
Seorang pria terlihat berdiri gemetaran sambil terus menyeka keringat yang membanjiri wajahnya. Falcon, dia yang saat itu masih tidur dengan wanitanya hampir mati terkena serangan jantung saat di beritahu anak buahnya jika rumah ini kedatangan tamu yang sangat mengerikan. Queen Ma, ketua kelompok ini datang bersama dengan dua orang kaki tangannya. Karena tak ingin membuat si ketua menunggu, cepat-cepat Falcon melompat turun dari ranjang kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan begitu dia keluar, tulang-tulang di kakinya seperti di lolosi melihat wanita yang tidur dengannya sudah mati dengan sayatan panjang di lehernya. Mulut Falcon langsung terkatup rapat saat salah satu pengawal pria berhoodie ini menunjukkan pisau yang di penuhi darah ke arahnya.
"Falcon, apa kau bisa membantu kami?" tanya Reina sambil memperbaiki topeng yang menutupi wajah cantiknya.
"Mem-membantu apa?" sahut Falcon dengan suara gugup.
"Agler. Apa kau mengenalnya?"
Mata Falcon membelalak lebar begitu nama Agler di sebut. Seketika dadanya berdebar dengan sangat kencang. Falcon tentu saja tahu siapa pria yang mereka maksud. Tapi haruskah dia memberitahu orang-orang ini?
"Aku anggap diammu adalah iya, Falcon. Sekarang beritahu kami dimana dia dan para anggotanya tinggal!" desak Reina.
"A-aku tidak tahu. A-aku memang pernah mendengar namanya, tapi aku tidak tahu dimana dia dan para anggotanya tinggal. Selama ini mereka selalu berpindah-pindah tempat. Jadi sulit untuk menemukan keberadaan mereka," ucap Falcon beralasan.
Sreeettt jlep
"Aaarrgghhhhh. Sial!" umpat Falcon sambil memegangi pahanya yang sudah tertancap pisau.
Rose begitu kesal karena Falcon tak mau berkata jujur. Dia kemudian merebut pisau dari tangan Resan lalu melemparkannya ke arah kaki Falcon. Jelas-jelas pria ini tahu dimana keberadaan Agler, tapi masih saja tidak mau memberitahunya. Cari mati.
"O-ho, Falcon. Kau baru saja membuat ketua kami marah. Bagaimana jika aku menambah beberapa lemparan pisau ke kepalamu juga? Rasanya pasti akan sangat menyenangkan!" ucap Reina sambil memain-mainkan dua buah pisau yang dia ambil dari balik kaus kakinya.
Jangan di tanya bagaimana raut wajah Falcon sekarang. Dia yang tadi sudah pucat karena ketakutan, kini semakin pucat karena luka di pahanya. Di tambah lagi sekarang dia masih harus menghadapi kemarahan dari tamu-tamu tak di undang ini.
"Ayolah bung, jangan mengulur waktu. Dengan kau melindungi Agler, kau bisa kehilangan nyawamu sendiri. Lihat, ketua kami bahkan sampai repot-repot mendatangimu secara pribadi hanya untuk mencari tahu dimana bajingan itu berada. Apa kau tega membiarkannya pulang dengan tangan kosong, hm?"
"T-tapi aku benar-benar tidak tahu dimana mereka tinggal. Sungguh!" sahut Falcon masih enggan untuk membuka mulut.
"Bicara yang benar!" hardik Resan mulai tak sabar.
"Bunuh!" bisik Rose sambil membuat gerakan memotong leher.
Sadar kalau nyawanya benar-benar sudah sangat terancam, cepat-cepat Falcon membuka mulut. Dia tidak mau mati konyol di tangan orang-orang ini. Dia masih ingin menikmati kemewahan yang ada di dunia.
__ADS_1
"T-tunggu Tuan. A-aku akan memberitahu kalian dimana Agler dan para anggotanya tinggal. T-tapi kalian harus berjanji untuk tidak membawa-bawa namaku jika kalian sudah bertemu dengan mereka nanti. Bukan karena aku takut, t-tapi kami terikat sebuah janji kalau aku tidak akan berkhianat pada mereka. Nyawa keluarga anak buahku yang jadi taruhannya!"
Rose mengangguk.
"Mereka sekarang bersembunyi di salah satu bar besar yang ada di negara ini. Pemilik dari bar itu adalah bagian dari mereka. Dan rencananya ritual nanti akan dilakukan di sana!" ucap Falcon.
"Bar?" beo Reina.
"Iya. Di bar itu ada satu ruangan yang memang di khususkan untuk mereka melakukan ritual. Tapi untuk masuk ke sana kalian harus mempunyai kartu anggota."
Tanpa menunggu Falcon menjelaskan lebih detail, Resan pun segera membuka dompet yang tergeletak di atas meja. Dia lalu menarik satu buah kartu berwarna gold kemudian dia serahkan pada nonanya.
