Ma Queen ROSE

Ma Queen ROSE
Rose: Tahu Akan Semuanya


__ADS_3

Setelah membersihkan diri di salah satu rumah miliknya, Adam pun segera meminta Cesar untuk mengantarkannya pulang ke apartemen. Sebelum itu dia memastikan kalau penampilannya benar-benar sudah bersih dari noda darah yang tadi memenuhi tubuhnya.


"Kalau Rose bisa dengan mudah di bohongi, dia tidak akan mungkin menjadi ketua kelompok Queen Ma, Adam. Mau sebersih apapun kau menyabuni tubuh, Rose tetap akan tahu kalau kau baru saja membunuh manusia!" ledek Cesar seraya terkekeh pelan.


"Ck, cerewet sekali kau. Tanpa kau beritahu pun aku juga tahu kalau Rose tidak mungkin tidak menyadari apa yang baru saja aku lakukan. Istriku sangat cerdas, instingnya itu seperti seekor harimau yang baru saja melahirkan. Tajam, dan juga mematikan. Huh!" sahut Adam kesal.


"Hehe, oke-oke. Kalau untuk yang satu itu aku setuju denganmu. Ini kita langsung pergi ke apartemen kalian atau kau mau pergi ke suatu tempat dulu, Dam?"


"Ke apartemen langsung. Gracia masih ada di sana, nanti sekalian saja kau antarkan dia pulang."


Cesar mengangguk. Setelah itu dia menyalakan mesin mobil kemudian pergi menuju tempat yang di inginkan oleh Adam. Selama dalam perjalanan, baik Adam maupun Cesar tidak ada yang membuka percakapan. Keduanya sama-sama diam dengan pikiran masing-masing. Dan setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat puluh lima menit, mobil akhirnya sampai di parkiran apartemen.


"Apa Gheana sudah mengirim alamat tempat kalian akan bertemu?"


"Sudah. Dia ingin mengajakku bertemu di salah satu hotel berbintang. Sepertinya dia sangat menjaga privasinya agar tidak ada yang tahu kalau dia dan aku diam-diam menjalin kerjasama."


"Ulur waktu saja agar wanita itu tidak menyadari tujuanmu karena Rose bilang dia ingin sedikit bermain dengannya. Pastikan kata janjimu bisa membuat Gheana merasa menang dengan berfikir kalau kau ada di pihaknya. Paham?" pesan Adam sebelum keluar dari dalam mobil.


"Tenang saja, Dam. Aku pastikan istrimu bisa bermain dengan sangat puas dengan Gheana. Kau jangan khawatir," jawab Cesar.


"Kalau begitu pergilah. Kau bisa terlambat jika terus mengobrol denganku."


"Cihh. Dasar brengsek!"


Adam keluar dari dalam mobil sambil terkekeh pelan. Dia kemudian mengangguk kecil ketika anak buahnya Rose menyapa.


Sambil merapihkan dasi, Adam melangkah cepat menuju kamarnya. Dia dengan tidak sabaran terus mengetuk-ngetuk dinding lift karena pintunya yang tak kunjung terbuka.


Ting


"Huft, lama sekali. Apa teknisi apartemen ini tidak pernah memeriksa kecepatan liftnya? Menyebalkan!" gerutu Adam dongkol.


Dengan raut wajah yang sedikit masam, Adam akhirnya sampai di depan pintu kamarnya. Dia kemudian tersenyum, memasang ekpresi semanis mungkin sebelum menemui istri cantiknya.


Ceklek

__ADS_1


"Oh, kau sudah pulang, Kak?" tanya Gracia yang kebetulan hendak keluar.


"Hmmm," sahut Adam. "Kau mau kemana? Dimana kakak iparmu?"


"Kakak ipar sedang memasak di dapur, Kak. Dan aku baru saja mau turun ke bawah untuk membeli sesuatu. Em itu, Kak. Aku diminta agar menginap di sini malam ini. Apa boleh?"


Hubungan Gracia dan Rose semakin dekat setelah beberapa jam sebelumnya mereka menghabiskan waktu bersama. Bahkan tanpa di duga-duga wanita yang dulunya menjadi musuh dengan penuh harap meminta Gracia agar tinggal bersamanya di apartemen ini. Gracia tentu saja sangat mau, tapi dia tetap harus meminta izin pada kakaknya dulu agar tidak di anggap lancang.


"Apa Rose yang memintanya langsung?" tanya Adam sedikit heran mendengar perkataan adiknya.


"Iya, Kak. Kakak ipar bilang agar besok aku bisa menemaninya jalan-jalan pagi di sekitar apartemen. Tadi kami menonton televisi kemudian tidak sengaja melihat edukasi tentang hal-hal yang bisa membawa dampak positif bagi ibu hamil. Dan kakak ipar bilang kalau jalan-jalan dan memasak pasti akan membuatnya merasa happy. Begitu," jawab Gracia jujur.


Adam tersenyum. Dia yakin sekali kalau tujuan Rose meminta adiknya untuk menginap di apartemen mereka tidaklah sesederhana yang di pikirkan oleh Gracia. Pasti ada sesuatu yang tengah di rencanakan oleh istrinya itu.


"Pergilah. Kalau bisa jangan terlalu lama, jadikan kejadian siang tadi sebagai pelajaran berharga agar kau tidak ceroboh lagi dalam bertindak. Paham?"


"Baik, Kak. Kalau begitu aku keluar dulu."


Adam mengangguk. Setelah itu dia berjalan cepat menuju dapur dimana istrinya berada. Manik mata Adam kemudian menangkap bayangan tubuh seseorang yang tengah berdiri di dekat kompor.


