
Rose menyunggingkan senyum ter-ramah yang dia miliki ke arah Gheana yang tengah menatapnya dengan mulut ternganga lebar. Bersama dengan Adamar, Rose melangkah mendekati wanita yang baru saja terjebak oleh rencana yang dia buat sendiri.
"Apa kabar, Nona Gheana? Tidak kusangka kita akan bertemu dalam situasi yang seperti ini. Bagaimana? Apa kau senang dengan kejutan yang di berikan oleh Cesar, hm?" tanya Rose.
"I-i-ini ... bagaimana bisa? K-kenapa kau bisa ada dua?" sahut Gheana tergagap. Sungguh, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi di hadapannya. Bagaimana bisa seorang Rose menjadi dua orang? Mustahil, ini sangat sulit untuk di percaya. Tidak mungkin Tuhan menciptakan dua orang yang begitu serupa, bahkan pakaian yang mereka kenakan pun sama. Jika kalian ada di posisi Gheana, kalian pasti akan merasakan sendiri betapa kemungkinan ini sangat mustahil untuk bisa terjadi. Sungguh.
"Kenapa?"
Adamar terkekeh. Dia kemudian berjongkok, menekuk sebelah kakinya lalu meminta Rose agar duduk di sana. Sambil membelai perutnya Rose, Adam sedikit memberi gambaran pada Gheana kenapa istrinya bisa ada dua orang.
"Gheana, pertanyaan kenapa Rose bisa ada dua, jawabannya adalah karena kau bodoh. Ya, kau bo doh. Benar-benar sangat bodoh. Harusnya itu kau mencari tahu lebih dulu siapa musuh yang ingin kau targetkan, bukan malah langsung mengatur strategi tanpa memikirkan dampak dan resiko yang bisa kau terima. Aku paham, mungkin kau mengira kalau Rose itu hanyalah seorang gadis miskin yang berasal dari pedesaan. Tapi sayangnya identitas Rose tidak serendah yang kau bayangkan!" ucap Adamar. "Apa kau tahu, Rose istriku ini adalah cucu dari seseorang yang tidak sepatutnya untuk kau singgung. Em begini saja. Di Negara N, apa kau mengenal keluarga Ma dan keluarga Osmond?"
"Keluarga Ma dan keluarga Osmond?" sahut Gheana. Dia diam berpikir sebelum akhirnya menganggukkan kepala. "Ya, aku mengenal mereka, Dam. Tapi aku tidak dekat."
"Rosalinda Osmond, dia adalah cucu dari Nenek Liona Serra dan Kakek Greg Ma. Yang artinya ... kau tahu sendiri bukan apa lanjutan dari kata-kataku, hm?"
Whaaaatttt? Tidak mungkin. Bagaimana bisa Rose berasal dari dua keluarga mengerikan itu? Tidak-tidak, Adamar pasti hanya sedang bergurau saja. Rose tidak mungkin menjadi bagian dari keluarga itu. Tidak mungkin.
"A-Adamar, kau salah paham. Aku-aku sama sekali tidak ada niat untuk menyakiti Rose. Sungguh!" ucap Gheana yang tanpa berpikir panjang langsung melayangkan pembela-dirian di hadapan pria incarannya. Dia tak mau Adam sampai membencinya.
"Yow,, Nona Gheana. Adam bahkan belum menanyakan apa-apa dan kau sudah begitu terburu-buru membersihkan namamu. Ada apa? Sepertinya kau panik sekali!" ucap Rose dingin. Dia kemudian berdiri menghampiri Gheana lalu memelintir tangannya yang sempat di tato oleh Reina.
"Akkhh, sakit Rose. Lepaskan!" jerit Gheana. Tangannya serasa kebas.
"Lepas? Hmmm."
Bukannya melepaskan, Rose malah semakin kuat memelintir tangan Gheana. Rasa kasihan seolah lenyap dari pikirannya setelah menyaksikan betapa kejamnya Gheana memaksa mutan itu untuk menggugurkan kandungannya. Walaupun yang menelan obat tersebut bukan Rose, tapi rasa sakit itu seakan sampai di tubuhnya. Rose tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia yang berada di posisi mutan tersebut. Pasti akan sangat menyakitkan karena kita di paksa untuk membunuh darah daging kita sendiri. Benar-benar wanita iblis, hati Gheana begitu kejam.
