
"Kalian awasi saja mereka dari jauh. Selama kondisi masih aman, maka kalian tidak perlu sampai turun tangan. Ingat, jangan sampai memancing kecurigaan Reina. Dia sedikit berbahaya!" ucap Liona pada orang yang tengah di telponnya.
"Baik, Nyonya. Tapi sepertinya mereka kehilangan jejak Flyn. Bajingan itu sudah kabur lebih dulu sebelum mereka sampai."
Liona menarik nafas berat begitu di beritahu kalau buruan Reina terlepas. Dia lalu menekan pelipisnya, kesal dan juga marah. Flyn sangat licin seperti belut, perlu kejelian yang sangat tinggi untuk bisa menangkapnya. Andai saja teman-teman cucunya belum bertindak, Liona sendiri yang akan turun tangan untuk menghabisi Flyn. Dia benar-benar sangat geram dengan ulah pengkhianat itu.
"Apapun itu biarkan mereka saja yang turun tangan. Hanya awasi apa yang terjadi kemudian laporkan padaku. Sekali lagi aku ingatkan pada kalian, berhati-hatilah pada Reina. Tatapan matanya sangat aneh, aku takut kalian mati konyol jika dia sampai menyadari keberadaan kalian di sana!"
"Baik, Nyonya."
Setelah itu panggilan terputus. Tadi saat Hansen menelpon, Liona tengah berbincang hangat dengan cucunya. Meski masih terlihat canggung dan kaku, Rose terlihat berusaha menerima kehadiran mereka semua. Bahkan pada Rolland pun Rose terlihat mulai dekat. Keadaan ini sudah jauh lebih baik daripada apa yang terjadi di rumah sakit beberapa waktu lalu. Membuat Liona bisa merasa sedikit lega.
"Sebentar lagi sayangku. Sebentar lagi kita semua akan segera bertemu dengan orang yang telah merusak ingatanmu. Nenek bersumpah tidak akan mati dengan tenang jika Flyn masih berkeliaran dengan bebas di dunia ini. Dia sudah merenggut waktu yang harusnya menjadi milik kita bersama, dan Nenek janji akan menghabisinya dengan cara yang tak pernah dia bayangkan!" geram Liona sambil menggeretakkan gigi.
Liona kemudian memutuskan untuk kembali lagi ke kamarnya. Dia tidak mau kalau cucunya sampai curiga karena dia keluar terlalu lama. Namun, begitu Liona berbalik, dia hampir mati jantungan melihat sepasang mata yang tengah menatapnya dingin. Liona lalu membalas tatapan mata tersebut tak kalah dingin hingga keduanya terjebak dalam pikiran masing-masing. Kejadian itu berlangsung selama beberapa detik sebelum akhirnya mereka sama-sama tersenyum samar.
"Kau tidak sebodoh yang aku pikir, Nyonya," ucap Rose dengan raut wajah yang sangat datar. "Padahal kode-kode itu hanya aku dan mereka saja yang tahu."
Mendengar ucapan dingin cucunya, Liona hanya tertawa saja. Dia lalu berjalan mendekat ke arah Rose kemudian mengelus pipinya. Cantik, juga mematikan. Dan inilah cucu dari keluarga Ma.
"Rosalinda Osmond, kau adalah cucuku. Bagaimana mungkin aku tidak memahami pemikiranmu kalau di tubuh kita mengalir darah yang sama? Tapi jangan khawatir, Nenek tidak akan mengganggu kesenanganmu. Nenek hanya memastikan saja kalau mereka tidak kenapa-napa karena bagaimanapun Flyn sangatlah licik. Dia bahkan berhasil melarikan diri dari buruan Reina dan anak buahnya yang lain."
Sebelah alis Rose terangkat sebelah. Dia lumayan takjub dengan kemampuan Nyonya Liona yang langsung mengetahui kabar bahkan sebelum Resan melapor padanya. Untuk kehebatan ini bolehkah Rose merasa bangga?
"Wine?" tanya Liona sembari menggerakkan tangan.
Ya, dia ingin mengajak cucunya untuk bersulang. Sesuatu hal yang sudah sangat lama Liona impi-impikan. Bisa menikmati segelas wine seraya berbincang manis dengan anak dan juga cucunya.
"Vodka," sahut Rose.
"Vodka?"
__ADS_1
Rose mengangguk. Dia patuh ketika tangannya di tarik masuk ke dalam kamar yang tadi. Dan begitu Rose sampai di dalam kamar, bola matanya langsung bertabrakan dengan bola mata pria yang mengaku sebagai Uncle Ethan.
"Jangan menatapku terlalu lama. Bola matamu membuat kepalaku sakit!" tegur Rose ketika kepalanya kembali berdenyut.
"Ah, o-oh iya iya. Uncle tidak akan menatapmu lagi," sahut Ethan gagap.
