Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Akhir Yang Tragis


__ADS_3

Adam bergidik jijik ketika menyaksikan anggotanya Agler saling berebut menjilati darah yang mengalir di lantai. Sementara Agler sendiri wajahnya sudah sangat pucat karena Rose dan Resan terus menguras darah yang ada di tubuhnya. Sungguh, pemandangan ini terlihat begitu ngeri dan menjijikkan.


"Bu, aku mual melihat cara mereka menikmati darahnya Agler," bisik Grizelle tak tahan.


"Kuatkan dirimu, Zel. Ibu rasa ini masih belum sebanding dengan apa yang sudah dilakukan Agler pada Mona dan juga Rose. Belum lagi dengan belasan gadis lain yang sudah menjadi korban kegilaan mereka."


"Tapi ini terlalu amis, Bu. Aku sungguh tidak menyangka kalau Rose akan menyimpan dendam pada orang-orang seperti mereka."


"Diamlah. Ketakutanmu bisa memancing kekesalan Rose jika dia sampai menyadarinya," ucap Liona dengan tenang.


Drax, Greg dan Rolland tampak biasa saja melihat kejadian yang sedang berlangsung di depan mata mereka. Sama sekali tidak terlihat raut jijik ataupun ngeri saat orang-orang gila itu mulai menggumamkan kata aneh sambil terus meraup darah yang berasal dari tubuhnya Agler.


"Bagaimana, Agler? Apa kau suka dengan caraku memimpin sekte ini?" tanya Rose sembari mengenakan kembali jaketnya.


"K-k ....


"Apa, hm? Kau ingin bicara apa?"


Bertahun-tahun menjadi pemimpin membuat Agler tak pernah memikirkan kalau hidupnya akan berakhir setragis ini. Dia yang selama ini sangat memimpikan keabadian, bahkan rela menggadai jiwanya pada iblis, kini malah menjadi korban sesembahan untuk anggotanya sendiri. Miris, kata ini adalah yang paling cocok untuknya sekarang.


Beberapa dari mereka yang sudah puas menikmati persembahan tampak berbaring menggelepar seperti orang yang kecanduan. Mereka bergulingan di atas darah yang tercecer di lantai.


"Adam, apa kau pernah melihat sesuatu yang menjijikkan seperti ini?" tanya Rose.


"Tidak pernah sama sekali, Honey. Mungkin aku pernah membunuh orang, tapi aku tidak pernah melihat orang yang seperti mereka. Agler dan para anggotanya benar-benar sakit. Jiwa mereka rusak!" jawab Adam.


Rose menarik nafas. Dia kemudian berjongkok, menarik rambut salah satu dari mereka lalu menyeretnya ke dekat api persembahan.


"Aku sebenarnya tidak pernah ingin memiliki masalah dengan kalian semua. Akan tetapi ketua kalian adalah tujuan dari hidupku. Andai saja kalian tidak turut campur dalam menyakiti Mona, aku mungkin bisa berbaik hati untuk memberi pengampunan. Sayang sekali, hati nurani kalian sudah mati bahkan ketika melihat seorang gadis tidak berdaya di siksa dengan begitu kejam. Malam ini, di malam bulan purnama yang sangat sempurna... Aku Rose, ketua dari kelompok Queen Ma, meminta ampun pada Tuhan karena akan melenyapkan sekumpulan anjing biadap yang tidak layak hidup di bumi. Aku mengambil sisa umur mereka untuk memberi keadilan pada arwah para gadis tidak bersalah yang telah menjadi korban persembahan mereka selama ini!" teriak Rose sambil menatap bulan purnama yang berada tepat di atas kepalanya.


Buurrrrrrr


Suara jerit kepanasan langsung menggema di dalam hutan begitu Rose melemparkan satu orang ke dalam api persembahan. Di susul oleh Reina dan anak buah lainnya yang juga melemparkan orang-orang yang sudah menggelepar setelah menikmati persembahan terakhir mereka.

__ADS_1


Dalam detik-detik kematiannya, Agler bisa melihat bayangan mengerikan yang menyelimuti tubuh wanita bernama Rose ini. Malam yang harusnya Agler meraih keabadiannya harus menjadi malam kematiannya sendiri. Dia sungguh tidak menyangka kalau kematiannya akan di jemput oleh seorang gadis kecil yang belasan tahun lalu dia biarkan lolos. Andai saja waktu itu dia tidak hanya terfokus pada Mona, nasib Agler dan para anggotanya pasti tidak akan berakhir semengerikan ini.


"Apa kau takut?" tanya Rose yang diam-diam terus mengawasi raut ketakutan di wajah musuhnya.


"D-di kehidupan kedua nanti, a-aku bersumpah akan membunuhmu dengan cara yang sangat kejam, R-Rose. Ak-aku akan membawa rasa sakit ini sampai dunia kiamat!" jawab Agler lirih.


"Kau yakin Tuhan akan memberimu kesempatan untuk hidup kembali? Aku rasa tidak. Karena begitu aku melemparkan tubuhmu ke dalam api persembahan itu, ruhmu akan langsung di sambut oleh iblis yang selama ini kau puja-puja. Dan ya, jangan lupakan juga dengan ruh-ruh penasaran para gadis yang darahnya sudah kau nikmati bersama dengan anggotamu. Kau masih ingat rupa mereka ketika ajal datang menjemput bukan?"


