
"Oh, Kak Adam, kakak ipar. Kalian darimana?" tanya Grace seraya menatap kaget ke arah kedua kakaknya yang baru saja kembali dari luar. Dia lalu melihat ke arah jam yang melekat di dinding. "Ini masih jam lima pagi. Apa kalian baru saja pulang dari berolahraga?"
Adam tak memperdulikan pertanyaan Grace. Dia memilih untuk mengajak Rose duduk di sofa sambil menenteng beberapa bungkus rujak yang baru di belinya.
"Grace, apa Cesar akan mengajakmu pergi berlatih?" tanya Rose.
"Tidak, kakak ipar. Dia sudah membuatkan jadwal latihan untukku dan biasanya Cesar baru akan datang melatih setelah pulang dari kantor. Sekarang aku hanya akan melakukan pemanasan biasa sebelum nanti ada yang datang untuk menjemputku di sini," jawab Grace. Dia kemudian ikut duduk. "Kak, kalian belum menjawab pertanyaanku tadi. Sepagi ini kalian dari mana? Kalau berolahraga, kalian tidak mungkin hanya memakai piyama tidur 'kan?"
"Aku benci pada orang yang banyak bertanya!" sergah Adam sambil menatap dingin ke arah Grace. Rasanya sungguh sangat berisik saat adiknya ini terus mencecar pertanyaan padanya dan juga pada Rose.
"Dam, kau masuklah dulu ke kamar. Nanti aku akan membangunkanmu!" ucap Rose sambil mengelus pelan dada Adam yang mulai kesal pada Grace. Dia lalu tersenyum kecil saat suaminya ini menghela nafas panjang.
"Tidak bisakah kita pergi berdua, Honey? Ini masih sangat pagi, kau ingin melakukan apa di sini," tanya Adam tak rela harus tidur tanpa bantal gulingnya yang empuk ini.
"Aku ingin membuat sarapan untukmu. Sekalian aku ingin mengajak Grace menikmati rujak ini. Siapa tahu dia menyukainya," jawab Rose sembari mengangkat bungkusan rujak yang baru sedikit dia makan.
"Haihhhhh, baiklah. Tapi nanti setelah semuanya selesai segeralah pergi ke kamar. Kau tahu bukan kalau aku tidak bisa tidur nyenyak tanpa memelukmu?"
Rose mengangguk. Dia kemudian tersenyum saat Adam mencium keningnya lama sebelum pergi ke kamar mereka. Setelah itu pandangan Rose beralih menatap Grace yang wajahnya sudah memerah setelah melihat apa yang Adam lakukan barusan.
"Ada masanya kau akan merasakan seperti apa yang baru saja kau lihat, Grace. Dan aku rasa itu akan segera terjadi," ucap Rose penuh maksud.
"Maksudnya apa ya, Kak. Apa yang akan segera terjadi," tanya Grace bingung. Dia menatap lekat sang kakak ipar yang kini mulai menikmati rujak buah.
Astaga, bahkan sekarang masih pukul lima pagi. Tapi kenapa Rose berani memakan makanan seperti itu? Memangnya dia tidak takut sakit perut ya?
"Hmmm, terkadang kita tidak bisa menyadari keindahan dari sesuatu yang berada di dekat kita. Akan tetapi, sesuatu tersebut tanpa sadar telah menguasai hati dan pikiranmu. Mungkin di awal kau hanya menganggap kalau sesuatu tersebut hanyalah sebuah permainan untuk membuktikan sesuatu. Namun tanpa kau sadari, hal itu telah menjadi sesuatu yang sangat kau inginkan. Kau ingin tahu apa contohnya?"
__ADS_1
Tanpa sadar Grace mengangguk. Dia cukup penasaran kemana kakak iparnya akan membawa alur pembicaraan mereka.
"Contohnya adalah perasaan. Dan sekarang, kau sedang bermain-main dengan perasaanmu sendiri. Apa aku benar?"
"Bermain dengan perasaanku sendiri. Ini ... ini maksudnya apa ya, Kak? Aku benar-benar bingung mencernanya," ucap Grace kian kebingungan.
"Kau menyukai Cesar!" sahut Rose dingin. Dia lalu memasukkan potongan rujak ke dalam mulut kemudian mengunyahnya dengan sangat perlahan sambil matanya terus memperhatikan perubahan ekpresi di wajah Grace. "Jujur saja, kau tidak perlu sungkan padaku!"
Grace mengerjapkan mata. Dia lalu membuang muka ke arah lain, sedikit malu dan juga kaget darimana kakak iparnya bisa mengetahui hal ini.
"Sebenarnya tidak ada yang salah dengan perasaanmu itu, Grace. Akan tetapi kau perlu tahu kalau Cesar itu tidak sesederhana seperti yang sering kalu lihat. Dia rumit, dan juga penuh bahaya. Aku berkata seperti ini bukan karena ingin mengendurkan perasaan yang kau simpan untuknya, tapi aku mengatakannya agar kau tahu kalau Cesar tidak akan semudah itu untuk kau taklukkan. Dia kasar, dia temperamen, dan dia juga penuh misteri. Aku khawatir kau akan tersakiti nantinya!"
"Apakah dia semisterius itu, Kak?" tanya Grace hati-hati. Dia lalu memberanikan diri untuk menatap kakaknya iparnya yang ternyata tengah tersenyum aneh.
