
Setelah Resan mendapat teguran dari Nona-nya, dia segera memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu di mana keberadaan orang-orang yang sudah mencari masalah dengan kelompok Ma Queen. Tak lupa juga dia menemui Reina yang saat itu masih berada di kamar tempat Lorus berada.
"Ck, tumben sekali kau bersikap ceroboh begini, Res. Aku yakin kalau sekarang Rose tidak sedang hamil, malam ini kau pasti akan tidur dengan tangan atau kaki yang patah. Bisa-bisanya kau mengabaikan pekerjaan sepenting ini. Sangat di sayangkan!" ucap Reina sembari memoles lipstik di bibirnya.
"Aku hanya manusia biasa, Reina. Wajarlah kalau aku sedikit melakukan kesalahan. Dan untungnya malam ini Tuhan sedang baik padaku. Walaupun marah, Nona tidak menghukumku. Nona hanya memintaku agar menyelesaikan masalah ini secepat mungkin," sahut Resan santai.
"Manusia itu menurutmu, Resan. Di mata Rose, kita harus mampu melewati batasan sebagai seorang manusia jika ingin tetap bertahan di kelompok Ma Queen. Jika seandainya semua orang berpikiran sama sepertimu, aku jamin kelompok kita tidak akan menjadi sebesar sekarang. Kau lupa ya kalau kelompok kita itu nomor dua di takuti setelah kelompoknya Marcellino?"
Setelah berkata seperti itu Reina menatap Resan sambil terkekeh pelan. Dia kelepasan, dan hampir saja menyebutkan nama kelompok dari pria yang kini menjadi suami dari ketua mereka. Bukannya apa, pengkhianatan itu selalu ada di mana-mana. Tak terkecuali juga di markas Ma Queen. Jadi setelah Reina dan teman-temannya berhasil mendapatkan identitas asli dari seorang Adamar Clarence, mereka semua sepakat untuk menutup mulut serapat mungkin. Dan jika kalian ingin tahu apa alasannya, jawabannya adalah karena kelompok Adamar menjadi target incaran banyak negara. Bisa gawat jika orang-orang itu sampai tahu jika di balik kelompok yang di pimpin Marcellino ada nyawa ketua mereka yang di pertaruhkan. Dan besar kemungkinan alasan inilah yang membuat Adamar terus mengulur waktu dengan tidak mengungkapkan identitasnya pada ketua mereka secara gamblang. Atau secara garis besarnya, Adamar seperti sengaja membiarkan ketua mereka mengenalinya dengan cara yang tidak biasa. Aneh bukan?
"Aku ikut!"
"Ikut kepalamu. Kau baru saja kembali setelah bertempur dengan malaikat maut di langit, masa iya kau ingin kembali menemuinya. Kalau sudah bosan hidup itu lebih baik langsung mati saja, Lorus. Jangan membuat repot orang lain!" omel Reina sembari melotot tajam ke arah pria yang baru saja bicara.
"Bukankah kau yang bilang sendiri kalau ingin tetap bertahan di kelompok Ma Queen, maka kita harus bisa melewati batasan sebagai seorang manusia. Benar kan?" tanya Lorus kemudian terbatuk pelan. Dia memegangi dadanya yang kembali berdenyut. "B*ngsat. Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada organisasi gelap itu setelah sembuh. Akan ku patahkan satu persatu leher mereka semua. Dasar k*parat!"
"Nah, baru batuk saja kau sudah mau sekarat lagi. Apa kau yakin ingin ikut pergi bersama kami melawan orang-orang itu?"
Lorus mendengus. Setelah itu dia kembali terbatuk yang mana membuatnya memuntahkan darah berwarna hitam pekat. Resan yang melihat rekannya sedang menahan sakit segera mengambil air minum di atas meja. Tak lupa juga dia mengambil sebutir obat yang bisa menghentikan pendarahan di organ dalam tubuhnya Lorus.
"Minumlah."
"Jangan mengasihaniku!" protes Lorus dengan wajah yang kian memucat.
"Minum dulu. Baru setelahnya lakukan protes padaku," sahut Resan sabar akan perangai rekannya ini. "Nona membutuhkan kita semua, Lorus. Kau segeralah sembuh sebelum Nona sampai di singgasana Marcellino."
__ADS_1
"Kau pikir aku mau apa berada di posisi seperti ini?"
Melihat Lorus yang malah mengamuk pada Resan, dengan cepat Reina berjalan menghampiri sambil tangannya meraih suntikan yang ada di dalam tasnya. Dia kemudian mengarahkan suntikan tersebut ke wajah Lorus yang masih saja tak mau meminum obat yang di bawakan oleh Resan.
"Minum, atau aku akan menyuntikkan racun ini ke dalam tubuhmu. Heran, bukannya merasa senang di pedulikan oleh rekannya, kenapa kau malah uring-uringan tidak jelas, Lorus. Kau sudah bosan hidup atau bagaimana, hah!" teriak Reina jengkel.
