
"Sudah kalian temukan orangnya?" tanya Rose santai. Saat ini mereka masih berada di bar.
"Sudah, Nona. Hanya tumbal ingusan yang baru saja bergabung," jawab Lorus kemudian duduk di sebelah Resan. "Perlukah kita mencari indung dari pelayan tadi, Nona?"
Rose menggeleng. Dia kemudian melirik ke arah Agler yang masih berpesta miras dengan teman-temannya. Rose yakin kalau sebenarnya bajingan itu tahu tentang kedatangannya kemari. Makanya Agler langsung mengirim tanda jika Rose dan anak buahnya tidak terima di sini.
"Ada apa, sayang? Wajahmu terlihat buruk," tanya Reina sembari mengelus punggung kesayangannya. Dia tahu apa yang sedang di pikirkan oleh si ketua.
"Tidak ada apa-apa."
Jawaban singkat Rose membuat Resan dan Lorus saling memandang. Mereka jelas tahu kalau si ketua sebenarnya sedang menahan emosi. Berada dalam sebuah bar yang baru pertama mereka masuki dengan kondisi mata semua orang yang sedang mengawasi membuat Resan dan Lorus merasa seperti sedang berjalan di tengah-tengah perkumpulan buaya kelaparan. Bukannya takut, tapi lebih ke kecewa karena mereka belum bisa membunuh ketua dari para buaya tersebut.
"Ow ow ow.. Lihat sayang siapa yang datang," ucap Reina seraya menggerakkan dagu ke arah pintu masuk.
Mata tajam Rose menatap lekat ke arah rombongan seorang mafia yang baru saja masuk ke dalam bar. Zucca, bajingan yang memiliki rencana untuk menghancurkan kelompoknya ternyata ada di bar ini juga. Hal itu membuat Rose berfikir kalau mafia ini juga memiliki hubungan dengan si bajingan Agler.
"Tidak kusangka dua bajingan itu ternyata saling menggigit mata rantai. Ini sungguh menyebalkan!" geram Reina.
"Biar saja. Dengan begini justru kita bisa lebih mudah untuk menghabisi orang-orang yang terlibat dengan sekte gila itu. Oh ya Resan, apa kau membawa si kecil kesayangan kita?" tanya Rose seraya menjadikan tangannya sebagai tumpuan kepala. Dia lalu memejamkan mata.
"Si kecil selalu ikut kemanapun kita pergi, Nona. Haruskah sekarang dia melakukan tugasnya?" jawab Resan kemudian mengeluarkan si Surveillance Mosquito, sejenis nyamuk pengawas yang telah di modifikasi dengan canggih.
Nyamuk ini bukan sembarang nyamuk. Surveillance Mosquito memiliki mata yang telah di pasang sebuah kamera pengintai dimana telah di sambungkan dengan satu perangkat yang telah di kunci dengan sandi yang sangat rumit. Dan orang-orang yang bisa membuka sandi tersebut hanya Resan dan Rose. Hanya mereka berdua saja yang memiliki kemampuan dalam mengotak-atik komputer dan meretas sandi. Sedangkan Reina dan Lorus, mereka memiliki kemampuan lebih di bidang masing-masing.
"Lepaskan dia. Biarkan si kecil memberi kita penghiburan setelah hampir mati di racuni."
"Baik, Nona."
__ADS_1
Sebelum melepas nyamuk tersebut, Resan terlebih dahulu menciumnya. Aneh memang, tapi dia bukan mencium untuk sesuatu yang berbau romantis ataupun drama melow. Melainkan karena Resan yang sedang membangunkan si kecil dengan cara yang hanya kelompok Queen Ma saja yang tahu.
"Enak juga ya menjadi si kecil. Kerjanya hanya tidur dan beterbangan kesana kemari!" celetuk Reina begitu melihat si nyamuk yang langsung melesat ke arah target.
"Aku rasa anak buahku tidak keberatan untuk merubahmu menjadi seekor nyamuk, Reina. Apa kau mau mencoba?"
Mendengar pertanyaan semengerikan itu membuat kepala Reina seperti ingin pecah. Yang benar saja tubuhnya yang molek ini ingin dirubah menjadi seekor nyamuk kecil yang tidak ada menarik-menariknya. Sungguh sangat psikopat si ketua ini.
"Nona, ini!" ucap Resan seraya menyodorkan earpiece berukuran kecil ke arah sang Nona.
"Mana punyaku?" tanya Reina tak sabar. "Beri aku earpiece yang paling keren, Res. Kalau bisa yang sama persis seperti milik, Rose."
