
Saat siang menjelang, Rose segera bersiap untuk berangkat ke kampus. Dia lalu melihat sekilas ke arah ruangan si manager restoran dimana si pemilik ruangan tersebut sedang sibuk memantau para tamu melalui CCTV.
"Dasar penjilat,"
Rose tentu tahu kalau si manager terkadang berbuat tidak adil saat dia tidak ada di sini. Seringkali anak buahnya melapor kalau si manager kadang suka menindas para karyawan yang bekerja di restoran. Namun Rose masih diam, terlalu malas untuk mengurus hal-hal tidak penting seperti ini. Kecuali jika nanti perbuatannya sudah melampaui batas, barulah Rose akan mengambil tindakan dengan melempar pria itu ke jalanan.
Tepat ketika Rose hendak keluar dari dalam restoran, ponselnya bergetar. Dia lalu mengambil ponsel dari dalam tas kemudian melihat pesan yang baru saja dia terima.
Adam: Honey, aku yang akan mengantarkanmu berangkat ke kampus. Miss you,
Rose tersenyum samar setelah membaca pesan manis dari Adam. Dia lalu berjalan keluar untuk menghampiri sang suami yang sedang menunggunya. Di seberang jalan, Rose bisa melihat ada sebuah mobil sport berwarna hitam tengah terparkir rapi di bawah pohon yang cukup rindang. Sementara tak jauh dari mobil sport tersebut, ada sebuah taxi yang mana pengemudinya adalah Resan. Dengan langkah cepat Rose berjalan mendekat ke arah mobil suaminya. Dia lagi-lagi tersenyum samar saat Adam dengan penuh perhatian membukakan pintu mobil untuknya.
"Tidak takut ketahuan?"
Adam menoleh. Dia membuka masker yang menutupi wajahnya kemudian memakaikan seatbelt ke tubuh Rose.
"Aku baru saja membeli mobil ini menggunakan nama anak buahku. Seharusnya sih tidak ketahuan," jawab Adam sembari merapihkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. "Lelah?"
"Lebih lelah saat sedang bersamamu,"
Bukannya malu di sindir oleh istrinya, Adam malah tertawa puas. Dia tentu sadar kata lelah yang di maksud oleh Rose. Apalagi kalau bukan aktifitas ranjang mereka yang selalu menggebu-gebu. Bukan mereka sih, tapi lebih tepatnya Adam. Entahlah, dia selalu saja kecanduan dengan kehangatan yang diberikan oleh Rose. Seolah tak pernah puas meski Adam mendapat pelepasan hingga berkali-kali.
"Hon,"
"Hm?"
Rose menatap datar ke arah depan saat mobil mulai membelah jalanan. Dia bukan melamun, tapi sedang bingung melihat serpihan-serpihan bayangan aneh yang tiba-tiba memenuhi kelopak matanya.
"Kapan acaranya akan di gelar?" tanya Adam.
Sebenarnya Adam bukan ingin menanyakan tentang acara perpisahan itu, tapi dia ingin membahas tentang Oraganisasi Grisi yang di curigai sebagai dalang di balik hilangnya semua ingatan Rose tentang keluarganya. Sebelum memutuskan untuk mengantarkan Rose ke kampus, Adam di hubungin oleh Rolland kemudian di beritahu siapa orang yang telah membuat istrinya jadi seperti ini.
"Dua hari lagi," jawab Rose.
"Aku jadi tidak sabar ingin segera melihat performa istriku saat menaklukkan dentingan nada piano."
"Orangtuamu pasti akan ada di sana, Dam. Tidak takut ketahuan?"
"Aku tinggal menyamar saja, Hon. Gampang kan?" jawab Adam dengan santai.
__ADS_1
Rose diam tak menyahut. Serpihan bayangan itu kembali datang memenuhi rongga matanya. Sungguh, Rose sangat tidak nyaman dengan keadaan ini. Dia tidak tahu kenapa bayangan-bayangan aneh ini semakin sering muncul sejak dia menikah dengan Adam. Seolah pernikahannya dengan Adam adalah suatu kunci untuk membuka suatu tabir kenyataan.
Adam yang tak mendengar balasan dari sang istri pun menoleh. Matanya membelalak lebar ketika mendapati wajah istrinya sudah bercucuran keringat.
"Astaga Hon, kau kenapa?" pekik Adam khawatir.
"Fokus ke depan, Dam!" teriak Rose kaget saat mobil suaminya sedikit oleng.
"A-ah, maaf-maaf."
Segera saja Adam menepikan mobil sportnya kemudian menarik tangan Rose. Dingin, tangan istrinya sangat dingin seperti gumpalan es batu.
"Ada apa, hm?"
"Mungkin aku hanya kelelahan saja, Dam. Makanya kepalaku terasa sedikit pusing," jawab Rose berkilah.
