Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Jurang Kenikmatan


__ADS_3

Dua hari setelah Adam mendapat hukuman...


Wajah Adam masih terlihat pucat ketika dia terbangun dari tidurnya. Dia mendesah panjang saat lagi-lagi mendapati dirinya terbangun hanya seorang diri. Rose, istrinya yang cantik itu benar-benar tidak datang mengunjunginya. Kejam memang, tapi Adam sadar kalau ini adalah konsekuensi yang harus dia terima.


"Hmm Honey, kau begitu tegas pada keputusanmu ternyata. Nasib-nasib," gumam Adam seraya memandangi jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan malam.


Saat Adam sakit, tidak satupun dari keluarganya yang dia biarkan masuk kemari. Dia tidak ingin keluarganya tahu kalau yang melukai dirinya adalah istrinya sendiri. Karena Adam yakin entah ayah ataupun ibu tirinya mereka pasti akan mencari tahu diam-diam. Sebenarnya bukan Rose yang Adam khawatirkan, melainkan keluarganya. Karena apa? Yahh, you know lah siapa Rose.


Ceklek


"Kau sudah kembali dari perusahaan? Bagaimana? Ada masalah tidak Ces?" tanya Adam.


Tidak ada jawaban. Adam yang merasa merasa heran pun akhirnya menoleh ke arah pintu. Suasana kamar yang remang-remang membuatnya tak bisa melihat dengan jelas siapa yang tengah berdiri tak jauh dari ranjangnya. Namun begitu dia mencium aroma parfum dari tubuh orang tersebut, senyum kebahagiaan langsung terbit di bibirnya.


"Hon, akhirnya kau datang juga. Aku merindukanmu."


Rose hanya diam tak membalas ucapan Adam. Setelah dua hari membiarkannya menderita rasa sakit, Rose memutuskan untuk datang berkunjung. Ada beberapa hal yang perlu Rose diskusikan dengan Adam.


"Honey, kemarilah. Aku benar-benar sangat merindukanmu."


"Aku kira kau sudah menjadi bangkai, Dam!" sahut Rose dingin. Dia lalu berjalan mendekat.


Adam tersenyum. Dia mencoba duduk kemudian menyenderkan tubuhnya ke kepala ranjang. Meski tidak terlalu jelas, Adam bisa merasakan kalau istrinya ini memendam kekhawatiran yang cukup besar. Terbukti karena sekarang tangannya Rose sedang bergerak mengusap dadanya. Sentuhan ini adalah obat terbaik dari rasa sakit yang Adam rasakan kemarin. Bahkan jauh lebih baik dari penawar racun yang di berikan oleh Cesar.


"Hon, aku lapar," ucap Adam pelan.


"Ingin memakanku atau memakan makanan?" tanya Rose tanpa ragu.


"Memakanmu."


"Kalau begitu sembuhlah dulu. Aku tidak mau kau pingsan saat kita sedang bercinta."


Rose tersenyum samar saat mendengar gerutuan suaminya. Dia lalu membuka kotak makanan yang sengaja dia bawa dari rumah.


"Makanlah!"


"Apa ini adalah racun susulan?" tanya Adam memastikan.


Jujur saja, efek dari racun yang dia telan kemarin benar-benar menyiksa Adam. Entah bagaimana ceritanya Rose dan kelompoknya itu mampu membuat racun yang rasanya sangat luar biasa sakit. Tulang-tulang di tubuh Adam seperti di lolosi secara paksa, juga semua bagian organ tubuhnya serasa seperti di sayat-sayat dengan ratusan ribu belati tajam. Jenis rasa sakit yang baru pertama kali Adam temui.

__ADS_1


"Tidak ada gunanya aku memberimu racun kalau nyatanya aku masih membiarkanmu untuk tetap hidup!" jawab Rose datar. "Jangan melantur. Sekarang buka mulutmu dan habiskan semua makanan ini. Kau bilang ingin memakanku bukan? Jadi buatlah kau memiliki sedikit tenaga agar aku tidak kecewa."


Kata-kata Rose yang begitu terus terang membuat Adam terpaku untuk beberapa saat. Luar biasa, istrinya ini tak sekalipun pernah membuatnya kecewa. Rose begitu menghargai perannya sebagai seorang istri yang berbakti meski kadang dia melakukannya tanpa ekpresi. Tapi meskipun begitu Adam sangat tahu kalau Rose sangat menyukai setiap senti sentuhan tangannya.


"Aku memintamu untuk makan, Dam. Bukan melamun!" tegur Rose sembari menyodorkan makanan ke depan mulut suaminya.


"Kau membuatku speechless, Hon. Aku mencintaimu."


"Aku tahu."


Hanya sesingkat itu jawaban Rose. Dia dengan telaten menyuapi suaminya sambil terus berpikir rahasia apalagi yang di sembunyikan oleh pria ini. Sebenarnya Rose bisa saja meminta anak buahnya untuk menyelidiki, tapi dia akhirnya memutuskan untuk menunggu Adam bicara sendiri karena dia tahu ini sudah masuk ke dalam jalur privasi. Jika Rose saja tidak suka urusan pribadinya di campuri orang lain, berarti dia juga harus bisa menghargai alasan mengapa suaminya memilih untuk bungkam.


