
Adam dengan mesra melingkarkan tangan ke leher Rose dari belakang setelah selesai memainkan satu nada. Ya, seperti yang dikatakan oleh Adam waktu itu kalau dia akan membelikan piano cantik di kost mereka agar memudahkan istrinya untuk latihan. Dan baru saja Rose memainkan sebuah lagu yang nadanya sangat membuai perasaan.
"Denting yang cukup menusuk hati. Apa nama musik yang kau mainkan barusan, Hon?"
"Tuan Regar bilang ini adalah jenis musik kesepian. Rumornya, nada ini dibuat oleh seorang pria yang merasa sedih dan kesepian karena di tinggal pergi oleh wanita yang dia cintai. Lalu musik tadi di populerkan oleh beberapa pianis dunia, salah satunya bernama Tuan Mark. Dia adalah pianis kenamaan yang berasal dari luar negeri," jawab Rose sembari mengusap-usap lengan suaminya.
Mata Rose terpejam saat Adam menciumi puncak kepalanya. Sebenarnya Rose merasa ada keanehan saat memainkan nada tersebut. Dia tak lagi merasa kosong, hatinya hangat dan senyum tak lepas dari bibirnya ketika tuts-tuts piano mulai dia tekan. Berbeda dari hari biasanya yang mana nada ini akan langsung membuat banyak orang meneteskan airmata. Entah sihir apa yang baru saja terjadi, yang jelas Rose hanya merasa gembira dan juga bahagia.
"Honey, apa kau merasakan sesuatu saat bertatapan dengan Uncle Ethan?" tanya Adam penasaran.
"Tidak ada bayangan apapun yang melintas di pikiranku saat itu, Dam. Tapi tatapan matanya membuatku merasa aneh. Hatiku sakit, tapi tidak tahu kenapa."
Adam menghela nafas. Kebenciannya terhadap Flyn kian menjadi, Adam benar-benar sangat ingin mencongkel otaknya saat ini juga. Sungguh kejam manusia yang bernama Flyn itu, tega-teganya dia menghapus semua ingatan Rose tentang keluarganya. Tatapan mata Adam kemudian beralih ke wajah istrinya yang sedang diam dengan mata terpejam. Seulas senyum tipis muncul di bibirnya. Dengan perlahan-lahan Adam berpindah ke sisi Rose kemudian berjongkok di sana.
"Cantik....
"Ya, piano ini memang sangat cantik," sahut Rose pelan.
"Bukan pianonya, tapi kau. Kau sangat cantik saat sedang memejamkan kata begini, Hon."
Mata Rose langsung terbuka saat mendengar gombalan Adam. Ada rona merah yang muncul di wajahnya saat pandangannya bertemu dengan pandangan Adam yang terlihat begitu mendamba. Rose tersipu, dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Jangan melihat ke arah lain, Hon."
"Berhenti menggodaku, Dam."
"Kenapa harus berhenti? Aku sangat suka melihatmu tersipu seperti ini, Honey. Kau terlihat semakin cantik dan mempesona. Ingat ya, rona di pipimu hanya aku saja yang boleh melihatnya. Kau tidak ku izinkan membagi kebahagiaan ini dengan orang lain. Paham?" ucap Adam posesif.
Rose tersenyum. Dia lalu mengangguk pelan.
"Dam,"
"Hmmm....
Adam meraih tangan istrinya kemudian menciumnya berulang-ulang. Dia lalu menatap wajah Rose yang kini telah kembali menatapnya.
"Ada apa?"
"Ibunya Rolland bilang besok Uncle Gabrielle dan Aunty Elea akan datang kemari. Apa kau tahu seperti apa mereka?" tanya Rose.
"Uncle Gabrielle dan Aunty Elea?"
__ADS_1
Rose mengangguk. Entah kenapa dia merasa begitu penasaran dengan kedua orang ini. Seakan ada gambaran kalau wanita yang bernama Aunty Elea bukanlah wanita sembarangan.
"Yang aku tahu mereka adalah pasangan yang sangat unik, Hon. Aunty Elea bukan hanya seorang istri, tapi beliau adalah seorang model dan juga desainer ternama. Latar belakang keluarganya juga tidak main-main. Dia merupakan salah satu pewaris di keluarga Young dan juga cucu dari mendiang Nyonya Clarissa Wu, seorang bangsawan kenamaan asal Kota Paris," jawab Adam. "Kenapa kau bertanya tentang mereka, Hon? Apakah kau mengingat sesuatu?"
"Tidak, Dam. Hanya saja aku merasa kalau Aunty Elea itu berada dalam circle yang sama denganku. Em, ini sulit untuk di jelaskan dengan kata-kata. Hatiku mengatakan kalau kami memiliki satu kesamaan, tapi aku tidak tahu itu apa. Ini yang membuatku merasa sangat penasaran tentangnya."
