
Bugghhhh
"Hanya seperti ini kekuatanmu, hah?" ejek Cesar sambil membersihkan debu yang menempel di kemejanya. Dia lalu menyeringai ke arah Gracia yang terlihat kesal. "Ayo pukul lagi. Yang kuat!"
"Ck, berhenti mengolokku. Seharian ini tenagaku sudah habis terkuras untuk latihan, wajarlah kalau kekuatanku melemah!" ucap Gracia membela diri. Dia lalu menjatuhkan diri di atas rerumputan yang kotor.
Tidak kusangka seorang Gracia Clarence akan bisa berbaring santai di atas rerumputan kotor seperti ini. Haihhh, mungkin jika aku tidak di sadarkan oleh Rose, sampai detik ini aku pasti masih menjadi gadis tidak berguna yang bisanya hanya berfoya-foya saja. Dasar konyol kau, Gracia.
Melihat muridnya yang malah asik rebahan membuat Cesar terdorong untuk ikut berbaring di samping Gracia. Jujur, Cesar sebenarnya lumayan kelelahan hari ini. Dia harus benar-benar memeras otaknya sampai akhirnya dia datang ke pinggiran hutan ini untuk melatih Gracia.
"Grace?" panggil Cesar.
Gracia menoleh. "Apa?"
"Besok kita semua akan pergi ke Negara N. Apa kau sudah siap mati?"
"Ada Kak Adam dan kakak ipar yang melindungiku. Mereka tidak mungkin membiarkan aku mati semudah itu," jawab Gracia sambil menelan ludah. Dia lalu memiringkan tubuh, menatap seksama ke arah Cesar yang tengah memejamkan mata. "Kau kenapa tiba-tiba membahas tentang kematian, Ces? Jangan bilang di sana nanti kau akan mengkhianati kami ya!"
"Ck, singkirkan pemikiran bodohmu itu, Gracia Clarence. Kalaupun aku ingin berkhianat, aku pasti sudah melakukannya sejak dulu. Alasan kenapa aku bertanya seperti itu padamu adalah karena di sana nanti kau akan di hadapkan pada dua pilihan yang sama beratnya. Dan keputusanmu nanti akan menjadi awal kehidupanmu yang baru. Percayalah. Kau akan merasakan dilema yang sangat besar, begitu juga denganku!"
Mungkin jika biasanya Cesar akan bersikap dingin pada Gracia, untuk malam ini sepertinya ada pengecualian. Alih-alih pergi atau mengacuhkan Gracia, Cesar malah ikut berbaring menyamping menghadap gadis yang tengah menatapnya lekat. Satu tangannya kemudian bergerak maju ke leher Gracia lalu mencekiknya pelan.
__ADS_1
"Apa kau berniat membunuhku?" tanya Gracia tanpa merasa takut sedikitpun.
"Kau belum memenuhi spesifikasi untuk kubunuh sekarang. Nanti saja, tunggu saat ada orang yang memerintahkan aku untuk melenyapkanmu. Baru kau akan kukirim pergi ke neraka!" jawab Cesar sarkas.
"Owh, cukup menakutkan!"
"Kalau begitu menangislah."
"Huhuhu, tolong aku. Ada yang ingin membunuhku!"
Tanpa sadar sudut bibir Cesar berkedut melihat Gracia yang malah melawak. Namun sedetik kemudian ekpresi Cesar berubah menjadi sangat serius. Gracia yang melihatnya pun tak lagi bermain-main. Dia tahu Cesar ingin mengatakan sesuatu yang penting kepadanya.
"Jawab dulu pertanyaanku baru aku akan menjawab pertanyaanmu!" sahut Gracia.
Sebelah alis Cesar terangkat ke atas. Dia lalu mengangguk samar, memberi izin untuk Gracia bertanya.
"Dua pilihan apa yang akan membuatku terjebak dalam dilema? Jika itu adalah tentang kedua kakakku, maka aku akan memilih yang paling berpengaruh dalam hidupku!" tanya Gracia langsung menegaskan kalau dia tidak akan berpihak pada kakaknya ataupun pada Rose. Gracia hanya akan mengikuti orang yang bisa mengerti keinginan hatinya saja.
"Sebenarnya Adam dan Rose itu berada di kubu yang berbeda. Mereka seharusnya menjadi musuh, tapi kakakmu malah terjebak oleh pesonanya Rose saat mulai menyelidikinya. Dan nanti saat kita sampai di Negara N, kau baru akan tahu sepenuhnya mengapa aku bertanya seperti ini sekarang. Ini rahasia, jadi aku tidak bisa sembarangan bicara. Kau pahamlah kalau daun keringpun terkadang memiliki telinga. Bahkan angin yang berhembus bisa menjadi petaka jika hembusan angin itu sampai kepada orang yang tidak seharusnya mengetahui hal ini. Kau paham kan apa maksudku?" jawab Cesar penuh maksud.
