Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Kabar Penting


__ADS_3

Setelah puas berbincang dengan keluarganya, Rose memutuskan untuk pergi menemui Mona. Dia ingin sekali membagi kebahagiaan tentang kehamilannya pada sahabatnya itu. Bukan niat hati ingin menyakiti perasaan Mona, tapi Rose hanya ingin membantu Mona supaya bisa belajar untuk melepaskan perasaannya perlahan-lahan. Siapa tahu dengan kabar kehamilan ini Mona bisa sadar kalau cintanya itu salah. Tidak ada salahnya untuk mencoba bukan?


Ceklek


Mona yang saat itu sedang mengobrol dengan neneknya langsung menolak ke arah pintu yang baru saja terbuka. Dia lalu tersenyum semringah melihat kedatangan sahabatnya.


"Rose, kau datang?" tanya Mona penuh semangat.


"Iya," jawab Rose singkat. "Halo Nenek Shiren, Kakek Niel. Apa kabar?"


"Kabar baik, Rose. Kau sendiri apa kabar?" sahut Nenek Shiren balas bertanya.


"Baik, Nenek," jawab Rose ramah sambil tersenyum manis. Setelah itu dia berjalan ke arah Mona kemudian duduk di sebelahnya.


Sikap Rose yang mendadak ramah membuat Kakek Niel dan Nenek Shiren merasa heran. Tidak biasanya gadis ini bersikap demikian. Aneh. Tapi karena tak mau merusak suasana, baik Kakek Niel maupun Nenek Shiren keduanya memilih untuk diam saja sambil memperhatikan raut wajah cucu mereka yang terlihat begitu cerah begitu Rose datang.


"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah membaik?" tanya Rose sambil mengelus pelan luka bekas sayatan di pergelangan tangan Mona. Tatapannya sedikit menyendu.


"Sudah sangat baik, Rose. Sebenarnya aku sudah bisa jalan sendiri, tapi Kakek dan Nenekku memaksa agar aku tetap bersemedi di atas ranjang. Menyebalkan bukan?" jawab Mona sambil melirik ke arah kakek dan neneknya. Bibirnya mengerucut.


"Mereka begitu karena mengkhawatirkanmu, bodoh."


Mona terkekeh. Dia juga tahu kalau kakek dan neneknya bersikap seperti itu karena tidak ingin dirinya kenapa-napa. Mona hanya pura-pura merajuk saja tadi.


"Tolong beritahu gadis nakal ini agar tetap istirahat di dalam kamar, Rose. Kami sangat takut dia keluyuran keluar," ucap Kakek Niel.


"Tenang saja, Kek. Nanti aku akan meminta Reina untuk merantai kakinya," sahut Rose.


"Ih, kalian kenapa jahat sekali sih. Aku ini kan bukan tahanan!" protes Mona tak terima.


Nenek Shiren tertawa melihat pertengkaran lucu antara suami dan cucunya. Dia lalu mengernyitkan kening saat tidak sengaja melihat Rose yang seperti sedang menahan muntah.


"Rose, kau baik-baik saja?" tanya Nenek Shiren khawatir.

__ADS_1


"Ah, aku baik-baik saja, Nenek. Hanya sedikit mual," jawab Rose seraya menutup mulutnya dengan tangan. Rasa mual ini datang lagi.


Mona langsung menatap lekat ke arah Rose. Wajah sahabatnya ini sedikit pucat, mungkinkah Rose sedang tidak enak badan?


"Mona, Kakek Niel, Nenek Shiren. Aku datang kemari sebenarnya ingin memberitahukan kabar penting pada kalian," ucap Rose setelah rasa mualnya sedikit berkurang.


"Kabar penting? Apa itu?" tanya Kakek Niel penasaran.


Sebelum menjawab Rose melirik sekilas ke arah Mona. Dia sebenarnya agak cemas, tapi Rose harus tetap mengatakannya agar gadis ini bisa memiliki kesadaran untuk segera melupakan rasa cintanya yang tidak wajar. Rose ingin Mona-nya sembuh dan memiliki pasangan yang normal.


"Aku hamil."


Jedaaarrrr


Mona bagai tersambar petir begitu mendengar kabar penting yang di sampikan oleh Rose. Tubuhnya kaku seketika, dan nafasnya seakan terhenti begitu saja. Reaksi serupa juga terlihat di wajah Kakek Niel dan Nenek Shiren. Mereka syok bukan karena mengetahui Rose tengah mengandung anaknya Adamar, tapi mereka syok karena Rose mengatakannya langsung di hadapan Mona yang jelas-jelas menyimpan perasaan terhadapnya. Takut terjadi sesuatu pada cucunya, Nenek Shiren segera datang mendekat kemudian mengusap bahu Mona perlahan. Setelah itu dia tersenyum kecut ke arah Rose yang tengah menatap tak berkedip ke arah cucunya.


"Waahh, selamat ya Rose atas kehamilanmu. Kami turut senang mendengarnya," ucap Nenek Shiren berusaha untuk terlihat gembira. Padahal hatinya sedang tidak karu-karuan sekarang.


"Terima kasih, Nenek," sahut Rose dingin. "Mona, kenapa kau diam saja? Apa kau tidak mau memberi ucapan selamat untukku?"


Mona tergagap. Dia bingung harus berkata apa sekarang.


"Hmmm, tadinya aku pikir akan mendapat ucapan selamat paling heboh dari satu-satunya sahabatku. Tapi ternyata tidak. Sedih sekali," ucap Rose dengan wajah murung.