"Mimpi!" celetuk Lorus pelan.
"Lorus, gendang pendengaranku masih sangat baik ya. Kau jangan membuatku kesal!" ucap Reina sambil menatap dongkol ke arah rekannya yang suka sekali mencari masalah.
Rose menarik nafas berat ketika mendengar perdebatan kedua orang ini. Benar, memang hanya Resan saja yang paling bisa mengerti dirinya. Namun pertengkaran antara Reina dan Lorus sedikit membuat perasaan Rose terhibur meski saat ini mereka sedang berada di tengah-tengah perkumpulan para buaya brengsek.
Kurang lebih seperti itulah pembicaraan yang sedang di dengarkan oleh Rose dan anak buahnya. Rupanya Agler masih mengingat rupa Reina dengan jelas. Namun hal ini tak membuat Rose merasa khawatir. Justru malah bagus karena artinya Agler menyadari jika kematiannya sudah dekat. Anggap saja pertemuan bajingan itu dengan Reina adalah pertanda bahwa teman dari gadis kecil yang dulu di hancurkannya kini telah datang untuk balas dendam.
"Aku rasa kecantikanku terlalu memukau hingga begitu melekat di ingatan Agler, Rose. Buktinya yang menarik perhatian bajingan itu adalah aku. Haihhh, repot juga ternyata menjadi wanita cantik!" ucap Reina sedih.
"Kecantikanmu membawa kematian, Reina. Karena hati dan jiwa n*fsumu terlalu mengerikan. Kau psikopat gila yang pernah aku temui di hidup ini," sahut Lorus.
"Terima kasih atas pujiannya, sayang. Tumben sekali kau bicara benar."
"Diamlah. Sekarang bukan waktunya untuk bercanda. Kita dengarkan baik-baik pembicaraan mereka sebelum membuat rencana untuk menghabisi Zucca dan anak buahnya!" tegur Rose mulai risih.
__ADS_1
Reina dan Lorus langsung terdiam lalu kembali fokus mendengarkan pembicaraan Agler dan Zucca. Keempat orang ini menyeringai samar begitu mereka tahu apa yang akan dilakukan Zucca setelah ini.
"Aku akan memburu ketua Queen Ma dulu untuk sekarang. Dan untuk orang-orang itu, aku tidak mengenalnya. Mungkin mereka adalah anggota baru yang belum terdaftar, Agler. Coba kau minta anak buahmu untuk memeriksa dulu. Malam ini adalah malam khusus untuk kalian, mustahil mereka bisa mendapat kartu anggota jika belum resmi bergabung."
Setelah berkata seperti itu Zucca dan anak buahnya pergi meninggalkan bar. Menyisakan Agler yang diam-diam masih terus memantau keberadaan Reina dan yang lainnya.
"Hmm, sebaiknya kita pergi saja dari sini. Aku ingin menyapa Zucca!" ucap Rose kemudian memberikan earpiece pada Resan.
"Lalu bagaimana dengan bajingan itu, Rose? Bukankah kedatangan kita kemari adalah untuk mencari tahu dimana ritual mereka akan di gelar? Kita tidak boleh lengah, Rose!" sahut Reina mengingatkan.
"Kau tidak perlu cemas, Reina. Aku dan Lorus sudah memasang beberapa alat penyadap dan juga kamera tersembunyi di beberapa tempat ketika sedang mengerjai orang yang ingin meracuni kita tadi!" timpal Resan kemudian segera menyusul nona-nya yang sudah berjalan lebih dulu.
"Kau memang yang terbaik, Resan. Aku mencintaimu!" puji Reina.
Agler dan teman-temannya terus memperhatikan Reina yang berlenggak-lenggok memamerkan bokongnya ketika lewat di samping meja mereka. Lorus yang saat itu berjalan di belakangnya pun dibuat keheranan dengan tingkahnya. Wanita abu-abu ini sungguh keterlaluan. Bajingan sekelas Agler saja masih di godanya.
"Minta seseorang untuk mengawasi wanita yang tadi. Aku yakin kedatangannya kemari pasti memiliki tujuan tersendiri!" ucap Agler gelisah.
"Baiklah!"
Namun, Agler dan teman-temannya tidak menyadari kalau rencana mereka sedang di rekam oleh seekor nyamuk kecil yang kini sedang menempel di bawah meja. Mereka tidak ada yang sadar kalau ada bahaya besar sedang mengancam.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
__ADS_1
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...