
Brruuggghhh
Seorang pria dengan wajah yang di penuhi codet jatuh tersungkur di bawah kakinya Rose dan Adam. Pria tersebut kemudian mendongak, menatap penuh penasaran ke arah dua orang yang tengah duduk diam sambil menatapnya datar.
"Dam, bajingan ini adalah kepala geng dari sekelompok orang yang tadi menyerang Lorus dan Reina!" lapor Cesar seraya menempeleng kepala tawanannya.
Sebelah alis Rose terangkat ke atas.
"Kenapa tidak ada yang memberitahuku tentang hal ini?" tanya Rose dingin.
"Honey, tadi kau ....
"RESAN!"
Resan yang saat itu masih berada si luar kamar langsung berlari masuk ketika mendengar suara teriakan nonanya. Waktunya sudah tiba, itu yang dia pikirkan sesaat setelah sampai di hadapan sang ketua.
"Ya, Nona!"
"Apa kau sudah bisu?" tanya Rose sarkas. Dia menepis tangan Adam yang ingin mengelus punggungnya.
"Maaf, Nona. Saya bersalah karena tidak segera melaporkan hal ini tadi. Mohon Nona memberikan hukuman sebagai penebus kesalahan yang sudah saya lakukan!" jawab Resan tanggap akan masalah yang membuat Nona-nya menjadi sangat marah.
Rose berdecih. Dia kemudian turun dari atas ranjang, melirik sekilas ke arah Adam yang ingin menghentikan langkahnya. Tapi apa yang terjadi selanjutnya sangat di luar dugaan. Awalnya semua orang mengira kalau Rose akan memberi pelajaran pada Resan. Namun yang terjadi adalah ....
Buugghh buugghh
"Jadi kau yang menjadi otak penyerangan pada anak buahku, hah!" teriak Rose seraya menjambak rambut pria yang baru saja dia tinju wajahnya. Rose menyeringai ketika melihat darah mengucur deras dari kedua lubang hidung bajingan ini. "Siapa kau? Kelompok mana yang sudah dengan lancangnya mengibarkan bendera perang pada kelompok Queen Ma? Siapa? Jawab aku!"
Adam segera mendekati Rose ketika melihat emosinya yang mulai tidak stabil. Bukannya apa, Adam hanya takut kalau emosi istrinya ini akan mempengaruhi tumbuh kembang calon anak mereka.
"Calm down, Honey. Ingat, kau sedang hamil. Jangan terlalu banyak menguras emosi, nanti bayi kita kenapa-napa," bisik Adam sambil mengelus pelan perutnya Rose. Dia mencoba meredam amarah istrinya yang sedang sangat menggelegak.
"Dia menyentuh orang-orangku, Dam. Aku tidak boleh tinggal diam!" sahut Rose tanpa melepaskan jambakan tangannya.
"Iya, aku tahu. Tapi bukan berarti aku akan mengizinkanmu membahayakan keselamatan calon anak kita!" ucap Adam dengan sabar. "Masih ada aku, Honey. Ada aku yang akan menggantikanmu memberi pelajaran pada sampah ini. Sekarang lebih baik kau duduk saja ya? Biar aku yang urus!"
"Pastikan kelompok bajingan ini terprovokasi, Dam. Aku sangat ingin membunuh orang sekarang!"
__ADS_1
"Apapun itu, Honey."
Adam dengan penuh perhatian membimbing Rose agar kembali duduk di ranjang. Setelah itu dia berbalik, menatap satu-persatu wajah orang yang tengah berkumpul di dalam ruangan tersebut.
"Dimana Lorus?"
"Dia sedang bertarung dengan malaikat maut," jawab Reina asal. "Peluru mereka tercampur racun. Dan orang-orangmu tadi sudah menyuntikkan obat penawar ke tubuhnya. Jadi aku berani jamin kalau Lorus belum akan mati sekarang."
"Lalu kau?" tanya Adam. Dia perlu memastikan kalau orang kedua terkuat di kelompok Queen Ma ini baik-baik saja. Bisa murka istrinya nanti jika Reina sampai terluka.
"Yak Marcellino, apa matamu tidak bisa melihat kalau kondisiku baik-baik saja, hah?"
Reina berdecak. Setelah itu dia berjalan ke arah ranjang, membelai rambut hitam milik kesayangannya yang sedang duduk diam dengan tatapan dinginnya. "Rose, Adam tadi memerintahkan anak buahnya untuk menolongku. Apa ini tidak akan menjadi masalah?"
Ekor mata Rose langsung melirik tajam ke arah Resan. Setelah itu dia menatap suaminya, sedikit tidak suka melihat caranya menunjukkan perhatian.
