bius. Rasa iba langsung menggeluti batinnya saat Mona menatapnya tak berkedip. Sungguh kasihan, gadis culun ini sampai tidak bisa menikmati kehidupan dunia luar gara-gara ulah si bajingan Agler. Gara-gara manusia iblis itu Mona kehilangan kebahagiaan dan kini terjebak oleh rasa yang salah. Andai saja Rose bisa menemukan Agler lebih awal, dia pasti tidak akan membiarkan perasaan Mona terus berkembang hingga sebesar ini. Tapi karena dia tidak bisa menemukan keberadaan Agler dan para anggotanya, Rose terpaksa membiarkan Mona terus menempel padanya.


"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Rose.


"Ha?? O-oh itu, aku ....


"Apa?"


Mona jadi salah tingkah sendiri karena ketahuan sedang mengagumi kecantikan Rose. Sambil mengusap tengkuknya, Mona perlahan-lahan turun dari atas ranjang. Dia berniat pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


"Awwwhh, pusing sekali," ringis Mona sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.


"Duduk dan minum air itu dulu agar sakit di kepalamu sedikit berkurang," ucap Rose seraya membantu Mona kembali ke ranjang.


"Air apa ini Rose?" tanya Mona penasaran.


"Air biasa yang sudah ku beri racun di dalamnya."


"Roseee....


Sudut bibir Rose berkedut. Dia merasa terhibur setiap kali mengerjai gadis culun ini. Namun kesenangan itu tidak berlangsung lama setelah Rose melihat jari tangan Mona yang terbungkus perban. Seketika dia terbakar emosi. N*fsu untuk menghabisi Agler menguar dengan begitu kuat di dalam tubuhnya.


"Ada apa, Rose? Kenapa kau terlihat begitu marah?" tanya Mona bingung melihat ekpresi di wajah sahabatnya yang terlihat cukup mengerikan.


"Mona, lain kali jika ada pria asing yang ingin mengajakmu berjabat tangan, jangan kau tanggapi. Acuhkan saja. Atau jika bisa kau larilah sejauh mungkin. Mereka adalah orang-orang jahat yang ingin menyakitimu," jawab Rose sembari menormalkan ekpresi di wajahnya.


Mungkin kalian penasaran kenapa Mona tidak bisa mengingat kejadian yang menimpanya ketika menyelamatkan Rose beberapa tahun lalu. Hal ini terjadi karena Mona mengalami gangguan jiwa setelah kejadian itu. Beruntung kakek dan neneknya Mona tanggap jika dia mengalami masalah mental kemudian segera mencarikan seorang psikiater untuk mengobatinya. Entah metode apa yang psikiater itu lakukan hingga pada akhirnya Mona bisa melupakan memori menyakitkan yang pernah dia alami dulu.


"Orang-orang jahat?"


Mona tidak mengerti maksud ucapan Rose barusan. Dia bingung.


"Mon, kau tahu tidak kenapa tanganmu bisa terluka begini?"


"Luka ini terjadi karena aku tidak sengaja tergores cincin yang di pakai oleh Tuan Agler, Rose. Dan aku rasa dia sama sekali tidak memiliki niat jahat padaku," jawab Mona mengatakan dengan jujur apa yang terjadi saat dia berada di taman.


"Cuci wajahmu setelah itu aku akan mengantarmu pulang ke rumah," ucap Rose kemudian membantu Mona berdiri.


"Apa ... aku masih boleh bermain sebentar di sini?"


Tangan Mona meremas ujung bajunya saat menunggu jawaban dari Rose. Dia sangat berharap kalau Rose akan membiarkannya untuk tetap tinggal. Rasanya begitu berat jika dia harus berpisah lagi.


"Tidak. Kau harus segera pulang ke rumahmu karena aku akan pergi membunuh seseorang," jawab Rose sekenanya.


"Ck, bisa tidak kau jangan bicara sesuatu yang menyeramkan, Rose? Membuat takut saja!" kesal Mona sambil mengerucutkan bibir.

__ADS_1


"Bukankah kau sudah pernah melihatku membunuh orang?"


"Aku memang sudah pernah melihatnya. Tapi bukan berarti aku tidak takut jika mendengar kata-kata itu lagi."


"Lalu maumu apa?"


Aku mau cintamu, Rose. Tidak apa-apa kau menjadi seorang pembunuh, aku tidak akan mempedulikannya. Karena yang terpenting adalah kita tetap bersama. Batin Mona.


Melihat kebungkaman Mona, Rose langsung tahu apa jawabannya. Dia membuka pintu kamar mandi lalu menatap ke arah Mona yang masih terdiam gelisah.


"Kau mau masuk sendiri atau perlu kakiku untuk mendepak bokongmu?" tanya Rose sarkas.


"Galak sekali sih,"


"Aku mendengarnya."


"Iya-iya,"


Dengan malas Mona melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Dia masih sempat mengintip sebentar sebelum pintu kamar mandi di tendang oleh Rose hingga tertutup rapat.


