Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Tembok Yang Runtuh


__ADS_3

Flashback


"Paman, jangan sakiti kakak ini. Jangan!" cegah Mona kecil sambil menangis sesenggukan melihat satu-satunya teman yang mau bermain dengannya hendak dipukul.


"Diamlah gadis manis. Paman tidak akan menyakitinya, tapi ingin memberinya hadiah yang sangat istimewa. Hahahaha!" sahut Agler di barengi dengan gelak tawa teman-temannya.


"Paman, jangan. Aku saja, aku saja yang dipukul. Kasihan kakak ini, Paman. Dia baik padaku, jangan pukul dia."


"Oh, jadi kau mau berkorban untuk melindungi temanmu ini ya?"


Mona tanpa ragu mengangguk. Dia lalu menggelengkan kepala ke arah Rose ketika melihatnya hendak bicara.


"Baiklah, kalau begitu jangan salahkan Paman ya manis. Kau sendiri yang menyerahkan diri pada kami. Hahahha!"


Rose terdiam bingung dengan apa yang terjadi. Tadi di saat dia tengah berjalan sendirian, Rose tidak sengaja melihat seorang gadis kecil sedang di bully oleh beberapa anak kecil lainnya. Rose yang pada saat itu sedang kehilangan arah karena terpisah dari kakeknya memutuskan untuk menolong gadis kecil tersebut. Dan di saat mereka berdua sedang asik mengobrol, tiba-tiba mereka di datangi oleh sekelompok pria asing yang langsung membawa mereka pergi ke tempat sepi. Orang-orang ini kemudian membuka pakaian mereka lalu mengikatnya di pohon. P*lecehan, sepertinya itu yang ingin mereka lakukan pada Mona dan juga Rose.


"Tunggu dulu, Agler. Lihat, gadis kecil ini memiliki tanda yang tidak asing di dadanya!" teriak salah seorang pria.


"Tanda apa?"


Agler yang saat itu berniat menyalurkan hasrat pada gadis cantik yang hanya diam kebingungan langsung mengurungkan niatnya begitu melihat satu tanda tak asing di dada gadis yang tadi merengek padanya. Dia lalu menyeringai senang.


"Aaa gadis manis, rupanya kau adalah anak dari salah satu anggota sekte ya. Hmmm, ini adalah harta karun yang tidak terduga-duga. Sayang kau masih kecil, kami perlu kau berumur dua puluh tiga tahun untuk menyempurnakan keabadian ini. Gadis manis, kaulah yang akan membuat kami semua menjadi abadi selamanya. Hahahha!"


Sorak sorai memenuhi tempat tersebut begitu Agler mengumumkan bahwa Mona adalah calon persembahan terbaik untuk sekte mereka. Sementara Rose, entah kenapa dia begitu marah mendengar hal tersebut. Dia tidak suka temannya ini menjadi pusat p*lecehan, dia tidak rela.


"Hei orang-orang jahat, kalau berani lawan aku. Jangan sakiti Mona, dia tidak salah!" teriak Rose dengan berani.

__ADS_1


"Apa? Orang jahat? Ckck, siapa namamu gadis kecil?" tanya Agler kemudian mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil yang baru saja meneriakinya.


"Aku tidak mau bicara dengan orang asing."


Mata Agler langsung berkilat marah saat mendengar jawaban Rose. Dengan kasar Agler mencekik leher gadis ini kemudian menampar pipinya dengan sangat kuat.


"Paman, jangan pukul temanku, jangan. Biar aku saja, Paman!" teriak Mona histeris.


Entah apa yang terjadi Rose sudah tidak tahu lagi karena kepalanya benar-benar sangat pusing setelah ditampar. Yang dia ingat, Mona menjerit kesakitan saat orang yang tadi menamparnya menggoreskan pisau di dadanya. Rose menangis, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa ketika orang-orang ini membuang n*fsu mereka di atas tubuhnya dan juga di atas tubuh Mona. Rose kecil merasa sangat jijik, dia malu dan juga sakit. Dari rasa inilah timbul satu dendam yang teramat besar. Sebelum Rose jatuh pingsan, dia masih sempat melihat gerakan bibir Mona yang memintanya untuk tetap tenang. Rose sadar, dia baru saja di selamatkan oleh gadis kecil yang saat ini tengah merintih kesakitan ketika di gilir dengan cara yang tidak sewajarnya oleh para bedebah tersebut.


Flashback Now


"Jika tidak ada Mona, saat itu aku pasti sudah mati di lecehkan. Dia ... dia menyerahkan diri untuk melindungiku karena menganggap aku adalah orang baik yang mau menjadi temannya. Mona sangat polos, dia tidak sadar kalau tindakannya malah membahayakan nyawanya sendiri. Dia tidak sadar akan hal itu."


Tidak ada yang menduga kalau Mona dan Rose pernah mendapat perlakuan yang begitu menjijikkan dari Agler dan anggotanya. Pantas saja Rose tak pernah mau menceritakan masalah ini pada orang lain. Rupanya karena hal ini begitu sensitif.


"Maafkan aku. Aku seharusnya tidak begini kejam padamu, Land. Aku yang salah karena tidak menceritakan masalah ini dari awal. Aku egois," ucap Rose sambil menangis sesak.


Liona dan Grizelle maju mendekat. Mereka kemudian sama-sama memeluk Rose yang ternyata memiliki sisi yang rapuh akan masalalunya. Sungguh, kejadian ini di luar pemikiran mereka. Awalnya Liona mengira kalau Mona di buru oleh Agler karena kecantikannya. Siapa yang akan menduga kalau ada kejadian yang begini menakutkan menimpa cucunya dan juga cucunya Niel.


