Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Mencoba Melepaskan


__ADS_3

Mona terbaring diam dengan tatapan kosong yang tertuju ke arah langit-langit ruangan. Di sebelah kanan ranjang terlihat Kakek Niel yang tengah memeluk bahu Nenek Shiren. Raut wajah keduanya terlihat murung.


"Kenapa kalian tidak membiarkan aku mati saja?" gumam Mona lirih. Dari sudut matanya menetes cairan bening yang mengalir menuju telinga. Mona menangis.


"Sayang, tolong jangan bicara seperti itu, Nak. Kau tidak seharusnya menyakiti dirimu seperti ini. Itu tidak benar," sahut Nenek Shiren sambil menekan dadanya yang terasa sesak.


"Nenekmu benar, Mona. Apa yang kau lakukan semalam itu sangat salah. Tuhan sangat mengutuk umatNya yang meninggal dengan cara bunuh diri. Kau selamanya akan tersesat dalam kegelapan, Mona. Bunuh diri tidak akan mengakhiri kesengsaraan yang kau rasakan ketika masih hidup di dunia. Yang ada kau malah akan semakin menderita di sana. Kau akan sangat menyesal nantinya!" timpal Kakek Niel mencoba menasehati sang cucu yang tadi malam hampir mati karena menelan racun.


Mona terisak. Dia lalu menggeliat, mencoba melepaskan diri dari ikatan tali yang melilit di kedua tangan dan kakinya. Ya, setelah semalam Mona hampir berhasil dengan keinginannya untuk mengakhiri hidup, tiba-tiba saja ada dua orang penjaga yang masuk ke dalam kamar. Pil yang saat itu sudah berada di dalam tenggorokannya akhirnya di keluarkan paksa oleh kedua penjaga tersebut dengan cara memukul tengkuknya dengan sangat kuat. Setelah itu Mona di baringkan di atas ranjang kemudian kaki dan tangannya di ikat dengan sangat kuat. Jika kalian penasaran darimana Mona mendapatkan racun tersebut, jawabannya adalah Mona mencurinya dari ruangan yang dia kunjungi bersama Resan. Kalian ingat tidak dengan si manis ungu? Racun inilah yang ingin Mona telan semalam. Mona benar-benar sudah sangat putus asa. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan Adam dan Rose, jadi memutuskan untuk mati saja agar tidak merasa tersakiti oleh cinta mereka. Mona sadar kalau perasaannya sangat salah, tapi dia tidak berdaya. Semua tentang hidupnya sudah terlanjur berputar hanya pada Rose, tidak ada yang lain. Jadi kalian bisa bayangkan sendiri bukan seperti apa rasa sakit yang di pendam oleh Mona begitu tahu kalau Rose sedang hamil? Dunianya menjadi hancur dan gelap. Dia tersesat.


"Aku menyukai Rose," aku Mona. "Dan aku tidak ingin menjadi orang yang berada di antara kebahagiaan mereka. Aku tahu aku salah, tapi aku tidak berdaya. Aku kalah oleh perasaan tak layak ini Nek, Kek. Aku lemah."


"Aku sama sekali tidak menyalahkan perasaan yang muncul di hatimu, Mona. Aku bahkan sangat maklum."


Karena melamun, baik Mona maupun kakek dan neneknya tidak ada yang menyadari kalau sebenarnya sejak tadi Rose sudah ada di sana. Namun dia hanya berdiri diam di dekat pintu sambil menyender di bahu ibunya. Manja bukan? Dan ini semua adalah keinginan si jabang bayi yang tiba-tiba ingin terus berdekatan dengan calon neneknya.


"R-Rose, k-kau ....


"Ya, ini aku," sahut Rose. "Aku mendengar semua yang kau katakan dan aku juga sudah tahu kalau kau menyukaiku. Kenapa?"


Glukkk


Wajah Mona pucat pasi mendengar perkataan Rose yang ternyata telah mengetahui tentang perasaannya. Mona bingung, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang

__ADS_1


"Jangan panik, Mon. Aku tidak marah padamu."


"T-tapi, Rose. Aku ... aku," ....


"Relaks, Mona. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang belum kau ketahui kebenarannya. Jangan panik, oke?" ucap Grizelle seraya mengajak Rose untuk maju mendekat ke arah Mona. Setelah itu Grizelle tersenyum ke arah Kakek Niel dan Nenek Shiren yang terlihat begitu sedih.


"Paman, Bibi, jangan khawatir. Aku yakin Mona pasti bisa melewati satu ujian lagi agar hidupnya bisa kembali normal seperti para gadis lainnya. Anggaplah kejadian semalam sebagai akhir dari segala kepahitan yang selama ini dia alami."


