
"Mau pergi kemana kau!" hardik Zidane ketika melihat putrinya tengah mengendap-endap keluar dari dalam kamar.
Tubuh Grace langsung membeku di tempat. Dia gemetaran saking takutnya mendengar suara sang ayah. Setelah penggerebekan malam itu, Grace tidak di izinkan keluar dari dalam kamar. Bahkan seluruh barang miliknya di sita paksa dengan alasan sebagai hukuman. Grace waktu itu hanya bisa pasrah karena dia memang bersalah. Tapi kali ini dia benar-benar ingin pergi mengunjungi kakaknya. Dia butuh kasih sayang dari saudara tirinya itu untuk menjadi obat penenang dalam jiwanya yang sedang tersiksa.
"Apa sekarang kau menjadi bisu gara-gara barang haram itu hah!"
"T-tidak, Pa. A-aku ... aku hanya ingin," ....
"Ingin apa?" tanya Zidane sinis sembari berjalan mendekat ke arah putrinya. "Ingin kembali membuat ulah? Iya?"
Grace menggeleng. Dia kemudian memberanikan diri untuk berbalik menatap wajah ayahnya. Sungguh, untuk pertama kalinya Grace melihat wajah sang ayah yang begitu menakutkan. Bahkan jauh lebih menakutkan di bandingkan ketika dia di antar pulang oleh pihak kepolisian.
"A-aku ingin pergi menemui Kak Adamar, Pa. D-dia yang memintaku," ucap Grace berbohong.
Ya Tuhan, tolong buat Papa percaya padaku kali ini. Aku benar-benar sedang sangat membutuhkan Kak Adamar sekarang. Seluruh tubuhku sudah sangat sakit, aku seperti ingin mati. Tolong aku, Tuhan, batin Grace.
"Untuk apa kau menemuinya?" tanya Zidane curiga.
"Kakak yang memintaku datang ke apartemennya, Pa."
"Benar begitu?"
Grace mengangguk. Tangannya yang gemetaran saling meremas ketika sang ayah menatapnya lekat.
"Papa akan langsung membunuhmu kalau kau sampai ketahuan berbohong, Grace!" ucap Zidane yang akhirnya memilih untuk percaya.
"I-iya, Pa. K-kalau begitu aku pergi dulu," pamit Grace seraya menarik nafas lega.
"Sopir akan mengantarmu pergi ke apartemen kakakmu. Ingat Grace, jangan main-main dengan Papa!"
"Aku tidak berani, Pa."
Zidane mengangguk puas. Setelah itu dia berjalan keluar untuk memberitahu sopir agar mengantarkan putrinya ke apartemen Adamar.
"Bunuh gadis sundal ini kalau dia berani macam-macam di jalan!" pesan Zidane sesaat sebelum mobil bergerak pergi.
"Baik, Tuan Zidane!"
Grace sama sekali tidak berani menatap wajah ayahnya saat itu. Dia hanya duduk sambil menundukkan kepala. Selama dalam perjalanan, Grace tidak bicara sepatah katapun. Yang dia lakukan hanyalah diam menahan rasa sakit yang luar biasa akibat candu dari obat-obatan yang dia konsumsi. Hingga tak berselang lama mobil yang dia naiki sampai di parkiran apartemen milik kakaknya.
"Perlu saya antar naik ke atas tidak, Non?" tanya si sopir khawatir melihat wajah anak majikannya pucat pasi dan di banjiri keringat.
__ADS_1
"Tidak usah. Aku bisa pergi sendiri," jawab Grace kemudian buru-buru masuk ke dalam gedung.
Anak buah Rose yang saat itu berjaga di sana langsung memberi kabar tentang kedatangan Grace. Salah satu dari mereka kemudian pergi menuju mobil untuk mengambil sesuatu.
"Kak Adam, tolong aku. Aku kesakitan!" keluh Grace saat sedang berada di dalam lift.
Kamar Adam berada di lantai paling atas. Dan begitu pintu lift terbuka, Grace langsung sampai tepat di depan pintu kamar kamar sang kakak. Baru saja Grace hendak mengetuk pintu, tiba-tiba saja pintu apartemen sudah terbuka dengan sendirinya.
"Kau datang rupanya!"
Hampir saja Grace menjerit kencang karena terkejut melihat seseorang berpakaian putih tiba-tiba muncul di hadapannya. Dia yang tidak tahu menahu tentang orang tersebut pun langsung melangkah mundur. Tapi baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, dari luar tiba-tiba ada yang menerobos masuk kemudian langsung menyuntikkan sesuatu ke lengannya.
"Aakkhhhhh!"
"Jangan berisik. Suamiku sedang istirahat!" tegur Rose seraya membungkam mulut Grace dengan tangannya.
Suami? Apa maksudnya ini? batin Grace.
"Pergilah!" usir Rose pada anak buahnya.
"Baik, Nona!"
Rose menarik nafas dalam-dalam sebelum melepaskan Grace. Dia lalu tersenyum mencibir, menyaksikan betapa kacaunya keadaan adik iparnya ini.