"Honey, jangan berpikir yang tidak-tidak. Resan tidak bersalah, akulah yang menyarankan agar Cesar memerintahkan anak buahnya untuk menolong Lorus dan Reina. Kau sedang terlelap setelah memuntahkan semua makanan yang ada di dalam perutmu saat Resan datang ke kamar ini. Aku tidak tega membangunkanmu, jadi memutuskan untuk mengambil tindakan ini. Tolong kau jangan salah paham ya? Aku sama sekali tidak mempunyai maksud lain. Sungguh!" ucap Adam panik melihat kecurigaan di diri istrinya.
"Terima kasih!"
Semua orang membeo. Tidak menyangka kalau Rose akan berkata seperti itu.
"Berkat bantuanmu Lorus dan Reina tidak kenapa-napa. Jadi terima kasih, aku berhutang budi padamu," ucap Rose seraya tersenyum kecil.
"Oh? Jadi begini caramu mengucapkan terima kasih, hm?" tanya Adam sambil terkekeh lucu. "Berterima kasihlah dengan benar, Honey."
"Akan aku lakukan nanti malam."
Reina bersungut-sungut saat menyaksikan Adam yang tengah beromantisan dengan Rose di hadapan semua orang. Dia kesal, tapi juga bahagia karena sepertinya Adam memang benar-benar murni ingin menolong kelompoknya. Wajarlah, dulu Adam mengincar kelompok Queen Ma. Namun target tersebut berubah setelah mafia ini bertemu dengan Rose, ketua kesayangan semua orang. Jadilah sekarang Reina dan kawan-kawannya terkadang masih sedikit mencurigai mafia ini. Mereka takut kalau Adam sedang memainkan alibi demi agar bisa menaklukkan kelompok mereka.
"Cuiihhh. Benar-benar menjijikkan. Jadi ini perangai asli dari kelompok kalian? Murahan sekali!" ejek pria yang kini tengah tertawa dengan mulut yang di penuhi darah.
"Menjijikkan kau bilang?"
Adam meradang. Namun dia tak serta-merta menghajar bajingan kurang ajar ini. Sambil bersiul kecil, Adam berjalan menuju sebuah kotak yang berada di dekat kaki lemari. Dia kemudian berjongkok, menatap dingin ke arah si bajingan itu sambil menyeringai kecil.
"Kau harusnya lebih berhati-hati saat sedang berada di kandang macan. Apa kau tahu, air ludah yang kau keluarkan dengan menyebut kami menjijikkan, akan aku kembalikan lagi ke dalam mulutmu agar kau paham bahwa bisa itu sangat menyakitkan. Bahkan bisa menghilangkan nyawa orang yang merasakannya. Tidak percaya?"
__ADS_1
Tanpa menunggu perintah, Cesar dengan kasar mencekik leher bajingan tersebut kemudian menyeretnya keluar dari dalam kamar. Saat di depan pintu, dia berpapasan dengan Liona and the geng yang ingin masuk ke dalam.
"Cesar, siapa dia?" tanya Grizelle penasaran.
"Seseorang yang akan segera menjilat air ludahnya sendiri, Nyonya," jawab Cesar. "Permisi."
Grizelle melihat ke arah suami dan orangtuanya setelah mendengar jawaban Cesar. Setelah itu mereka semua tertawa, lalu memutuskan untuk menyusul Cesar yang kini tengah menghajar bajingan tersebut di ruangan terbuka.
Sementara itu di dalam kamar, Adam tengah membopong Rose ke dalam gendongannya. Dia melirik jengkel ke arah Reina yang terus saja menempel pada istrinya dengan cara mengelus rambut.
"Awas. Kau menghalangi jalanku!"
"Kau saja yang berjalan sambil menutup mata. Ruangan sebesar ini bagaimana mungkin aku menghalangi jalanmu. Dasar serakah kau, Marcellino. Bilang saja kau tidak suka aku menyentuh istrimu. Iya kan?" kesal Reina.
"Kalau sudah tahu kenapa masih belum menjauh juga? Mau ketendang, hah?" tanya Adam yang juga ikut merasa kesal.
"Apa ka ....
"Diam, atau aku tidak mau bicara dengan kalian lagi sampai aku mati!" ancam Rose yang mulai jengah karena selalu mendengarkan perdebatan konyol antara suami dan juga sahabatnya.
Bagai kerbau yang di colok hidungnya, mulut Adam dan Reina langsung terkatup rapat begitu mendapat ancaman yang sangat mengerikan. Mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat di mana Cesar dan yang lainnya berkumpul dengan Rose yang dengan tenang berada di gendongan suaminya.
Kenapa aku seperti melihat pasangan suami istri dan juga pelakornya ya? Reina-Reina, sebenarnya kau itu kenapa sih. Sudah tahu kalau Tuan Adamar sangat posesif pada Nona kita, masih saja kau merecoki keromantisan mereka. Kau ini, batin Resan gemas melihat tingkah rekannya itu.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
GENGSS... JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL BARU EMAK YA. ADA GIVEAWAY-NYA JUGA LHO DI SANA ๐๐๐
...๐นJangan lupa vote, like dan komen...
...ya gengss๐ช๐ช๐ช...
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...
__ADS_1