"M-maksud Bibi Grizelle apa? Kembali normal? Ujian? Apa?" cecar Mona bingung.


Rose memposisikan diri dengan duduk di samping Mona. Sambil memberi penjelasan, dia membuka satu persatu tali yang mengikat tubuh sahabatnya ini. Rose merasa amat sangat teriris ketika mendapati kalau bekas ikatan tali di tubuh Mona meninggalkan luka yang cukup buruk. Sepertinya Mona sempat berontak cukup kuat setelah di ikat, makanya kulit tubuhnya sampai terkelupas seperti ini.


"Mona, kau ingat tidak dengan psikiater yang selama ini menangani rasa trauma yang kau alami?" tanya Rose lembut.


"Itu sangat berhubungan, Mona. Karena dialah kau jadi memiliki rasa seperti ini kepadaku. Sekarang katakan dengan jujur, kau sebenarnya sudah mengingat tentang kejadian yang menjadi awal pertemuan kita, bukan?"


Grizelle, Nenek Shiren dan Kakek Niel sama-sama membulatkan mata kaget mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Rose. Mereka bertiga kemudian menatap Mona dengan sangat dalam. Sungguh, tidak ada yang menyangka sama sekali kalau Mona sebenarnya telah mengingat kejadian kelam itu. Berbagai macam pikiran berkecamuk di dalam benak masing-masing orang tua yang ada di sana, membayangkan kepedihan yang beberapa waktu ini di sembunyikan seorang diri oleh sosok gadis yang kini terlihat canggung dan juga gelisah.


"Itu, aku sebenarnya ... waktu itu aku ... aku," ....


"Mona?"


"I-iya, Rose. Saat aku di bawa ke hutan oleh anak buahnya Tuan Agler, aku langsung mengingat semua kejadian itu. Tapi aku memutuskan untuk diam saja karena aku ... aku tidak mau berpisah denganmu. Aku nyaman dengan perasaan ini, Rose. Maaf!" ucap Mona gugup. Dia bahkan tidak berani bergerak ataupun menatap wajah orang-orang yang ada di sana. Terlalu memalukan, begitu pikirnya.

__ADS_1


Hening.


Tak lama kemudian terdengar isak tangis yang keluar dari mulutnya Mona. Gadis itu terlihat sangat tertekan, dia merasa seperti sedang di hakimi. Grizelle yang mendengar apa isi pikiran Mona mencoba untuk menghiburnya. Dia sangat amat kasihan dengan nasibnya yang di permainkan oleh Agler dan orang-orangnya.


"Mona, hidupmu tidak akan berakhir seperti ini, sayang. Rasa yang kau pendam untuk Rose hanyalah sebuah ilusi semata. Kau tidak benar-benar mencintainya, tapi kau di paksa untuk menyukainya. Percaya pada Bibi, kau itu adalah gadis yang sangat normal. Kau bisa hidup berdampingan dengan laki-laki. Jadi yakinkan hatimu ya, karena di sini ada kami semua yang siap untuk membantumu kembali ke jalan yang benar. Oke?" bujuk Grizelle sembari mengelus kepala Mona.


"Bibi, tapi aku hanya menginginkan Rose. Aku ... aku sangat mencintainya. Aku tidak mau orang lain," sahut Mona gelisah saat dirinya diminta belajar membuka hati untuk seorang pria.


"Iya Bibi tahu. Tapi Bibi akan tetap membantumu membuka lembaran baru. Tidak apa-apa kalau kau belum bisa melepaskan perasaanmu sepenuhnya, itu tidak masalah. Kau bisa melakukannya secara perlahan sesuai dengan apa yang membuatmu merasa nyaman. Jangan takut, ya?"


"Mommy ku benar, Mona. Cintai aku saja kalau itu bisa membuatmu merasa bahagia. Tapi kau juga harus berjanji untuk belajar melepaskan perasaan itu perlahan-lahan. Kau satu-satunya sahabat yang aku punya, Mona. Dan aku ingin melihatmu hidup bahagia sepertiku. Mempunyai seorang suami, rumah tangga, dan juga anak. Memangnya kau tidak ingin merasakan betapa bahagianya ketika sedang mengandung, hm?" imbuh Rose sambil mengusap-usap perutnya.


Mona terdiam. Matanya terus tertuju ke arah perutnya Rose dimana di sana ada seorang malaikat kecil yang sedang tumbuh. Mona mulai bimbang, seakan ada magnet besar yang menariknya agar mengikuti apa yang di katakan oleh Rose dan ibunya.


Haruskah aku mencobanya? Tapi apa aku bisa?


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


...๐ŸŒนJangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss ๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช๐Ÿ”ช...


...๐ŸŒนIg: rifani_nini...

__ADS_1


...๐ŸŒนFb: Rifani...


__ADS_2