
"Aduuhhh, sayangku. Bagaimana kabarmu hari ini, hm? Kau pasti senang sekali bukan karena akan segera berjumpa dengan Kakek dan Nenekmu?" tanya Reina sambil berjalan menghampiri Mona yang ternyata sudah bangun dan sedang melamun di pinggir jendela.
"Nona Reina, bisakah kau menjawab pertanyaanku? Semalaman aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan hal ini," ucap Mona balas bertanya tanpa membalikkan badan. Di dalam benak Mona sekarang ada banyak sekali pertanyaan yang berseliweran, dan dia sangat berharap kalau wanita seksi ini akan berkenan untuk memberikan jawaban.
Senyum di bibir Reina semakin bertambah lebar begitu dia mendengar pertanyaan Mona. Pertama-tama yang Reina lakukan adalah mengambil sisir kemudian merapikan rambut gadis malang ini dengan penuh perhatian. Sebenarnya Reina iba, tapi apa mau di kata. Kehidupan gadis malang ini benar-benar akan menyulitkan banyak orang jika tetap di biarkan berada di Negara S. Mau bagaimana lagi. Setetes darah yang mengalir di tubuhnya Mona bisa membuat para pengabdi iblis itu merasa sangat dahaga hingga mampu menghalalkan segala macam cara agar bisa mendapatkannya. Termasuk menyatukan semua kelompok organisasi hitam untuk membinasakan satu-persatu anggota yang ada di kelompok Queen Ma. Reina bukan takut, dan dia juga sangat percaya kalau Rose pasti bisa mengatasi masalah ini. Namun tetap saja hal tersebut tidak akan berakhir baik karena bagaimana pun Mona sudah di takdirkan menjadi bagian dari mereka. Dan yang sedang Rose lakukan sekarang hanyalah untuk mengulur waktu saja karena cepat atau lambat, orang-orang gila itu akan tetap menemukan Mona.
Kasihan sekali kau, Mona. Karena ulah dari keluarga Nenekmu, sekarang hidupmu jadi penuh dengan aroma kematian. Sayang sekali. Padahal kau sangat cantik, tidak sepantasnya kau hidup semenderita ini. Tapi apa mau di kata. Terkadang kesalahan yang dilakukan oleh para tetua ataupun leluhur terpaksa harus kita yang menuai karmanya. Aku hanya bisa berdoa semoga saja kau kuat dan mampu bertahan menghadapi kegilaan mereka.
"Bisakah kau menjawab pertanyaanku, Nona Reina? Sebentar lagi aku dan Dante akan segera meninggalkan negara ini, tidakkah kau merasa kasihan padaku?" desak Mona.
"Em baiklah. Akan tetapi aku tidak bisa menjanjikan kalau aku akan menjawab semua pertanyaanmu. Cukup yang aku ketahui saja. Oke?" sahut Reina.
Mona berbalik kemudian mengangguk. Dia lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum melayangkan pertanyaan pada Nona Reina. "Apa benar kalau di manapun aku berada, orang-orang itu akan tetap mengincarku? Dan juga apakah benar keturunan dari seorang penganut sekte nantinya akan tetap kembali pada iblis yang mereka puja?"
"Pertanyaanmu ternyata cukup sulit juga untuk di jawab. Tapi karena sekarang aku sedang senang, maka aku akan memberikan sedikit gambarannya padamu. Tolong dengarkan baik-baik ya!"
Ekpresi di wajah Reina langsung berubah serius saat dia akan mulai membahas tentang sesuatu yang menjijikkan itu. Sambil memilin ujung rambut Mona, Reina pun akhirnya mulai menjelaskan. "Mona, aku sebenarnya tidak tahu pasti apakah benar keturunan seorang penganut sekte nantinya akan tetap kembali pada iblis yang di puja oleh keluarganya atau tidak. Logikanya begini. Kita bisa hidup di dunia adalah karena kehendak Tuhan, itu artinya kita mati pun seharusnya atas kehendak Tuhan juga. Akan tetapi karena di dalam tubuhmu mengalir darah yang sedari awal telah di gadaikan untuk sebuah perjanjian dengan iblis, mungkin-mungkin saja kalau kematianmu nanti akan di kuasai oleh mereka. Namun ini hanya pemikiranku saja ya, yang ku katakan belum tentu benar. Kau mengerti 'kan?"
__ADS_1
"Jadi selamat atau tidak selamat aku akan tetap kembali pada mereka juga?"
"Aku tidak tahu. Akan tetapi Rose dan kami semua akan berusaha semaksimal mungkin untuk melindungimu dari mereka. Perkara apakah nanti kau akan dimiliki oleh mereka atau tidak, aku tidak bisa memberikan jawaban yang pasti!"