"Aku kenyang, Hon!" ucap Adam sambil menahan tangan Rose yang ingin kembali menyuapinya.


"Baru lima sendok, Dam."


"Tapi aku benar-benar sudah kenyang. Sungguh!"


"Jangan salahkan aku kalau kau mati karena kehabisan tenaga!" ucap Rose kemudian meletakkan kotak makan di atas nakas. Setelah itu dia mengambil segelas air untuk suaminya.


"Sungguh kejam."


"Inilah istrimu."


"Saat sedang bersamaku tolong jangan memikirkan apapun, Hon."


"Aku tahu."


"Kau tidak tahu, Hon. Buktinya kau melamun barusan."


"Dam," ...


Ucapan Rose terjeda. Dia sedikit bimbang saat ingin memberitahu Adam tentang rahasia besar yang selama ini di sembunyikan oleh ayahnya. Suaminya ini pasti akan sangat syok jika tahu kalau ayahnya adalah seorang penyuka sesama jenis yang mana berperan sebagai wanita. Juga alasan kenapa ibunya Adam bisa mati di bunuh. Rahasia ini berhasil Rose ketahui setelah anak buahnya pura-pura menggoda ayah Adam kemudian membuatnya mabuk. Sungguh ini adalah satu kebenaran yang sangat menyakitkan, membuat Rose jadi merasa serba salah apakah akan tetap memberitahu Adam atau tidak.


"Honey, kau melamun lagi. Ada apa?" tanya Adam merasa heran.


"Tidak ada apa-apa," jawab Rose singkat.


"Bohong."

__ADS_1


Rose tersenyum. Dia lalu membuka baju atasannya dan membiarkan dadanya terekspos di depan wajah suaminya. Rose ingin membuat Adam merasa relaks terlebih dahulu sebelum memberitahukan tentang kebenaran tersebut.


"Kau menggodaku?"


Pria mana tidak akan menelan ludah jika di suguhi pemandangan yang begitu menggoda iman. Namun karena tubuh Adam yang masih sedikit lemas, dia hanya duduk diam memperhatikan tangan nakal istrinya yang kini sudah beralih membuka kancing bajunya.


"Kenapa diam? Ingin aku berhenti?" tanya Rose.


"Jangan. Lakukan apa yang kau mau, Hon. Aku menyukainya," jawab Adam dengan cepat menahan tangan Rose yang ingin di tarik mundur.


Rose tertawa. Dalam keadaan lemah begini pun Adam masih saja bergairah. Rose kemudian mulai berpikir apakah semua pria akan bereaksi sama jika di hadapkan pada sesuatu yang menggugah selera? Sungguh lucu.


"Biasanya jika sesuatu hal di mulai dengan yang manis akan berakhir menyakitkan. Apa kau siap menerimanya?" bisik Rose di depan bibir suaminya.


"Tentang apa?"


Jakun Adam terus bergerak cepat. Dia bahkan bisa merasakan hawa panas di sekitar mulutnya saat Rose meniupnya perlahan sebelum meninggalkan sebuah kecupan. Ini ... cara paling mematikan untuk memancing gairahnya.


"Tentang sesuatu hal yang mungkin tidak kau sadari. Tapi tenang saja, semua itu tidak akan berpengaruh pada hubungan kita karena aku tidak mempedulikan hal lain selain rumah tangga kita. Dan akupun berharap setelah kau mengetahuinya nanti, emosimu tidak akan membangun jarak di antara kita berdua. Bisa?" jawab Rose mulai menelusuri leher Adam dengan jari telunjuknya.


Pikiran Adam menjadi tidak fokus saat memikirkan teka-teki yang di maksud oleh Rose. Namun pemikiran itu akhirnya kalah saat Rose mulai melakukan sesuatu yang membuatnya mendesah sambil memejamkan mata.


"Sial, aku sedang tidak punya tenaga sekarang!" umpat Adam dengan nafas memburu.


"Kalau begitu diamlah, biar aku yang menguasai arena!" sahut Rose tanpa meninggalkan tugasnya.


"Kau terlalu banyak bermain, Honey."


"Yes, i did."


Dan pada akhirnya, Rose benar-benar menguasai Adam malam itu. Mereka saling melepas rindu yang telah tertimbun selama dua hari lamanya. Di bawah sinar lampu yang remang-remang, Adam dan Rose saling mengejar kepuasan hingga sama-sama terkapar dalam jurang kenikmatan.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...Warning!!! Mengandung halusinasi yang cukup meresahkan. Maaf πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚...


...🌹Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss πŸ”ͺπŸ”ͺπŸ”ͺ...

__ADS_1


...🌹Ig: rifani_nini...


...🌹Fb: Rifani...


__ADS_2