"Rose, sakit Rose. Adamar, tolong aku. Rose menyakitiku!" rengek Gheana sambil menatap penuh harap ke arah Adamar.
"Sekalipun dia mencincang tubuhmu aku tidak akan pernah menolongmu, Gheana. Kau terlalu kejam untuk ukuran seorang wanita. Sungguh tidak terduga kalau putri kesayangan keluarga Lutfer yang selama ini begitu di elu-elukan oleh keluarganya, ternyata menyimpan sisi yang begitu gelap. Menjijikkan!" hardik Adamar. Setelah itu dia melihat ke arah Cesar yang masih setia memegangi tubuh Gheana agar tetap berdiri. "Ces, mau sampai kapan kau menolongnya?"
"Ehehehe, aku lupa, Dam."
__ADS_1
Dalam waktu singkat tubuh Gheana langsung limbung ke tanah. Wajah yang tadinya memancarkan senyum kemenangan kini telah berganti menjadi raut wajah penuh pesakitan. Bagaimana tidak! Setelah Rose memelintir tangan Gheana, kini giliran kakinya yang di injak dengan sangat kuat. Gheana bahkan sampai tidak bisa mengeluarkan suara saking sakitnya dia menerima penyiksaan tersebut. Sungguh, tak pernah Gheana sangka kalau rencana yang sudah di atur dengan begitu apik malah berbalik menyerangnya sendiri. Siapa yang akan menyangka kalau orang yang menjadi partner kita ternyata adalah seorang pengkhianat. Menyesal sudah Gheana sekarang. Selain karena dia yang terjebak oleh rencananya sendiri, dia juga telah kehilangan separuh saham miliknya di perusahaan. Cesar benar-benar k*parat.
"Nona Gheana, aku ingin memberitahukan sesuatu hal kepadamu. Semua yang kau katakan di hadapan Rose palsu ini telah di rekam dan di siarkan secara live oleh anak buahku. Dan besar kemungkinan kalau sekarang kau sedang menjadi buah bibir orang-orang yang tinggal di negara ini, termasuk juga dengan keluargamu. Aku yakin saat ini keluargamu pasti sedang di serang oleh banyak media yang ingin memastikan kabar kebenaran dari live yang tadi berlangsung. Bagaimana? Apa kau kaget?" tanya Rose.
"A-apa?"
Hancur sudah. Bagaimana mungkin Gheana tak menyadari kalau tempat ini telah di pasang kamera untuk merekam semua hal yang dia katakan? Celaka, ini benar-benar celaka.
Brengsek kau, Tuan Cesar. Kenapa kau tega mengkhianati aku seperti ini? Dan ... dan kenapa juga aku bisa begitu mempercayainya sampai melupakan fakta kalau dia adalah kaki tangannya Adamar. Arrgghhh, apa yang harus aku lakukan sekarang? Semuanya hancur. Hancuuurrrrrr!!
"Honey, kau sudah terlalu lama berdiri. Itu tidak baik untuk kesehatan anak kita," ucap Adamar sedikit khawatir melihat Rose yang tidak berhenti menginjak kaki Gheana. Dia takut kalau guncangan yang terjadi bisa berimbas pada keselamatan anak mereka.
"Tidak apa-apa, Dam. Anggaplah ini sebagai olahraga ringan sebelum kita mengirim Nona Gheana pergi ke labolatorium," sahut Rose dengan entengnya.
"Labolatorium? Apa maksudmu, Rose?" tanya Gheana sambil menahan rasa sakit.
"Aku hanya ingin bersikap baik, Nona Gheana. Saat ini kan kau sedang menjadi bahan pembicaraan yang sangat hangat, jadi aku berinisiatif untuk mengirimmu pergi ke suatu tempat di mana tidak akan ada orang yang bisa mengetahui keberadaanmu. Dan labolatorium yang aku maksud adalah labolatorium Grisi di mana tempat itu menjadi tempat berkumpulnya para ilmuwan yang gila akan eksperimen. Atau lebih simpelnya kau akan aku kirim sebagai kelinci percobaan mereka. Begitu."
Ini benar-benar gila.