"Bukan tidak boleh. Aku hanya merasa tidak nyaman dengan matamu," ucap Rose meralat maksud dari ucapannya.
"Iya Nona Muda."
"Panggil Rose saja. Begitu terdengar lebih baik."
"Baiklah, Rose," sahut Ethan menuruti apa yang di inginkan oleh gadis kecilnya yang kini telah menjadi dewasa.
Meski kepalanya tidak berhenti berdenyut, Rose memaksakan diri untuk terus menatap wajah Uncle Ethan. Dia begitu penasaran tentang hubungan di antara mereka berdua.
"Sedekat apa kita berdua?"
Mendengar jawaban Uncle Ethan, tanpa sadar bibir Rose tertarik ke atas. Hatinya tiba-tiba saja menghangat. Rose kemudian berlalu dari hadapan Uncle Ethan kemudian duduk di sofa sambil menatap ke arah jendela. Benar kalau dia tidak bisa mengingat apa-apa, tapi dia bisa merasakan ada ketulusan dan juga cinta yang sangat besar di keluarga ini.
Semua mata kini tertuju ke arah Ethan yang sedang menengadahkan wajahnya ke atas. Sepertinya di kepala Rose menyimpan banyak kenangan bersama dengan Uncle-nya itu. Rolland yang melihat kenyataan tersebut langsung berwajah masam. Dia kesal karena Rose lebih mengingat Uncle mereka ketimbang dia yang notabenennya adalah kakaknya sendiri.
"Sabar, adikmu itu bukan melupakanmu. Dia hanya belum mengingatmu saja!" bisik Greg menghibur cucunya yang terlihat tak senang.
"Tapi kenapa dia bisa mengingat Uncle Ethan, Kek? Aku kan kakaknya, saudara kembarnya pula. Bagaimana bisa Rose melupakan aku?" sahut Rolland lirih.
Drax yang melihat putranya tengah cemburu segera menepuk bahunya pelan. Dia lalu melihat ke arah putrinya yang kini sedang duduk bersama istri dan juga ibu mertuanya.
"Dengan Rose memperlihatkan reaksi seperti ini saja itu sudah menunjukkan hal yang sangat baik, Land. Kau tahu tidak seperti apa efek dari obat yang di suntikan Flyn ke tubuh adikmu? Itu tidak hanya membuatnya lupa ingatan, tapi obat itu benar-benar merusak semua memori yang ada. Mommy-mu bilang sampai detik ini Organisasi Grisi masih belum bisa membuat obat penawarnya, yang artinya ingatan adikmu tidak bisa di pulihkan. Jadi dengan Rose merespon keberadaan Uncle Ethan, itu menjadi kabar yang sangat menggembirakan untuk kita semua!"
Rolland langsung menatap sendu ke arah adiknya yang sedang menikmati vodka. Hatinya benar-benar sangat sakit. Bukan hanya karena Rose yang tidak bisa mengingat siapa dia, tapi juga karena selamanya dia tidak akan pernah bisa mengingat kenangan mereka sewaktu kecil.
__ADS_1
"Bagaimana bisa ada orang yang tega menghapus paksa kenangan-kenangan indah milik seorang gadis kecil, Dad? Kenapa juga harus Rose yang menjadi targetnya?" tanya Rolland.
"Kau pasti sudah tahu alasan kenapa Flyn melakukan itu semua bukan?"
Drax dan Greg sama-sama menarik nafas berat. Mereka kemudian melihat ke arah Ethan yang diam-diam masih terus memandangi Rose.
"Ethan, duduklah dulu. Jangan terus berdiri di sana seperti patung!"
"Maaf bos, aku benar-benar tidak bisa mengalihkan mataku dari Nona Muda. Aku takut di tinggal pergi lagi," sahut Ethan.
"Rose tidak akan kemana-mana. Sekarang dia adalah milik kita, selamanya dia akan selalu bersama kita," ucap Greg ikut menimpali.
"Tapi Tuan Besar....
"Sudah, tidak ada tapi-tapian. Sekarang duduklah bersama kami, biarkan Rose menghabiskan waktu bersama dengan nenek dan juga Mommynya!"
Meski tidak rela, Ethan terpaksa duduk bersama dengan yang lain. Sesekali dia melirik ke arah keponakannya yang kini telah dewasa.
Rose-ku, jangan pergi lagi ya. Uncle bisa mati kalau kau menghilang seperti dulu, Uncle tidak bisa hidup tanpamu, sayang.
Grizelle, Liona, Rolland, mereka bertiga saling melirik ketika mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh Ethan. Lucu, tapi juga kasihan. Ya, Ethan dan Priston menjadi orang kedua yang paling terpukul dengan hilangnya Rose setelah Rolland. Kedua pria itu bahkan sampai tidak mau pulang karena merasa tersiksa setiap kali melihat sudut rumah yang menjadi tempat mereka bercanda dengan si nona muda kecil.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1