Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Salam Terakhir


__ADS_3

Cesar tersenyum sinis melihat mobil Gheana tengah bergerak mendekat ke arahnya. Secepat kilat Cesar merubah ekpresi sinis di wajahnya menjadi ekpresi yang begitu gembira ketika wanita tidak tahu diri ini keluar dari dalam mobilnya.


"Wow, Tuan Cesar. Kau terlihat gembira sekali. Ada apa?" tanya Gheana seraya tersenyum lebar. Dia lalu menoleh ke arah sopirnya yang ingin membantunya berjalan. "Kau pulang saja. Dan tolong jangan katakan apapun jika ada yang bertanya di mana aku berada sekarang."


"Tapi, Nona. Anda sedang tidak sehat, saya khawatir terjadi sesuatu pada anda jika saya pergi dari sini," jawab si sopir sambil menatap penuh curiga ke arah pria yang terlihat begitu misterius. Entah kenapa pria ini terlihat seperti memiliki maksud terselubung terhadap Nona-nya. Yang mana membuatnya merasa sangat khawatir.


"Kau tenang saja. Pria ini adalah temanku, aku aman bersamanya," sahut Gheana memaklumi kekhawatiran sopirnya.


Ya, kau akan sangat aman jika tetap bersamaku, Gheana. Tapi tidak setelah Rose dan Adamar datang menemuimu karena mereka akan langsung mengirimmu pergi ke tempat yang tidak pernah kau bayangkan sama sekali.


"Apa benar tidak apa-apa?"


Gheana mengangguk. Dia lalu memerintahkan sopirnya untuk segera pergi dari sana. Gheana sudah tidak sabar ingin segera menemui wanita yang sebentar lagi akan kehilangan separuh hidupnya.


"Tidak kusangka kau memiliki sopir yang begitu setia dan peka, Nona Gheana. Aku salut," ucap Cesar sambil memandangi mobil Gheana yang sedang bergerak pergi dari sana. Dia lalu menyeringai samar.


"Dia bekerja di rumah kami sejak aku masih sekolah menengah pertama. Jadi sopirku memang sedikit protec jika berhubungan dengan keselamatanku," sahut Gheana kemudian mengulurkan tangan ke arah Cesar. "Kakiku masih belum sembuh benar. Bisakah kau membantu membawaku masuk ke dalam, Tuan Cesar?"


"Of course, Nona Gheana."


Cesar segera menyambut uluran tangan Gheana kemudian memapahnya masuk ke dalam gedung tua yang akan menjadi tempat eksekusi. Andai saja saat ini Cesar sedang tidak berpura-pura, dia pasti akan langsung mendorong tubuh Gheana agar jatuh menggelinding ke bawah saat mereka menapaki anak tangga. Tapi untuk sekarang Cesar harus sedikit bersabar karena sebentar lagi akan ada sebuah kejadian yang bisa memuaskan n*fsu dahaganya. Wanita ini ... riwayatnya akan segera tamat di tangan orang-orang yang tidak memiliki belas kasih. Sungguh kasihan.

__ADS_1


"Di ruangan yang mana dia?" tanya Gheana sambil celingukan mencari ruangan tempat Rose di tahan.


"Nona Gheana, bagaimana sebelum kita pergi menemui Rose kita perjelas dulu pembagian saham atas namaku di perusahaanmu. Terus terang aku takut kau kabur sebelum menyerahkan hakku," sahut Cesar lain dari topik yang sedang di pertanyakan oleh Rose. "Kau jangan tersinggung. Aku sudah bersusah payah mengelabui Adamar demi agar bisa membawa Rose kemari. Jadi aku tidak mau kalau keringat dan usahaku tidak mendapat bayaran yang seharusnya. Demimu aku sampai harus bertaruh nyawa, Nona Gheana. Sungguh!"


Gheana tertawa melihat bagaimana cara Cesar meminta hak miliknya. Masih sambil berpegangan di lengan Cesar, Gheana menghubungi nomor sekertarisnya untuk menanyakan tentang pengalihan saham yang sudah dia perintahkan.


"Halo, Nona Gheana."


"Apa kau sudah melakukan yang kuperintahkan padamu tadi?" tanya Gheana sambil menatap lekat ke arah Cesar. Dia sengaja menyalakan tombol loudspeaker agar pria ini percaya dan tidak merasa di curangi.


Cesar tersenyum. Dia lalu mengangguk, memberi tanda agar Gheana kembali melanjutkan pembicaraan dengan sekertarisnya.


"Sudah, Nona. Akan tetapi baru sore ini berkas tersebut selesai di urus. Apakah ini akan menimbulkan masalah, Nona?"