Rose bertanya tanpa membalikkan tubuh. Dia tahu kalau suaminya sudah kembali karena aroma khas laki-laki ini menguar dengan kuat di indra penciumannya.


"Hmmm, bagaimana bisa kau tahu kalau aku sedang menatapmu, Hon?" tanya Adam sembari berjalan mendekat ke arah Rose. Begitu sampai Adam langsung melingkarkan tangan ke pinggangnya dengan erat.


"Anakmu yang memberitahuku," jawab Rose bercanda. Dia kemudian mematikan api kompor setelah memastikan kalau sayurnya telah masak. "Sepertinya kau baru saja mandi. Wangi parfummu sudah tercampur dengan aroma sabun. Ada apa? Apa yang baru saja kau lakukan, hm?"


Sebelah alis Adam terangkat ke atas. Sedikit kaget karena Rose bisa langsung tahu kalau dia baru saja mandi. Padahal wanita ini masih berdiri memunggunginya. Insting istrinya benar-benar sangat tajam bukan?


"Aku baru saja menghabisi para preman yang tadi menyerang Gracia. Dan setelah itu langsung membersihkan diri dengan harapan tidak akan ketahuan olehmu. Tapi sepertinya usahaku itu sia-sia saja. Tahu begini tadi aku langsung pulang tanpa mandi!"


Rose tertawa. Dia kemudian berbalik badan. Sambil mengusap dada suaminya, Rose memberitahukan tentang keinginannya yang meminta Gracia agar menginap.


"Biarkan Gracia ada bersama kita malam ini, Dam. Aku sengaja melakukannya agar dia tidak melihat Papa yang akan pulang ke rumah dengan jati diri sebagai Zalina. Aku rasa ini sudah waktunya untuk dia membuka rahasia tentang dimana Mama sebenarnya. Sebenarnya waktu itu dia sudah memberitahuku, tapi teka-tekinya terlalu sulit untuk di pecahkan. Jadi aku dan Resan berencana menjebaknya agar menunjukkan sendiri dimana keberadaan Mama sekarang!" jelas Rose.


"J-jadi kau sudah tahu tentang Mama?" tanya Adam syok.

__ADS_1


"Aku tahu semuanya, Adam. Yang tidak aku tahu hanyalah tentang siapa kau. Sebenarnya bukan hal sulit untuk aku mencari tahu identitas aslimu, akan tetapi aku memutuskan untuk mengikuti alur yang sedang coba kau mainkan. Lagipula sekarang aku sedang hamil, dan aku yakin kau pasti tidak suka jika kami sampai berada dalam bahaya. Benar tidak?"


Kaget, itu sudah pasti. Adam sungguh tidak menyangka kalau Rose ternyata telah mengetahui semuanya. Dari sini Adam berani menarik kesimpulan kalau tidak akan ada gunanya untuk dia terus menutupi identitasnya. Percuma, karena istrinya jauh lebih pintar dari yang dia bayangkan.


"Kau suamiku, Adam. Dan sebentar lagi kau akan menjadi ayah dari anakku. Jadi aku mana mungkin tidak mengetahui apa saja yang berhubungan denganmu? Selain identitas keduamu, aku telah menyelidiki semua yang berhubungan dengan alasanmu yang masih tetap bertahan sebagai anggota keluarga Clarence. Dan sekarang kita hanya perlu menunggu Zidane menunjukkan jalan yang akan membawa kita bertemu dengan Mama. Setelah semua rahasia ini terkuak, barulah aku akan fokus menapaki anak tangga yang akan membawaku menemui seseorang!" ucap Rose sembari menampilkan senyum yang sangat misterius.


"Honey, kali ini kau membuatku tidak bisa berkata-kata lagi. Aku mencintaimu... benar-benar sangat mencintaimu!" sahut Adam yang sudah sangat speechless akan kecerdasan dan cara Rose menghargai privasinya.


Saat Adam hendak mencium bibir Rose, Gracia sudah lebih dulu masuk ke apartemen. Hal itu membuat Adam menjadi sedikit kesal.


"Upsss, sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat," ucap Gracia kikuk ketika mendapati tatapan mata sang kakak yang terlihat marah.


"Hon, aku ke kamar dulu. Panggil jika makan malam sudah siap!"


Rose mengangguk. Dia kemudian meminta Gracia untuk membantunya membereskan dapur setelah Adam pergi dari sana.


"Jangan terlalu di pikirkan. Nanti setelah menikah kau pasti akan tahu sendiri kenapa para pria mudah sekali marah jika aktifitasnya terganggu."


"Tapi aku tidak punya pacar," sahut Gracia pelan.


"Lalu kau akan memilih untuk menjadi perawan tua sampai mati?" tanya Rose sarkas.


Gracia menelan ludah. Dia segera membantu kakak iparnya berkemas tanpa memberikan jawaban. Meskipun sudah dekat, Rose tetap saja tajam dalam berbicara. Membuat Gracia kadang merasa kikuk dan juga gugup di saat yang bersamaan.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


...SELAMAT HARI NATAL UNTUK YANG MERAYAKANπŸŽ‰πŸŽŠπŸŽπŸŽ‰πŸŽŠπŸŽπŸŽ‰πŸŽŠπŸŽπŸŽ‰πŸŽŠπŸŽπŸŽ‰πŸŽŠπŸŽ...


...🌹Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengssπŸ”ͺπŸ”ͺπŸ”ͺ...


...🌹Ig: rifani_nini...


...🌹Fb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2