"R-Rose, j-jangan gila kau. T-tolong lepaskan dan biarkan aku pergi dari sini. Aku minta maaf kalau apa yang aku lakukan sudah membuatmu marah, Rose. Tolong jangan lakukan ini padaku!" teriak Gheana ketakutan. Dia berusaha bangkit kemudian memeluk kedua kakinya Rose dengan sangat erat. Tubuh Gheana bergetar hebat, dia benar-benar sangat ketakutan sekarang.
"Ayolah, Nona Gheana. Jangan merecoki kesenanganku," ucap Rose tak suka saat kakinya di sentuh oleh Gheana. Dia benci sentuhan orang asing.
"Tolong jangan kejam padaku, Rose. Aku minta maaf, tolong jangan kirim aku ke labolatorium itu ya? Aku janji aku tidak akan mengganggu rumah tanggamu bersama Adamar lagi. Sungguh!" sahut Gheana dengan wajah pucat pasi.
Rose menghela nafas. Adamar yang tanggap kalau istrinya merasa tak senang pun segera mengambil tindakan. Dia dengan kasar menjambak rambut Gheana hingga wajahnya terdongak ke atas kemudian menampar pipinya dengan sangat kuat.
Plaak plaak
"S-sakiitt," desis Gheana lirih. Matanya berkunang-kunang setelah Adamar dengan kejam memukul wajahnya.
"Sakit ya?" ejek Adamar. "Cepat singkirkan tanganmu dari kakinya Rose atau aku akan memotong kedua tanganmu sekarang juga. Cepat singkirkan, brengsek!"
__ADS_1
"Ada ....
Plaaakkk
Satu tamparan kembali mendarat di pipi Gheana saat dia hendak memanggil Adamar. Karena pukulan tersebut sangat kuat, Gheana akhirnya jatuh tak sadarkan diri. Rose yang melihat kalau targetnya sudah lemah tak berdaya segera menghentikan Adamar yang ingin kembali memukulnya.
"Sudah cukup."
"Tapi aku masih belum puas menghajarnya, Honey," sahut Adamar sedikit tak rela.
"Hanya seorang pengecut yang menyerang lawannya yang sudah tidak berdaya. Gheana sudah pingsan, harga dirimu tentu tidak serendah itu bukan?" tanya Rose maklum akan amarah yang ada di diri suaminya.
Adamar menghela nafas. Dia mengumpat pelan ke arah Gheana kemudian memeluk Rose dengan hati-hati. Adam benar-benar sangat kesal sekarang. Emosinya tertahan.
"Jangan marah. Nanti kau bisa melihat Gheana jauh lebih tersiksa daripada ini setelah dia sampai di labolatorium Grisi."
"Apa mungkin untuk aku masuk ke sana?"
"Kenapa tidak?"
Adam, Rose, dan Cesar berbalik menatap ke arah belakang. Mereka memasang ekpresi datar ke arah rombongan keluarga yang muncul dengan membawa aura kegelapan yang begitu kentara. Di belakang mereka muncul sesosok mutan menyerupai Gheana yang nantinya akan menggantikan posisi wanita itu selama berada dalam kungkungan anggota ilmuwan Grisi yang terkenal kejam dan psycho.
"Sayang, kau tidak apa-apa 'kan?" tanya Grizelle setelah sampai di hadapan putrinya. Dia menelisik dengan penuh teliti ke seluruh tubuh putrinya untuk memastikan kalau dia baik-baik saja.
"Ya," sahut Rose singkat.
"Hmmm, Gheana benar-benar kasihan. Akibat keserakahannya sekarang dia harus mengalami nasib sial seperti ini. Sayang sekali, padahal dia termasuk wanita berkelas yang memiliki cara unik dalam berbisnis. Harta benar-benar bisa membutakan siapa saja yang di singgahinya!" ucap Liona sambil menatap datar ke arah wanita yang kini berada dalam gendongan mutan. Kedua orang itu akan bertukar posisi, jadi si mutan perlu menukar pakaian Gheana dengan baju yang di pakainya.
Semua orang hanya diam mendengarkan perkataan Liona sambil menunggu sang mutan selesai dengan pekerjaannya. Setelah itu muncul beberapa orang berpakaian serba hitam yang datang untuk menjemput Gheana menuju labolatorium Grisi.
Keserakahan membawamu masuk ke dalam jurang kegelapan, Gheana. Hmmm
*****
__ADS_1