"Kerjasama yang sangat bagus, Falcon. Ketua kami menyukainya," puji Reina sambil mengikuti langkah Rose yang sedang berjalan keluar dari dalam kamar.
"Tuan, di dalam kartu itu ada namaku. Aku....
"Kami akan mengurusnya," ucap Resan sambil menahan pundak Falcon yang ingin menyusul nonanya. Setelah itu dia berbisik sambil melihat ke arah wanita yang sudah kaku bersimbah darah. "Lain kali jangan membawa mata-mata pulang untuk kau tiduri. Nyawamu bisa berpindah ke alam baka jika ketua kami tidak menyadari siapa wanita itu."
Tubuh Falcon menegang setelah mendengar bisikan tersebut. Dia tidak menyangka kalau dirinya telah membawa musuh masuk ke dalam rumahnya. Falcon kemudian berteriak memanggil anak buahnya untuk membuang wayat wanita tersebut. Dia merasa tertipu.
"Cari tahu siapa-siapa saja yang tergabung dalam kelompok ini, Res. Setelah itu tukar namanya Falcon dengan salah satu dari mereka yang paling lemah!"
"Baik, Nona."
"Dan kau Reina, tugasmu malam nanti adalah meyakinkan para penjaga yang ada di sana. Buat mereka tidak curiga kalau kita bukanlah anggota sekte."
"Itu adalah bagian yang paling aku suka, sayang. Aku pastikan para penjaga di sana akan terbuai dengan tubuh molekku ini," sahut Reina sambil menggerakkan dadanya ke atas.
Rose mengangguk. Setelah itu dia melihat keluar jalanan. Banyak hal yang mengganggu pikiran Rose sekarang. Dia kemudian teringat dengan ayahnya Adam yang menyimpan seribu rahasia di balik senyumnya yang aneh.
"Res, apa kau sudah berhasil menemukan rahasia ayahnya Adam?"
Resan yang sedang mengemudi sedikit memelankan laju kendaraan saat akan menjawab.
__ADS_1
"Belum semuanya, Nona. Akan tetapi saya bisa memastikan kalau Tuan Zidane Clarence tidak tergabung dalam anggota sekte. Dia bersih dari hal-hal ini."
"Apa?? Jadi ayahnya Adam bukan bagian dari mereka?" pekik Rose kaget.
Ini di luar dugaan. Bagaimana mungkin mertuanya bukan anggota sekte di saat tampangnya saja menyimpan banyak rahasia besar yang masih tersembunyi. Kabar ini benar-benar membuat Rose sangat kaget. Baru kali ini dia sampai salah menebak.
"Iya, Nona. Tuan Zidane tidak sekalipun pernah bergabung dengan mereka. Dan sepertinya rahasia itu menjurus ke arah lain," ucap Resan memberitahu.
"Maksudnya bagaimana, Res? Menjurus dalam hal apa memangnya?"
"Ini hanya tebakan saya saja, Nona. Karena setelah saya perhatikan, setiap kali Tuan Zidane bertemu dengan wanita berparas cantik, dia akan langsung memperlihatkan ekpresi yang aneh. Bukan ekpresi penuh obsesi, melainkan ekpresi iri. Tuan Zidane seperti memendam kecemburuan!"
"WHAAATTTT!!!!"
Reina berteriak dengan sangat kuat begitu mendengar penjelasan Resan. Tidak di sangka ternyata ayahnya Adamar satu gen dengannya. Ini benar-benar sangat di luar dugaan.
"Maksudmu ayahnya Adam itu memiliki kepribadian ganda?" tanya Rose memastikan.
"Sepertinya begitu, Nona. Dan kemungkinan besar penyebab kematian Nyonya Clarence adalah karena beliau mengetahui rahasia ini. Itulah mengapa beliau sampai di bunuh karena Tuan Zidane tidak ingin rahasia ini sampai terbongkar keluar. Karena yang saya tahu Tuan Zidane adalah orang yang sangat menjaga nama baik keluarganya, juga orang yang begitu tergila-gila dengan kekayaan. Tapi ini masih dugaan saya saja, Nona. Saya belum memberitahu Nona karena belum menemukan fakta yang bisa membuktikan kalau Tuan Zidane memiliki prilaku yang menyimpang!" jawab Resan panjang lebar.
"Kalau begitu dapatkan bukti-buktinya dengan segera. Aku kasihan pada Adam."
"Baik, Nona. Saya dan yang lain akan segera mengumpulkan bukti-buktinya!"
Setelah itu semuanya diam. Rose sungguh tidak menyangka kalau ayah mertuanya memiliki kelainan seperti ini. Adam pasti akan sangat hancur jika mengetahui kenyataan ini.
Tuan Zidane pasti memiliki kaki tangan yang sangat terpercaya untuk menutupi rahasia ini. Atau jangan-jangan orang ini adalah orang yang menjadi pasangannya? Astaga, kenapa keluarga Adam jadi rumit begini, batin Rose.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
__ADS_1
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...