Tepat ketika Rose selesai bicara, anak buahnya datang sambil menyeret Zucca dan juga Flyn. Juga ada satu anggota yang waktu itu tertangkap karena membuntuti Adam. Mata Agler hampir meloncat keluar begitu melihat keadaan Zucca yang sangat mengerikan dengan kondisi kulit wajah hampir terkelupas habis. Ini....


"Zucca, ucapkan selamat tinggal pada temanmu dulu sebelum aku melemparkanmu ke dalam api itu!" ucap Reina sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya. Dia sudah tidak sabar untuk memanggang tubuh orang-orang ini.


Zucca diam tak bergeming. Dia tahu kalau hidupnya akan segera berakhir di tangan kelompok Queen Ma ini. Namun sebelum dia di lempar ke dalam api persembahan, dia menatap tajam ke arah Adam, rekannya yang ternyata adalah seorang pengkhianat.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu di alam kematian nanti, Adam. Kau jangan senang dulu."


"Aku akan sangat menantikan hari itu tiba, kawan. Jangan cemas," sahut Adam dengan santai.


Adam terkekeh. Dia kemudian berjalan menghampiri Rose, mengecup bibirnya sekilas lalu merengkuhnya dalam pelukan.


"Pertemanan yang terjalin antara kita berdua hanyalah pertemanan bisnis, Zucca. Sedangkan wanita ini, dia adalah rumahku. Tempat dimana aku bisa mendapat kenyamanan dan juga kebahagiaan yang nyata. Tadinya aku tidak memiliki niat untuk mengkhianatimu, akan tetapi pikiranku beralih saat kau berencana untuk membunuh istriku. Aku tentu saja tidak rela. Jadi maaf, terpaksa aku mengorbankan pertemanan kita!"


Zucca menggeram marah. Dia terus menatap Adam dengan sengit ketika Reina menggiringnya ke arah tempat pembakaran. Sebelum di lempar kesana, tengkuk Zucca sempat meremang saat mencium aroma daging panggang yang berasal dari tubuh para manusia. Ini... sangat mengerikan.


"Good bye, tuan tampan!" ucap Reina sambil melambaikan tangan ke arah Zucca.


"AARRRGGHHHHH!!! AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN SEMUA!!"


Kira-kira seperti itulah suara jeritan Zucca ketika tubuhnya mulai di jilati oleh si jago merah. Dan kini tiba giliran Flyn untuk menikmati wahana panas tersebut. Dalam kondisi tubuh yang sudah sangat lemah, Flyn hanya bisa meringik ketakutan saat Reina dengan begitu lembut menggendong tubuhnya kemudian membakar kakinya. Ingin menjerit, tapi tidak bisa karena lidahnya Flyn sudah membusuk.


"Jangan bermain lagi, Reina. Aku lelah, ingin pulang," ucap Rose yang terpikir dengan keadaan Mona.


"Oh, baiklah!"

__ADS_1


Dan, buurrr. Flyn pun langsung menyusul Zucca ke dalam api persembahan. Setelah itu Reina berjalan gemulai ke arah Agler, pria k*parat yang masih belum mati meski darah di tubuhnya sudah hampir habis terkuras.


"Kita langsung saja ya, Tuan Agler. Ketua kami sudah lelah dan ingin segera pulang beristirahat. Tolong persiapkan dirimu dengan baik karena kau akan segera berkumpul dengan para anggotamu yang lain. Oke?"


"K-kalian g-gila!"


"Ohoo, terima kasih untuk pujiannya, Tuan Agler. Kami merasa tersanjung!"


Resan dengan senang hati membantu Reina mengangkat tubuh Agler kemudian melemparkannya ke dalam kobaran api. Seperti orang gila, Reina menirukan gaya para pemuja ketika sedang uforia setelah melakukan persembahan.


Liona, Grizelle, Drax, Greg, Rolland, Priston, Ethan dan juga Hansen segera datang menghampiri Rose yang tiba-tiba menjerit kesakitan sambil memegangi kepalanya.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Grizelle panik.


"Bakar seluruh tempat ini sebelum ada yang lain," jawab Rose sambil menahan sakit.


"Maksudnya bagaimana?"


"AKU BILANG BAKAR!!!"


Sadar kalau Rose melihat sesuatu yang buruk, Liona segera memerintahkan anak buahnya untuk membakar tempat tersebut. Mereka semua kemudian pergi dari sana setelah mendapat kabar kalau Brenda sudah berhasil di temukan.


Dan pada akhirnya, dendam yang membuat Rose mendirikan kelompoknya berhasil di musnahkan. Agler dan para anggotanya mati di meja persembahan mereka sendiri. Karma itu sangat kejam, karena itulah perhatikan setiap ucapan dan juga tingkah laku kalian dalam kehidupan. Tuhan tidak pernah tidur, dan apa yang kalian tanam, itulah yang akan kalian tuai. Salam hangat dari author ๐Ÿ’œ


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2