
Adam melangkah masuk ke sebuah restoran dimana dia dan Gheana akan bertemu. Mata tajamnya menelisik ke arah meja para tamu, mencari dimana wanita itu berada.
"Hufft, benar-benar sangat merepotkan," gerutu Adam setelah dia melihat dimana Gheana duduk menunggunya.
Gheana dengan santai membuka-buka menu makanan yang ada di restoran tersebut. Dia berjengit kaget ketika di depannya tiba-tiba ada seseorang yang duduk dengan kondisi wajah tertutup masker.
"Maaf, anda siapa ya?" tanya Gheana.
Jika kalian penasaran kenapa Adam menggunakan masker, jawabannya adalah karena keluarganya masih belum tahu kalau dia sudah ada di Negara S. Dia melakukan hal ini karena tidak mau ibu tirinya menyelidiki alasan kenapa dia pulang lebih cepat. Terlebih lagi dia pulang tanpa Cesar. Jika hal ini sampai di ketahui, pastilah wanita medusa itu akan langsung membuat ulah. Ya meskipun Rose tidak selemah yang dia pikir selama ini, tetap saja Adam merasa khawatir. Jadilah dia datang menemui Gheana dalam kondisi seperti ini.
"Ini aku,"
Kening Gheana mengernyit.
"Tuan Adam?"
"Ya,"
"Astaga, kenapa kau datang dengan cara seperti ini? Apa kau sedang di ikuti oleh seorang penguntit?" tanya Gheana sambil melihat ke belakang tubuh Adam.
"Nona Gheana, aku tidak mau berbasa-basi. Kita langsung saja pada inti dari pertemuan ini," jawab Adam tak mau mengulur waktu.
Gheana terdiam. Sedetik kemudian dia tersenyum sambil membolak-balikan buku menu di tangannya.
"Jangan khawatir, Tuan Adam. Kita dalam posisi yang sama, sama-sama hanya menuruti keinginan orangtua kita. Relaks saja, aku tidak akan memaksamu untuk menikahiku," ucap Gheana santai.
Adam menatap dalam ke arah Gheana yang terlihat begitu tenang. Dari kata-katanya barusan, Adam bisa menarik kesimpulan kalau wanita ini memang benar tidak memiliki rasa ketertarikan padanya. Tapi meskipun begitu, Adam harus tetap menjaga jarak. Dia juga berniat memberitahu Gheana tentang hubungannya dengan Rose.
"Nona Gheana, aku sebenarnya sudah menikah. Jadi apapun perasaanmu padaku, aku tidak akan memberikan tempat untuk wanita lain selain istriku. Maaf bukannya aku tidak menghargai dirimu, tapi aku rasa jujur akan jauh lebih baik daripada memberikan harapan palsu. Aku adalah pria beristri, jadi aku dengan tegas menolak perjodohan kita!" ucap Adam tegas.
Gheana diam menyimak perkataan Adam. Dia sama sekali tidak merasa kaget kalau pria ini ternyata sudah menikah. Wajarlah, untuk ukuran seorang Adamar Clarence, sangat tidak mungkin tidak memiliki wanita spesial di hidupnya. Namun, Gheana sedikit penasaran dengan wanita yang menjadi istrinya Adam. Juga kenapa orangtuanya masih membuat janji perjodohan di saat Adam sendiri sudah menikah.
__ADS_1
"Oke, kita lupakan tentang perjodohan tidak penting itu. Boleh aku memanggilmu Adam saja? Aku rasa menjadi teman seorang pria beristri bukanlah suatu masalah. Benar tidak?" canda Gheana sambil terkekeh pelan.
"Terserah kau saja," jawab Adam simple.
"Untuk mengawali pertemanan kita, bagaimana kalau kita makan bersama? Sebenarnya tadi itu aku ingin makan siang denganmu, tapi siapa sangka kalau aku akan langsung ditolak oleh pria beristri. Jadi anggap saja makan siang ini sebagai pelipur lara hatiku yang sedang berdarah-darah."
Sudut bibir Adam berkedut mendengar perkataan Gheana. Dia cukup lega karena wanita ini mau berlapang dada menerima penolakan yang dia lakukan. Adam akhirnya menyetujui keinginan Gheana untuk makan siang bersama sebagai tanda awal pertemanan mereka. Dan juga kebetulan Adam sudah merasa sedikit lapar karena saat di hotel tadi dia belum sempat memakan apapun. Menyebut tentang hotel tiba-tiba saja Adam teringat dengan Rose yang juga belum makan siang saat dia tinggal. Cepat-cepat Adam mengirimkan pesan pada istrinya itu sambil memberitahukan kalau dia akan sedikit terlambat pulang.
Adam: Honey... jangan lupa makan siang. Mungkin aku akan sedikit lama di sini. Tapi tenang saja, hati dan pikiranku hanya tertuju padamu. I love you ๐
"Ekhmm, Adam, tidak bisakah kau fokus pada istri keduamu dulu?" ledek Gheana sambil memasang tampang memelas.
Tatapan Adam langsung berubah.
"Hahaha, aku hanya bercanda, Dam. Kau ini serius sekali sih!"
