
Di dalam apartemen, terdengar suara Gracia yang sedang terisak pelan sambil memijit-mijit kedua kakinya. Setelah Cesar menyiksanya, tiba-tiba saja sekujur tubuh Gracia terasa sangat sakit. Tulang di tubuhnya seperti di lolosi satu-persatu, membuatnya tak kuasa untuk tidak menitikkan air mata.
"Hiksss, kau benar-benar manusia terkejam yang pernah aku kenal, Cesar. Tega sekali kau menyiksaku sampai seperti ini. Sebenarnya kau itu ingin membunuhku atau melatihku sih?" gerutu Gracia sambil terus menangis.
Walaupun Gracia sudah di beritahu kalau dia harus menjadi gadis kuat jika ingin tetap tinggal bersama kakak dan kakak iparnya, tetap saja pelatihan ini sangat mengejutkan untuk dia terima. Selama ini Gracia tak pernah kelelahan sampai seperti ini, wajar kan kalau sekarang dia menangis karena tak kuat menahan rasa sakit dan ngilu di sekujur tubuhnya? Kendati demikian, hal tersebut tak menyurutkan tekad Gracia untuk menjadi gadis yang kuat. Biarlah sekarang dia menderita, dia rela. Asalkan nanti dia tidak menjadi titik kelemahan kedua kakaknya, maka Gracia akan berusaha sekuat mungkin menahan pelatihan gila yang di berikan oleh Cesar.
Tok tok tok
"Grace, apa kau ada di dalam?"
Gracia langsung menyedot semua ingusnya saat mendengar suara kakak iparnya. Secepat kilat dia membersihkan sisa air mata di wajahnya sebelum berlari membuka pintu kamar.
"Kakak ipar, kau sudah pulang?"
Sebelah alis Rose terangkat ke atas begitu dia melihat mata sembabnya Gracia. Sudut bibirnya berkedut, lucu sendiri menyaksikan Gracia yang pura-pura kuat di hadapannya.
"Kau menangis?"
"Tidak," jawab Gracia singkat. Dia memaksakan bibirnya untuk tersenyum seperti biasa karena tak ingin membuat kakak iparnya kecewa.
Semangat, Gracia. Kau tidak boleh memperlihatkan kesedihanmu di hadapan kakak ipar. Sesakit apapun rasa yang sedang kau tanggung, kau harus tetap tersenyum. Ayo semangat.
"Apa Cesar terlalu keras melatihmu hari ini?" tanya Rose lagi.
"Hehehe, sedikit," jawab Gracia jujur. "Tapi tidak apa-apa, kakak ipar. Aku baik-baik saja dengan pelatihan yang Cesar berikan. Hanya saja karena tubuhku belum terbiasa, jadi otot-ototnya sedikit kaku tadi. Untuk yang lainnya tidak ada masalah lagi. Aman!"
"Kau yakin tidak apa-apa? Kalau sakit bilang saja sakit. Aku bisa maklum karena pelatihan ini adalah yang pertama untukmu. Jujur saja, jangan di tahan-tahan. Nanti kau muntah darah!"
Gracia menggigit bibir bawahnya. Dia galau, bimbang antara ingin menjawab iya atau tidak. Tapi sebelum sempat Gracia memutuskan pilihan, kakaknya sudah lebih dulu datang bergabung. Dia jadi merasa segan untuk mengatakan kalau sebenarnya tadi itu dia sedang menangis gara-gara sekujur tubuhnya yang terasa sangat sakit.
__ADS_1
"Hon, aku menunggu di dalam kamar. Kenapa kau malah ke sini?" tanya Adam. Dia kemudian mengerutkan kening ketika mendapati mata adiknya yang terlihat sembab. "Apa Cesar terlalu kasar padamu hari ini? Kau menangis, Gracia."
"T-tidak kok, Kak. Ak-aku hanya kelilipan saja tadi. Iya, kelilipan," jawab Gracia terbata-bata. Dia merasa sangat amat terintimidasi oleh tatapan sang kakak yang begitu dingin dan dalam.
"Belajar dulu dengan rajin jika ingin membohongiku. Jelas-jelas matamu masih sembab, kenapa tidak mengaku saja."
Rose segera mengelus dada Adam agar sedikit tenang saat bicara dengan Gracia. Dia mengerti kalau suaminya ini tidak terlalu peduli pada adik iparnya. Rose tidak menyalahkan Adam, tapi dia hanya ingin melihat kedua saudara tak sedarah ini akur. Entah kenapa Rose tidak terlalu menyukai sikap Adam yang membenci Gracia.
