Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Pendosa Yang Sebenarnya


__ADS_3

Gracia berjalan menghampiri sang ayah yang sedang duduk melamun di dekat kolam renang. Dia merasa heran karena sejak kemarin pagi ayahnya ini terlihat begitu murung. Khawatir kalau-kalau sang ayah sedang merasa tak enak badan, Gracia pun memutuskan untuk bertanya saja.


"Pa?"


Satu panggilan tak mampu mengalihkan Zidane dari lamunannya. Dia sekarang tengah terjebak oleh rasa takut yang begitu besar setelah pertemuannya dengan Rose di club malam itu. Bayangkan! Rahasia besar yang selama ini tersembunyi sangat rapat di tangan Zidane dengan mudahnya terbongkar begitu saja oleh seorang gadis yang diam-diam mengawasinya. Sungguh, Zidane sangat amat tidak menyangka kalau Rose memiliki anggota yang begitu mengerikan. Terlebih lagi wanita yang berspesies sama sepertinya, Reinadelwis. Zidane bisa melihat dengan jelas kalau kelompok itu bukanlah kelompok sembarangan melihat bagaimana cara mereka bergerak melumpuhkan Eroz. Dan Rose ... errgghhh, tatapan matanya benar-benar sangat tajam dan mengerikan. Seakan mampu menembus tulang tanpa perlu menyentuh.


"Pa, Papa kenapa?" tanya Gracia sambil mengusap pelan bahu sang ayah.


"Jangan mengganggu Papa, Grace. Papa sedang banyak pikiran," jawab Zidane dingin seraya menepis tangan putrinya.


"Karena itulah aku datang kemari, Pa. Aku tahu kalau Papa sedang memikirkan sesuatu. Jika Papa mau, Papa bisa kok berbagi masalah itu denganku," sahut Gracia tak merasa tersinggung dengan apa yang dilakukan ayahnya barusan.


Zidane menghela nafas. Dia kemudian menoleh, menatap wajah putrinya yang cantik jelita. Ada segurat kecemburuan di mata Zidane ketika menyadari kalau bulu mata putrinya jauh lebih lentik dari miliknya. Seketika Zidane terpikir untuk pergi menemui dokter pribadinya untuk membuatnya mendapatkan bulu mata yang sama persis seperti milik Gracia.


Sialan. Kenapa aku bisa merasa cemburu pada putriku sendiri? Yang benar saja.


"Oh ya Pa, malam ini Kak Adam apa benar-benar akan pulang bersama wanitanya?" tanya Gracia mencoba mencari tahu seperti apa respon sang ayah. Jujur saja, Gracia masih belum merasa tenang karena yang akan di bawa pulang oleh kakaknya bukanlah Gheana, melainkan Rose. Dia takut ayah dan ibunya terkena serangan jantung jika tahu kalau sebenarnya Rose telah resmi menjadi menantu di keluarga Clarence.


"Kakakmu itu tidak pernah mangkir dari ucapannya sendiri, Grace. Kau tidak perlu khawatir, dia pasti akan pulang bersama Gheana," jawab Zidane sambil menarik nafas dalam. "Dimana Mamamu? Apa dia sudah memeriksa persiapan untuk nanti malam?"


"Mama masih belum bangun, Pa. Nanti biar aku saja yang memeriksa jamuannya. Aku malas membangunkan Mama," jawab Gracia pelan.

__ADS_1


"Kau bertengkar dengannya?"


"T-tidak!"


Zidane menyeringai samar. Setelah itu dia kembali melamun memikirkan ancaman Rose. Zidane sungguh bingung harus bersikap bagaimana ketika bertemu dengan gadis itu nantinya. Hanya dengan membayangkan pertemuan mereka saja sudah membuat Zidane merasa ketakutan seperti di paksa berjalan di atas tumpukan jarum tajam. Hidupnya benar-benar sangat kacau sekarang. Rahasia terbesarnya sekarang berada di tangan Rose, wanita itu secara tidak langsung sudah memegang kendali penuh terhadap jati diri Zidane yang sebenarnya.


"Pa, emm jika seandainya Kak Adam bukan pulang bersama Gheana ... apa yang akan Papa lakukan pada wanita itu nanti?" tanya Gracia hati-hati.


"Hanya wanita yang Papa akui saja yang berhak menikah dengan kakakmu itu. Gheana adalah wanita pertama dengan kriteria calon menantu idaman yang sangat Papa inginkan. Dia cantik, cerdas, berprestasi, dan yang lebih penting dia berasal dari keluarga terpandang. Kakakmu adalah satu-satunya pewaris dari CL Group, jadi Papa tidak akan membiarkannya menikah dengan wanita berlatar belakang biasa, apalagi jika asal usulnya sampai tidak jelas. Matipun Papa tidak akan pernah menerimanya menjadi menantu di keluarga Clarence," jawab Zidane tegas akan keputusannya.