"Oh, aku pikir kau benar-benar dengan ucapanmu. Padahal aku sudah siap untuk memakimu tadi," sahut Adam sambil menghela nafas.
Adam tersenyum. Wajah cantiknya Rose langsung muncul di matanya. Pikirannya kembali terbayang dengan wajah pasrah istrinya ketika mereka sedang memadu kasih di atas ranjang. Pipi merona, bibir merekah, mata yang sayu, membuat gelenyar aneh muncul di tubuh Adam. Gila, ini benar-benar sangat gila. Hanya dengan membayangkan tubuhnya Rose membuat kepala Adam menjadi pusing. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena lamunan mesumnya itu di hancurkan oleh satu pesan singkat yang membuat Adam mengerucutkan bibir.
Rose: Iya....
"Hei Adam, kau belum menjawab pertanyaanku. Cepat beritahu aku siapa nama istrimu!" protes Gheana.
"Namanya Rose, dia adalah wanita yang sangat cantik dan juga mandiri. Aku sangat mencintainya," jawab Adam.
"Paman Zidane dan Bibi Vanya tahu tidak kalau kau sudah menikah? Maaf, aku tahu ini privasi, tapi jujur saja aku sedikit penasaran dengan hubungan kalian. Aku hanya merasa aneh kenapa mereka masih menjodohkanmu di saat kau sendiri sudah menikah dengan Rose."
Gheana berucap terima kasih pada waiters yang mengantarkan pesanan makanan. Sambil menunggu Adam menjawab, dengan cekatan Gheana menata makanan di atas meja. Dia merasa sedikit canggung saat Adam terus berdiam setelah dia bertanya.
"Kalau kau keberatan tidak usah di jawab, Dam. Aku minta maaf kalau pertanyaanku sudah menyinggungmu."
__ADS_1
"Orangtuaku tidak tahu kalau aku sudah menikah dengan Rose. Dan rencananya aku baru akan memberitahu mereka setelah Rose selesai wisuda," jawab Adam setelah terdiam cukup lama. "Gheana, aku minta kau merahasiakan pertemuan kita. Papaku tidak tahu kalau sebenarnya aku sudah kembali ke negara ini."
"Tenang saja, masalah ini aman di tanganku."
Setelah itu Gheana mengajak Adam untuk menikmati makan siang mereka terlebih dahulu. Sesekali ekor mata Gheana melirik ke arah Adam yang terus sibuk dengan ponselnya. Dia tersenyum. Gheana membayangkan betapa lucunya nanti jika dia menikah dan suaminya sibuk mengiriminya pesan seperti Adam. Rasanya pasti akan sangat bahagia.
"Oh ya Ghe, aku dengar kau baru saja kembali dari luar negeri. Kau akan bekerja dimana setelah ini?"
"Kemungkinan aku akan memulai karier di perusahaan Papa-ku dulu, Dam. Baru setelah mendapat pengalaman aku akan mulai merintis usahaku sendiri. Biasalah, masih anak bawang dalam hal bisnis," jawab Gheana sambil terkekeh.
"Jangan kau pikir aku tidak tahu sepak terjangmu selama ini ya. Meski kau adalah seorang desainer, nyatanya namamu banyak di sebut oleh kolega bisnisku. Itu menandakan kalau kau sudah mempunyai rumah sendiri untuk bisa bergabung di meja kontrak!" ucap Adam memuji.
"Ahaha, kau terlalu terang-terangan memujiku, Dam. Sebenarnya aku tidak sehebat yang kau pikir, semua itu kulakukan atas desakan orangtuaku saja. Mau bagaimana lagi, Papaku adalah seorang pembisnis, sedangkan aku adalah anak tunggal. Rasanya akan sangat mustahil untuk aku bisa melarikan diri dari kursi membosankan itu. Sejak kecil aku menyukai dunia mode, tapi aku juga di takdirkan untuk menjadi seorang penerus. Jadi ya sudah, aku hanya bisa menerima keduanya dengan lapang dada. Toh menjadi seorang pembisnis juga bukanlah sesuatu yang buruk. Justru aku malah bisa mencari nafkah dari dua arah. Menjadi penerus perusahaan sekaligus bisa mendirikan usaha dalam dunia mode. Penuh tantangan bukan?"
Mendengar jawaban cerdas Gheana membuat Adam mengangguk-anggukkan kepala. Dia lalu menyeka mulutnya setelah menghabiskan makanan yang dia pesan.
"Ngomong-ngomong... nanti saat aku mendirikan usahaku sendiri, kau mau tidak menjadi penanam saham pertama di perusahaanku, Dam?"
"Kita lihat bagaimana kau akan menawarkan keuntungan padaku. Jika menggiurkan, aku rasa tidak masalah untuk bermitra denganmu."
Adam dan Gheana sama-sama tertawa setelah berbicara seperti itu. Pertemuan yang awalnya di jadwalkan untuk membahas tentang perjodohan kini berakhir dengan pembicaraan tentang bisnis. Adam sangat lega karena Gheana tidak serepot yang dia pikir. Jadi dia tidak perlu bersusah payah memikirkan cara untuk membujuknya. Dan yang pasti hubungannya dengan Rose akan jauh dari kata pelakor. Cinta mereka aman.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1