"Ya, dia sangat misterius. Dan untuk sekarang ini hanya aku, Adam, dan juga satu orang lagi yang bisa mengendalikannya. Selain itu, semuanya hanya di anggap sampah oleh Cesar," jawab Rose dengan sejujur-jujurnya.
Grace langsung menelan ludah begitu mendengar jawaban kakak iparnya. Seketika nyalinya menciut saat teringat akan tekadnya yang begitu ingin menaklukan Cesar. Dalam hitungan sebagai pria normal, Cesar masuk dalam kategori pria dambaan banyak wanita. Selain karena Grace yang merasa kesal karena terus di abaikan, sebenarnya Grace mulai menaruh rasa lebih terhadapnya. Kebersamaan mereka selama ini telah menumbuhkan benih-benih tak biasa di dalam hatinya Grace yang mana membuatnya jadi semakin bertambah semangat untuk latihan.
"Grace, masalah perasaan adalah masalah yang paling sensitif. Karena perasaan itu bisa menghancurkan sesuatu yang sangat penting, yaitu rasa kepercayaan. Jadi sebelum kau jatuh semakin dalam, aku sarankan kau sebaiknya segera membuang perasaanmu itu. Bukan apa. Aku hanya khawatir Cesar akan menghabisimu kalau kau sampai kalap karena rasa yang kau pendam sendiri. Karena jika hal tersebut sampai terjadi, aku dan Adam tidak akan pernah mau memberikan pertolongannya padamu. Paham?" ucap Rose lagi.
"A-apa? K-kau dan Kak Adam tidak akan menolongku? T-tapi kenapa? Apa kalian sudah tidak mempedulikan aku lagi?" cecar Grace syok mendengar ucapan frontal kakak iparnya. Sungguh, dia sangat amat tidak menyangka kalau kakak iparnya akan sedemikian tega terhadapnya. Ini sungguh gila. Benar-benar sangat gila.
"Kami bukan tidak mempedulikanmu, Grace. Baru sedetik yang lalu aku mengingatkan, masa kau sudah langsung lupa sih?" sahut Rose sambil tersenyum kecil. "Aku sudah memperingatkanmu tentang betapa berbahayanya seorang Cesar. Namun jika kau sampai terlibat masalah dengannya, itu artinya kau tidak mengindahkan larangan yang sudah kusampaikan. Singkatnya kau lebih memilih mati ketimbang menjalani hidup dengan baik. Jadi aku dan Adam tidak memiliki hak untuk membela ataupun menolongmu dari kemarahan Cesar karena kau yang memilih untuk tetap maju meski aku sudah mengingatkan. Kau yang membuat masalah, jadi harus kau sendiri yang menanggung resikonya!"
"Apa ini artinya aku benar-benar sudah tidak ada harapan menjadi kekasihnya Cesar?"
"Harapan tentu saja ada. Akan tetapi kau perlu melakukan pembuktian besar yang mana pembuktian tersebut bisa menarik perhatiannya Cesar."
__ADS_1
"Contohnya?"
Rose diam tak menjawab. Dia menatap seksama ke arah Grace kemudian menawarinya untuk makan rujak.
"You want eat?"
"No, tengkiyu!"
"Gracia Clarence?"
"Ya?"
"Kapan kau akan melanjutkan studimu, hm? Kau sudah cukup lama mengabaikan pendidikanmu. Tidakkah kau ingin kembali ke kampus dan bertemu dengan teman-temanmu yang lain?" tanya Rose mengalihkan pembicaraan.
"Kakak ipar, aku sudah tidak peduli apakah nanti aku akan menjadi seorang sarjana atau tidak. Karena apa yang ku jalani sekarang jauh lebih menantang jika di bandingkan dengan keseharianku di kampus. Lagipula Papa dan Mama juga tidak pernah mempedulikan aku lagi. Jadi aku menolak dengan keras untuk kembali melanjutkan pendidikan!" jawab Grace dengan tegas.
"Kau yakin tidak akan menyesal?"
"Sangat yakin. Kak Adam akan mewarisi semua harta kekayaan milik Papa, sedangkan aku sudah memutuskan untuk ikut dengannya. Jadi sudah tidak ada alasan lagi untuk aku kembali ke tempat membosankan itu. Hanya buang-buang waktu saja, Kak!"
"Baiklah. Karena kau sudah mengambil keputusan, maka lusa ikutlah denganku pergi ke Negara N. Siapa tahu nanti di sana aku dan Adam bisa menggunakan kekuatanmu untuk melindungi calon anakku. Karena di sana nanti, kau akan memasuki apa itu dunia yang sebenarnya. Kau juga akan segera merasakan betapa dunia ini sangat tidak menerima seseorang yang lemah dan pengecut. Apa kau siap?" tanya Rose penuh penekanan.
"Siap tidak siap aku harus tetap siap jika itu sudah berhubungan dengan keselamatan calon keponakanku!" jawab Grace dengan begitu berani. "Matipun aku rela, Kakak ipar. Sungguh!"
Rose terkekeh. Dia lalu mengajak Grace pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Lumayan seru juga melihat tekadnya Grace yang ternyata sangat peduli pada calon bayinya. Membuat Rose jadi bertambah semakin menyukainya.
******
__ADS_1