"Sayang, mulai detik ini kita semua akan sama-sama berjuang untuk membalaskan dendammu pada Agler. Kau tidak sendirian. Oke?" ucap Grizelle seraya menahan luapan emosinya.


Agler.... beraninya kau melecehkan putri kesayanganku. Tunggu dan lihatlah bagaimana kami akan membalas perbuatanmu. B*jingan!


"Setelah kejadian itu aku sempat tidak mengingat apapun lagi. Akan tetapi saat aku masuk sekolah menengah atas, tiba-tiba saja aku seperti mendapat mimpi tentang kejadian itu. Baru setelahnya aku bisa mengingat kembali kalau nyawaku pernah di selamatkan oleh gadis kecil bernama Mona. Di mulai dari detik itulah aku mulai masuk ke dunia seperti ini. Aku berjuang dengan susah payah mencari keberadaan Mona, hingga pada akhirnya kami di pertemukan di bangku kuliah. Sebenarnya bukan Mona yang menempel padaku, tapi akulah yang tak bisa lepas darinya. Raut wajahnya yang kesakitan, air matanya, jeritannya, semua itu membuatku gila. Tapi semua itu di manipulasi dari pikiran Mona oleh seorang psikiater yang di kirim oleh Agler. Dia dibuat menyukaiku, dan aku sangat terluka karenanya. Aku gila!"


"Ssstttttt!" Rolland dengan penuh sayang mengusap kepala sang adik yang tengah terisak-isak. Dia mengabaikan rasa sakit di perutnya meski wajahnya sendiri telah memucat karena darah yang tidak berhenti mengalir keluar. "Mawar di keluarga Osmond terluka, dan itu adalah penghinaan besar bagi kami semua. Kau tidak sendirian, Rose. Sebagai kakakmu aku tidak akan tinggal diam. Aku janji masalah ini akan selesai malam ini juga. Agler akan membayar dengan sangat mahal atas apa yang telah dia lakukan padamu dan juga Mona. Aku bersumpah atas nyawaku!"

__ADS_1


Suasana mencekam langsung menyelimuti ruang kamar kos tersebut begitu Rolland di kuasai oleh amarah. Sekarang semua orang di sini paham mengapa Rose menutup rapat-rapat tentang kejadian yang berhubungan dengan Mona. Sungguh tidak ada yang menyangka kalau ketua kelompok Queen Ma pernah mengalami pelecehan yang begitu menjijikkan, tapi untungnya di selamatkan oleh gadis yang mereka duga mengalami kelainan s*ksual. Rosalinda Osmond, mawar di keluarga Ma, menanggung rasa malu yang teramat sangat karena kejadian tersebut. Mungkin jika hanya di lihat dari satu sisi, Rose begitu egois karena terlalu tegas dan kasar terhadap saudara kembarnya sendiri. Tapi begitu dia mengungkap rahasia besar yang dia sembunyikan, kebekuan dan juga jarak yang dia bangun langsung roboh. Kini Rose bisa menangis dengan leluasa tanpa harus ada tekanan perasaan. Entah itu di hadapan para anggotanya, suaminya, orang tuanya, bahkan saudara kembarnya sendiri. Benar kata orang kalau kita bisa mengeluarkan beban yang terpendam, sedikit banyak itu akan membuat kita bisa bernafas lega. Seperti sekarang. Rose seakan menemukan jalan pulang setelah belasan tahun pikirannya tersesat oleh rasa jijik, malu dan juga muak.


"Baiklah, tiga jam tersisa untuk kita menemukan keberadaan Mona dan Brenda. Tepat tengah malam nanti Agler dan para anggotanya akan menggelar persembahan. Seharusnya kita semua bisa datang tepat waktu untuk bersenang-senang dengan mereka!" ucap Drax menyudahi kesedihan yang terjadi.


Jangan tanya bagaimana perasaan Drax sekarang. Dia seperti merasa kalau raja jin telah berpindah ke tubuhnya begitu tahu kalau putri tercintanya telah mengalami pelecehan yang membuat batinnya tersiksa selama bertahun-tahun. Dia murka, jiwa mafia yang telah lama redup kini kembali membara.


"Resan, apa kau memiliki obat yang bisa menahan pendarahanku?" tanya Rolland. Dia tidak mau mati sekarang.


"Ada, Tuan Rolland," jawab Resan kemudian segera berlari ke mobil. Tak berselang lama dia kembali lagi dengan membawa jarum suntik yang telah di isi dengan cairan khusus. "Tubuh anda akan sedikit terbakar setelah ramuan ini menyatu dengan darah."


Rolland menyeringai.


"Rasa panasnya tidak akan sebanding dengan kenyataan yang baru saja kudengar. Dan Agler, aku pastikan malam ini dia yang akan mati kepanasan. Aku pastikan dia akan mati terbakar api persembahan yang telah dia siapkan. Aku pastikan itu."


Dan pada akhirnya, Rose mendapat dukungan penuh dari keluarganya setelah dia mengakui segalanya. Dan untuk pertama kalinya Rose merasa terlindungi meski dia sendiri masih belum bisa mengingat kenangan bersama dengan mereka. Adam yang melihat ketenangan di mata istrinya pun merasa lega. Dia lega karena akhirnya benteng yang selama ini menjadi tembok kokoh di diri Rose telah runtuh. Ternyata memang benar kalau kasih sayang dan kepedulian keluarga adalah yang paling utama.


Semoga setelah masalah ini selesai Rose tidak lagi memasang wajah sedingin es pada keluarganya. Dan kumohon Tuhan, tolong bantu dia memulihkan ingatannya. Kasihan istriku....


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2