
Rolland dengan hati-hati keluar dari dalam kamarnya setelah Brenda terlelap. Ulat bulu itu benar-benar tak membiarkan Rolland bebas meski hanya sedetik saja. Hal ini membuatnya merasa sedikit kesulitan saat ingin pergi bersama Mommy dan Neneknya ke markas Queen Ma. Andai saja Brenda bukanlah gadis polos yang suka sembarangan berpikir, mungkin Rolland akan mengajaknya. Tapi sayang sekali, Brenda sama seperti gadis-gadis lain yang kemungkinan besar tidak memiliki mental kuat untuk melihat kekejaman adiknya.
"Bagaimana, apa bayi besarmu sudah tidur?" ledek Drax sambil menatap putranya yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Jangan meledekku, Dad. Sudah cukup aku dibuat stres gara-gara ulah Brenda," sahut Rolland dengan wajah masam.
"Tapi Daddy suka sekali melihat kalian. Kau yang tidak peka berpasangan dengan Brenda yang lucu dan menggemaskan. Untuk makhluk astral sepertimu sangat cocok jika mempunyai pawang bermental baja sepertinya. Kalau itu bukan Brenda, Daddy yakin sekali kau pasti sudah di tinggalkan sejak dulu. Bersyukurlah ada seseorang yang mau menyukaimu hingga sebegini dalam, Land."
Seulas senyum samar muncul di bibir Rolland setelah dia mendengar ucapan Daddy-nya. Dia sebenarnya tidak membenci Brenda, apalagi berkat gadis inilah adiknya bisa di temukan. Rolland kadang hanya merasa stres karena Brenda, em... kalian pasti tahu sendirilah bagaimana gadis itu membucin hingga di luar batas manusia.
"Sudahlah, sebaiknya kita segera ke markasnya Rose sebelum dia mengambil tindakan kepada para tawanannya!" ajak Liona.
"Baiklah!"
Setelah itu semua orang bergegas pergi meninggalkan hotel. Mereka menuju markas Queen Ma dimana mereka akan menelusuri arti dari nama kelompok itu sendiri. Baik Liona maupun yang lainnya, mereka sangat percaya kalau arti dari kata MA itu merupakan simbol dari suatu kejadian. Dan mereka juga meyakini kalau kejadian itu pastilah sangat penting bagi Rose.
"Mom, kapan kita akan kembali ke negara kita? Aku kasihan pada Kak Dante jika harus mengurus semuanya seorang diri!" tanya Rolland sebelum keluar dari dalam mobil. Saat ini dia dan keluarganya sudah sampai di halaman markas Queen Ma.
"Mommy baru akan pulang setelah memastikan kalau adikmu aman, Land. Ya meskipun dia memiliki kelompok sendiri, Mommy tetap ingin menjaganya. Kalau kau merasa tak tega dengan kakakmu, kau pulanglah dulu bersama Brenda!" jawab Grizelle.
"Oh, begitu ya. Ya sudah nanti aku akan memilih waktu yang pas untuk pulang. Dantian Group dan L&S Company membutuhkan aku."
Grizelle mengangguk. Setelah itu dia, Drax, dan Rolland keluar dari dalam mobil. Dan di saat yang bersamaan, sebuah mobil hitam bergerak masuk ke sana. Mereka bertiga tersenyum saat tahu siapa yang datang.
"Sungguh baik. Begitu datang kita langsung bertatap muka dengan Rosalinda!" ucap Grizelle senang.
"Jangan senang dulu, Zel. Sepertinya putri kita sedang dalam suasana hati yang buruk. Hati-hati, jangan menyinggungnya!" bisik Drax sambil memperhatikan wajah putrinya yang terlihat begitu datar.
Begitu Rose keluar dari dalam mobil, dia diam memandangi keluarganya yang tiba-tiba sudah ada di sini. Moodnya sedang sangat buruk sekarang, dia sebenarnya tidak ingin di ganggu dulu. Tapi ya sudahlah.
"Jangan marah, kami datang karena merindukanmu. Kalau kau tidak suka kami bisa pergi dari sini!" ucap Liona.
"Masuklah. Angin malam tidak baik untuk kalian!" sahut Rose kemudian melangkah masuk ke dalam markas.
Resan segera mengikuti langkah nonanya untuk masuk ke dalam. Sedangkan Reina, wanita abu-abu itu menyapa semua orang dengan ramah.
__ADS_1
"Halo Nenek Liona, Mommy Grizelle, dan kalian tim pria tampan. Suasana hati Rose sedang mati lampu sekarang, jadi tolong di maklumi kalau sikapnya sedikit acuh pada kalian," ucap Reina. "Adam membohonginya, dan sekarang dia sedang sekarat setelah Rose memberinya racun. Jadi dia sangat galau sekarang."
"Adam membohonginya?" tanya Grizelle kaget.
"Iya, Mom. Tapi untungnya Rose tidak membunuhnya, dia hanya memberi hukuman saja. Dan untuk alasannya sendiri sebaiknya kalian tidak perlu mencari tahu karena Rose sangat benci pada tanggal orang yang mencampuri urusan rumah tangganya," jawab Reina penuh nada peringatan.
"Itu bagus. Dia memang harus bersikap tegas meski pada suaminya sendiri!" timpal Liona seraya menyeringai puas.