"Kalau bukan karena berhutang nyawa padamu aku pasti akan langsung membunuhmu sekarang juga, Mona," gumam Rose sambil melangkah menuju ranjang.


Sambil menunggu Mona keluar dari kamar mandi, Rose menelpon Adam. Dia penasaran apakah Gheana masih ada di kantornya atau tidak.


"Honey, ada apa?"


"Tidak ada apa-apa."


"Hon, apa kau sedang menggodaku? Suara nafasmu membuat bulu kudukku meremang."


"Apa Gheana masih ada di sana?


"Aaaa... jadi kau menelponku karena merasa cemburu ya? Astaga, ternyata rasanya enak juga kalau di cemburui oleh istri sendiri. Hehe."


Pipi Rose sedikit merona mendengar ucapan Adam. Dia tersenyum, merasa aneh dengan sikapnya yang tiba-tiba jadi curiga.


"Jangan pulang terlalu malam," ucap Rose kemudian memutuskan panggilan. "Astaga, kenapa jantungku berdebar kuat begini sih. Ingat Rose, kau itu bukan abege yang sedang kasmaran. Malulah pada umur."


Tepat setelah Rose selesai menelpon, Mona keluar dari dalam kamar mandi. Matanya yang bening langsung melihat ke arah Rose yang sedang tersenyum-senyum sendiri sambil memandangi layar ponsel yang gelap.


"Kau kenapa, Rose?" tanya Mona pelan. Hatinya nyeri.


"Menurutmu aku kenapa?" sahut Rose balik bertanya. "Cepat bersiap. Aku akan pergi mencari taxi dulu."


"Tidak usah, biar aku minta kakek untuk menjemputku saja. Kau sedang tidak enak badan, Rose. Aku khawatir padamu," cegah Mona dengan cepat.


Rose yang lupa kalau dirinya sedang berbohong hanya bisa menarik nafas panjang. Niatnya mengantarkan Mona pulang ke rumah hanya untuk memastikan kalau gadis culun ini tidak di ikuti oleh Agler ataupun anak buahnya. Rose benar-benar sangat takut kalau Mona akan di bawa pergi oleh mereka.

__ADS_1


"Kakekmu sudah tua. Biar Resan saja yang mengantarmu pulang," sahut Rose kekeh tak mau mempertaruhkan keselamatan Mona.


"Tapi kan Resan sudah tidak ada di sini,"


"Aku tidak butuh pendapatmu."


Dengan cepat Rose menghubungi Resan yang notabenenya selalu berada di lingkungan kos ini. Sedangkan Reina, wanita abu-abu itu langsung pulang ke apartemennya setelah mereka kembali dari rumah Falcon. Ingin mempercantik diri untuk persiapan nanti malam katanya.


"Antarkan Rose pulang dengan selamat!"


Mona terheran-heran melihat cara Rose meminta bantuan pada Resan. Sungguh sangat singkat, padat, dan jelas.


"Kenapa lagi kau?" tanya Rose kemudian memejamkan mata.


"Apa Resan tidak marah mendengar caramu meminta tolong, Rose?" tanya Mona penasaran. Dia lalu berjalan ke arah ranjang, duduk di samping Rose sambil memperhatikan wajah cantiknya yang begitu indah.


"Dia akan mati jika berani marah padaku."


Suara ketukan pintu membuat pertanyaan Mona terhenti di tenggorokan. Tahu kalau supirnya sudah datang, Mona pun segera bersiap. Dia sedikit merapihkan rambutnya yang berantakan kemudian berjalan membuka pintu.


"Sudah siap?" tanya Resan begitu pintu di buka.


"Sudah. Maaf ya sudah mengganggu waktu istirahatmu," jawab Mona tak enak hati.


"Santai saja. Lagipula ini sudah menjadi tu... em maksudnya aku kebetulan masih berada di sekitar sini. Jadi sekalian saja aku pulang bersamamu," jawab Resan yang hampir saja salah bicara.


"Oh, begitu. Tunggu sebentar ya, aku akan berpamitan dulu pada Rose."


Resan mengangguk. Dia kemudian melirik ke arah bangunan kosong dimana anak buahnya sedang berjaga.


"Rose, aku pulang dulu ya. Kau jangan lupa makan dan istirahat yang banyak!" pamit Mona.


"Kalau aku sampai tahu kau keluyuran di luar rumah, jangan harap masih bisa bertemu denganku," sahut Rose tanpa membuka mata.


"Iya, aku tidak akan melakukannya."


"Pergilah!"


Ck, tidak ada manis-manisnya sih.


Dengan langkah gontai Mona akhirnya pergi dari tempat kos milik Rose. Selama dalam perjalanan pulang, baik dia maupun Resan sama-sama tidak ada yang berbicara. Mereka sibuk dengan isi pikiran masing-masing.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...

__ADS_1


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2