Ekor mata Adam melirik ke arah jam di tangannya. Sudah hampir jam sebelas malam, waktunya untuk mereka istirahat. Tanpa mengatakan apapun Adam dengan gentle langsung mengangkat tubuh Rose kemudian membawanya ke atas ranjang. Dia tersenyum melihat Rose yang terus memandanginya dengan tangan yang masih menggelayut di lehernya.
"Jangan menatapku seperti itu."
"Kenapa memangnya?" tanya Rose.
"Aku jadi ingin menciummu sampai pingsan."
Rose tergelak mendengar jawaban nyeleneh suaminya. Dia kemudian membelai wajah Adam yang kini sudah berbaring di sebelahnya.
"Lusa acaranya akan di gelar. Apa kau akan datang ke kampus?" tanya Rose.
"Tentu saja. Istriku yang cantik ini ingin menampilkan suatu pertunjukan yang sangat bagus, aku mana mungkin melewatkannya," jawab Adam antusias. "Mommy dan yang lainnya juga akan datang ke sana, Hon. Kami sudah sangat tidak sabar ingin segera melihat betapa bersinarnya kau nanti ketika berada di atas panggung."
"Apa kau tidak khawatir keluargamu tahu kalau kau ada di negara ini?"
"Siang tadi Cesar mengirim pesan kalau besok dia akan pulang. Urusan proyek di sana sudah selesai, Hon. Jadi aku tidak memiliki alasan lagi untuk takut ketahuan oleh keluargaku. Aku sangat pengecut bukan?"
"Bukan pengecut, hanya sedang berusaha menjaga hati," jawab Rose.
"Apapun itu."
Rose menengadahkan wajah menatap wajah suaminya. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Apa Hon?"
"Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan di belakangku? Entah ini benar atau tidak, aku merasa kalau kau tidak sepengecut yang kau katakan. Kau seperti memiliki dua sisi yang berbeda."
Kening Adam mengerut saat dia mendengar pertanyaan Rose. Satu jarinya kemudian bergerak mengusap mata istrinya, kemudian turun ke arah hidung lalu bibirnya. Andai saja Rose bisa membaca isi pikiran orang lain, Rose pasti akan langsung tahu siapa Adam sebenarnya.
"Iya Hon, ada. Tapi aku tidak berencana untuk memberitahukannya padamu. Maaf, bukannya aku egois. Kau hanya perlu tahu kalau aku melakukan hal ini untuk kebaikan bersama. Seperti apapun sisi lain itu, aku akan tetap mencintaimu sepenuh hati. Kau adalah istriku, hidupku, kau segalanya untukku. Jadi aku mohon jangan curiga padaku ya."
Bola mata Rose terus menatap lekat wajah suaminya. Ini terasa ganjil, Adam seperti sedang menutupi suatu rahasia yang sangat besar. Namun melihatnya yang seperti enggan untuk bicara, Rose memutuskan untuk tidak banyak bertanya lagi. Dia yakin kalau suaminya ini pasti memiliki alasan kuat di baliknya.
"Sudah jangan memikirkan apapun lagi. Lebih baik sekarang kau tidur, besok masuk kuliah kan?" ucap Adam.
__ADS_1
"Iya,"
"So?"
Adam meniup mata istrinya yang tak kunjung menutup. Tapi mau sekuat apapun dia meniupnya, mata Rose tetap saja terbuka. Bahkan sama sekali tak berkedip, sangat mirip dengan boneka.
"Hei, ada apa dengan matamu?" tanya Adam keheranan.
"Aku masih ingin memandangmu,"
Glukk
Jakun Adam bergerak cepat saat dia mendengar kata-kata tak terduga dari mulut istrinya. Tiba-tiba saja muncul ribuan kupu-kupu di dalam perutnya ketika Rose mengecup kilat pipinya.
"Ah Honey, kau jangan menggodaku. Ini terlalu manis."
"Bukan aku yang menggodamu, tapi kau yang terlalu mudah tergoda," sahut Rose datar.
"Honey, kenapa kau bicara dengan raut wajah sedatar itu sih? Ini adalah moment yang sangat membahagiakan, harusnya kau tersenyum!" protes Adam melihat sikap istrinya yang terkesan dingin.
"Kebahagiaan tak selalunya harus di tunjukkan dengan senyuman. Dan aku adalah type orang yang hanya akan seperti ini meski hatiku sedang bahagia."
"Owhh... jadi sekarang hatimu sedang bahagia?"
Rose mengangguk. Dia lalu menutup mulutnya saat ingin menguap.
"Good night, my hubby."
Hati siapa yang tidak akan meleleh jika mendapat ucapan selamat malam yang sebegini manisnya. Begitu pun dengan Adam. Bos dari CL Group ini sekarang tengah mengulum senyum saking bahagianya memiliki istri seperti Rosalinda Osmond.
"Good night to, my wife. I love you," bisik Adam sebelum akhirnya ikut terlelap sambil terus memeluk tubuh istrinya.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1