"Jangan terlalu menekannya, Dam. Kasihan Gracia, dia sedang berjuang sekarang. Sebagai kakak kita seharusnya memberi dukungan, bukan malah mengintimidasinya. Paham tidak!" tegur Rose.
"Hmmmm,"
"Dam?"
"Iya, Honey. Aku tidak akan melakukannya lagi," sahut Adam kemudian mencium puncak kepala Rose.
"Ada apa, Grace?"
"Ha?"
"Ada apa?" ulang Rose. "Kau menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri. Kepalamu sakit?"
"Ooh, tidak, kakak ipar. Aku hanya sedang menghilangkan sebuah pemikiran yang seharusnya tidak muncul di kepalaku. Makanya aku terus menggeleng-geleng tadi. Hehehe."
Mungkin kalau Adam dan Rose adalah orang-orang bodoh, mereka pasti akan langsung mempercayai perkataan Gracia. Sayang, mereka berdua adalah orang yang sangat sulit untuk di kelabui. Termasuk juga pada kepolosan Gracia dalam berbicara. Baik Adam maupun Rose, mereka sama-sama tahu kalau Gracia sedang melamunkan sesuatu yang berhubungan dengan seorang pria. Hal tersebut terlihat jelas di matanya tadi.
"Gracia, kau sudah dewasa. Sebenarnya aku tidak memiliki hak untuk ikut campur pada hidupmu. Tapi jika aku boleh memberi saran, sebaiknya kau jangan memikirkan laki-laki sebelum kuliahmu usai. Kau harus menata masa depan terlebih dahulu, baru setelahnya memikirkan tentang kekasih. Aku tidak melarang, hanya sedikit memberi saran agar hidupmu tidak keluar jalur," ucap Rose memberikan nasehat dengan bijak pada adik iparnya.
"Iya, kakak ipar. Aku akan mendengarkan apa yang kau katakan. Terima kasih sudah mau mengingatkan aku," sahut Gracia menerima dengan baik nasehat dari wanita yang diam-diam memiliki latar belakang tak biasa.
__ADS_1
"Kau sudah makan?"
Adam diam mendengarkan obrolan antara adik dan istrinya. Hatinya terasa hangat, karena ternyata Rose tidak sedingin yang dia kenal dulu. Entah itu karena bawaan bayi, atau memang seperti ini watak asli istrinya. Yang jelas Adam sangat bahagia melihatnya. Rasanya terlalu sulit untuk di lukiskan dengan kata-kata.
"Belum, kakak ipar. Aku tidak berselera."
Sebenarnya Gracia sudah kelaparan sejak tadi, tapi dia enggan untuk sekedar memesan makanan karena kakinya pasti akan sangat sakit jika di bawa berjalan untuk mengambil pesanan. Ini saja dia sudah setengah mati menahannya. Hanya demi kakak ipar, begitu pikir Gracia tadi.
"Makanlah. Kau bisa mati di tangan Cesar kalau tidak mempunyai tenaga. Lupa ya kalau dia itu tidak kenal ampun meski kau adalah adiknya Adam?" ucap Rose memperingatkan. "Jangan cengeng, Gracia. Kau harus pandai-pandai mengatur kebutuhanmu sendiri. Paham?"
"Iya, kakak ipar. Nanti aku akan makan," jawab Gracia kikuk.
Rose menghela nafas dalam kemudian mengajak suaminya pergi dari depan kamar Gracia. Dia tahu kalau adik iparnya itu sedang membutuhkan waktu sendirian untuk menikmati rasa sakit sisa perjuangannya siang tadi. Kasihan sebenarnya, tapi itu harus tetap Gracia lakukan jika ingin tetap bersama mereka.
Sepeninggal kedua kakaknya, Gracia kembali masuk ke dalam kamar. Dia jatuh terduduk di lantai sebelum sempat sampai di ranjang saat kakinya kembali terasa ngilu.
"Hiksss, begini sekali sih perjuangan menjadi wanita yang kuat. Apa iya dulu kakak ipar juga merasakan kesakitan yang sama sepertiku sebelum jadi seperti yang sekarang? Jika benar iya, maka artinya aku tidak sendirian. Hiksss, Mama ... kakiku seperti di lindas truk. Sakit sekali," keluh Gracia yang tanpa sadar memanggil nama ibunya.
Malam masih panjang. Dan sepertinya rasa sakit yang di rasakan oleh Gracia belum akan berakhir. Malam ini dia harus melewatinya dengan menangis sendirian sambil memijit kedua kakinya yang sudah mulai membengkak. Kasihan sekali bukan?
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1