"Menyedihkan!"
Mona terkekeh. Namun suara kekehan tersebut sarat akan keperihan yang begitu dalam. Mona sungguh tidak mengerti kenapa orang-orang seperti itu tidak membiarkan saja para keturunannya yang menolak untuk bergabung dengan mereka bisa hidup dengan normal. Tidakkah cukup nyawa orang yang telah melakukan perjanjian yang di ambil oleh iblis? Haruskah dia yang tidak tahu apa-apa di sangkut-pautkan bahkan hampir kehilangan nyawa hanya untuk sebuah pengabdian tidak jelas yang dilakukan oleh para tetua terdahulu? Kejam, mereka benar-benar sangat kejam.
"Mona, kau jangan patah semangat dulu ya. Kau harus yakin kalau manusia itu jauh lebih kuat di bandingkan dengan iblis. Jadi aku harap kau jangan sampai menyerah hanya karena hal ini. Oke?" ucap Reina sembari memeluk Mona dengan sayang. Dia iba sekali, tapi tidak bisa melakukan banyak hal untuk benar-benar bisa membebaskan Mona dari jerat sekte sialan itu.
"Nona Reina, apakah tidak ada cara lain yang bisa di gunakan agar aku terbebas dari petaka ini?" tanya Mona mulai terisak. Dia membenamkan wajahnya ke bahu wanita yang aroma tubuhnya sangat amat wangi.
"Kalau aku mati, apakah semuanya akan selesai?"
Kedua alis Reina saling bertaut begitu mendengar perkataan Mona. Dan sedetik kemudian Reina langsung mendorong tubuh Mona kemudian mencengkeram dagunya dengan sangat kuat.
"Apa kau berniat membuat Rose dan kami semua terlihat seperti kumpulan para pecundang? Hah!" teriak Reina emosi.
__ADS_1
"Ak-aku tidak bermaksud seperti itu, Nona Reina. A-aku hanya ... hanya ....
"Hanya apa, hah! Hanya ingin mengakui hidup dengan harapan bisa terbebas dari semua masalah yang membelit hidupmu, iya?!" amuk Reina menyela omongan Mona. "Kau harusnya sadar, Mona. Kau harus sadar seperti apa perjuangan kami semua untuk menyelamatkan hidupmu. Terutama Rose. Saking dia peduli padamu, dia sampai menjadikanmu sebagai sesuatu yang paling penting di kelompok kami. Kau begitu berharga di matanya, Mona. Jadi aku ingatkan kau jangan sekali-sekali pernah terpikir untuk mengakhiri hidupmu seperti yang pernah kau lakukan waktu itu. Karena apa? Karena jika kau berani melakukannya, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghabisi Kakek dan juga Nenekmu. Paham kau!"
Setelah itu Reina dengan kasar mendorong Mona hingga membuatnya jatuh terjerangkang. Dia mati-matian menahan emosinya agar tidak membunuhmu gadis kerasa kepala ini. Sungguh, Mona benar-benar tidak tahu di untung jika benar dia nekad untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dia to lol.
"Nona Reina, t-tolong maafkan aku. A-aku tadi hanya asal bicara saja. Sungguh!" ucap Mona ketakutan. Tubuhnya sampai gemetar hebat menyaksikan wanita yang biasanya bersikap lemah lembut tiba-tiba menjadi sangat kasar seperti ini. Mona sangat terkejut sekali melihatnya.
"Aku akan benar-benar menghabisi Kakek dan Nenekmu kalau kau berani bicara seperti itu lagi, Mona. Apalagi di hadapan Rose. Aku yakin detik itu juga kau akan langsung dilempar ke meja persembahan olehnya. Coba saja jika tidak percaya!" sahut Reina sembari menggeram marah.
"T-tidak, aku tidak mau. Aku tidak mau mati di tangan mereka, Nona Reina. Aku tidak mau, hiksssss,"
"KALAU BEGITU PATUHLAH. DIAM DAN CUKUP IKUTI APAPUN YANG AKU DAN ROSE PERINTAHKAN. PAHAM!"
"P-paham, aku paham!'
Reina mendengus. Dia lalu memutuskan untuk segera pergi saja dari sana, meninggalkan Mona yang sedang terisak ketakutan setelah di amuk olehnya.
__ADS_1
"Dasar sampah. Bahkan orang miskin pun selalu berusaha agar tetap hidup. Tapi dia? Cihhhh, menjengkelkan!" gerutu Reina sambil membenahi riasan wajahnya. Make-upnya sedikit luntur gara-gara dia emosi. Menyebalkan sekali bukan?
*******