"S-siapa bilang aku tidak akan memberikanmu ucapan selamat, Rose. Aku-aku hanya tidak menyangka saja kalau sebentar lagi kau akan segera mempunyai anak. Makanya aku bereaksi seperti itu tadi," sahut Mona dengan cepat. Setelah itu dia memberikan satu pelukan untuk wanita yang sangat di cintainya ini. Hati dan perasaannya hancur, tapi Mona berusaha untuk tegar. "Selamat untuk kehamilanmu, Rose. Aku senang sekali mendengarnya. Ingat ya, mulai sekarang kau harus berhati-hati. Kau tidak boleh berkelahi lagi karena itu akan sangat membahayakan kandunganmu. Tahu tidak?"


Rose diam saja. Dia lalu mengangguk samar ke arah kakek dan neneknya Mona, memberitahu mereka kalau Mona akan baik-baik saja. Kakek Niel yang tanggap akan maksud Rose tampak menghela nafas panjang. Ternyata Rose memang sengaja memberitahukan kabar kehamilannya pada Mona dengan tujuan agar cucunya itu bisa perlahan-lahan melepaskan rasa cintanya.


Kau sangat baik, Rose. Bahkan di saat kau tengah bergembira dengan kebahagiaanmu dan Adamar kau masih tetap memperhatikan nasib cucuku. Kakek hanya bisa berdoa untuk kebaikanmu dan juga calon anakmu. Semoga Tuhan menjauhkan kalian dari segala macam marabahaya. Amin


"Oh ya Mona, kapan kau akan mencari kekasih? Waktu itu kau bilang sedang menyukai seseorang. Bagaimana, apa sudah ada kemajuan?" tanya Rose pura-pura tidak tahu kalau orang yang di sukai Mona sebenarnya adalah dirinya.


"Aku tidak tahu, Rose. Dia sudah memiliki seseorang yang sangat mencintainya," jawab Mona dengan suara sedikit tercekat. Setelah itu dia melepaskan pelukannya, sedikit enggan untuk menatap Rose karena sekarang matanya terasa panas.

__ADS_1


"Mon, tidak perlu sedih karena cintamu yang tidak kesampaian itu. Kau itu cantik. Aku yakin di luaran sana ada banyak pria yang mau menjadi kekasihmu. Cobalah untuk melupakannya, cari suasana baru. Tata hatimu dan fokuslah untuk bahagia. Aku ingin melihatmu menikah dengan seorang pria tampan kemudian hidup bahagia!" ucap Rose perlahan-lahan memberi arahan agar Mona tidak terus terjebak oleh perasaannya.


"Itu tidak mudah, Rose. Rasa cintaku padanya sudah terlalu dalam, sulit untuk aku lepaskan. Sejak pertama kali mengenalnya, setiap detik di hidupku hanya tentang dia saja. Tidak pernah satu haripun terlewat tanpa memikirkannya. Dia sangat berarti besar untukku, Rose. Aku sangat mencintainya."


Kakek Niel dan Nenek Shiren menatap iba pada cucu mereka. Sedalam inikah Mona terjebak oleh rasa yang salah? Sungguh, ini adalah kisah paling menyakitkan yang pernah mereka lihat selain kematian orangtua Mona dulu. Coba kalian bayangkan, mencintai seseorang yang tidak bisa kita miliki kemudian diminta untuk mencintai orang lain oleh orang yang kita cintai. Tidakkah menurut kalian ini sangat tragis?


"Memang tidak mudah. Tapi kau tidak akan tahu hasil akhirnya jika tidak mencobanya, Mona. Ingat kau masih muda. Jalan hidupmu masih sangat panjang. Kau tahu bukan kalau aku tidak suka melihat orang lemah? Maka dari itu kau harus kuat dan belajar untuk melepaskan. Pelan-pelan saja, aku yakin kau pasti bisa."


Adam masuk ke dalam ruangan tepat setelah Rose selesai bicara. Dan tanpa di sengaja, Adam dan Mona sama-sama memandang dengan tatapan penuh aura permusuhan.


Astaga, tidak di sangka aku akan bersaing dengan wanita karena memperebutkan Rose. Rasanya aneh sekali.


"Honey, hari sudah mulai malam. Bagaimana kalau kita pulang sekarang untuk bersiap?" ucap Adam memecah kecanggungan.


"Baiklah," sahut Rose patuh kemudian segera berjalan menghampiri Adam. "Mona, Kakek Niel, Nenek Shiren, aku pamit dulu ya. Besok aku akan datang lagi kemari."


"Iya, Rose. Kalian berhati-hatilah. Ingat Adam, istrimu sedang berbadan dua. Kau tidak boleh mengendarai mobil terlalu cepat," ucap Kakek Niel. "Dan selamat untuk kehamilan istrimu. Kami ikut bahagia mendengarnya."


"Terima kasih banyak, Kakek Niel. Keselamatan istri dan anakku adalah yang paling utama. Kalau begitu kami permisi."


Mona hanya bisa diam sambil menatap punggung Rose yang sedang berlalu dari hadapannya. Setelah itu dia berbaring memunggungi kakek dan neneknya.


"Kakek, Nenek, aku ingin istirahat."


"O-oh baiklah. Kami tidak akan mengganggumu lagi," sahut Nenek Shiren tanggap akan maksud sang cucu. Dia lalu mengajak Kakek Niel untuk segera keluar dari dalam sana, memberi ruang untuk sang cucu menenangkan hati dan pikirannya.


Haruskah aku melepaskan rasa cintaku padamu, Rose?


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...

__ADS_1


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2