"Hmm, ayo kita masuk. Tadi kami baru saja mendapat tangkapan ikan besar di apartemen Adamar. Setelah ini pasti akan ada permainan seru di dalam. Ayo!"
Penasaran dengan tangkapan besar tersebut, semua orang pun bergegas masuk bersama Reina. Dan benar saja, saat ini Rose tengah berdiri di hadapan seorang pria yang tubuhnya sudah berlumuran darah. Zucca, mafia sinting itu sedang menahan sakit ketika Rose menyayat salah satu jari tangannya.
"Katakan bagaimana aku harus membunuhmu, Tuan Zucca?" tanya Rose.
"Cuhhhh!"
Lorus maju dengan cepat saat Zucca meludahi pakaian nonanya. Namun dia kembali mundur saat nonanya meminta untuk tetap diam di tempat. Resan dan Reina pun sama kesalnya melihat kekurang-ajaran Zucca, tapi mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa.
"Jangan kau kira dengan mengancam seperti itu aku akan tunduk padamu, brengsek sialan. Sampai matipun aku tidak akan pernah memberitahu apa yang ingin kau ketahui!" ucap Zucca dengan sengit.
Ucapan Rose terjeda. Dia lalu memainkan belati di tangannya untuk merobek jas yang sudah setengah terkoyak di tubuh Zucca. Rose kemudian menggunakan robekan kain tersebut untuk mengelap bekas air ludah di tubuhnya. Setelah itu tanpa di duga-duga dia mengukir simbol mawar di wajah si mafia.
"Karena tanpa kau bicarapun aku bisa mengetahui siapa saja yang sudah bersekongkol untuk melawanku. Termasuk juga dengan ketua sekte yang kau lindungi, Agler. Meski kalian menutupi hal ini dengan sangat baik, kalian tetap tidak akan bisa lari dariku. Temanmu itu, meski dia bersembunyi di lubang paling kecil sekalipun aku akan tetap mengejar dan menemukannya. Karena aku tidak akan membiarkannya hidup tenang setelah apa yang dia lakukan pada temanku dulu!"
Sambil menahan sakit, Zucca mencerna ucapan si ketua kelompok Queen Ma ini. Dia terhenyak kaget saat menyadari kalau teman yang di maksud oleh wanita ini adalah gadis yang beberapa hari lagi akan di korbankan. Sungguh, Zucca benar-benar tidak menyangka kalau gadis ini akan datang untuk membalas dendam. Zucca sebenarnya belum bergabung saat Mona di tandai oleh Agler, tapi dari yang dia dengar setiap gadis yang akan di korbankan mentalnya akan dibuat sedikit kacau agar tidak bisa bergaul dengan orang lain. Hal ini dilakukan agar gadis tersebut tetap suci sampai dimana waktu ritual tiba.
"Apa kau mengenal Flyn?" tanya Rose setelah puas mengukir.
"Profesor Flyn?" ucap Zucca memastikan.
"Bawa dia kemari. Biarkan Tuan mafia kita melihat seperti apa kondisinya sekarang."
"Baik, Nona!"
Sambil menunggu Lorus datang membawa Flyn, Rose diam merenung. Firasatnya mengatakan kalau saat ini ada bahaya yang tengah mengancam Mona.
__ADS_1
"Resan, apa kau sudah memasang kamera pengintai di kamar Mona?" tanya Rose memastikan.
"Sudah, Nona," jawab Resan.
"Periksa. Pastikan kalau dia baik-baik saja," ucap Rose kemudian pergi meninggalkan Zucca. Dia sudah tidak berminat lagi bermain-main dengan mafia ini.
"Rose, apa orang tampan ini akan di anggurkan begitu saja?" tanya Reina.
"Kuliti saja sebagian wajahnya, setelah itu siram dengan air cuka. Dan untuk yang satunya, kau cukup melebarkan mulutnya sampai ke batas telinga kalau dia tidak mau mengatakan tujuannya menguntit Adam. Aku lelah, ingin istirahat!"
"Baiklah, sayangku."
Sebelum pergi, hati Rose tergerak untuk mengajak ibu dan juga neneknya untuk pergi dari sana. Entah kenapa dia seperti ingin mendapat perhatian dari kedua wanita ini.
"Temani aku!"
"Apapun itu, sayang," sahut Grizelle antusias.
"Siapa pria ini?" tanya Rose sembari menatap pria yang wajahnya terdapat bekas codet. Cukup seram.
"Itu Uncle Priston. Apa kau mengingatnya?" sahut Liona.
"Tidak!" jawab Rose singkat. "Tapi tatapan matanya tidak membuat kepalaku sakit. Sepertinya kami tidak terlalu dekat."
"Benar, sayang. Karena Uncle-mu yang ini selalu berada di pihak kakakmu," timpal Grizelle sambil melirik ke arah Priston yang hanya diam memandangi wajah putrinya.
Tanpa memberi tanggapan apapun, Rose segera berlalu dari sana. Dia tersenyum. Entahlah, rasanya hangat membayangkan kalau dia dan Rolland memiliki pawang masing-masing.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
...๐นJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
...๐นIg: rifani_nini...
__ADS_1
...๐นFb: Rifani...