
Setelah bersiap, Adam dan Rose bergegas pergi ke markas. Mereka perlu memeriksa keadaan Zidane, mencari tahu apakah ketiga serangkai itu menghabisinya atau tidak.
"Selamat datang, Nona. Selamat datang, Tuan Adam!" sapa para penjaga.
"Ada tamu?" tanya Rose.
"Iya, Nona. Nyonya Liona bilang itu adalah keluarga Nona, namanya Tuan Dante!"
Rose terdiam lama. Dia seperti tidak asing dengan nama tersebut. Tapi di mana dia pernah mendengarnya?
Ngiiinggggg
"Sssshhhh, awwww sakit!"
"Honey, ada apa? Mana yang sakit?" tanya Adam kaget sembari memegang kedua pundak istrinya yang sedang kesakitan.
"Kepalaku sakit sekali, Dam. Rasanya seperti di hantamkan ke batu besar," jawab Rose lirih. Dia pucat pasi dengan keringat dingin membanjiri wajahnya.
Khawatir terjadi sesuatu, Adam langsung mengangkat Rose ke dalam gendongannya. Setelah itu Adam membawanya masuk ke dalam markas sambil berteriak seperti orang gila memerintahkan agar anak buahnya segera memanggil dokter.
"Adamar, ada apa ini?" tanya Grizelle. Dia lalu memekik kaget melihat keadaan putrinya yang sudah seperti mayat hidup di gendongan menantunya. "Astaga Rose, kau kenapa sayang? Putriku kenapa, Dam?"
"Nanti saja aku menjawabnya, Mom. Sekarang lebih baik bantu aku memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaan Rose. Dia sedang kesakitan, aku takut bayi kami kenapa-napa!" jawab Adam sambil menatap cemas ke arah Rose yang hanya diam di gendongannya.
Tak kalah paniknya seperti Adam, Grizelle pun berteriak memanggil dokter yang ada di markas tersebut. Setelah itu dia masuk ke dalam untuk memanggil suami dan keluarganya yang lain. Dante yang saat itu sedang serius membicarakan sesuatu dengan sang nenek kaget setengah mati mendengar teriakan ibunya yang begitu kuat. Segera dia datang mendekat lalu memeluk lembut wanita yang kini sudah menangis di hadapannya.
"Sssttt, tenang dulu, Mom. Ada apa? Kenapa Mommy berteriak?"
"Rose, Dante, adikmu. Dia sedang kesakitan sekarang," jawab Grizelle menahan sesak.
Dante melihat ke arah ayahnya, memberi kode agar semua orang segera pergi untuk melihat keadaan adiknya. Sedangkan dia sendiri, dengan penuh sabar membimbing sang ibu untuk duduk di sofa. Setelah itu Dante mengambil air minum.
"Mom, minumlah!"
"Hiksss ... adikmu, Dante. Wajahnya pucat seperti mayat."
"Jangan khawatir, adikku adalah gadis yang kuat. Rose pasti baik-baik saja, aku yakin itu."
Masih sambil menangis, Grizelle meminum air putih yang di ambilkan putra angkatnya. Namun hanya sedikit, karena pikirannya terusan tertuju pada putrinya yang tidak tahu kenapa bisa jadi seperti itu.
__ADS_1
Saat Dante tengah sibuk menenangkan ibunya, Mona muncul bersama kakek dan juga neneknya. Mereka bertiga sama-sama terkejut melihat Grizelle yang sedang menangis terisak di pelukan seorang pria muda.
"Zel, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Kakek Niel sembari memperhatikan wajah pria muda yang seperti tidak asing di matanya.
"Hiksss, Paman Niel ... Rose, Paman. Dia pingsan."
"A-apa? Rose pingsan?"
Mona langsung berbalik badan hendak pergi mencari Rose. Namun sedetik kemudian dia langsung berdiri tertegun di tempatnya berdiri sekarang.
Tidak, Mona. Kau harus bisa mengendalikan dirimu. Boleh khawatir, tapi kau tidak boleh berlebihan. Ingat Mona, kau sudah berjanji untuk mengakhiri perasaanmu pada Rose. Bersikaplah sewajarnya. Kau pasti bisa.
Tangis Grizelle langsung berhenti seketika saat dia mendengar apa yang tengah di pikirkan oleh Mona. Setelah itu Grizelle menatap putranya lama. Mungkinkah kedua orang ini akan berhasil?
Dante yang sudah di beritahu oleh sang nenek tentang tujuannya diminta datang kemari terlihat begitu datar saat memperhatikan gadis yang bernama Mona. Bukan benci, tapi lebih terkesan oh, jadi dia? Kalian bisa bayangkan sendiri ekpresi seperti apa yang sedang melekat di wajahnya Dante sekarang.
"Lalu Rose ada di mana sekarang, Zel? Apakah keadaannya sangat gawat?" tanya Kakek Niel lagi.
"Dia ada di ruangan pribadinya, Paman. Mungkin sekarang dokter sedang memeriksanya. Kakiku lemas, aku tidak kuat berdiri."