Untuk beberapa detik Gracia hanya diam tak menyahuti perkataan Cesar. Ini terlalu rumit. Rose dan kakaknya berada di kubu yang berbeda? Dan mereka seharusnya menjadi musuh? Astaga, sebenarnya ini ada apa sih. Kenapa kesannya Gracia sedang berada di tengah-tengah hubungan di mana hubungan tersebut adalah pernikahan sesama musuh. Mengerikan sekali.
__ADS_1
"Rosalinda Osmond, dia adalah tuan putri yang hilang sejak usianya masih tujuh tahun. Dan di awal pernikahannya dengan Adam, Rose akhirnya bisa bertemu dengan keluarga kandungnya. Setelah nanti kita sampai di sana, kita tidak hanya akan menghormati pesta perayaan ulang tahun Dantian Group dan juga pertunangan saudara kembarnya Rose. Akan tetapi kita juga akan menyaksikan pengumuman terbuka tentang kembalinya Rose ke keluarga Osmond dan keluarga Ma. Dan yang paling penting adalah kita semua akan menghadiri suatu pertemuan di mana di pertemuan itu kau akan terjebak dalam dilema yang aku maksudkan. Satu yang perlu kau ingat, Gracia. Entah itu Adam maupun Rose, mereka sama-sama orang yang menanggung bahaya besar dalam hidupnya. Jadi kau tidak boleh sampai salah memilih karena itu akan berakibat fatal untukmu. Dan pertemuan itu juga akan membuka sebuah tabir kenyataan mengapa puzzle-puzzle ini bisa saling berhubungan!"
"Siapapun dan seperti apapun mereka, aku akan tetap memilih orang yang bisa mengertiku. Tak peduli apakah itu Rose atau Kak Adam, keputusanku tidak akan berubah!"
"Termasuk memusuhi kakakmu sendiri?"
"Aku sebenarnya tidak ingin. Tapi jika itu harus terjadi, maka aku rela memusuhi Kak Adam. Biarlah, toh di antara kami tidak pernah ada ikatan yang terjalin. Jadi aku tidak keberatan jika seandainya nanti aku akan benar-benar memilih untuk mengikuti Rose!"
Cekikan di leher Gracia mengendur setelah Cesar mendengar kepastian tersebut. Sungguh, Cesar cukup kaget saat Gracia lebih memilih untuk mengikuti Rose daripada mengikuti kakaknya sendiri. Namun di sisi lain, ada benarnya juga jika Gracia memilih untuk tidak berpihak pada Adam. Rose dan kelompoknya sangatlah berbahaya. Tapi Adam, bisnisnya seribu kali lebih mengancam nyawa. Marcellino Altezza Lorenzo, adalah seorang bandar narkoba terbesar yang selalu menjadi incaran banyak kelompok. Mereka bengis, juga tak pandang bulu jika ingin menghabisi musuh. Sepertinya keputusan Gracia sudah sangat benar dengan memilih untuk mengikuti Rose. Hmmm.
"Cesar, kau kenapa tiba-tiba bersikap santai padaku. Jangan bilang karena kau sedang mengkhawatirkan aku ya," ledek Gracia sambil menoel dada Cesar. Mendadak hatinya jadi berbunga-bunga saat menyadari kalau sikap dingin pria ini sedikit berbeda dari hari biasanya.
"Hentikan omong kosongmu, Gracia. Aku begini bukan karena sedang mengkhawatirkanmu, tapi aku hanya tidak mau ilmu yang sudah kuajarkan terbuang sia-sia. Kan tidak lucu jika seorang Gracia Clarence di temukan mati dengan isi kepala berhamburan gara-gara melawan seseorang yang tidak seharusnya tidak dia lawan. Malulah aku sebagai mentor yang turun tangan langsung untuk melatihmu. Paham kau?!" hardik Cesar sambil menepis tangan Gracia dari dadanya.
"Ck, hissss."
Kesal karena Cesar masih belum tunduk padanya, Gracia memutuskan untuk pergi saja dari sana. Dia berjalan menuju mobil sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.
"Kenapa susah sekali sih menaklukan kuda nil itu. Apa jangan-jangan Cesar bukan laki-laki normal ya, makanya dia terus saja menolakku meskipun aku sudah menggodanya dengan berbagai macam cara. Menyebalkan. Huh!" gerutu Gracia sambil menatap ke luar jendela. Dia benar-benar sangat kesal sekarang.
***
__ADS_1