Ya Tuhan, bagaimana ini? Apa yang akan terjadi nanti jika Papa tahu kalau wanita yang akan menjadi menantu di rumah ini adalah seorang yatim piatu yang berasal dari pedesaan? Apakah mungkin Papa dan Kak Adam akan terlibat pertengkaran hebat karena Rose? Belum lagi dengan Mama. Mama pasti tidak akan membiarkan Rose masuk ke rumah ini dengan mudah. Apa yang harus aku lakukan?


Gracia bingung sendiri memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi malam nanti. Kalau untuknya pribadi, Grace pastinya berada di pihak sang kakak dengan menerima Rose sebagai kakak iparnya. Dan pilihan ini tulus dari dasar hatinya. Selain karena Gracia berhutang nyawa pada Rose, juga karena dia ingin mendapat perhatian dari sang kakak. Gracia sadar kalau orang yang benar-benar menjaganya hanyalah kakak tirinya itu. Mungkin hubungan mereka memang tidak terlalu dekat, tapi Gracia bisa merasakan kalau sanga kakak sangatlah menyayanginya. Hal inilah yang membuat Gracia bisa dengan mudah memutuskan untuk mendukung hubungan mereka meski dia dan Rose awalnya bermusuhan.


"Aku tidak tahu apakah aku sudah sembuh total atau belum, Pa. Tapi sekarang aku tidak lagi merasa kesakitan seperti di hari pertama. Semua ini berkat Kak Adam. Dia yang membimbingku untuk merubah pola hidup agar bisa pulih dengan cepat," jawab Gracia berkilah.


Apa kalian pikir Zidane akan percaya begitu saja pada kata-kata putrinya? Oh, tentu saja tidak. Dia tidak sebodoh yang kalian pikir. Zidane tentu tidak lupa kalau Adamar dan Gracia memiliki hubungan yang cukup buruk. Kedua anaknya itu tak pernah sekalipun berinteraksi seperti kebanyakan adik kakak di keluarga lain. Jadi sedikit tidak masuk akal jika Gracia tiba-tiba mengatakan kalau di balik kesembuhannya ada Adamar yang memberi perhatian. Benar tidak?


"Kau pergi bangunkan Mamamu saja. Papa ingin sendiri," usir Zidane bosan.


"Papa yakin tidak mau berbagi cerita denganku?" tanya Gracia menawarkan.

__ADS_1


"Papa akan memanggilmu jika memang butuh teman untuk berbagi cerita."


Gracia mau tidak mau akhirnya menuruti keinginan sang ayah. Meski tidak rela, dia tetap melangkahkan kaki pergi dari sana. Gracia kemudian berjalan ke arah dapur, memberitahu pelayan tentang makanan apa saja yang di sukai oleh Rose.


"Kalau Mama dan Papa bertanya kenapa kalian memasak makanan ini, jawab saja kalau aku yang menginginkan. Oke?" pesan Gracia kepada para pelayan.


"Baik, Nona Grace."


Setelah itu Gracia pergi ke kamarnya. Dia menarik nafas panjang saat lagi-lagi harus bertatap muka dengan ibunya yang ingin turun ke lantai bawah.


"Selamat siang, sayang," sapa Vanya sedikit canggung ketika berhadapan dengan putrinya.


"Aku pergi ke kamar dulu, Ma. Jangan lupa memeriksa jamuan untuk menyambut kepulangan Kak Adam bersama kakak ipar!" sahut Gracia acuh kemudian melenggang pergi dari hadapan sang ibu.


Vanya hanya bisa menghela nafas dalam melihat sikap dingin Gracia. Jujur saja, dia sebenarnya merasa sangat sedih. Vanya menyesal atas apa yang dia lakukan pada putrinya waktu itu. Andai saja dia tidak terlanjur terjebak oleh kemewahan yang di berikan oleh Zidane, Vanya pasti tidak akan sudi bertahan dalam kesepian yang tiada berujung ini. Dia adalah wanita normal yang menginginkan kehidupan rumah tangga bahagia bersama anak dan suaminya. Tapi apa mau di kata, semuanya sudah kepalang basah. Vanya sudah benar-benar terbuai oleh gelora dosa di lautan hitam. Dia adalah perwujudan dari seorang wanita, seorang istri dan juga seorang ibu pendosa yang sebenarnya. Miris sekali bukan? Tapi inilah kehidupannya sekarang.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...

__ADS_1


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2