"Berisik!" sentak Lorus kemudian mengambil air minum beserta obat dari tangan Resan. Setelah itu dia meminumnya.
Resan menarik nafas lega. Dia kembali mengambil gelas minuman kemudian meletakannya ke atas meja. Setelah itu Resan melihat jam di tangannya, lalu menghubungi anak buah yang dia perintahkan untuk melacak keberadaan sebuah kelompok.
"Bagaimana? Apa kalian sudah menemukan di mana keberadaan mereka sekarang?" tanya Resan begitu panggilan tersambung.
"Sudah, Res. Saat ini kelompok mereka sedang berkumpul di sebuah bar. Sepertinya mereka sedang mengadakan pesta bersama dengan orang-orang pemerintahan. Dan besar kemungkinan kalau orang-orang tersebut adalah orang yang menginginkan senjata dari kelompok kita. Mereka bandarnya."
Sebelah alis Reina terangkat ke atas saat dia mendengar perkataan orang yang sedang di telepon oleh Resan. Dia kemudian menoleh menatap Lorus, menjulurkan lidah karena rekannya ini tidak bisa ikut pergi untuk bersenang-senang.
"Cukup banyak. Tapi aku rasa mereka bisa sepuluh kali lebih banyak mengingat kalau pertemuan mereka sangat sensitif dari pandangan mata umum. Kalau kau ingin datang ke sana, ada baiknya kalau kau meminta bantuan dari para mutannya Nenek Liona. Lumayan untuk memperpanjang nyawa kita!"
"Itu masalah gampang. Sekarang kau terus pantau mereka dan segera laporkan padaku jika ada sesuatu yang tidak benar. Sebentar lagi aku dan yang lainnya akan segera datang menyapa mereka, sekalian menyelesaikan urusan yang membuat Nona kita merasa tidak senang. Paham kan?"
"Oke, beres. Kabari saja kalau kalian sudah mulai bergerak."
Resan mematikan panggilan setelah mengetahui lokasi di mana para musuh berada. Setelah itu dia melirik ke arah Reina yang terlihat sudah sangat tidak sabar ingin segera berburu mangsa.
"Reina, kau ingin menyapa mereka secara terbuka atau secara tak kasat mata? Penjagaan mereka cukup ketat, aku khawatir sepatu hak tinggimu patah jika mereka menyerang tiba-tiba," ucap Resan dengan sengaja menggoda primadona di kelompok Ma Queen.
__ADS_1
"Isshh, kau ini apa-apaanlah, Res. Kau pikir aku sekampungan itu apa sampai-sampai tidak bisa berlari menggunakan sepatu hak tinggi? Bahkan kangaroo saja kalah cepat jika adu lari denganku. Mau coba?" tantang Reina sambil mengedipkan mata.
"Tidak, terima kasih."
"Kapan kalian akan berangkat?" tanya Lorus menyela.
"Segera setelah semuanya siap," jawab Resan. "Kau tenang saja. Masalah ini biar aku dan Reina yang bereskan. Kau fokuslah menyembuhkan diri karena keberadaanmu sangat di butuhkan oleh kelompok kita. Oke?"
"Ck."
Reina terkekeh saat mendengar suara decakan dari mulutnya Lorus. Dia tentu sangat memahami kalau rekannya satu ini sangatlah haus darah. Lorus akan selalu berada di garis terdepan setiap kali kelompok mereka berbalas serangan dengan kelompok lain. Akan tetapi karena sekarang Lorus sedang tidak fit, dia jadi tidak bisa ikut bersenang-senang dengan mereka.
Untuk menghibur hati rekannya yang sedang kecewa, Reina dengan ikhlas memberi Lorus sebuah pelukan. Tak lupa juga Reina mengingatkan Lorus kalau setelah ini masih ada pertempuran yang jauh lebih memacu andrenalin lagi.
"Jangan khawatir, sayang. Begitu Rose naik ke singasananya Marcellino, kau tidak akan mempunyai waktu untuk sekedar berleha-leha seperti sekarang. Jadi jangan iri, ya?"
"Enyah kau dari hadapanku, Rein!" usir Lorus sambil mendorong Reina dari memeluknya. Dia risih.
Resan dan Reina sama-sama tertawa melihat raut kesal di wajah Lorus. Setelah itu mereka pergi keluar untuk menyapa beberapa orang yang akhir-akhir ini terus mencari masalah dengan kelompok mereka hingga membuat sang ketua merasa tidak senang. Ya, malam ini mereka akan berburu. Akan tetapi bukan berburu binatang, melainkan berburu nyawa. Penasaran kan? Sama, emak juga. ๐
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like dan juga comment...
...ya gengss ๐ช๐ช๐ช๐ช...
__ADS_1
...๐นIg: rifani_nini...
...๐นFb: Rifani...