Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Keberpihakan Adam


__ADS_3

Di pagi hari, terlihat Adam yang tengah tertidur dalam posisi duduk sambil menempelkan kepalanya ke ranjang. Karena Rose yang tak kunjung sadar, Adam menolak saat Gerald memintanya untuk beristirahat di kamar yang lain. Adam takut Rose akan terbangun di tengah malam lalu kesakitan seperti tadi, jadi dia memutuskan untuk tidur di ruangan ini saja meski posisi tidurnya sangatlah tak nyaman.


"Kenapa kau membiarkannya tidur di sini?"


"Kalau ada yang susah, kenapa harus yang mudah."


"Hmmm,"


Kurang lebih percakapan seperti itulah yang samar-samar di dengar oleh Adam ketika dia mulai terjaga. Sadar kalau dirinya tak sengaja telah tertidur, setengah terperanjat Adam langsung duduk dengan tegak. Matanya yang memerah tertuju ke arah ranjang di mana semalam Rose terbaring tak sadarkan diri.


"Apa tidurmu nyenyak?"


Rose tersenyum. Lucu juga melihat raut terkejut di wajah suaminya ini. Dan yang paling penting, Rose merasa sangat bahagia karena Adam tak pernah pergi dari sisinya meski hanya sebentar.


"Honey, kau sudah sadar?" pekik Adam kaget melihat Rose yang sedang duduk menyender ke tumpukan bantal di belakang tubuhnya.


"Menurutmu?"


Greepppp


Gerald diam memperhatikan Adam yang tengah memeluk Rose dengan begitu eratnya. Melihat sikap tak tahu malu dari pasangan suami istri ini, tiba-tiba saja Gerald jadi teringat dengan Jessy. Wanita itu pasti sekarang sedang menangis karena merindukannya. Ya, Gerald sangat yakin akan hal itu.


"Dam, kau membuatku sesak nafas," ucap Rose ketika pelukan Adam semakin menguat.


"Ah, Ya Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan?" kaget Adam saat mendengar ucapan Rose. Segera dia mengurai pelukannya kemudian menangkup pipinya penuh rasa khawatir. "Honey, kau baik-baik saja bukan? Rasa sakit itu apakah masih menyiksamu?"


"Sebelum aku menjawab, ada baiknya kau bersihkan dulu tubuhmu. Ini sudah siang, aku lapar," sahut Rose dengan sengaja menjauhkan Adam dari sana saat ekor matanya melihat siluet bayangan tubuh Reina. Rose tahu apa tujuan Reina mendatanginya sekarang.


"Baiklah. Setelah aku selesai mandi aku akan menyuapimu makan. Oke?"


Rose mengangguk. Dia lagi-lagi tersenyum melihat Adam yang langsung melesat pergi sambil menyambar pakaian dari tangan Gerald. Seperti yang kalian tahu, rumah ini bukan sekedar rumah biasa. Dan untungnya postur tubuh Gerald hampir sama dengan Adam, jadi tadi Rose memintanya agar meminjamkan pakaiannya dulu untuk sementara waktu.

__ADS_1


"Masuklah!" ucap Rose meminta Reina agar jangan bersembunyi lagi.


Dan Reina pun muncul. Wanita itu berjalan melenggak-lenggok sambil sesekali melirik ke arah Gerald. Sedangkan Gerald sendiri, dia acuh saja. Karena menurutnya, Simon jauh lebih manis dari wanita yang kini sudah duduk di sebelah kiri sepupunya.


"Tuan Phillipe mengamuk. Dia bahkan berani mempertanyakan tentang dia pada kami bertiga," ucap Reina mengadu akan kejadian semalam. Satu tangannya bergerak memilin ujung rambut sambil memperhatikan wajahnya Rose yang masih sedikit pucat.


"Lalu apa yang kalian lakukan padanya?" tanya Rose.


"Tadinya Lorus ingin menghajarnya, tapi aku cegah karena aku tak mau dia mati di tanganmu," jawab Reina. "Rose, bajingan itu kini telah mengetahui kalau Adam menikahimu. Dan semalam aku dengar anak buahnya manusia batu itu datang membantu anak buah Adam yang tiba-tiba diserang. Sepertinya Adam sudah tahu kalau sekarang gudang miliknya telah direbut oleh sahabatnya sendiri. Miris!"


Ekor mata Rose melirik ke arah Gerald begitu dia mendengar ucapan Reina. Sudah pasti manusia batu yang di maksud oleh Reina adalah sepupunya ini karena Rose tak merasa pernah memberikan perintah agar anak buahnya membantu menyelamatkan anak buah Adam. Hal ini tentu sudah tak mengherankan lagi mengingat organisasi apa yang berada di belakangnya Gerald.


"Apa yang akan kau lakukan saat bertemu dia, Rose?" tanya Gerald akhirnya membuka suara. "Secara tidak langsung, Royce adalah bagian dari seseorang yang telah menghancurkanmu hingga seperti ini. Jadi akan sangat lucu kalau kau hanya akan diam saja. Royce, dia melakukan satu kesalahan besar yang akan membuatnya menyesal telah menjadi bagian dari keluarga Xia."