"Ya sudah kalau begitu kalian semua di sini saja dulu. Biar aku yang pergi ke sana untuk melihat keadaan Rose."
Mona masih diam di tempat. Batinnya sedang berperang hebat antara ingin pergi atau tidak. Mona bahkan sampai tidak mendengar pembicaraan sang kakek dengan ibunya Rose saking stresnya dia dalam memutuskan langkah. Rose adalah sahabatnya, juga adalah wanita yang sangat di cintainya. Sungguh suatu pilihan yang sangat sulit sekali bukan?
"Ekhm Mom, apa gadis itu yang bernama Mona?" tanya Dante.
"Iya, sayang. Dia Mona, sahabat dekatnya Rose," jawab Grizelle. "Mona, kemari Nak. Ada yang ingin Bibi kenalkan padamu."
Tak ada respon dari Mona. Hal itu membuat Nenek Shiren mengambil tindakan. Dia dengan lembut mengelus pelan tangan cucunya yang tengah berjuang menahan egonya.
"Mona, Bibi Grizelle memanggilmu, Nak. Dia memintamu untuk mendekat ke sana. Mona?"
"Hah? Iya, Nek. Ada apa?" sahut Mona tergagap.
"Bibi Grizelle memintamu untuk mendekat ke sana. Dia ingin mengenalkanmu pada kakaknya Rose," jawab Nenek Shiren dengan sangat sabar.
Pandangan Mona langsung tertuju pada pria yang sedang duduk di samping ibunya Grizelle. Tatapan mata mereka beradu, tapi tak mampu membuat hati Mona berdesir layaknya gadis normal yang merasa salah tingkah saat di pandang oleh seorang pria.
"Hai, aku Dante. Kakaknya Rose," ucap Dante memperkenalkan diri terlebih dahulu. Dia tersenyum, tapi senyum tersebut memiliki sejuta maksud.
__ADS_1
"Hai, aku Mona. Sahabat Rose," balas Mona acuh.
Dante yang di acuhkan oleh Mona nampak menyeringai tipis. Dia kemudian menoleh ke arah samping saat merasakan ada mata yang tengah mengawasinya.
"Kau jangan macam-macam pada Mona, Dante. Dia nyawanya Rose, kau bisa mati jika berani mengganggunya. Ingat pesan Mommy baik-baik!" tegur Grizelle dengan suara lirih.
"Mom, aku bahkan belum melakukan apa-apa padanya dan dia sudah berani bersikap acuh kepadaku. Bukankah seharusnya yang di tegur itu Mona ya? Kenapa Mommy malah memarahiku?" protes Dante seraya mengerucutkan bibir.
Melihat putra angkatnya merajuk, Grizelle jadi tidak tahan untuk tidak mencubit pinggangnya. Dia lalu mendelikkan mata saat Dante ingin kembali melakukan protes.
"Em maaf Bibi Grizelle, apakah tidak sebaiknya kita pergi melihat Rose saja? Aku khawatir terjadi sesuatu pada bayinya!" ucap Mona sambil menatap tak suka ke arah Dante. Entah apa sebabnya, di mata Mona Dante terlihat seperti monyet yang menjengkelkan. Padahal mereka baru saja kenal tapi dia sudah mempunyai rasa benci yang begitu dalam. Aneh kan?
"Astaga, apa-apaan aku ini!" pekik Grizelle sambil menabok keningnya sendiri. "Putriku sedang kesakitan di sana dan aku malah duduk cantik di sini. Ya Tuhan, Mommy macam apa aku ini!"
Tanpa berpikir apapun lagi, Grizelle langsung berlari pergi menuju ruangan di mana Rose dan yang lainnya berada. Sedangkan Dante, dia masih betah duduk di sana sembari memperhatikan Mona yang sama sekali tidak tertarik kepadanya.
Mata gadis ini buta atau bagaimana sih. Jelas-jelas di hadapannya ada pria tampan, tapi kenapa dia bersikap begitu dingin? Nenek, Mommy, kenapa kalian harus memberiku tugas semenjengkelkan ini sih. Aku ini laki-laki normal, kenapa kalian memintaku untuk mendekati gadis yang bahkan tidak memiliki hawa n*fsu pada lawan jenis? Berat berat.
Mona yang melihat Dante terus menatapnya merasa begitu risih. Dia lalu mengajak sang nenek untuk pergi saja dari sana.
"Dasar mesum," gumam Mona lirih.
"Kau bicara apa, sayang? Nenek tidak dengar," tanya Nenek Shiren.
"O-oh, tidak bicara apa-apa, Nek," jawab Mona tergagap. "Ayo, Nek."
Nenek Shiren mengangguk. Dia tahu ada yang salah dengan sikap cucunya, tapi Nenek Shiren memilih untuk diam. Dia tidak mau membuat cucunya merasa tidak nyaman jika sampai mengeluarkan apa yang ada di dalam pikirannya.
Semoga saja rencana ini berjalan lancar agar Mona bisa kembali ke jalan yang seharusnya. Aminnn.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1