"Hmmm, kau cukup cerdik dalam hal meyakinkanku. Okelah, aku akan dengan sangat sabar menunggu berkas tersebut di kirim ke apartemenku, Nona Gheana," sahut Cesar seraya tersenyum penuh kemenangan.


Andai saja Gheana sadar kalau saat ini dirinya tengah menuju jurang kehancuran, dia pasti tidak akan semudah itu memberikan sahamnya pada Cesar. Gheana terlalu bodoh dan juga tamak sampai-sampai tak menyadari bahwasanya dia telah salah memilih partner. Cesar, pria ini memiliki hubungan yang tak biasa dengan Adamar. Sayangnya Gheana melupakan fakta kalau Cesar sendiri merupakan bayangan seorang Adamar Clarence yang tidak akan mungkin melakukan pengkhianatan. Dia benar-benar masuk ke kandang macan kali ini.


"Kalau begitu apakah sekarang aku sudah boleh melihat Rose? Dia sedang hamil, aku takut bayinya kenapa-napa," tanya Gheana.


"Tentu saja. Ayo!"

__ADS_1


Cesar kembali memapah Gheana dan membawanya masuk ke dalam salah satu ruangan di mana Rose berada. Dalam hatinya, Cesar tengah tertawa senang atas keuntungannya dalam memperoleh saham tanpa harus dia mengeluarkan uang sepeserpun. Sungguh, bekerja sama dengan Gheana benar-benar sangat menguntungkan.


Rose, aku datang. Semoga kau bisa menikmati surga dunia yang akan segera ku berikan padamu. Hahaha.


"Astaga, Tuan Cesar. Apa yang sudah kau lakukan pada istrinya Adamar?" pekik Gheana pura-pura syok melihat keadaan Rose yang sedang tidak sadarkan diri dalam keadaan tubuh terikat tali di sebuah kursi. Sedetik kemudian dia tertawa ketika mendapati ada sebotol obat yang nantinya akan dia gunakan untuk menggugurkan bayinya Rose. "Wah wah wah. Kau benar-benar sangat teliti, Tuan Cesar. Aku sungguh kagum dengan pekerjaanmu."


"Itu sesuai dengan apa yang aku dapatkan, Nona Gheana. Dan tentu saja aku harus melakukan segalanya dengan sebaik mungkin. Bukankah ini yang kau inginkan, hm?"


Cesar dan Gheana saling melemparkan pandangan sebelum akhirnya mereka tertawa terbahak-bahak. Di hadapan Rose yang sudah tidak berdaya, mereka menjadi begitu gembira membayangkan kebahagiaan besar yang sudah menanti mereka di masa depan. Kalau saja ada yang melihat kejadian ini, mereka pasti akan merasa sangat miris dan kasihan pada nasibnya Rose. Keselamatan janin di rahimnya sedang berada di ujung tanduk sekarang.


"Nona Gheana, apakah acara ini sudah bisa kita mulai sekarang? Aku sudah tidak sabar ingin segera melihat Rose menggeliat kesakitan setelah meminum obat itu?" tanya Cesar setelah puas tertawa.


"Em, tunggu sebentar lagi, Tuan Cesar. Aku ingin memberi salam terakhir pada Rose sebelum kita memulai acaranya. Ini adalah hari yang bersejarah untuknya, jadi biarkan aku mendengar pesan terakhir yang ingin dia ucapkan. Apakah kau keberatan?"


"Tidak sama sekali. Kalau begitu silahkan lakukan salam terakhir itu pada Rose. Tapi kalau bisa lakukan secepat mungkin karena waktuku tidak banyak. Aku takut Adamar akan mencurigaiku jika aku terlalu lama pergi dari perusahaan."


Gheana mengangguk paham. Dia lalu meminta Cesar untuk membantunya duduk di kursi yang ada di hadapan Rose.


Kau lihatkan, Rose. Sudah kubilang kalau kau itu tidak akan bisa menang melawanku. Sekarang kau nikmati saja apa yang tersisa ya? Dan maaf, aku meminjam kepergian bayimu sebentar. Oke?


Begitu Gheana duduk, dia langsung mengambil gelas berisi air lalu menyiramkannya ke wajah Rose. Dia kemudian tersenyum melihat mata wanita ini yang perlahan-lahan mulai terbuka.

__ADS_1


"Halo, Rose. Apa kabar?" sapa Gheana sembari menampilkan senyum ramahnya. Munafik, anggaplah dia seperti itu karena sebenarnya di balik senyum ramah tersebut tersimpan satu dendam yang amat sangat membara.


*****


__ADS_2