Rose mana mungkin memberitahu Adam tentang apa yang sedang dia rasakan. Mungkin memang benar kalau dirinya hanya sedang kelelahan saja yang mana membuat berbagai macam pikiran aneh muncul di kepalanya. Rose kemudian terhenyak kaget saat tiba-tiba muncul gambaran wajah kakeknya yang terbaring bersimbah darah. Seketika darahnya berdesir. Bukan karena tergoda oleh perlakuan lembut suaminya, melainkan jiwanya yang langsung terbakar amarah. Entah benar atau tidak yang Rose lihat barusan, yang jelas saat ini perasaannya menjadi tidak tenang. Rose mengkhawatirkan keadaan sang kakek yang hanya tinggal seorang diri di desa.
"Honey, kau kenapa sih? Matamu terlihat seperti orang lingkung."
"Aku tidak apa-apa, Dam," jawab Rose masih berusaha menutupi kekhawatirannya di depan Adam. "Sudahlah, kita lanjutkan saja perjalanannya. Sebentar lagi kelas akan di mulai, aku bisa terlambat kalau kita tetap di sini!.
"Kau yakin tidak apa-apa?"
"Ya sudah kalau begitu kita lanjut lagi. Katakan segera kalau kau merasa tidak nyaman. Sehari tidak mengikuti kelas harusnya tidak menjadi masalah besar kan?" ucap Adam kemudian mengecup punggung tangan istrinya beberapa kali.
"Aku harus berlatih piano untuk penampilanku nanti, Dam. Itu yang sulit untuk ditinggalkan," jawab Rose sembari menghela nafas lega saat Adam mulai melajukan mobil.
"Tenang saja. Nanti saat kau pulang dari kampus, di rumah kita sudah akan ada satu buah piano yang sangat cantik. Jadi kau tidak perlu memaksakan diri untuk tetap pergi ke kampus saat sedang tidak enak badan begini. Kau pasti sudah tahu bukan kalau suamimu ini memiliki banyak uang?"
"Iya," sahut Rose singkat.
"Kalau begitu jangan ragu untuk memeras suamimu ini, Hon. Mintalah apa saja yang kau inginkan. Jangan sungkan. Oke?"
Rose tersenyum. Dia merasa tergelitik dengan cara suaminya menyombongkan diri. Padahal jika di telisik dengan benar, kekayaan yang Rose miliki hampir setara dengan jumlah kekayaan yang di miliki oleh suaminya. Tapi ya sudahlah, terserah suaminya mau berkata apa. Toh, tidak ada yang salah juga bersikap sombong di hadapan istrinya sendiri.
"Atau jangan-jangan kau ingin memintaku untuk membuat adonan anak sekarang juga? Iya, Hon?"
"Fokus ke depan, Dam."
__ADS_1
"Kenapa? Malu ya?"
"Kau sudah melihat semuanya. Untuk apa malu?" jawab Rose sambil menatap datar ke arah Adam yang terus saja menggodanya.
Adam terkekeh. Dia lalu mengerling nakal ke arah Rose yang tengah menatapnya datar. Sebenarnya Adam tahu kalau istrinya ini sedang berbohong. Hanya sama dia tidak bisa menemukan alasan kenapa istrinya sampai tidak mau jujur kepadanya. Biarlah, lebih baik Adam tunggu saja sampai Rose mau bicara sendiri tanpa harus dia paksa. Adam takut kalau Rose akan merasa tersinggung jika dia terlalu banyak bertanya.
Tak lama kemudian, Adam dan Rose akhirnya sampai di tempat tujuan. Namun Adam sengaja memberhentikan mobilnya sedikit jauh dari gerbang. Dia masih harus memperhatikan gerak-geriknya di sini.
"Aku pergi dulu ya," pamit Rose.
Adam segera menarik tangannya Rose yang sudah ingin keluar dari dalam mobil. Dia lalu memandangi wajah cantik istrinya dengan tatapan penuh cinta.
"Hati-hati. Jangan terlalu memaksakan diri jika merasa lelah. Tahu tidak?"
Rose mengangguk.
"Aku mencintaimu," ucap Adam.
"Kapan kau akan melepaskan tanganku, Dam?"
Rose masih enggan untuk membalas kata cinta yang diucapkan oleh Adam. Bukan karena dia belum mempunyai rasa khusus terhadapnya, melainkan Rose yang belum terbiasa.
"Jawab dulu,"
"Dam....
"Honey, aku mencintaimu," lanjut Adam setengah merengek.
Cup
Rose langsung kabur keluar setelah memberikan kecupan singkat di bibir suaminya. Dia tak lagi menoleh meski sangat ingin memberikan perintah langsung pada Resan yang masih setia berada di belakang mobilnya Adam.
"Astaga, itu tadi apa ya? Serangan dadakankah?" gumam Adam sambil memilin bibirnya yang baru saja di kecup oleh Rose. "Hahaha, tahu begini aku akan sering-sering mengucapkan kata cinta padamu, Hon. Lumayanlah, satu ucapan berhadiah satu kecupan. Hahaha, benar-benar sangat menyenangkan!"
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
__ADS_1
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...