"Dulu sebelum aku mengenal keluargaku, aku pernah terpikir untuk melenyapkannya dengan cara tersadis yang belum pernah aku lakukan pada orang lain. Namun setelah aku mengenal keluargaku, aku jadi berubah pikiran. Yang sebenarnya masih memiliki darah keturunan keluarga Xia adalah Nenek Abigail dan juga Dante. Jadi aku putuskan merekalah yang lebih berhak untuk memberinya hukuman. Aku cukup meninggalkan cindera mata saja agar Royce ikut merasakan apa yang aku derita selama ini. Kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan?" jawab Rose dengan yakin.


"Hmmm, kau harus membayar mahal jika ingin aku melakukan hal itu."


Gerald melenggang pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun hingga membuat mata Reina terblalak lebar. Sungguh, sedingin-dinginnya Rose dan Lorus, ternyata Gerald seribu kali jauh lebih dingin lagi. Pantas saja mutan buatan organisasi Grisi benar-benar tak memiliki hati nurani, sedang pemimpin mereka saja dinginnya mengalahkan suhu di Kutub Utara. Huh.


"Setelah aku pulang dari sini, kau aturlah pertemuanku dengan Tuan Phillipe. Aku ingin semua masalah ini segera selesai, Reina. Usia kandunganku akan bertambah semakin besar di setiap harinya, jadi jika masalah ini terus di tunda aku takut calon anakku akan ikut menjadi korban. Kasihan dia. Cukup dia menanggung sakit akibat racun sialan ini saja, tidak dengan yang lain!" perintah Rose sembari mengelus perutnya penuh kasih. Dia sudah mengetahui hal ini dari Gerald tadi, makanya Rose berniat mempersingkat waktu yang ada. Dia ingin fokus pada kehamilannya saja.


"Baiklah, sesuai yang kau inginkan!" sahut Reina menyanggupi perintahnya Rose. "Lalu di mana aku harus mengatur tempat, Rose? Apa kau ingin datang ke kamar hotel tempat Tuan Phillipe menginap?"


"Bawa dia pulang ke rumah saja. Di sana ada banyak orang yang bisa membantu melindungi kehamilanku jika nanti Adam sampai mengamuk setelah mengetahui kebenarannya. Aku bukan takut, tapi aku hanya ingin melindungi bayiku. Kau bisa memahami perasaanku bukan?"


Reina mengangguk. Dia lalu memeluk Rose dengan hati-hati, memaklumi perasaan rapuh yang mulai timbul di diri ibu hamil ini.


"Kau jangan takut, Rose. Masih ada kelompok Queen Ma yang siap mati untuk menjaga calon Tuan baru kami. Kau tidak sendirian, sayang."


"Ya, aku tahu itu."

__ADS_1


Adam yang sudah selesai membersihkan tubuhnya dengan tergesa-gesa kembali ke ruangan tempat Rose berada. Namun sesampainya di sana, Adam dibuat heran melihat Reina yang tengah memeluk istrinya.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?"


"Tentu saja mengunjungi kesayanganku. Apalagi memangnya?" sahut Reina langsung naik darah mendengar nada cetus yang keluar dari mulutnya Adamar. Dia lalu mengurai pelukannya dari tubuh Rose.


"Oh,"


"Oh?"


Terdengar helaan nafas kasar saat Adam dan Reina ingin kembali berdebat. Sadar kalau sikap mereka telah mengganggu Rose, Adam dan Reina memilih untuk berdamai sejenak demi menjaga suasana hati wanita ini. Setelah itu Adam duduk di sisi ranjang yang bersebelahan dengan Reina, lalu dengan manisnya mencium pipinya Rose yang masih terlihat sedikit pucat.


"Honey, kau ingin makan apa?" tanya Adam dengan penuh perhatian.


"Sup abalon yang di campur dengan rempah komplit," jawab Rose sambil menelan ludah.


"Sup abalon yang dimasak dengan rempah komplit?"


Reina ternganga. Tak terbayang dalam otak Reina akan seperti apa rasa dari makanan tersebut. Dia sampai merinding hanya dengan membayangkannya saja.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan meminta Mommy untuk memasaknya dulu. Em, kau ingin makan siang di sini atau di rumah?"


"Di rumah."


"Oke."


Setelah mengirim pesan pada ibu mertuanya, Adam langsung menggendong Rose dan membawanya ke mobil. Dia kemudian tersenyum saat Rose terus menatapnya tak berkedip.


Honey, aku tahu kau sedang memikirkan kepada siapa aku akan berpihak. Jangan khawatir. Sejak menikah denganmu, aku telah menyerahkan segalanya untukmu. Apalagi sekarang kau sedang hamil, jadi tidak mungkin untukku berpihak pada orang selain kalian berdua. Kau dan calon anak kita adalah tujuan hidupku sekarang. Dan aku mencintai kalian melebihi rasa cintaku pada diriku sendiri. Aku tidak bohong.


***

__ADS_1


__ADS_2