"Aku kakak iparmu."
"Jangan sembarangan bicara kau. Kakakku belum menikah!"
Plaakk
Grace jatuh tersungkur setelah mendapat satu tamparan di wajahnya. Dan ketika dia menoleh ke arah wanita yang mengaku sebagai kakak iparnya, lampu apartemen menyala. Membatu, itu yang terjadi pada tubuhnya Grace begitu dia melihat siapa wanita yang tengah berdiri di hadapannya.
"R-Rose," ....
"Ya, ini aku," sahut Rose datar.
"Ini, bagaimana mungkin? Kau ... kau istri kakakku?" tanya Grace kebingungan.
"Bangun!"
"Hah?"
__ADS_1
"Apa kau ingin aku memotong sebelah telingamu?"
Rose menghela nafas.
"Aku sudah menikah dengan Adam beberapa waktu lalu. Dan orang yang membuatmu tertangkap basah oleh pihak kepolisian adalah aku. Jadi kalau kau ingin marah, bangun dan lawan aku. Jangan jadi lemah hanya gara-gara satu pukulan, Grace. Aku jijik melihatnya!"
Kata-kata yang di lontarkan oleh Rose bagai hujaman belati tajam yang menusuk dadanya Grace. Mendengar fakta kalau kakaknya telah menikah dengan musuhnya saja sudah membuatnya tidak bisa berpikir dengan benar, di tambah lagi sekarang Rose mengakui kalau dalang di balik penggerebekan di hotel adalah ulahnya. Adakah kabar yang jauh lebih mengejutkan lagi dari pada ini?
"Kau gila ya Rose. Apa hakmu melaporkan transaksi itu pada pihak kepolisian? Kau sengaja ingin memperalat aku untuk mencoreng nama baik keluarga Clarence ya? Iya?" sentak Grace tak habis pikir.
"Tidak ada untungnya aku melakukan hal bodoh seperti itu, Grace. Aku melakukannya semata-mata hanya karena tidak ingin melihatmu terus di perdaya oleh kedua temanmu itu. Jika saja para polisi tidak datang menangkapmu di hotel, saat ini kau pasti sudah menjadi budak **** dari penjual barang haram itu. Sadar tidak kalau selama ini kau hanya di jadikan sebagai badut bodoh yang bisa mereka tipu sesuka hati. Sebegitu kesepiannya kah hidupmu sampai-sampai kau tidak bisa membedakan mana teman dan mana musuh? Sebagai istrinya Adamar Clarence, aku malu menyebutmu anggota keluarga, Grace. Bodohmu tidak ada obat!"
Setelah berkata seperti itu Rose berjongkok di samping Grace yang tengah terbengang syok. Dia lalu mencapit dagunya Grace agar menghadap ke arahnya.
"Kau tidak akan merasa sakit untuk beberapa hari ke depan karena anak buah kakakmu sudah menyuntikkan obat. Tapi rasa sakit itu akan kembali datang kalau kau tidak segera merubah pola hidupmu yang selalu berfoya-foya dan malas bergerak. Ingat Grace, aku melakukan ini bukan karena peduli padamu, melainkan demi kakakmu. Karena bagiku tidak ada gunanya menolong sampah yang tidak menyadari jika dirinya itu sampah. Kau paham kan?"
Grace menelan ludah.
"Benar kau kakak iparku?" tanya Grace memastikan.
"Aku tidak butuh mengakuanmu."
"Tolong jawab aku kenapa dan bagaimana kau bisa menikah dengan kakakku!" teriak Grace mulai frustasi. "Tolong jawab, Rose. Jangan membuatku gila!"
Rose diam saja. Dia lalu berbalik masuk ke dalam. Namun sedetik kemudian dia kembali sambil menodongkan senjata ke arah Grace.
"Kau harusnya bisa memilah dengan baik apakah akan membocorkan masalah ini pada orangtuamu atau tidak. Karena kata yang keluar dari mulutmu akan menjadi penentu kemana peluru ini akan bersarang!" ucap Rose dengan sorot mata penuh ancaman.
"Kau mengancamku?"
"Tidak. Tapi aku akan langsung membunuhmu kalau kau berani melewati jalur yang tidak seharusnya kau lalui!" jawab Rose. "Pergilah. Di luar ada anak buah kakakmu yang akan mengantarkanmu pulang ke rumah."
Seperti kerbau yang di colok hidungnya, Grace dengan patuh mengikuti perintah Rose. Sungguh, dia tidak menyangka kalau musuh abadinya kini telah menjadi kakak iparnya. Namun, di balik fakta yang mengejutkan ini ada sebersit rasa kagum di benak Grace.
Rose, aku tidak tahu apa sebenarnya tujuanmu melakukan ini semua. Tapi terima kasih kau sudah menolongku. Tanpa bantuanmu, mungkin sekarang aku sudah terjerat dengan sesuatu yang jauh lebih mengerikan lagi daripada obat terlarang itu. Aku berhutang budi padamu, Rose.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช...
__ADS_1
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...